KONSER EFEK RUMAH KACA : TIKET BISA DIPALSUKAN
Sebelum bulan September ini saya mendapati kabar bahwa ERK akan menggelar konser di Bandung. Pengumumannya lebih awal daripada penampilan pertama kembalinya mereka menginjak kotoran hidung yang menempel diatas panggung. siapa yang tidak bahagia mendengar kabar tersebut? dan tentunya di Bandung men! Langsung saja saya beli tiketnya melalui online. Membuka web awal membuat saya tentram, gambarnya begitu minimalis seperti mie gelas. Beberapa hari kemudian gambarnya berubah menjadi gambar Po Hindun bawa barbel yang di tracing, menggunakan warna kontras kuning dan menurunkan ekspektasi saya terhadap keeleganan ERK yang manja ingin dipeluk dalam hujan yang gerimis manits. Fuck.
Anggap saja ini hari H. Dan saya beserta teman-teman bersorak sorai gembira menyambut hari ini. Memakai baju batik, mengingat bikasoga adalah tempat favorit kawinan anak muda yang berduit. Atau lebih tepatnya balik kerja. Setiba datang antrian melebar panjang, sangaaaaaaaat panjang lalu saya tanya ke manusia “a, nuker tiket online dimana ya?” manusia itu menjawab “di tenda putih a” lalu saya balas “oke, makasih a.” Lalu saya menerobos barisan menuju tenda putih untuk menukar tiket. Sesampai di tenda putih saya menanyakan itu orang, saya kenal dia orang rupanya masih kurus, katanya dituker aja maz. Ketika ke panitia inti mereka bilang “tiket online ngantri paling kanan a” waaah ajib juga neh, kayanya bisa sembelit lebih cepat dari antrian. Dan ketika menyusuri antrian... anjing, panjang bos.. dan kita di barisan belakang.
Antrian berjalan ¼ jalan, dan progressnya sangat lambat terhitung hampir setengah jam stuck. Penonton belakang mengeluh “asa teu maju-maju” lalu penonton depan berkata “ahh njing deuk di arit ku aing? Ambulan geus aya” (ah anjing, mau guwa arit? Ambulan udah ada”) waaah makin seru nih, ini namanya ngantri ERK rasa TCUKIMAY. Tiba-tiba gemuruh didalam gedung bergema, dan kami menghibur diri “ah paling lagi nonton persib di dalem, belum mulai kalem..” lalu ada panitia membuka pintu gedung, terlihat warna warni lampu menyorot personil ERK diatas panggung. “aaahhh geus mulai tuh. Tinggaleun sabaraha lagu” lalu semakin lama gemuruh di gedung semakin ramai dan di luar mulai protes “woooooooooooooooo anjjjjjjjjjjjjjjeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennngggg lila goblooooooooggg” barisan depan sedang mengacung-acungkan tiket, pemandangannya, seperti antri sembako. Ketika kejadian tersebut ada panitia teriak teriak “TOLONG PERHATIANNYA, YANG GAK ADA GELANG GAK BISA MASUK!!”urat kepalanya keliatan, emosinya meledak-ledak, anda salah bung 1 lawan ratusan orang yang masih berbaris. Lalu panitia tersebut di suraki “wuuuuuuuuuuuuuuuu!!! Naon atuh anjeeengg biasa we goblooooooooooggg” itu temen saya, gatau saya yang ngomong gitu. Entahlah, intinya panitia tiket keteteran, dan terlampau meledak emosinya.
Antrian semakin cepat alurnya, entah kenapa. Saya bingung, kami ikut saja cepat-cepat. Lalu sedekatnya di rigging, ada security di kanan memegang erat saya seolah saya pacarnya yang blekok bohay itu “liatin kertasnya!” woow, lalu saya kasih kertasnya ke panitia yang kelimpungan itu. Seketika tiket yang saya print itu di robek.. iya di ROBEK. Lalu di beri gelang yang teman saya dapet 2, bisa dijual lagi. Lalu saya mengeluh “njir, buat apa ada barcode kalo Cuma di robek” saya rasa ini adalah ‘Tiket bisa di palsukan’. Sesampainya didalam, area gedung tidak berdesakan dan masih bisa nyelip-nyelip sampe depan. Itu tandanya masih banyak yang tertinggal diluar tadi, tapi saya lebih memilih di belakang. Banyak juga penonton yang duduk di atas balkon.
Benar kalau teman saya selalu bilang, “jangan berlebihan dalam berekspektasi lah, baper maneh tai” dan saya berlebihan dalam berekspektasi tentang konser ini. Panggung yang dilihat terlalu biasa, bisa terbilang ini panggung acara kampus. sound pun kurang maksimal untuk ukuran “konser” (mic vocal utama lebih ga jelas daripada mic ke2) . Branding rokok dipanggung semakin meyakinkan kalo saya Cuma nonton ERK di kampus-kampus. Saya mendapati konser ini Cuma sebatas showcase Efek Rumah Kaca. Pasti banyak yang gasuka dengan tulisan saya ini, tapi yaaa.. ukuran harga tiket on the spot 125rb gitu. Saya Cuma berandai-andai setelah pulang kalau konser ini diadakan di IFI atau Dago Tea House saja, dan diolah oleh EO yang lebih ngepas ide-idenya. lebih intimate dan tentunya orang-orang tidak perlu terus menambah kaki untuk tinggi ketika menonton, dengan kata lain panggungnya kependekan.
Sudahi saja penilaian saya yang kurang baik itu. Saya kebagian di lagu kamar gelap ketika masuk, dan seluruh penonton bernyanyi bersama ERK. Disetiap lagu yang mereka bawakan penonton selalu ikut bernyanyi, sungguh stunning! Karya-karya ERK memang tidak pernah gagal bagi saya, Bandung pun memecahkan kerinduannya kepada band trio minimalis ini. Lalu ketika membawakan jalang, backdrop menggambarkan film Bayi Ajaib, yang digoyang goyang. Ada aksi debus yang belagu kuatnya. Fuck! Lalu saya dengan lantang bernyanyi “LALUUU MEREKA BILANG KAMI JAJAAAANN!!” hmm.. merenung dalam hati.
Lagu Hilang dibawakan dan tentunya membuat berdiri bulu kumuut ketika Adrian hadir untuk menyebutkan nama-nama korban yang di hilang kan. Sangat pecah ketika beliau mengatakan “Widji Thukul” seketika lagupun berhenti. Penonton semakin gila, berteriak “ADRIAN!! ADRIAN!! ADRIAN!!” “Cuma Adrian yang selalu pas nyebutin nama-nama nya. Jadi waktu Adrian beres nyebut nama, lagu juga pas berhenti” ujar Cholil. Penonton bersorak soray, seolah-olah ini cerita buku anak-anak.
Sesampainya istirahat turun minum kami disuguhi tayangan Agung Hercules yang gerak-gerakin nenen nya. “My luurrrdd dalam film layar lebar” ujar hatiku. Setelah film Agung Hercules The Movie, ERK mulai naik lalu berfeaturing dengan gadis manja berponi yang tadinya berada di baris belakang, terlihat malu-malu namun manis. Aduh saya gak tau namanya. Hahaha. Membawakan lagu Insomnia dengan versi kontras berbedanya, membuat para penonton sedikit terbata-bata untuk ikut bernyanyi. Tapi warbyaza. Dilanjut dengan duo Tetangga Pak Gesang yang malu-malu, tak banyak bicara. Memetik ukulele manjanya dengan roll rambut terikat, suasana menjadi sinetron korea dengan background Gu Jun Pyo. Aku merenung banyak dan menonton terus backdrop ketika lagu Jatuh Cinta Itu Biasa Saja dibawakan dengan alunan ukulele petik ala Tetangga Pak Gesang. Hanya ada satu kata, Ngesang bosqwe. Ngin ee tapi sambil nangis.
Setelah tetangga pak gesang muncullah habib besar rock lambat se-Bandung raya Haikal Azizi atau dikenal juga sebagai Bin Idris atau vokalis + gitaris Sigmun. Beberapa penonton bersorai, saya yakin mereka menyebut nama al-habib dengan lantang. “sikat biiibb sikaatt” itu aku yang teriak, lalu aku malu Cuma sendirian teriaknya. Digoyanglah senar dengan riff favorit sigmun, dan penonton berubah menjadi Bandung Berisik. Hanyeng. Membawakan lagu Debu-Debu Berterbangan, Al-habib melengkingkan nada tingginya, tentunya lagu khotbah ini cocok untuk dirinya sebagai seorang muadzin Salman ITB. Diakhiri dengan gitar-gitar yang melengking tak berhenti. Subhanallah bib.
Ritme acara sudah mulai naik, dihajar kembali sang lagu bersama Mondo Gascaro yang meninyuh kopi sebagai gimmick, beserta t-shirt lem UHU. Mencerminkan pasar yang terlalu banyak ngelem. Banyak Asap Disana dibawakan oleh ERK bersama Mondo, dan alur pertunjukan menanjak lagi. Lalu datanglah band dengan atitud srempangan ‘The Adams’ sound nya kurang jelas dari belakang jadi saya tidak terlalu ngeh apa yang dibicarakan, kayaknya lucu kalo bisa ngedengerin, tapi nggak, jadi aja. Dibawakannya oleh mereka lagu Cinta Melulu, dan penonton semakin bersemangat. Didepan saya loncat-loncat, dibelakang saya kehalangan pandangan karena lebih pendek dari saya. Di tengah lagu di berhentikan “gak asik nih kalo featuring tapi sama kaya lagu biasa” ujar Ale, lalu berbicara banyaklah mereka, tiba-tiba Ario membisiki Cholil yang terpeleset dari telinga. Lawakan srimulat, juaris menyegarkan suasana. Memang juara featuring bersama The Adams ini, dibawakan 1 bagian Cinta Melulu menjadi versi The Adams. Ditambah Ale yang bisa membawa penonton menjadi paduan suara, mereka memiliki daya pikat seharga sate kambing muda. Diakhir lagu semakin di ulur endingnya dan berujung dengan lagu hits The Adams yang berjudul Konservatif. Penonton semakin bahagia tepuk tangan tak henti-henti. Brafo!
Masih sesi featuring, terakhir keluarlah people tambun berbaju kuning membawa gitar. Dia adalah Meng vokalis Float, tanpa basa-basi colok gitar dan langsung membawakan lagu Kenakalan Remaja di Era Informatika. Suaranya yang anget-anget pelukan kekasih dicampur semangat beat lagu yang memang okeeeeh. Penonton semakin klimaks dengan dinamika playlist ERK, terlalu fak bagi saya. Dan dilanjutkan dengan istirahat. Disela istirahat ada badut sulap yang menghibur, setengah penonton memilih duduk daripada menonton badut sulap. “lagi lagii??” tanya si badut, penonton semakin sengaja “LAGIIIIIII!!” dan dilanjutkanlah sulap tersebut.
Sesampai habisnya sulap setting panggung berubah, posisi drum jadi di sisi kanan, String Mini Orchestra di sebelah kiri dan paduan suara di bagian tengah belakang. Ketika datang para personil ERK mereka merubah diri menjadi badut, Cholil menjadi ikon Mcdonal yang saya fikir kalo M itu ya Mahmud. Ah tay. Diawali dengan lagu Melankolia yang lama kelamaan terasa menjadi badut yang murung. Diiringi terus bersama String Mini Orchestra ERK membuat kering tenggorokan dengan lagu-lagu lainnya (lupak list nya, biarin. Klo mau tau list lengkapnya baca media lain aja). Diakhir pertunjukan Adrian naik panggung, dan berbicaralah tapi kurang jelas kalo diam di belakang, jadi saya tak bisa menulis percakapannya. Di petiklah gitar Sebelah Mata, dan penonton histeris mengingat lagu tersebut memang didedikasikan untuk Adrian. Lantanglah suara dalam ruangan, semoga menjadi energi positif untuk Adrian. *asek* di sela akhir lagu muncullah kertas-kertas yang bikin bala ruangan, dan suaranya NGALAHIN SOUND NYA DONG!!!! Saya kira itu noise karena salah teknis, sayangnya jadi sedikit merusak ke khidmatan lagu terakhir. Depan saya tutup telinga saya menoleh kebelakang lagi pada tutup telinga juga. Gilak.. entahlah jadi gajelas gini.
At last tepuk tangan keras tak berhenti dilontarkan penonton, dan kertas yang menyembur berisik itu masih di semprotkan, untungnya lagunya sudah beres. Terobati sudah dengan kerinduan ERK hari itu, bagi saya konser ini diselamatkan oleh talent yang terlalu hebat dan bisa membawa suasana, serta list yang membuat dinamika penonton naik turun. Pesan yang disampaikan oleh ERK memang seronok dan terlihat untuk band-band lawak semacam Terapi Urine, tapi mereka menyampaikan pasar-pasar yang terjadi di Indonesia. Dan saya harus berkata bahwa ERK sukses menyelamatkan EO. Hari itu ditutup dengan selfie dan update path yang tak henti-hetinya membicarakan kerinduan terhadap ERK. Dan tentunya ditutup dengan kesan bahwa penonton di konser ini tidak sungguh mengerikan!