Excellence is when the work you do privately is even better then the work you do publicly.
— Sh. Omar Suleiman
Game of Thrones Daily

Discoholic 🪩
TVSTRANGERTHINGS

Love Begins

No title available

izzy's playlists!

JVL
No title available

Kiana Khansmith
Peter Solarz

if i look back, i am lost
ojovivo

pixel skylines

ellievsbear
styofa doing anything

oozey mess
Lint Roller? I Barely Know Her
RMH
h
Three Goblin Art

seen from Malaysia

seen from Italy

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Argentina

seen from Finland
seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from United States
@curatedtales
Excellence is when the work you do privately is even better then the work you do publicly.
— Sh. Omar Suleiman
Credit: to the owner
Happiness and contentment are two fundamentally different things. Happiness is moments. It never stays. It can’t stay. Meanwhile contentment is a state of being. If a person can reach that state of being, then there are more moments of happiness. Along with it, the hard moments become easier to navigate.
The Almighty says you can get contentment by remembering Him. But the truth is from i can understand contentment does not erase sadness. It simply makes it manageable. Nothing can erase sadness from life. It is part of what must be experienced here. As it can color our life. Always make an effort to remember Allah. Make an effort to gain contentment. May Allah make it easy and guide us.
— NAK
untuk penghuni semesta
terima kasih atas segala perjuangan hari ini.
mari menepi sejenak,
sembari melangitkan doa :
semoga raga disehatkan,
hati dikuatkan,
jiwa dilapangkan,
pikiran ditenangkan, dan
segala urusan dilancarkan.
esok kita coba lagi ✨
Kayfa akhofu minal faqr wa ana abd Al-Ghaniy
“Bagaimana aku akan takut pada kemiskinan, sedang aku adalah hamba dari Yang Maha Kaya.”
Wahai diri,, tak perlu takut kekurangan materi namun takutlah ketika tidak mampu mensyukuri limpahan nikmat-Nya
Someone asked Hassan Al Basri: "What is the secret of your religiousness?"
He replied :
"I understood 4 things:
1. I understood that my RIZQ cannot be taken by anyone, so my heart became content.
2. I understood that no one can do my actions (worship) for me, so I started doing them myself.
3. I understood that Allah is watching me, so I became ashamed to do wrong.
4. I understood that death is waiting for me, so I started to prepare for my meeting with Allah."
“Keep things minimal. Learn to declutter your life as you go along. You wont be taking all this stuff with you. Live simply. Sleep soundly.”
Mufti Menk
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
It is okay not to be okay 🌻
Ambil sedikit jarak. Kau akan melihatnya lebih utuh. Ternyata, dinding yang menghalangimu, tak sebesar yang kamu bayangkan. Hanya perlu sedikit tambahan waktu dan tenaga, kamu ‘kan bisa melompatinya.
Jangan. Jangan dulu menyerah.
sang Pencipta tidak mengajarkan buat menyerah melainkan berserah seutuhnya
“If someone truly loves you, distance would never be a problem.”
— Unknown
Seks Bebas Dibela, Poligami Dihina
Gak terima kalau negara ikut ngatur urusan privat a.k.a selangkangan. Tapi giliran ada anggota dewan punya istri tiga, nyinyir gak ketulungan. Ngaku pro LGBT, tapi anti sama poligami. Anda ini, mau melindungi urusan privat orang atau emang gak suka aja sama agama dan moral manusia?
Saya gak ada masalah dengan ide bahwa negara gak boleh ikut campur urusan privat warganya. Silakan aja beraspirasi begitu. Tapi tolong, konsistenlah sedikit.
Once kamu udah punya prinsip, konsistenlah di situ. Kalau gak konsisten, wajar banyak orang curiga. Jangan-jangan kebebasan yang kamu perjuangin cuma buat kamu dan teman-temanmu aja. Cuma buat selangkanganmu.
Ada yang bilang, "Halah munafik, sembunyi di balik kedok agama cuma buat muasin nafsu birahi."
Tolong akalnya dikondisikan. Itu bukan sembunyi, tapi terang-terangan. Terang-terangan nikah. Terang-terangan mau menyalurkan hasrat seksual, terang-terangan mau berkeluarga, terang-terangan mau punya anak, terang-terangan mau ngasih nafkah. Terang-terangan sah di hadapan negara dan agama. Di mana munafiknya?
Justru, seks bebaslah yang sembunyi di kamar kos, hotel, atau semak-semak. Sembunyi dari keluarga, sembunyi dari masyarakat, sembunyi dari negara, dan sembunyi dari agama. Jadi, yang munafik siapa?
Terserah deh mau ngotak-ngotakin moralis, agamis, liberalis, atau sekularis. Konsisten aja kalau punya prinsip. Yang gak mau urusan privatnya diatur-atur, mestinya juga malu buat ngatur-ngatur pilihan orang lain buat poligami.
Orang yang berpoligami dan bertanggung jawab atas semua istrinya, buat saya dia lebih mulia dari pada yang nge-seks bebas sembunyi-sembunyi yang kalau hamil disebutnya malah kecelakaan. Kecelakaan kok disengaja. Ya iyalah, aturan lalu lintas dilanggar sih.
— Taufik Aulia
Standar ganda at its best, heheuu
The word Umm (أمّ) in Arabic means 'mother'...
From the same root letters you get:
• Imam (إمام)
A leader
• Ummah (أمّة)
A nation
• Amam (أمام)
The front
Mothers are at the forefront of everything. Mothers are leaders. Mothers build and nurture nations.
you don’t always get motivated, so you need to learn to be disciplined.
"Melembutlah Hati.."
Sebagian kita minum kopi karena memang suka, dan ada yang minum kopi dengan tujuan melawan rasa kantuk. Untuk alasan yang kedua, padahal obat mengantuk itu tidur bukan?
Ini hanya sekedar perumpamaan dari hal hal kecil yang terkadang sering tidak kita sadari, ternyata kita sering sekali “bertempur” MELAWAN diri kita sendiri yah?
Pada keseharian kita, sering sekali kita pun harus “bertempur” di “dalam”, antara memilih kebenaran atau pembenaran.
Kebenaran itu datang nya dari Allah Ta'ala, sedangkan pembenaran itu datangnya dari pikiran-pikiran dan kemauan kita sendiri, yang juga didukung bisikan-bisikan halus Iblis yang ingin manusia tidak tunduk para perintah Rabb nya.
Kebenaran itu akan selalu MEMBEBASKAN kita, sebab ketika memilih untuk tunduk pada kebenaran, memilih berserah saja pada-Nya, maka apa yang hati kita rasakan akan berbeda ketika hati kita "berperang" mencari-cari pembenaran. Coba saja ketika kita melakukan kesalahan, lalu kita terus saja mencari pembenaran, apa yang hati kita rasakan? Kedamaiankah ataukah sebaliknya?
Berbeda jika kita memilih bersedia saja mengakui kesalahan kita, lalu memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla dengan sepenuh hati, rasakan bahwa kedamaian saat itu juga langsung memenuhi hati kita bukan?
Tidak ada lagi “pertempuran” dimana kita harus berpotensi mengkhianati nurani, yang ada hanyalah kebebasan, rasa damai yang di “dalam” .. memilih untuk "tunduk" itu melembutkan hati. Karena kedamaian dan kebahagiaan itu tidak didapatkan dari kerasnya hati yang menolak untuk lembut.
https://instagram.com/gsatria
“Percaya”
Orang tua saya tidak pernah bertanya kapan menikah ataupun menjodohkan seseorang dengan anak-anaknya, apalagi menghalang-halangi.
Lebih sering menyelipkan pesan dan bekal ilmu tentang bagaimana hak dan kewajiban seorang suami dan seorang istri, serta hak Allah Ta'ala didalamnya, sebelum masa itu tiba kepada anak-anaknya dengan teladan, bukan sekedar kata-kata.
Ketika bahasan itu muncul di tengah keluarga, keduanya hanya menjawab: “kami orang tuanya percaya, anak-anak tahu kapan mereka menyadari bahwa saat itu ia siap serta mampu menyempurnakan separuh agamanya, dan kepada siapa mempercayakan hati untuk membersamai, saling melengkapi dan menyempurnakan separuh agamanya dengan baik. Karena tugas orang tua adalah bagian mendidik, mengarahkan dan mendoakan yang terbaik untuk mereka.”
Tahukah? Ini adalah salah satu hal yang akan saya contoh dari cara keduanya dalam mendidik dan menunaikan amanah sebagai orang tua yang tidak pernah mau mendikte ataupun memaksa anak-anaknya dengan ambisi pribadi sebagai orang tua.
Hal ini saya bagi, semoga ada manfaat yang bisa diambil.
Melatih diri untuk mengganti kalimat tanya “kapan menikah?” dengan do'a diam-diam untuk seseorang agar dimudahkan dalam urusan rezeki termasuk jodohnya adalah salah satu langkah yang perlu dilakukan dalam tahapan belajar menjadi orang tua yang demikian. Yaitu orang tua yang paham akan perannya dalam mendidik dan menunaikan amanah terhadap seorang anak.
Karena demikian pun seorang teman, jika belum mampu memberi kemudahan dalam pencapaian rezeki seseorang, maka diam lalu mendo'akan adalah solusi paling santun untuk dibiasakan :)
Jazaakumullah khair untuk nasihat yang disampaikan kemudian dituliskan disini. In syaa Allah pesannya sampai dengan selamat dan bermanfaat. Menjadi orang tua yang paham :)
Karya para ilmuwan dan seniman Islam di zaman dulu tuh sungguh luar biasa ya. Mereka ga sibuk berdebat apalagi komentar nirfaedah tapi sibuk membuat karya-karya yang hebat. Masyaallah