Bagi siapapun yang berkali-kali memberikan saya nasihat pernikahan tentang menurunkan ego, rasanya ingin sekali saya mengalungkan medali penghormatan untuknya. Karena sebanyak apapun kesamaan pemikiran yang dimiliki perempuan dan laki-laki, tetaplah bukan berarti akan sama caranya dalam menghadapi tiap2 permasalahan. Sehingga dibutuhkan saling pengertian dalam menghadapi satu sama lain.
Dalam 2-3 minggu belakangan, saya mencoba mempelajari dan menerapkan sebaik mungkin mengenai masalah ini. Dan ternyata memang belajar menurunkan ego tidaklah semudah mengatakannya.
Dulu, sebelum menikah, hampir semua teman dekat saya adalah perempuan. Hanya ada segelintir teman dekat laki2 dalam hidup saya (yang biasanya dekat karena ditakdirkan bersama dalam suatu kelompok2 tertentu dalam perkuliahan), dan tentu saja kedekatan dengan laki2 tidak seintens kedekatan dengan perempuan.
Berteman dengan kawan sesame gender, bagi saya jauh lebih mudah. Karena kami memiliki banyak persamaan dalam menghadapi sesuatu. Misalnya sebagai perempuan tentu kami suka lebih banyak bicara, curhat, jalan2 ke mall, komentar tentang hal2 sepele di jalan, ngomongin korea, dan lain sebagainya. Jauh lebih mudah bagi saya, memahami dan membaca perasaan teman perempuan, dibanding teman laki2.
Lalu belakangan, saya mendadak harus berhadapan dengan laki2 (yang sudah tentu secara umum tidak suka banyak bicara, sebanyak perempuan suka bicara), dengan kepribadian introvert. Maka dengan dua kombinasi ini, suami saya adalah ekstrimis pendiam. Ekstrimis, saudara2. Mohon digaris bawahi.
Sedangkan saya adalah perempuan yang mimiliki kecenderungan ekstrovert, sehingga secara otomatis saya cukup ekstrim dalam hal suka bicara.
Dalam minggu awal pernikahan, saya begitu kesulitan dalam menghadapi ini. Karena diamnya suami saya membuat saya menebak2 apa yang sedang dipikirkannya, dan itu membuat saya lelah. Kadang, saya berpikir bahwa suami saya tidak senang jalan bareng saya, dan karena itulah dia diam.
Namun pada suatu kesempatan saya mencoba bertanya, mengapa diam, mengapa tidak bicara. Lalu dengan santai suami saya menjawab “aku capek kalo banyak bicara”. Lalu saya teringat tulisan2 yang pernah saya baca tentang orang2 berkepribadian introvert. Dan penjelasan2 yang pernah saya terima dari teman2 saya yang introvert. Dan saya berpikir, oh iya, kok bisa lupa sih.
Jadi, orang2 berkepribadian introvert memiliki kecenderungan merasa lelah ketika berada di situasi sosial (misalnya pesta, reuni, dan keramaian2 lain), dan juga akan merasa lelah jika banyak bicara. Dan sebaliknya, orang2 berkepriadian ekstrovert akan merasa bersemangat ketika di keramaian, bertemu banyak orang, dan jika banyak bicara.
Dua kutub yang bersebrangan ini nggak akan ketemu, jika salah satu dari kami saling memaksakan satu sama lain. Bayangkan, yang satu merasa lelah jika banyak bicara. Dan yang satu merasa lelah jika terlalu banyak diam.
Lalu pada akhirnya satu2nya jalan yang harus kami ambil adalah saling memahami kepribadian masing2 dan saling menurukan ego.
Kini,ketika suami saya diam, saya tidak mencoba menebak2 lagi apa yang dia pikirkan. Saya cukup memahami bahwa begitulah memang dia. Dan dia bahagia kok jalan bareng saya, meskipun dia tidak perlu mengungkapkan itu. Dan belakangan, jika saya diam, dia akan mulai merasa khawatir, dan meminta saya untuk bicara.
Menurunkan ego dan belajar untuk memahami mungkin memang sulit pada awalnya, tapi saya meyakini bahwa dengan begitu kita akan lebih tenang dan bahagia dan semakin bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing2. Sambil sekalian belajar sabar, karena bagaimanapun menurunkan ego pasti butuh kesabaran. Juga belajar banyak hal dari pemikiran2 berbeda yang dimiliki oleh masing2.
Juga belajar membuka diri, bahwa cara yang selama ini kita pakai ternyata bukan satu2nya cara untuk menghadapi sesuatu. Ada cara lain (yang kita dapatkan dari pasangan) yang juga baik,untuk menghadapi sesuatu itu.
Dengan bersama2, kita jadi belajar lebih banyak. Namun dengan bersama2, kita juga jadi perlu bersabar lebih banyak.
Dua2nya hal yang bagus bukan?
Baiklah, jadi ini adalah tulisan pertama saya (yang dipublish) sejak saya menikah. Dan saya sedikit kecewa karena saya menulis sesuatu dengan menggunakan kata ganti saya dan bukan kita, sehingga membuat tulisan ini terasa begitu personal tentang kehidupan saya.
Saya secara pribadi lebih suka tulisan dengan kata ganti kita karena membuatnya jadi lebih bersifat umum. Tapi biar bagaimanapun, semoga ini bukan tulisan yang terlalu baper untuk dibaca dan menye2. Karena saya tidak ingin membuat siapapun yang membaca tulisan saya jadi baper kebelet nikah lah, atau sejenisnya.
Semoga ini bermanfaat, hehe.