My Story (After You Leave)
Tahun ini akan menjadi tahun kesembilan tanpamu.
Hampir satu dasawarsa ya?
Aku awkward banget menulis ini. Mungkin...aku bingung banget mulainya dari mana. Ceritanya banyak banget, nih. Kamu mau mulai dengar dari mana?
Hidupku setelah nggak ada kamu?
Aku mulai dari hidupku dulu kali ya. Lebih mudah soalnya buat diceritakan.
Aku bohong kalau bilang melewati masa tanpamu gampang banget. Meski pernah berharap agar kamu hilang dari dunia ini, ternyata rasanya menyakitkan sekali ketika itu terjadi. Aku sudah pernah patah hati. Aku berkali-kali kecewa. Well, tapi melewati semua hal itu begitu mudah. Aku tahu siapa yang harus kumarahi. Aku tahu siapa yang salah dan benar.
Namun, ditinggalkan olehmu rasanya unspeakable.
Rasanya sakit banget dan aku nggak tahu mau marah sama siapa.
Boleh nggak aku marah sama Tuhan yang mengabulkan keinginan tantrum remaja putri 17 tahun?
Atau apa harusnya aku marah sama remaja putri 17 tahun itu yang bikin orang tuamu kehilangan anak laki-laki satu-satunya?
"Itu udah jalan-Nya. Mungkin itu udah jadi jalanmu supaya kamu jadi seperti sekarang,".
Aku tahu kamu akan bilang begitu. Namun, setiap kali relapse dan memikirkanmu, aku selalu bertanya apa memang harus seperti ini jalannya. Painful and lonely.
Aku sebenarnya juga nggak berani sering-sering mengenangmu di depan umum. Soalnya dulu ketika aku masih down dan berduka, semua orang bilang, "Kamu harus kuat. Kasihan dia kalau kamu menangis terus,". Dan itu belum ada seminggu.
Padahal kurasa kamulah yang ingin melihat ekspresi kehilanganku.
I mean...saat masih di sini, aku nggak berani menunjukkan terang-terangan kepedulianku kepadamu. Kamu sering bertanya kenapa aku jadi begini, padahal dulu aku ekspresif. Akhirnya kamu jadi sering melakukan hal-hal yang membuatku kesal just to get my reaction.
Sekarang, bukankah kamu jadi bisa melihat perasaanku yang sebenarnya?
Pada akhirnya, semua bisa terlewati sambil berjalan. Aku akhirnya kuliah, punya banyak teman, lulus, dan dapat pekerjaan. Sebenarnya sulit sih, tetapi aku berusaha untuk melewati setiap hari dengan tekad untuk bertahan hidup. Bahkan jika dalam satu hari aku hanya memikirkan untuk tetap hidup, itu sudah sebuah pencapaian terbesarku.
Soalnya, setiap kali ada pikiran untuk menyerah dan menyusulmu, aku ingat rasa sakitku saat duduk di depan jasadmu.
Aku nggak mau orang tuaku berpikir mereka gagal menyelamatkan putrinya. Aku nggak mau adikku berpikir kakaknya menyimpan beban terlalu banyak. Aku juga nggak mau sahabat-sahabatku menjadi sepertiku saat duduk di ruang tamumu, lalu menyalahkan diri mereka sendiri karena nggak peka.
Jadi, yah, mungkin kamu benar. Mungkin kepergianmu memang jalan yang harus kulewati.
Satu-satunya yang kusesali sekarang adalah kamu nggak pernah bertemu dengan versi terbaik diriku. Aku yang punya banyak teman. Aku yang supel dan ceria. Aku yang berusaha mati-matian demi orang-orang yang kusayang. Aku yang jadi family-oriented. Aku yang kadang sassy.
Karena kepergianmu katalis perubahanku untuk menjadi orang yang lebih baik.
Kurang lebih itu cerita tentang diriku. Nggak banyak sih yang bisa kuceritakan. Kalau pun kamu dengar dari orang lain betapa cemerlangnya karir atau sekolahku, itu hal-hal yang...sudah nggak penting lagi buatku. Sekarang, asalkan aku bisa dengan orang-orang yang kusayang aja udah cukup. Kalau pun ada hal baru yang kulakukan untuk meningkatkan prestasiku, trust me, aku melakukannya supaya bisa memberi lebih banyak lagi.
Sekarang, kita ngobrolin tentang keluargamu aja gimana? Kamu mau denger?
Aku sudah lama nggak ngobrol dengan ibumu. Sejak menyadari bahwa kamu yang kukenang berbeda dengan yang mereka kenang, aku menjauhkan diri dari keluargamu.
Setiap kali ingat sketsa yang kamu gambar di bukuku, aku memahami bahwa itulah isi hatimu sebenarnya: kesepian dan kebingungan. Kamu sebenarnya juga ingin diperhatikan, karena seorang kakak pun juga seorang anak (aku sangat memahami perasaan ini). Kamu ingin bisa main musik seperti dulu. Kamu ingin sekali-kali orang menatapmu dengan bangga dan menginginkanmu di hidup mereka.
Dan kurasa, hal-hal seperti ini lebih baik kusimpan sendiri. Biarlah kamu menjadi sosok terbaik versi orang tuamu. Aku tidak akan berusaha mengubahnya. Aku ingin menghormatinya.
Ibumu sempat buka kedai sushi di dekat sekolah kita, btw. Aku diam-diam mampir ke sana waktu keluargamu nggak ada. Enak banget. Ibumu emang jago masak, deh.
Namun, aku tidak ingin menceritakan ini kepada ibumu atau adik-adikmu. Bukan karena nggak mau, tetapi...aku ingin menghormati cara keluargamu mengenangmu.
Lalu, tentang adik-adikmu. Jey sekarang membantu ibumu mengelola kedai ramen di Jogja. Dia sepertinya jadi jago fotografi makanan. Aku ada rencana ingin ke kedai ramennya kalau lagi ke Jogja. Mungkin tahun ini? Soalnya sekarang ada kereta cepat nih antara Solo dan Jogja. Jalan tol juga sudah mulai dibangun. Jadi, yah, tinggal menunggu tabunganku terkumpul buat ke sana.
Aku nggak yakin aku bisa ketemu sama Jey. Alasannya kurang lebih sama dengan alasanku tidak bisa bertemu orang tuamu. Jadi, aku juga akan diam-diam ke kedai ramennya. Semoga waktu Jey nggak di sana.
Lalu...Aisha. Waktu itu dia masih di gendonganmu, kan? Sekarang dia akan kuliah di Surabaya. Dia ambil jurusan desain komunikasi visual. Kamu pasti bangga banget sama dia. Dia tumbuh seperti kamu: sama-sama pintar bahasa Inggris dan public speaking.
Er...aku yakin kamu pasti merasakan sesuatu. Yap, keluargamu banyak berubah setelah kamu pergi. Jey sekarang boleh nggak pakai cadar dan tinggal di Jogja. Aisha juga boleh pakai jilbab pashmina dan kuliah di luar kota. Padahal waktu aku lulus, ibumu melarangku kuliah di Turki tanpa mahram.
Yah, aku tetap mengikuti mereka dari jauh supaya bisa menceritakannya kepadamu.
Namun, kadang-kadang itu juga membuatku berpikir, apakah ini karena kamu tiada? Jika seandainya kamu masih di sini, apakah ibumu akan mengijinkanmu main drum dan gitar lagi?
Aku nggak tahu, sih. Namun, aku ikut bahagia untuk mereka. They are your family after all. Your family is important to me, too.
Itu tadi tentang keluargamu. Sekarang, gimana kalo denger cerita tentang teman-teman kita?
Fikri surprisingly bakal menikah dengan Mbak Tia. Mereka udah tunangan. Aku nggak tahu sejak kapan mereka pacaran, tetapi I am rooting for them. Cukup happy sih, meski hanya melihat dari jauh. Fikri juga surprisingly jadi laki-laki yang lebih lembut. Kurasa seharusnya aku sudah tahu dia sudah cocok dengan Mbak Tia sejak masa sekolah kita, ya kan?
Aku nggak tahu kabarnya Fahmi, tapi aku udah coba kontak-kontakkan. Kurasa dia baik-baik saja di Jakarta.
Aku nggak main lagi sama teman-teman asrama. Kamu tahu apa alasannya. Kamu juga sepertinya nggak pernah suka karena mereka merundungku terus.
Farrel sebentar lagi akan menyelesaikan koasnya. Aku seneng banget dia akan jadi dokter. Tbh, waktu pertemuan terakhir kami, aku sempat benar-benar menyukainya. I had the sweetest date I've ever been with him. Masalahnya, err...aku nggak dikasih restu sama Mama waktu aku ceritain soal dia, hehe.
Yahya sekarang di Jakarta. Dia sering ikut event lari.
Aku sepertinya berhutang maaf kepadamu karena nggak berhasil mempertahankan pertemanan dengan Rifai. Kamu tahu aku pasti mau. Namun, antara harus terperosok lebih jauh dengannya atau menyelamatkan diriku, aku memilih opsi kedua. Aku cuma berharap dia mau membuat pilihan yang baik, minimal untuk hidupnya sendiri.
Aku kemarin merayakan ulang tahun ke-26 dengan Febryan. Dia lulus setahun lalu dari Rusia. Rusia lho, bayangin! Gila banget nggak, sih? Sekarang dia kerja di Bali sama orang-orang Rusia di sana. Dia jago banget aksara cyrillic. Aku nggak bercanda waktu bilang aksara ini susah. Aku soalnya pernah belajar bahasa Rusia di HI dan nilaiku jelek, HAHA.
Oh, Fafa? Aku rasa kamu juga mungkin penasaran sama dia. Aku lumayan sering ngobrol sama dia. Sekarang dia sudah melahirkan anak pertama. Suaminya bekerja di pertambangan di Kalimantan. She's happy! Dia sekarang jadi guru bahasa Arab anak SD di sana. Aku pengen banget ketemu dia kalau ada tabungannya. Masalahnya, Berau sama Balikpapan aja jauh banget, huhuhu.
Terus...Arin? Arin udah tunangan. Sepertinya akhir tahun ini dia akan menikah. Aku juga happy banget dia menemukan laki-laki yang sayang sama dia. Semoga aku bisa ke pernikahannya, sih. Oh, Arin juga kerja keras banget di PLN. She worked hard to get her position in Jakarta. Aku bangga banget sama dia.
Aku sendiri belum memikirkan pernikahan. Bukannya nggak bisa, tetapi...aku sadar betul apa yang kuinginkan. Aku ingin laki-laki yang nggak patriarki, berwawasan luas, lurus, dan moralnya baik. Itu aja masih sulit kutemukan di dunia ini, hahahaha. Sahabat-sahabatku yang sudah menikah lucunya malah bilang, "Jangan nikah! Jangan nikah!".
Menikah ternyata nggak seindah seperti yang kita bicarakan waktu sekolah. Fafa juga sering bilang gitu kepadaku. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, apalagi di tengah ekonomi yang seperti ini.
Sekarang aku jadi iri sama kamu karena kamu selamanya jadi 19 tahun. Sementara aku harus tetap hidup, tumbuh, dan menua.
Yang penting kita akan bertemu lagi.
Dan akan kuusahakan akhir ceritaku juga baik, sehingga kita bertemu lagi di tempatmu sekarang.