Mungkin ini satu diantara poin negatif menikah dengan ta'aruf atau mungkin ya memang akunya aja yang ga mencari tau lebih banyak mengenai calon suamiku dulu. Atau dulu ya karena "review" dari orang2 yang kenal paksu ini dia orang yang baik, shaleh, pinter masak, ga emosian, dan hal-hal positif lainnya; jadinya aku yaudah oke-oke aja. Dan semua proses dulu tu kerasa super cepat jadi banyak missing point-nya.
Aku ga mencari tau lebih dalam tentang keluarganya. Ga bertanya lebih dalam pekerjaan orang tuanya. Ga pernah tau seperti apa rumahnya. Ga terlalu memikirkan bagaimana semua itu berdampak pada kehidupan pernikahan nantinya.
Pak suami dibesarkan di keluarga petani kecil yang luar biasa sekali bisa menyekolahkan anaknya sampai ke janjang perkuliahan. Dari kecil sudah hidup "susah". Kami tumbuh dibesarkan dengan cara dan lingkungan yang berbeda. Salah satu hal yang sampai sekarang masih sulit aku sesuaikan. Hal ini sangat banyak dampaknya pada caranya "memandang" uang dan bagaimana kebiasaan sehari-harinya.
Alhamdulillah aku dibesarkan dalam keluarga yang cukup mampu memberikan sedikit lebih dari apa yang aku butuhkan. Kami, atau setidaknya aku, tidak pernah merasakan kekurangan. Mamaku seorang PNS di salah satu pemerintahan daerah. Papaku seorang fotografer yang akhirnya bisa membuka studio kecil di depan rumahku setelah sekian lama bekerja "dibawah" orang lain. Hal ini membuatku cukup nyaman dalam menjalani hidupku bahkan sampai sudah berkeluarga saat ini.
Tapi tentunya tidak ada pernikahan yang berjalan lancar-lancar saja karena ternyata suamiku adalah salah contoh sandwich generation yang sering dibilang orang-orang di medsos itu. Kalau aku memberikan uang kepada orang tua sebagai bentuk "hadiah" kepada mereka, tapi pak suami memberikan uang sebagai bentuk "kewajiban" yang harus diberikannya setiap bulan. Entahlah aku harus merespon seperti apa.
Pada awalnya aku merasa aman-aman saja karena pada saat itu aku masih menerima gaji full sebagai PNS pemda. Tapi setelah SK-ku "disekolahkan" untuk membeli sepetak tanah yang katanya untuk investasi masa depan, semuanya jadi berubah. Sebuah keputusan yang cukup beresiko ternyata. Keadaan keuangan keluarga kecilku jadi berantakan. Apalagi setelah aku juga terlilit "hutang" paylater dan berujung pinjol. Rasanya duit tiap bulan itu kurang. Untuk keluarga kecil kita aja ga cukup eh ini paksu harus ngasih tiap bulan untuk orang tuanya. Mana kadang kalau nanti gaada uang lagi "ngadu" ke paksu dan berharap dapat solusi. Mau protes tapi nanti dibilang durhaka sama orang tua. Serba salah rasanya. Alhasil tiap bulan pasti ngutang sana sini terus udah beberapa bulan kayak gitu. Ga terhitung ini udah berasa minjam duitnya karna takut ngitungin.
Sampai kapaaaaan harus kayak gini.
Sekarang aku ngerti kenapa kakak iparku tiap ditanya ada duit sama mertua selalu dijawab gaada karna mungkin dia mendahulukan kebutuhan keluarga kecilnya, dimana hal ini gabisa diterima oleh paksu. Serius serba salah rasanya. Mau cerita soal ini ke mama tapi rasanya maju mundur karena kan ini masalah keluarga kecilku dan seharusnya sebelum cerita ke mama aku sudah cerita dulu ke paksu. Tapi sampai sekarang gatau harus mulai ngomongnya darimana.
Pengalamanku ini nantinya akan jadi pelajaran penting untuk adekku nanti saat mencari calon suami. Harus dipastikan dulu bagaimana kondisi keuangan calonnya. Aku tidak mau adekku merasakan hal yang sama denganku. Cukup aku saja.