One Nice Bug Per Day
RMH
The Bright Sessions
Color Me Curious
The Bowery Presents
tumblr dot com
Mike Driver
noise dept.
official daine visual archive
Sade Olutola
Doug Jones
No title available
occasionally subtle

if i look back, i am lost
h
NASA

Product Placement
The Stonewall Inn
𓃗
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
seen from Yemen

seen from Singapore
seen from United Kingdom
seen from Austria
seen from United States

seen from South Korea

seen from Mexico

seen from Malaysia
seen from Chile

seen from Brazil
seen from Canada

seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from United States

seen from South Korea

seen from Türkiye
seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Thailand
@denisekacahyani
Disiplin: Another Level
Gue kira manajemen waktu tuh gitu doang, ternyata enggak…
-
Bahasan manajemen waktu ini terinspirasi dari tulisan Knapp & Zeratsky di buku “Make Time: How to Focus on What Matters Every Day”. Dulu, gue pikir disiplin waktu itu bahasan tunggal.
Ternyata, ada empat elemen manajemen waktu kalau mengacu ke pengalaman mereka berdua dalam bidang design sprints jaman berkarier di Google, dulu.
Knapp & Zeratsky menggambarkan hubungan keempatnya sebagai komponen yang saling dukung.
Dengan elemen tsb, seseorang bisa lebih mengoptimalkan kedisiplinannya buat mencicil capaian kecil satu per satu untuk tujuan besar yang ingin diraih.
Pun kita merasa kurang sreg dengan poin teknis tertentu, tiap elemennya bisa jadi bagian yang dicopot pasang sesuai kecocokan yang dirasa paling sip. Kita bisa merakit optimasi waktu sendiri.
Pertama. Highlight - Penetapan Prioritas.
Kualitas prioritas mendorong kualitas semangat kita untuk memulai hari. Maka, pastikan hal-hal yang penting & signifikan sudah masuk ke dalam daftar harian untuk kita disiplinkan pelaksanaannya.
Kalau Knapp & Zeratsky bilang, “… ensures that you spend time on the things that matter to you and don’t lose the entire day reacting to other people’s priorities”. Nah, mau aktif atau reaktif?
Kedua. Laser - Pengaturan Fokus.
Bab ini udah sering banget gue bahas lewat unggahan atau kelas daring. Intinya, karena kita enggak bisa menjauhkan diri 100% dari teknologi, ya kita yang harus disiplin atur interaksi.
Cek unggahan gue enam bulan ke belakang* yang udah ngebahas tentang trik menyiasati ponsel sebagai gadget utama kita semua yang seringkali jadi pemengaruh optimasi waktu harian.
Ketiga. Energize - Manajemen Energi.
Bab ini, dulu gue anggep remeh. Sampai akhirnya, gue sadar kalau manajemen energi bagian penting dari pengaturan waktu & kedisiplinan. Kalau gampang loyo & tepar, gimana bisa perform dong?
Alhasil, hikmah dari bulan-bulan pandemi ini adalah dimulainya kebiasaan gue untuk olahraga di rumah 3-4x per pekan. Gue ganti menu makan, benerin pola tidur. Hasilnya? Lebih memuaskan sih.
Keempat. Reflect - Evaluasi Harian.
Sesi ini dikhususkan buat menilai hal-hal apa yang bekerja dan enggak dari ketiga blok lainnya supaya kita bisa kedisiplinan kita lebih terarah. Bentuknya, sedikit perenungan dan catatan harian aja sih.
Lumayan, bikin kita bisa menajamkan penilaian pada diri sendiri yang kadang tumpul ketimbang menilai orang lain. Dengan ini, slogan “jadi lebih baik di setiap harinya” enggak cuma slogan.
Dengan kondisi hidup yang terus berubah, belum tentu taktik untuk satu keadaan relevan buat keadaan yang lain. Di sana, hadir seni menghadapi dinamika.
Bakal terus terjadi langkah pilih, uji & ulangi untuk optimasi waktu lewat empat elemen di atas. Kita enggak dituntut untuk sempurna tanpa cela, tapi jadi manusia yang lebih baik secara disiplin :)
Jangan Dulu Patah
Jangan dulu patah. Masih ada waktu. Masih tersedia ruang untuk bergerak dan mencoba. Masih ada kesempatan untuk melakukannya sekali lagi, atau mungkin beberapa kali. Jangan dulu redup. Nyalakan lagi api harapan di bola matamu. Panggil kembali ingatan-ingatan tentang kesungguhanmu yang dulu. Utuhkan kembali niat mulia yang sempat mengisi penuh hati dan kepalamu, mewarnai siang dan malammu. Jangan, jangan dulu menyerah. Setidaknya, jangan sekarang. Jangan di usia semuda ini. Nalarmu masih tajam. Jiwamu masih kuat. Tenagamu masih berlimpah. Memang belum saatnya kamu hidup nyaman. Memang masih banyak jatah gagal yang harus kamu habiskan. Jangan berhenti di sini. Di atas semua itu, teruslah berdoa dan berbaik sangka. Jika daun yang sudah menguning saja tak ‘kan jatuh tanpa izin-Nya, apalagi cita-citamu yang indah itu.
…
Sebuah Pengingat 14 Februari 2019
how to be your most productive self
hi! i’ve been thinking a lot about how i’m going to manage my workload this year – i’m going into year 11 and i’ll be taking my GCSEs soon. i thought it’d be a good idea to make a list of ideas on how i can manage my time and increase my productivity, so i can work as efficiently as possible this year :)
make a list of what you want to get done every day and stick to it. this can include not just schoolwork and revision, but also household chores, and little goals like reading a chapter of a book, eating a healthy meal or drinking more water than usual. don’t be too hard on yourself, but try your best to tick off everything off the list before you go to bed.
write down your goals, both short term and long term. for example, one of mine is to revise for at least an hour per day from the start of year 11, increasing it as i get closer to the exams. i also write down the grades that i want in my mocks and final exams. if you have a clear vision of what you want to achieve, you are constantly going to be reminded that you are putting in all this effort to get there. stick your goals up in a place where you can see them. anytime you feel demotivated, read through them and remind yourself that they won’t achieve themselves.
make a study playlist of relaxed, calm songs that provide background noise without being distracting. it helps if the playlist isn’t too long, so you’ll gradually get used to hearing the same songs repeating and they won’t distract you from your work. here’s one that i like!! https://open.spotify.com/playlist/2STKuSNoNC7Ev9DOOZsZDr?si=tyMXbeqHQ7WYgBngE8po1w
don’t waste time unless you can afford to. and unless you’ve ticked off everything on the aforementioned list, you probably can’t afford to. i like to allow myself one hour of complete procrastination after school before i start working, and then i keep my phone in another room and get started. i like to save netflix and youtube till after i’m done studying.
with that being said, don’t forget to take breaks. it’s up to you whether you schedule your breaks into your work time or just take them when you lose focus. either way, try to keep your breaks at a maximum of 15 minutes per hour of work. don’t waste them on mindless shit: instead, do something like having a snack, drinking a glass of water, going to the bathroom, reading a few pages of a book, talking to a family member, cleaning your study area, or playing with a pet.
if you aren’t motivated to work or you keep procrastinating, start with just five minutes. set a timer and for those five minutes, don’t look up from your work. more often than not, you’ll get into it and keep going after the timer’s up. if you can’t, don’t stress: take a break as described in #4, then try another 5-minute block of work. once you get going, you’ll be able to build up the amount of time you can work uninterrupted!
a pretty obvious one is to reward yourself. the more productive the day, the bigger the reward. it can be anything from your favourite meal to an episode of your favourite show to buying a cute new top online. generally, i use rewards as motivation to get through really big assignments, or to treat myself at the end of a productive week.
personally, i really want to start using studyblr more. seeing a community of people who all care about doing their best academically is so motivating. plus, putting my own ideas out there and seeing how they help other people makes me want to keep finding successful methods that i can post about. once i go back to school, i also plan to start posting actual schoolwork as well as tips like these. the 100 days of productivity challenge is also something i really want to get involved in, as i think it’ll help to build a habit and the pressures of social media will keep me motivated to do it!
try filming yourself working. grab your phone, set it to time lapse and get going. having the pressure of a camera recording you means that you won’t want to fuck around instead of getting it done – otherwise you’ll seem lazy in the video. and if your phone is recording, you can’t go on social media and waste your time there. this is something that you can post online, or just keep as a reminder of how hard you can work when you try.
it’s okay to have off days. everyone has days where they feel completely unproductive and don’t get anything done no matter how hard they try. in that case, don’t stress about it. take the day to yourself to relax, then treat the next day as a new beginning. but if these days become a regular habit, that’s when you need to force yourself to just suck it up and do it. you will feel so good about yourself once you do.
hmm…
Hold on and tick the items off the list. *kencangkan ikat di kepala*
Tulisan : Gegabah
Kalau kita sedang dalam kondisi tidak stabil seperti gelisah, khawatir, takut, dan semua perasaan yang membuat kita tertekan. Kita akan sulit mengendalikan diri kita agar tidak mengubah semua perasaan itu menjadi tindakan yang tak kita sadari.
Tindakan-tindakan yang mungkin akan membuat kita menyesal di kemudian hari. Perasaan-perasaan itu telah mengambil alih logika kita, membuat kita gegabah dalam mengambil keputusan.
Ternyata beberapa keputusan besar yang tanpa kita sadari mungkin telah kita ambil. Dan kita tidak bisa mengubahnya ditengah jalan, pilihan kita hanya menjalani konsekuensinya.
Yogyakarta, 27 Agustus 2019 | ©kurniawangunadi
What a PhD is and what it is not?
By: Prof. Jamal Hisham Hashim
After having completed a PhD degree myself, and having supervised, co-supervised and examined a number of PhD students over the years, I would like to offer some humble advice and pointers to those aspiring to pursue a PhD degree themselves. I find that many students misunderstood the purpose of getting a PhD degree and the commitments and sacrifices that it calls for.
A PhD is the highest academic and research degree from a university. I have seen both remarkable successes and disappointing failures amongst students pursuing this academic accolade. It takes more than just brain power to complete a PhD.
A degree by research is very different from a degree by coursework. A course degree whether at the undergraduate or masters level is heavily structured. A student just have to be disciplined and rigorous in following this predetermined structure regimentally, without much creativity required from him or her. Of course, creativity is demanded from the student in completing assignments and projects but the demand is nothing close to what is required for a PhD degree.
The most important prerequisites for pursuing a successful PhD program are passion, inquisitiveness, creativity, discipline, persistence, perseverance and meticulousness (or attention to detail). I did not mention intelligence not because it is not important, but because it is less important than the other attributes I mentioned. At least, it is in my book. Others may feel differently.
Of those many attributes, I consider passion the most important. Some students start out enthusiastically but loses steam halfway through or towards the end. They lack passion or the love of knowledge. Ever heard of the saying, “when the going gets tough, the tough gets going?” Success in a PhD is simply that. The harder it becomes, the harder you will strive. Sometimes, you do not see the light at the end of the tunnel but you still keep looking for it because you know it is there. When you love what you do, failure is not an option.
Some people do PhD for the wrong reasons. Some take up postgraduate because they could not secure a job after their first or second degree. Some do it because the jobs they have taken up require them to acquire a PhD, for e.g. an academic or a research post. These cannot be the sole reason for pursuing a PhD. You cannot force yourself to do a PhD. You must want to do it badly enough. You cannot force yourself to love something; you must love or want something bad enough to force yourself to get it.
The PhD is an academic journey. There will be failures but mainly successes along your way. You may encounter some foes but mainly friends in the same boat as yourself. It always help to be in a group of students to share both your setbacks and achievements. Working alone in a silo is the worst you can do to yourself. There are certain things you want to discuss with your fellow students that you cannot discuss with your supervisor; matters that are either academic or personal.
Your supervisor is your mentor, guide and consultant, not your teacher. He cannot teach you your PhD knowledge, you have to teach yourself through his guidance and wisdom. He is more your friend than he is your master. He does not dictate to you what you must do, he merely points you in the right direction. At the end of your PhD journey, you would have been more knowledgeable on the subject of your research than your supervisor. I have heard of students not being able to complete their PhD because they could not get along or see eye to eye with their supervisor. This is the worst scenario that can happen to you. If you do not have a supervisor you can work with, you will not get your PhD no matter how good you are or how hard you work. So, choose your supervisor well, not just the university you want to do your PhD in. Just a few months back, I met a doctoral graduate who told me that to be supervised by this one professor carries more prestige among his peers in the working world.
A PhD degree needs sacrifices, especially when you are a family person; a wife, mother, husband or dad. Family is always important and should always be your priority. However, you and your family members must be willing to make sacrifices that are necessary. There can be no gain without pain. That is why when you finally get your PhD degree, your family members can even be happier and more proud of you than you yourself, because it is as much their accomplishment as it is yours. Their sacrifices must be duly appreciated.
So what does it mean when you have a Dr. before your name? Does it mean that you are an expert on a certain subject matter? Hardly so, I think. It means that you are both a seeker as well as a generator of knowledge. It means that you have enriched the world and added on to the vast body of knowledge through your PhD contribution. The world has become a slightly better place from the knowledge that you have contributed through your PhD thesis and publications. The world now knows more on a subject than before you completed your PhD. Your work get referred and cited by other researchers in your field, as they absorb your new knowledge to generate new knowledge of their own.
Your PhD is an end that should be justified by its means. The research methodology, the analysis and the interpretation should justify the conclusion. The new knowledge must have been tested and challenged by your peers and rigorously defended by you. It is an accomplishment unequal by any other feat. Once you have obtained a well-deserved PhD degree, you become your own teacher as self-teaching becomes common practice. You are always curious and tends to read a lot, not just on your subject matter but on everything. You will find doing new things, exploring new frontiers and taking up new challenges more scintillating. In other words, it will change your life and your outlooks forever.
I hope I have inspired some of you to pursue a PhD degree if what you read here is what you really want from a PhD. On the other hand, I hope I have also discouraged others who have a misconception of what a PhD degree entails, so that you will not go down the road of failure. A PhD is not for everyone.
“Mengapa kau tinggalkan kami, ya Ibrahim?” bertanya ia pada lelaki tua yang sedang berjalan menjauhi ia dan bayinya yang masih merah. Lelaki itu, tidak menjawab. Ia hanya berhenti sejenak. Pandangannya lurus ke depan. Tak sanggup untuk menoleh, menuju ke arah Istri dan bayi merah yang ia tinggalkan di sebuah lembah gersang tak berpenghuni. Hewan bahkan tanaman enggan menjadi penduduknya.
Lelaki itu, baru saja berjalan menjauhi istri dan anaknya. Ke utara.
“Kenapa kau tinggalkan kami ya Ibrahim? ” kedua kali istrinya bertanya. Tak ada jawaban. Hanya gerimis yang menggenang di pelupuk mata Ibrahim. Hatinya bergetar. Dalam hati lelaki shaleh itu berkecamuk segala rasa.
Ia yang menanti kelahiran si buah hati bertahun lamanya. Setelah Allaah memberikan anugerah berupa Ismail, kini Allaah tiba-tiba memintanya meninggalkan Ismail dan ibunya di tanah gersang itu. Sendirian.
Walau berat, penuh sesak. Namun ia ridha dengan perintah Tuhannya. Ia hanya masih tak mampu menjawab pertanyaan istrinya, Hajar. karena betapa khawatir dan sepinya ia nanti. Betapa pilu ia meninggalkan istri dan anaknya.
“Apakah ini perintah Allaah?” Hajar mengubah haluan pertanyaan. Tersadar suaminya bukan tak mau menjawab, namun tak mampu memberi jawaban.
Ibrahim menghentikan langkah. Lalu berbalik. Ia tatap wajah istrinya itu, betapa bening, betapa sholehahnya Ibu yang melahirkan anaknya itu. Lalu Ibrahim menggenggam tangan Hajar. Menguatkannya, menguatkan hati mereka.
“Ya” jawabnya. “Ini perintah Allaah”.
Hajar, seorang Ibu yang sabar dan tegar memeluk suaminya.
“Jika ini perintah Allaah,” mesra ia membisikkan ke telinga suaminya, “Dia sesekali takkan pernah menyia-nyiakan kami”
Inilah taat, perasaan yang menggantungkan harap, takut dan cinta hanya pada Allaah saja.
Inilah iman. Perasaan yang takkan bisa diukur oleh aritmatika atau diimbangi logika.
Inilah Ibrahim, Siti Hajar, dan bayi mereka Ismail.
Betapa kami yaAllaah, sangat mengharapkan kebaikan takdir dari sisi Mu, untuk menghilangkan keburukan prasangka dari sisi kami.
Melatih Bercukup
Tiap tanggal 1 awal bulan biasa jadi rutinitas saya tuk mengatur pos-pos alokasi keuangan keluarga.
Prinsip keuangan kami sederhana, tiap pendapatan bulanan dibagi 4 : pengeluaran harian 25%; investasi dan tabungan 25%; infaq zakat hadiah 25%; dan pos campuran (cicilan, pendidikan anak, upgrade rumah) 25%.
Selebihnya jika ada pendapatan tambahan sekecil apapun itu, langsung dibagi dengan 1/3 kebutuhan harian/bulanan, 1/3 ziswaf, dan 1/3 investasi.
Alhamdulillah pola ini sudah konsisten diterapkan sejak 3-4 tahun lampau. Dan bekerja mengendalikan dan melatih kami belajar “mencukupkan diri”.
Porsi pengeluaran harian yang besarnya 25% itu bukan hanya belanja harian aja. Ia terdiri dari pos seabreg : belanja harian, peralatan&perlengkapan rumah tangga, jajan ayah, jajan bunda, jajan azima, transportasi, kesehatan, liburan, dan pendidikan (beli buku/ikut course).
Mekanisme ini memaksa saya harus pandai mengatur pengeluaran. Terutama pos jajan saya personal. Maklum pos ini biasanya yang kita sering khilaf kalau punya uang lebih. Beli hape, beli baju, barang-barang hobi, dll.
Contoh tahun 2018 saya beli banyak peralatan olah raga dan susu protein. Akhirnya terealisasi karena saya irit-irit pemakaian pos pribadi saya bulan-bulan sebelumnya. Sepertinya gak akan bisa beli kalau pos bernama jajan ayah ini ga dihemat dan ditabung.
Menjadi masalah kalau jatah pos tersebut sudah minus. Tanda peringatan bagi kami. Kalau tetap dipaksakan, minus akan semakin luber-luber. Minus juga akan terbawa berkelanjutan ke bulan-bulan selanjutnya. Tidak diputihkan sebelum memang bisa normal sendiri.
Akhirnya disitu kami belajar tuk mencukupkan diri. Cukup itu menurut saya bukan tindakan pasif, tapi ia aktif. Ia harus dilatih dan dibentuk. Selagi kita masih mampu mengendalikan diri terutama.
Mengendalikan diri bisa bercukup dalam materi selalu menantang. Di kala lapang maupun sempit. Mencukupkan diri kala sempit tantangannya bersabar, mencukupkan diri kala lapang tantangannya nafsu.
InsyaAllah kita selalu percaya rezeki dari Allah cukup. Nikmat Allah cukup, bahkan berlimpah. Yang buat suka ga cukup itu menggantungkan kepuasan pada nafsu kita.
Betapa indah doa dalam hadits ini : Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563)
Mengingatkan kembali pada kita tuk bergantung pada Allah semata, bukan yang lain. Apalagi jika hanya kepuasan pada pemenuhan nafsu.
Memohon kepada Allah tuk mampukan kita bercukup hanya dari yang halal. Hal yang sulit di tengah beragam sumber syubhat dan yang dilarang Allah berseliweran.
Melatih diri tuk bercukup dengan membatasi diri bukan berarti pelit dan menyusahkan diri. Tapi kita melatih nafsu tuk tidak selalu jadi panglima pengambil keputusan.
Dengan mencukupkan diri, kita bisa lapangkan yang dititipkan Allah tuk membantu melapangkan urusan orang lain. Tuk mempersiapkan masa depan seperti yang Allah perintahkan. Dan tuk lebih banyak beramal di jalan yang Allah muliakan.
Semoga kita semua dimudahkan Allah tuk mencukupkan diri dengan yang halal dan berkah. Juga dengan melatih kedisiplinan dan pengendalian diri kita atas nafsu kita sendiri.
“Cukup itu bukan tindakan pasif, melainkan aktif. Ia harus dilatih dan dibentuk.”
Makasih, Bang Jay!
Kunci Tangguh Menjalani Peran Ibu
Oleh : Kiki Barkiah (ambil dari Facebook)
Bagian 1 : Kunci tangguh di masa kehamilan:
1. Ingatlah bahwa islam menempatkan perjuangan kehamilan sebagai salah satu alasan bagi manusia untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Sebagai mana ditulis dalam Al-Quran,
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Luqman:14). Seolah dalam ayat ini Allah memberikan sanjungan khusus bagi tugas seorang wanita yang begitu istimewa.
2. Ingatlah bahwa kehamilan dapat menjadi sebagai sarana menggugurkan dosa, mengumpulkan pahala dan mendekatkan diri kepada surga
“Tidaklah seorang mukmin itu ditimpa kepenatan, kesakitan, perkara yang tidak disukainya, kesedihan, bahaya (yang disebabkan oleh orang lain) dan kerisauan, hatta duri yang mencucuknya kecuali Allah akan mengampunkan dosa-dosanya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
3. Ingatlah bahwa kehamilan adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Qs. Ibrahim:7)”
4. Ingatlah bahwa bayi yang gugur dapat menjadi simpanan orang tuanya Ali r.a menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya bayi yang gugur benar-benar akan memprotes Rabb-Nya bila kedua orang tuanya di masukkan kedalam neraka. Hingga dikatakan kepadanya, ‘Wahai bayi yang gugur yang memprotes Rabbnya, masukkanlah kedua orang tuamu ke dalam surga.‘Ia pu menarik keduanya dengan tali pusarnya untuk dimasukkan kedalam surga”
Bagian 2 : Kunci Tangguh di Masa Melahirkan:
1. Ingatlah bahwa melahirkan adalah salah satu jalan jihad wanita Dari Rasyid bin Hubais, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam menemui 'Ubadah bin Shamit untuk menjenguknya ketika dia sakit. Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: “Apakah kalian tahu, siapa yang diistilahkan syahid di antara umatku?” Semua terdiam. 'Ubadah berkata; “Sandarkanlah saya”, mereka pun menyandarkannya. Lalu Ubadah berkata; “Wahai Rasulullah, yang dinamakan syahid adalah orang sabar yang mengharapkan balasan dari Allah”. Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: “Kalau begitu orang yang syahid dari ummatku sangat sedikit, padahal orang yang terbunuh di jalan Allah Azzawajalla adalah syahid, orang yang mati terkena wabah adalah syahid, orang mati tenggelam adalah syahid, orang yang mati karena sakit perut adalah syahid, wanita yang meninggal karena melahirkan anaknya, anaknya menariknya dengan tali pusar untuk masuk ke surga”. (H.R. Ahmad)
2. Ingatlah bahwa rasa sakit melahirkan adalah sarana menggugurkan dosa, mengumpulkan pahala dan mendekatkan diri kepada surga.
“Tidaklah seorang mukmin itu ditimpa kepenatan, kesakitan, perkara yang tidak disukainya, kesedihan, bahaya (yang disebabkan oleh orang lain) dan kerisauan, hatta duri yang mencucuknya kecuali Allah akan mengampunkan dosa-dosanya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
3. Ingatlah bersama kesulitan ada kemudahan, ingatlah bahwa setelah sakit ini insya Allah ada kebahagiaan bersama ananda “Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (Al Insyiroh ayat 5)
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7)
4. Ingatlah bahwa setiap manusia telah ditentukkan takdir hari kelahirannya
“Allah menghidupkan dan mematikan” (QS. Ali Imran [3]: 156).
5. Ingatlah bahwa semua yang terjadi baik ataupun buruk adalah ketetapan Allah “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…”(QS. Al Hadiid:22-23).
Bagian 3 : Kunci Tangguh Saat Memiliki Bayi dan Balita
1. Ingatlah bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, badai insya Allah berlalu. “Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” Al Insyiroh ayat 5
2. Ingatlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan perjuangan hamba-Nya sekecil apapun itu “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (Al-Zalzalah:7-8)
3. Ingatlah bahwa kerepotan ini adalah sebuah kenicayaan namun ikhlas masih menjadi pilihan. Allah menolong hamba-Nya yang ikhlas. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا : بِدَعْوَتِهِمْ وَ صَلاَتِهِمْ وَ إِخْلاَصِهِمْ
Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan orang-orang yang lemah dengan do’a, shalat dan keikhlasan mereka. [HSR Nasa-i, 6/45]
4. Ingatlah bahwa Allah selalu dekat, Selalu siap setiap saat mendengar keluh kesah kita. “Dan Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi (panggilan/perintah)Ku, dan beriman kepadaKu agar mereka mendapat petunjuk (bimbingan)”. (Al-Baqarah: 186)
5. ingatlah bahwa pemenuhan ASI ekslusif adalah investasi masa depan anak kita “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” [QS al-Baqoroh : 233]
Dalam pandangan islam Asi sangatlah penting, bahkan Rasulullah SAW sampai menunda merajam wanita yang berzina hanya karena menunggu sampai bayi lahir dan selesai disapih. Dalam islam juga dikenal istilah ibu sesusuan. tua dapat bersepakat memenuhi kebutuhan ASI anaknya dengan disusukan oleh ibu lain, hal ini menunjukan pentingnya pemenuhan ASI meski tidak dilakukan oleh ibunda langsung.
6. Tidak ada yang melarangmu untuk menangis, menangislah jika itu menguatkamu “Dan Sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis” Q.S An-Najm 43
7. Tidak ada yang melarangmu untuk sejenak beristirahat, biarlah sesekali orang lain mengambil ladang amal ini
“Dan kami jadikan tidur kamu untuk istirahat. Dan kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” Q.S An-Naba 9-11
8. Ingatlah bahwa setiap ikhtiar kita akan berbuah kelak
Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105)
9. Ingatlah bahwa kita akan mendapat apa yang kita tanam, termasuk musibah dan kecelakaan disebabkan oleh kesalahan kita. Maka rencanakanlah, cari ilmunya agar dapat menghindari kecelakaan dan kesalahan. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh tanganmu sendiri.” (QS Asy-Syuura [42] : 30).
10. Ingatlah bahwa perjuangan kita tak luput dari balasan Allah “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zalzalah:7-8)
11. Ingatlah bahwa pahala kesabaran itu tanpa batas ”Katakanlah: ’Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.’” (QS. Az-Zumar: 10)
12. ingatlah bahwa kesabaran adalah karunia dari Allah maka mintalah kesabaran itu kepada Allah “Apa saja kebaikan – yakni harta – yang ada di sisiku, maka tidak sekali-kali akan kusimpan sehingga tidak kuberikan padamu semua, karena sudah habis, maka tidak ada yang dapat diberikan. Barangsiapa yang menjaga diri – dari meminta-minta pada orang lain, maka akan diberi rezeki kepuasan oleh Allah dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup maka akan diberi kekayaan oleh Allah – kaya hati dan jiwa – dan barangsiapa yang berusaha berlaku sabar maka akan dikarunia kesabaran oleh Allah. Tiada seorangpun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik serta lebih luas kegunaannya – daripada karunia kesabaran itu.”(Muttafaq ‘alaih).
13. Saling menguatkan dengan pasangan agar tetap terus bersabar “Demi masa (1), sesungguhnya manusia itu benar – benar dalam kerugian (2) kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran “ (Qs Al ‘Asr: 1-3)
14. ingatlah bahwa belajar adalah fitrah manusia, jangan rusak fitrah belajar anak, Anak bereksplorasi karena ingin tahu “Katakanlah, apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak tahu.” [Az Zumar : 9]
15. Ingatlah bahwa musibah datang karena kesalahan kita, maka persiapkanlah agar lingkungan seaman mungkin “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh tanganmu sendiri.” (QS Asy-Syuura [42] : 30).
16. Ingatlah bahwa istirahat sebenar-benarnya adalah di surga “(sambil mengatakan) 'Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu’ Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu” Q.S ar Rad 24
17. Ingatlah bahwa kehidupan manusia di dunia hanyalah sebentar, apalagi masa balita “Allah bertanya:"berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? mereka menjawab 'kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung’ Allah berfirman:'Kamu tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’” (Q.s Al Mu'minun 112-114)
Maka Nikmatilah hari ini karena kelak kita pasti akan merindukannya
Bagian 4 : kunci tangguh saat memiliki anak dimasa pelatihan (7-14 tahun)
1. ingatlah bahwa setiap ujian yang Allah berikan memberi kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. “Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” Al ‘Ankabut: 2-3.
2. Janganlah berputus asa, insya Allah berkat rahmat Allah kelak kita akan menuai hasilnya “dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87)
3. Ingatlah perintah Allah untuk menasihati dengan penuh kelembutan “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka serta bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya.” (Ali Imaran 159)
4. ingatlah bahwa menahan amarah adalah perintah Allah “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali Imran 133-134)
5. ingatlah bahwa anak memiliki potensi akal, di usia ini anak sudah bisa diajak membaca (membaca lingkungan,membaca alam, membaca buku) maka libatkan anak membaca dalam proses pendidikan “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciprtakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhamulah Yang Maha Pemurag. Yang mengajarkan manusia dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manuia apa yang tidak diketahuinya” Q.S Al-Alaq ayat 1-5
6. Ingatlah perintah Allah untuk tidak meninggalkan generasi lemah di belakang kita, ini adalah masa masa membangun bibit-bibit kemandirian
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataaan yang benar.” (QS. An-Nisa : 9).
7. Ingatlah bahwa yang memberikan hidayah dan petunjuk itu Allah, maka mintalah kepada Allah agar anak anak dikaruniakan kepahaman “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]
8.Ingat bahwa kita diperintahkan memelihara DIRI DAN KELUARGA dari api neraka “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)
9. Tahapan ini adalah tahapan secaa serius untuk memberi fondasi dasar agama, ingat bahwa prioritas dakwah kita kepada kerabat terdekat “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”( QS. 26: 214).
10. Jangan salah prioritas dalam menuntut ilmu di usia sekolah ini, ingat bahwa tujuan utama mempelajari ilmu adalah memperdalam agama, memberi peringatan agar dapat menjaga diri “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang muKmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. 09: 122).
11. 7 Tahun adalah usia pendidikan shalat secara serius harus dimulai, ingat bahwa tanggung jawab pendidikan Shalat ada di orang tua “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaahaa: 132) “Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya Al-Albani).
12. Kita dipertintahkan untuk mendorong keluarga untuk berdakwah dan bersabar dalam dakwah “Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. 31 : 18).
13 Pilih proses pendidikan yang seimbang karena islam memerintahkan adanya keseimbangan Ilmu dunia akhirat “Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia memiliki ilmunya pula; dan barang siapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-keduanya pula.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dzikir Ialah Pintu Allah
Dzikir adalah salah satu amalan yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan. Dzikir memang terlihat ringan, tapi sebenarnya dzikir memberatkan timbangan. Timbangan amal di kehidupan akhirat yang akan datang.
Dengan berdzikir, banyak manfaat yang akan kita rasa. Salah satunya adalah kita menjadi semakin dekat kepada Yang Maha Kuasa. Sehingga Allah juga akan mendekat kepada hamba-Nya dan membuka pintu-pintu-Nya. Mulai dari pintu ampunan, pintu rahmat, hingga pintu hidayah-Nya.
Semoga dzikir menjadi obat pada setiap resah. Karena kita adalah makhluk yang lemah sedangkan Allah Yang Maha Pemurah. Semoga kita diberikan kemampuan untuk berdzikir dengan istiqomah. Dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak berfaedah.
Dzikir adalah pintu Allah nan agung yang selalu terbuka antara Dia dan hamba-Nya selama si hamba tak menutupnya dengan kelalaian. (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)
menjadi contoh bagi orang-orang beriman
“doa apa yang sering kita panjatkan, dek? bukankah kita sering meminta agar keluarga kita menjadi contoh bagi orang-orang beriman?”
yang ditanya masih diam, walau pikirannya sibuk dan ribut sekali rasanya.
“kalau kita sering berdoa seperti itu…,” lanjutnya perlahan, “kita harus siap untuk diuji, dek. coba sekarang kita perhatikan kehidupan pada nabi. manusia-manusia pilihan itu pun diuji.”
“nabi ibrahim harus LDR dengan istri dan anaknya yang masih bayi. tidak tanggung-tanggung, orang-orang yang dikasihinya itu ia tinggal di tengah gurun pasir. nabi muhammad diuji dengan kesedihan yang mendalam atas meninggalnya khadijah..”
“iya, bahkan kehadiran aisyah yang ceria tidak membuatnya lupa dengan sosok khadijah,” yang tadi diam mulai menangkap pesan yang hendak disampaikan lawan bicaranya.
“benar. coba adek pikirkan lagi contoh nabi yang mendapat ujian terkait keluarganya.”
“hmm, nabi ayub. nabi ayub diuji dengan penyakit dan juga anak-anaknya yang meninggal.”
“benar. kalau nabi nuh diuji dengan istri dan anaknya yang tidak mau beriman. coba adek bayangkan bagaimana perasaan nabi nuh melihat orang-orang yang disayanginya itu disiksa karena tidak mau beriman.”
“semua ujian itu Allah berikan ke manusia-manusia pilihannya, dek. kalau manusia pilihan Allah aja diuji, apalagi kita ini dek. lagipula, kita sendiri yang meminta agar dijadikan contoh bagi orang-orang beriman, kan? gak ada tuh ceritanya orang yang menjadi teladan secara tiba-tiba, pasti ia melalui serangkaian ujian, dan ia lulus dari ujian itu.”
iya benar, katanya dalam hati. pikirannya masih ribut, tapi kini hatinya lebih lapang, lebih siap untuk menghadapi ujian yang harus dilaluinya.
p.s. lafazh doa ada di surat Al-Furqan (25): 74
Menyerah
Tak jarang ketika ujian bertubi tengah menyapa diri, banyak yang berpikir untuk menyudahi (baca: menyerah). Padahal sejatinya belum banyak berusaha untuk memecahkan ujian-ujian tersebut. Dan parahnya, hal ini pun tengah menjangkiti kita sebagai kaum Muslim.
Bagaimana mungkin ada kata menyerah dalam kamus seorang Muslim. Padahal Allah subhanahu wa ta'ala tidak menyukai tipe Muslim seperti ini. Lebih-lebih jika belum apa-apa sudah menyerah.
Ini tentang mentalitas kita sebagai seorang Muslim. Bahwa ada satu hal yang seringnya kita terlupa, jika pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala itu sangat dekat. Namun, lagi-lagi ini persoalan keimanan.
Mau dikatakan ribuan kali jika tak meyakini tak akan ada upaya lebih dan lebih. Memang nyatanya hari ini begitu sulit memupuk iman agar tak tergoyahkan. Terlebih neningkatkan kualitasnya. Dan menyerah akan selalu jadi pilihan utama bagi mereka yang miskin iman.
Apa yang membuat kita begitu?
Karena kita belum menemukan jawaban yang tepat atas tujuan kehidupan itu sendiri. Secara teori bisa jadi tahu jawabannya adalah untuk beribadah padaNya. Namun, esensi keterikatan antara adanya proses penciptaan dan antara adanya hari pertanggungjawaban terkadang luput begitu saja. Astaghfirullah.
Karenanya, Allah subhanahu wa ta'ala ciptakan akal gunanya untuk berpikir. Akal yang digunakan untuk menemukan kenapa berislam. Akal yang menemukan akidah melalui proses berpikir. Sehingga darinya diperoleh iman yang sekokoh karang. Sebagaimana yang juga pernah terjadi pada para Sahabat ketika Rasulullah menyeru pada Islam. Maka bagi mereka yang tersentuh akalnya akan terbentuk keimanan yang tak diragukan.
Kita pun bisa melihat, para Sahabat tak sekalipun menyerah atas setiap ujian yang menyapa mereka. Sebagaimana yang pernah dialami Bilal bin Rabbah, sekalipun nyawa sebagai taruhannya, ditindih batu di tengah terik padang pasir, tak sedikitpun menggeser keimanannya. Pun juga yang dialami syahidah pertama, Sumayyah, maka ketika Rasulullah menyampaikan padanya agar bersabar serta memberi kabar padanya bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah menyiapkan surga baginya, justru semakin membuatnya teguh menggenggam Islam. Dan berujar pada Rasulullah bahwasanya dia mencium bau surga. Padahal saat itu dia tengah dianiaya oleh Quraisy.
Apakah kita masih begitu mudahnya untuk menyerah dengan ujian yang sejatinya setiap ujian pastilah ada jalan keluarnya. Tak mungkin Allah subhanahu wa ta'ala membiarkan kita tanpa pertolongannya. Semua tergantung pada kita, mau seperti apa menyikapinya
Dan semoga di Ramadan ini banyak hal yang membuat kita bermuhasabah diri. Memohon ampunan pada Ilahi atas setiap alpa yang telah terjadi.
Mari berbenah, Kawan!
Surabaya, 13 Ramadan 1440H
Hidup Penuh dengan Perjuangan
Kenikmatan akan semakin terasa setelah adanya perjuangan. Seperti adanya kesenangan setelah kesedihan. Seperti melaksanakan berbuka setelah berpuasa seharian.
Begitu juga dengan hidup yang kita jalani. Mungkin hari ini terasa berat untuk dialami. Tetapi percayalah bahwa esok hari, Allah SWT akan membalas semuanya dengan hal yang lebih baik lagi. Yakinlah akan janji Allah SWT, bahwa setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan yang menyertai.
Semoga kita senantiasa selalu diberi kekuatan untuk terus berjuang. Agar lebih bersyukur ketika nikmat itu telah datang. Semoga Allah SWT senantiasa berikan kita keyakinan. Agar hati kita terus bertahan pada setiap ujian.
Makan setelah berjuang (berbuka) ternyata lebih nikmat daripada makan setelah tidur (sahur). Maka mari kita penuhi hidup ini dengan perjuangan agar ujungnya kelak disesaki kenikmatan. (Ustadz Salim A. Fillah)
Sedikit yang Berkah, Menjadi Pengubah Sejarah
@edgarhamas
Hanya 10 tahun lamanya Rasulullah memimpin Madinah menjadi negeri idaman yang dicintai bumi dan dimuliakan langit. Namun perhatikanlah, 10 tahun itu menjadi contoh untuk semua negara-negara besar dalam membuat aturan sampai berabad-abad setelahnya.
Hanya 313 pasukan muslim yang berlaga di medan Badar yang heroik, melawan 1000 kafir Quraisy yang angkuh dan jemawa. Namun perhatikanlah, 313 pasukan itu menjadi contoh setiap pasukan muslim di timur dan barat bumi ketika membuka gerbang-gerbang kerajaan bumi. Menjadi sinyal Ilahi; bahwa kemenangan bukan pada jumlah, melainkan karena iman.
Hanya 100 ribu shahabat Rasulullah ﷺ sepeninggal beliau. Tidak sebanyak tentara Firaun yang jumlahnya berjuta-juta. Tidak sebanyak tentara Romawi dan Persia yang menyemut di lembah dan padang pasir. Namun perhatikanlah, 100 shahabat beliau ﷺ itulah yang menyebarkan Islam hingga hari ini umat kita berjumlah 1,3 miliar.
Jangan remehkan satu hari. Sebab karena satu hari ketika Rasulullah ﷺ diangkat menjadi Nabi, saat itulah bumi tahu bahwa wajahnya akan berubah dari kezaliman menuju keadilan.
Jangan pernah remehkan satu bulan. Sebab selama sebulan lebih 10 hari, Nabi Musa telah membawa 10 perintah Allah dari bukit Tursina, yang akan mengubah arah sejarah bumi sampai berabad-abad lamanya.
Karena sesuatu yang berharga tidak melulu tentang ukuran dan jumlah. Seringkali ternyata, ia hanyalah satu sentuhan kecil dan sedikit dorongan perlahan, namun sejarah bisa berubah karenanya.
“Sometimes, history is just a push.”
“Kuliah, pusing. Mau nikah aja.”
“Kerja, pusing. Mau nikah aja.”
“Nanti nikah pusing juga, mau nikah lagi?”
Bukan. Bukan begitu. Menikahlah bukan karena lelah dari kehidupan. Tapi menikahlah karena butuh diringankan dan meringankan beban pada saat yang sama.
Bukan. Bukan begitu. Menikahlah bukan karena ingin lari dari kenyataan. Tapi menikahlah karena ingin saling menguatkan hadapi kenyataan.
Bukan. Bukan begitu. Menikah bukanlah tentang kamu saja yang harus dijaga perasaan dan dibahagiakan hidupnya. Menikah adalah tentang sama-sama menjaga perasaan dan sama-sama membahagiakan.
Menikah bukanlah pelarian yang akan melepas beban-beban hidupmu. Menikah adalah tentang penyatuan dua kekuatan untuk membawa beban yang sudah ada sebelumnya. Menikah adalah tentang berkawan, saling berbagi dan menerima. Menikah adalah tentang membangun masa depan dan mencapai impian sama-sama.
Maka bayangkan, apa jadinya bila dua orang yang saling lari dari kenyataan hidup kemudian bertemu dalam satu bingkai pernikahan? Ya, barangkali mereka akan saling melarikan diri pada akhirnya.
— Taufik Aulia
Ini konsepnya baru dua manusia. Juga diingat menikah itu mengikat dua keluarga (besar). Jangan fokus pada kehidupan berdua saja ;)
Keluarga yang Sakinah
Keluarga adalah harta yang paling berharga. Yang selalu ada dalam suka maupun duka. Orang terdekat dalam lingkaran kehidupan kita. Walaupun di dalamnya tak selalu sempurna, tetapi keluargalah yang paling utama.
Maka, kewajiban bagi kita adalah mendo’akan keluarga. Berdo'a untuk orang tua, saudara, pasangan (jika sudah menikah), dan anak (jika sudah dikarunai) agar senantiasa diberi ketenangan atau sakinah. Karena ketenangan itulah kunci bahagia.
Sakinah memiliki arti kedamaian, ketentraman, ketenangan. Tenang jika orang tua senantiasa mendidik keluarganya dengan akhlak dan agama, bukan hanya memberi hal yang bersifat materi atau duniawi saja. Tenang jika pasangan selalu mengingatkan bahwa akhirat selamanya dan surga tujuannya, bukan menuntut dan berbangga dalam hal dunia. Tenang jika anak tekun ibadahnya dan berbakti kepada orang tuanya, bukan yang hanya fokus hingga pelajaran atau mata kuliahnya selalu mendapat nilai A.
Semoga kita semua menjadi sumber ketenangan bagi keluarga kita. Dengan berusaha menjadi lebih baik dan terus mendekat kepada-Nya. Semoga kita dikaruniai keluarga yang sakinah dan bahagia. Sehingga jangan lupa untuk terus mendo'akan keluarga.
Doa Keluarga Sakinah
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74)
Kang her. Aku dlm proses taaruf, ikhwan bekerja di luar pulau jawa, dan konsekuensinya ldr, kerja 3bulan off 2mnggu, kndisinya sult utk sy ikut projectnya. Kelrga impian ideal sy adalah tinggal brsama semuanya sama2. Ikhwannya sy mnta pertimbngkan utk bbrapa thn ke depan maks 5thn it's ok ldr, tp utk thn2 brikutnya sy mnta dia utk cari pkerjaan yg dekat. Tp ikhwannya kberatan. Kira2 saran kang her sprti apa ? Suka duka ldr itu sperti apa ? Sy berat utk maju bert utk mundur ?. Syukron sebelumnya.
Taaruf, Lalu LDR? Berkompromilah!
Kalau menurut saya, semua itu berawal dari kompromi masing-masing kalian. Berdialog untuk mencari titik temu. Dan saling memahami tujuan hidup serta cita masing-masing. Semua bisa dikompromikan asal tiap-tiap orang menaruh egonya di belakang. Cita-cita personal itu bukan berarti dihilangkan, tetapi ditaruh setelah cita-cita bersama a.k.a ‘keluarga’. Kalau perlu cita-cita personal tadi diaklamasikan menjadi cita-cita keluarga juga; itu baru keluarga paripurna.
Mungkin ikhwannya punya pertimbangan sendiri mengapa beliau mengambil sikap demikian. Seperti misalnya, di situ beliau sudah mapan dan peluang karirnya sangat bagus sehingga ke depan untuk keluarga akan membawa dampak maksimal. Bisa jadi ternyata sikap yang demikian itu justru untuk membangun cita-cita keluarga. Hanya saja beliau belum mau menyampaikan. Mungkin.
Baiklah, saya ungkap satu hal di sini dengan kalian. Tepat sebulan sebelum saya akhirnya diterima beasiswa pemerintah Turki, saya saat itu sedang berproses dan selangkah lagi selesai. Namun, pada malam ketiga Ramadan kala itu, saat saya sedang itikaf di masjid At-Taqwa Pasar Minggu, saya menerima letter of acceptance. Bahagia sekali rasanya. Namun, saya pun teringat bagaimana dengan prosesnya? Esoknya saya sampaikan kalau saya diterima dan harus berangkat bulan depan. Beliau pun sebenarnya sudah tahu kalau cita-cita saya adalah melanjutkan pendidikan sampai S3. Beliau memberikan pilihan menikah sebelum berangkat. Saya berpikir jernih, tidak mungkin secepat itu sementara saya harus mengurus ini-itu untuk keberangkatan. Pun jika iya, nanti jika saya berangkat mau bagaimana pasca menikah? Saya kasih opsi nanti saat liburan semester saya akan kembali. Namun beliau nampaknya tidak setuju karena ingin menyegerakan.
(Saya tidak pernah menceritakan kisah seperti ini di tumblr. Berhubung ini perlu agar dapat gambaran mengapa saya mengambil sikap demikian, maka saya ceritakan juga. Sebab itu saya samarkan. Hehe)
Akhirnya, kompromi tidak ketemu. Gagal. Ini adalah kegagalan karena pilihan. Sebab menurut saya, ada hal-hal lain yang lebih penting ketimbang menikah. Itu bagi saya lho, terserah kalian berpendapat seperti apa. Kalau kata Ust. Asep Sobari yang pernah saya posting di sini (klik di sini):
“Jika cita-cita besar berbenturan dengan perasaan, maka kalahkan masalah perasaan.”
Mungkin itu pula yang diambil oleh si Ikhwan. Mungkin. Mengalahkan perasaan.
Catatan Penting! Kuotasi di atas tidak mendorong kamu untuk mengambil sikap mementingkan cita-cita pribadi. Pun tidak membenarkan sikap si Ikhwan. Namun, hanya memberikan gambaran bisa jadi beliau punya prinsip yang sama.
Jadi saran saya kalian lakukan kompromi, sisihkan ego masing-masing, dan petakan masa depan kalian seperti apa. Jika perlu buat itinerary yang detail kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di setiap pilihan yang kalian ambil. Buang jauh-jauh kemungkinan gagal. Yang penting perlu niat dari awal masing-masing kalian ingin membangun cita-cita bersama.