Kehilangan memang bagian dari proses yang mampu mengubah seseorang. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa kehilangan lantas membawa partikel dari kita yang melekat pada yang telah pergi. Siang itu, seorang anak menangis histeris. Yang ia tangisi, ialah sebuah prosesi penutupan peti. Artinya wajah itu untuk terakhir kalinya ia lihat. Harus, ia simpan baik. Kenangan yang akan jadi pegangan bahwa manusia yang telah pergi, nyata pernah mendidik dan membesarkannya. Karena setelahnya, mereka hanya bisa bertemu melalui kenangan dan mimpi. Anak ini berdiri gagah, setiap kali manusia dibalik peti menjemputnya. Toko buku dan mixtape jadi salah dua tempat sering, mereka menghabiskan waktu. Anak ini penuh percaya diri, ia tahu akan ada tangan yang siap membantunya berdiri. Anak ini akan selalu mencoba apapun, tanpa rasa takut. Sampai suatu ketika, manusia dibalik peti terbujur. Si anak ini menjadi sosok yang penuh perhitungan. Ia tak lagi bebas mencoba. Kebanyakan ngalah, untuk menjadi contoh. Ia selalu diharapkan menjadi yang terbaik. Sosoknya dikenal tegar. Padahal kadang ia merasa tak mengenal dirinya. Ambisinya untuk orang lain, memperbaiki yang telah rusak. Mirip tukang reparasi, yang datang kepadanya kebanyakan rusak. [sebuah imaji dari 2009]
memasuki September, sudah melakukan apa selama delapan bulan kemarin?
a special right, advantage - privilege you name it - tadi malam dengan penuh haru berjalan pasti ke kedai kopi pilihan sendiri sambil menenteng sebuah majalah yang sudah terbit sejak dua minggu lalu. akhir pekan yang lengang menjadi sesuatu yang tinggi harganya.
cinta akan kesibukan adalah the fact that you focus so much to your work dan dengan demikian masalah yang ga ada hubungannya dengan hidup akan secara otomatis tidak terdaftar di pikiran. karena cinta itu, maka akhir pekan saya jarang lengang.
tadi malam saya “pulang”, mengizinkan salah satu teman ikut dalam kesunyian “pulang” tersebut. kami bertukar imaji. a quarter life crisis, kalau kata orang-orang di usia kami.
“Gilaa CV ku sepi amat, ngapain aja aku selama kuliah? sebenarnya passionku apa?” tanya Y.
apa itu passion? mari kita lakukan riset sederhana.
passion jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki arti kata gairah. yang dalam KBBI memiliki padanan keinginan (hasrat, keberanian) yang kuat. sedang kuat jika kita telaah memilki beberapa makna yaitu tahan (tidak mudah patah, rusak, putus), tidak mudah goyah, dan tahan (menderita sakit).
sehingga jika disimpulkan, passion berbicara tentang: mau ditolak, mau dicaci maki, mau dianggap rendah, mau dibilang tidak mungkin, kamu tetap berani berjuang. tapi tentu tidak sendiri - dalam hal ini - saya punya kepercayaan terhadap kekuatan lebih yang selalu menyertai yaitu berdoa - thats my way.
iman tanpa perbuatan mati.
i do read. reading is a part of living, buat saya. Memang di tahun 2017 ini fokusnya: to always learn and dedicate, yang ternyata tidak mudah. Anyway, salah satu cara untuk belajar dengan efektif adalah dengan membaca, mengamati cara berpikir mereka yang sudah berpengalaman, belajar dari hal-hal yang saya ga pernah pelajari. So I read. I read because I want to know.
“Tapi kayaknya aku terlambat menemukan passion karena ada orang-orang yang tidak mendukungku,” celetuk Y.
orang-orang seperti ini akan selalu ada, kapanpun dimanapun. berbicara passion, kamu harus berani menahan sakit tidak mendapat dukungan. tapi bukan berarti sosok seperti awkarin lantas bangga. No. itu bukan passion. passion macam apa yang menyakiti dirinya sendiri. sekali lagi itu bukan passion. kamu bebas buka dada sana sini, sebutlah Laras Sekar Arum, yang menghargai kebebasan ekspresi itu sebagai sebuah karya seni dan kini mengharumkan nama Indonesia di mancanegara lewat dunia modeling.
satu hal, ketika passionmu benar maka bukan kamu saja yang merasa bangga atasnya tapi juga manusia-manusia baik yang ada disekelilingmu.
Rindu itu jadi lumrah memang ketika terlalu sering dikumandangkan. Ia tak lagi menggetarkan bahkan didengarkan, lalu begitu saja.
“Kamu lagi merindu ya?”
Ga juga.
“Abis ditinggal apa rasanya? Untuk waktu yang tidak diketahui pula.”
Entahlah. Mix feeling.
“Could you please explain?”
Perasaan penuh asumsi. Seperti ada dua raja yang memerintah, hati dan pikiran. Keduanya bertolak belakang. Ibarat magnet: beda, tapi lucunya saling menarik.
“Memang ada ya perasaan seperti itu? Tidakkah keduanya sebaiknya sejalan?”
I don’t know.
“Bukankah perasaan seperti itu melelahkan?”
Suprisingly, I don’t. Mungkin that’s how I like it.
“You like it?”
Yes. Perasaan yang tetap menggunakan logika. Jadi hati tak lantas berjalan sendiri, ia beriringan dengan logika.
“Berat banget.”
Hahaha mungkin karena perasaan ke pihak tersebut berat, sepadanlah dengan perasaan yang dicurahkan.
“Lantas kalau tidak berakhir sebagaimana yang diharapkan bagaimana?”
Sentimental. Yang diciptakan Mir sapaan akrab Miranda Goeltom dalam episode Mata Najwa: The Untold Story. Actually, no. Mungkin karena ini berkaitan dengan orang terdekat, membangunkan emosi yang setahun belakangan disimpan baik. Tidak berbagi kepada publik dalam bentuk apapun, jangankan publik orang terdekat pun tidak saya libatkan banyak dalam kasus paling sentimental ini. I am just doing good in hiding. Good for me. Tapi malam ini perasaan itu kembali diusik, my memories flashback itself.
Malam itu, tepatnya January 2016 setelah merayakan pergantian tahun baru untuk pertama kalinya (well, natal dan tahun baru selalu dirantau sejak 2012) di rumah kami, i have to produce more daya tahan perasaan. Bolak balik berhubungan dengan kepolisian, pengadilan, singkat cerita what happened to Miranda Goeltom was happen to my Mum but in different case. Perasaan saya tak perlu ditanya, sudah pasti tidak siap, tidak cool (banyak airmata waktu itu), but I know as the oldest I have to show that I am okay.
Mungkin ini kasus paling sentimental yang menguras banyak tenaga setelah kepergian Bapak di tahun 2009. I confused. I do not know where to ask help. Aneh rasanya. Diberikan kendali, menjadi kepala keluarga sementara. Persis kisah Sjafruddin Prawiranegara yang menggantikan posisi Soekarno. Kala itu Indonesia dalam keadaan berbahaya karena tengah terjadi kekosongan kepala pemerintahan, my family either.
Gejolak dalam tampuk pemerintahan ini sungguh luar biasa, berbagai kebijakan selaku pemimpin baru banyak yang mesti direvisi. Belum lagi pihak-pihak luar yang berkomentar sinis. Layaknya media, ada yang memberikan framing positif tapi juga tidak sedikit yang “menertawakan”. Kalau pemerintah cukup mudah hanya dengan menggunakan logika, terkait keluarga disertai intuisi yang mendominasi. Airmata disana sini. Setidaknya, tanpa terasa, here we are at the last leg of another year, pemerintahan intuisi ini ternyata berjalan. Dalam waktu kurang lebih satu minggu, Desember akan pergi dan Januari akan kembali.
What I learn from Mir statements tonight, kejadian seperti ini bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan saja. Bahwa dalam hidup apapun bisa terjadi namun tetaplah kalem, legowo kalau kata Pak Ganjar, because the show must go on. Post ini tidak bertujuan untuk mengasihani diri tapi sebaliknya if you face some serious trouble, calm down ajalah everything is under control.
I do not have time to go into details. Tapi ini keputusan yang saya ambil sebelum mengakhiri tahun 2016: To learn, to love, to trust, to live without regrets, and to constantly remember to never forget all the great things that life begets.
Saya sedang mendengarkan pidato lengkap seseorang ketika menulis ini. Saya tidak mau menyebutkan secara tertulis siapa orangnya, karena salah satu poin isi pidatonya adalah ia tidak segan-segan melakukan somasi kepada pihak yang menjelek-jelekkannya. Ancaman ini cukup menakutkan terutama bagi kami yang dididik dalam ranah komunikasi jurnalistik: mempertanyakan segala sesuatu singkatnya “curiga berdasar”.
Statement yang disampaikan beliau lucu. Saya tidak menyangka kalimat demi kalimat seperti itu keluar dari mulut orang yang pernah berpengalaman mengurusi bangsa ini.
Sayang, tampaknya Anda belum ikhlas untuk meninggalkan tampuk pemerintahan. Jiwa penguasa Anda masih sangat bergelora, isi pidato Anda kebanyakan perintah daripada solusi.
Yang muncul adalah simbol-simbol politis dan membuat orang berpikir mengenai keterlibatan Anda dalam polemik empat sebelas kemarin. Mengapa Anda harus sampai memandulkan kemampuan perangkat negara dengan menganggap mereka ngawur? Karena ini terkait Anda? Karena Anda gerah dicurigai? Karena kini orang terdekat Anda sedang dalam pertandingan penting dan Anda tidak mau kesalahan di masa lalu menjadi penghalang?
Jangan begitu Pak. Duduk sajalah dibelakang layar, nikmati. Konferensi pers Anda justru akan menyakiti Anda.
Anda pasti mudah untuk mengakses media apapun, bukan? Dan terang di media massa, proses sedang berlangsung. Bangsa ini sedang berjalan, pemerintah berusaha untuk melakukan yang terbaik, tapi tentu arah dan caranya bukan kepunyaan Anda. Tidak perlulah mengancam.
Oh come on Pak. Saya pernah menuliskan sebuah post untuk Anda tanda terimakasih karena saya kagum atas dedikasi Anda pada bangsa ini.
Tapi sayang, kasih Anda kepada orang terdekat membutakan Anda sehingga mengganjil-i sendiri pidato Anda. Semoga Anda lebih bijak, semoga!
I believe the beauty of true love is learning to be happy when those that you love is happy, even if you might not be part of the happiness. When love is lost, do not dwell on what went wrong, but instead sincerely wish for the best for their other half and treasure that beautiful memories that was created.
Like us on Facebook | Follow us on Twitter | Kate’s Instagram | HJ-Story Instagram | HJ-Store
Kakak will not be there for you every step of the way but know in your heart that I will come and rescue you if you fall, mend your wounds, and let you run again. All you need to do is call, karena I cannot read minds so let me know. Kakak loves you girls—forever and always.
Memercayakan nasib di tangan pilot. Di tangan orang lain. I hate that. Mungkin karena itu aku payah dalam menjalin hubungan. I suck. Big time. Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita. That you’re only as happy as the least happy person in a relationship. Ingin punya tujuan pulang, tapi kok nggak berani menjadikan seseorang itu rumah kamu toh? (p: 7-8)
...
Ingatan itu sesuatu yang liar, ya? Memory is a great servant, but a really bad master. When we think about it, apa adanya kita sekarang, apa yang kita lakukan, reaksi kita terhadap sesuatu, semua produk dari kumpulan ingatan-ingatan kita, as far as back as we can remember, sampai detik ini. Kita jadi tahu untuk selalu menghindari bersentuhan dengan api, karena ada ingatan rasa perih yang kita rasakan sewaktu menyentuh lilin yang menyala pertama kali waktu kecil dulu. Kita bisa menyetir mobil dengan aman, karena kita ingat mana pedal gas, mana rem, mana persneling, dan mengingat ribuan reaksi lainnya terhadap berbagai kejadian yang mungkin terjadi di jalan raya. Kita tahu berurusan dengan seseorang yang menyebalkan di kantor itu percuma, karena kita ingat sewaktu pertama kali mencoba berdebat dengan dia dan ujung-ujungnya hanya menguras emosi sendiri.
We react to every single thing in our life because of our memory. Every single thing. Dari cara membuka botol, cara menjawab pertanyaan saat ujian, cara menggoreng telur mata sapi, cara berhadapan dengan klien.
Termasuk cara berurusan dengan sakit hati.
Most of the time, memory is our servant. Ingatan-ingatan masa lalu itu menjadi “pelayan” yang membantu kita menjalani hal-hal rutin dalam hidup. An aide that we cannot live without, really.
You just cannot exist without memory. Adanya kita tidak utuh tanpa ingatan. Bayangkan seseorang yang mengalami cedera otak yang sedemikian parah sehingga semua ingatannya terhapus. Balik ke nol seperti baru lahir. Jangankan cara melihat jam, bahwa yang dia lihat itu namanya jam juga dia tidak tahu.
Imagine waking up knowing nothing because your memory is gone completely. Pretty damn scary, isn’t it?
Tapi mau tahu apa yang lebih menakutkan? Bahwa kita sebenarnya tidak punya kendali untuk memilih mana yang bisa terus kita ingat, dan mana yang bisa kita lupakan. It fucks with your mind, memerkosa kemerdekaan memilih, tanpa ampun, dan tidak ada yang bisa kita lakukan jika kita membiarkan hidup kita dikuasai ingatan yang seharusnya kita buang jauh-jauh.
When memory plays its role as a master, it limits our choices. It closes doors for us. Merenggut free will, kebebasan kita untuk memilih melakukan sesuatu. (p: 20-23)
March! Masih punya mimpi dan cita-citakah? Kalau masih, good for you. Kalau sudah mulai sirna semangat menggapai impian tersebut seperti saya, probably we need time to rethink things.
Waktu ini merupakan rehat terlama dalam sejarah kehidupan perantauan yang telah saya mulai sejak 2012 lalu. Ada rasa ingin kembali menggapai mimpi, tetapi tak sedikit yang meminta untuk tinggal. Kali ini masalahnya besar, tak bisa dianggap lalu begitu saja. Benar-benar membutuhkan energi yang banyak sampai-sampai tidak bisa memikirkan yang lain, dipaksa untuk diam di tempat.
Berusaha bangun pagi tanpa rasa sakit dan berusaha untuk tidur dengan bersyukur, come on I must survive through this. Ini sakit, sangat menyakitkan bahkan, tetapi kuatlah, kamu pasti bisa (shinta debora is trying to be strong, still readers).
mengambil nafas panjang....................................................................................
Bersyukurlah masih dikelilingi manusia-manusia baik
Natal 2015 akan menjadi natal ke-21 saya. I have lived in this earth for 21 years and thus this will be my 21th Christmas. I'm excited! I hope you are too.
Kalau anda membaca entry ini mungkin anda berpikir bahwa I must had a very good day.On the contrary, pagi ini saya bangun dengan asam lambung yang sangat heboh. Muntah. Setelah dua kali berkunjung ke rumah sakit dan salah satunya harus berbaring di IGD untuk one day care. Hari ini saya harus kembali lagi ke sana, dan sialnya dokter yang sama. There it was, the doctor said that kalau tidak ada perubahan saya harus di opname. I don’t blame him. I blame myself. Dan malam ini ketika mencoba makan karena agak lapar dan yang bisa masuk sementara ini hanyalah bubur, I went to the kitchen and cook some tapi gosong. Hari yang indah untuk marah-marah.
Tapi tidak, sambil tersenyum dan tertawa saya membersihkan bekas gosong. Kemudian meminta maaf kepada Mbak Kosan dan janji akan mengganti panci tersebut. Sesungguhnya I feel so lebay, dalam kurun waktu satu bulan ini sudah tiga kali berkunjung ke rumah sakit. Dan bila orang bertanya, "Are you OK?" Dan setiap saat saya akan selalu berkata, "Iya lah. Of course I'm fine. Why should I not be?" Jawaban standard. Jawaban yang saya program sendiri ke otak saya. Jawaban yang kadang-kadang saya lontarkan to make everything seem OK. Saya ga bohong waktu saya bilang kalau hidup saya ga bermasalah karena biarpun ada masalah, I have to be OK.
But then I told myself, "Happy thoughts, Shinta Debora. Happy thoughts. Think happy thoughts. Think what you want for Christmas!" Selagi saya memikirkan apa yang saya akan todong dari mama tahun ini, I didn't feel a slight bit happier. Masih ada rasanya mau marah, masih jengkel, masih bete. Lalu terpikirkan lah sesuatu yang kita semua tahu, tapi selalu kita lupakan: bersyukur. Memiliki barang dan materi lebih banyak ngga akan membuat kamu senang. When you're all grown up, you don't list for things you want for Christmas. You list the things that you are thankful for all year round.
Special today, I want to thank my bestfriend. He is, because some of major reason we comfort with this bonding. Come to think of it, approaching him at was one of my best decisions of the year, for I get to meet a like-minded geek who appreciates science as a form of art, and whose taste in music matches mine. He—the sweet boy that he is—was the one who had no idea how much he’s impacted me. You have no idea how grateful I am to know you, thank you for everything, bestfriend.
Setelah kelelahan bolak-balik rumah sakit ini. I have to, berdiri lah sendiri. Kuat lah untuk dirimu sendiri. Jangan bersandar dengan orang lain. It just doesn't work that way. Disandari orang lain tidak apa-apa. Akan ada point di dalam hidup when you realize that being the strong one makes you strong.
In the course of six months of not writing here, many have happened. The highlight would be the fact that I settled down—in every possible sense.
Physically, I stayed into a new place, this time around way more permanent than ever (a big leap of faith for a nomad like yours truly). Knowing I’ll stay there at least for 2 months, I try my best to make everything comfortable.
Personally, dua bulan pergi dan menetap di timur Indonesia adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil. KKN life is great. Some perks: you get to learn more about yourself, take less things for granted, and open up your mind through crossing paths with individuals from different backgrounds. I am forever grateful for what life has brought me so far.
KKN selesai, lalu? Tentu saja skripsi. Ini adalah masa yang paling tidak nyaman yang pernah saya rasakan selama hidup dua puluh satu tahun di bawah matahari. Setelah menyelesaikan rangkaian perkuliahan, rasanya dunia adalah tempat yang sangat amat luas. It did not scare me but I did feel lost; and I do not like the feeling.
Mungkin itu adalah masalah terbesar setelah selesai KKN. I feel small. I feel very, very small. I feel that I do not have enough. Lalu sekarang mau apa? Mengejar kebahagiaan? Dengan cara apa? Menjadi kaya? Mencari uang? Menaiki tangga karir? That's it?
I have to lock myself to sit and think and think and think and these points are what I manage to come up with. .
Pertama, I have to read more. Mau skripsi tentang apa, harus matang jangan asal mau cepat lulus. Tidak neko-neko tetapi berkelas. Karya ini jangan setengah-setengah tapi juga tidak bermimpi terlalu tinggi.
Kedua, berdiri sendiri. Bukan berarti tidak butuh manusia lain, no it is wrong. But I knew I had to learn on discover myself—not in a nasty way, mind you—supaya saya bisa memulai rantai kebahagiaan. Tidak mudah berdiri sendiri, apa lagi kalau lagi sedih. Rasanya harus berbagi, "curhat" kalau kata kebanyakan orang Indonesia, curahan hati. Mungkin ini adalah alasan kenapa banyak sekali yang tidak suka menjadi orang single. Tapi ayo lah. Sendiri berani. Nanti kalau sudah berdua baru sehidup semati.
Ketiga, God leads. Skripsi ini akan membawamu kepada pressure yang lebih tinggi. Tapi ingat di atas semuanya, everything is under control. Be thankful setiap hari entah nantinya akan dimaki dosen, pusing ditengah pengerjaan, merasa sendiri, tidak tahu harus bagaimana namun ketahuilah kalau Tuhan itu baik.
Lastly, I’d like to thank people in Leilem who’ve so kind in me. And skripsi here we go, for what doesn’t kill you make you stronger.
I have read this konjungsi from someone’s instagram, menusuk semoga tidak sampai mati. An hour before i find those words, i had a meet up with cell group (two at least we are three girls who is talking about God, intinya kami tidak fanatik namun beriman. Haha).
Pertemuan ini dimulai dengan sebuah kisah cinta salah satu teman dari circle pertemanannya, katakanlah si A, dimana temannya sedang jatuh cinta tapi sayang kesimpulan yang bisa saya tarik, keduanya lemah. People fall in love in mysterious way memang kalau kata Ed Sheeran tetapi cinta itu sebaiknya kuat untuk membawamu semakin baik. Untuk itu teman, do not believe just the touch of her/his hand, Ed Sheeran did not think the lyrics through. Jangan juga biarkan mengalir, you need to use check and balance theory here. The theory tells you that sistem ini memberikan batasan, tidak ada yang tertinggi dan tidak ada yang rendah, semuanya sama diatur berdasarkan fungsi masing-masing. Seimbang, harus satu sama satu jangan setengah sama setengah ataupun satu ke setengah (note this from someone’s taught, in case you read this so i do not do plagiarism, yes? haha).
Kuat datang ketika kamu mulai dari diri sendiri, kata yang tepat mungkin cobalah untuk berdiri sendiri. Keindahan hidup ini seyogyanya mulai dari diri sendiri. I knew I had to learn on discover myself–not in a nasty way, mind you–supaya saya bisa memulai mata rantai kebahagiaan. Tidak mudah berdiri sendiri, apa lagi kalau lagi sedih. Rasanya harus berbagi, “curhat” kalau kata kebanyakan orang Indonesia, curahan hati. Mungkin ini adalah alasan kenapa banyak sekali yang tidak suka menjadi orang single. Tapi ayo lah. Sendiri berani. Nanti kalau sudah berdua baru sehidup semati.
Cinta memang dibutuhkan kawan tapi harus sehat sehingga memberikan dampak yang membuatmu sehat juga. Karena kalau salah satu lemah maka pasangan yang satu akan ditarik untuk menjadi lemah. Some might think, yaudahlah ya kita sama-sama menuju lebih baik kan gak ada yang sempurna. No, we do not talk perfection here. Tapi sehat, itu kata kunci disini. Karena jatuh cinta ini akan membawamu kepada kehidupan yang panjang, sehidup semati itu bukan waktu yang sebentar kawan. Maka dari itu harus sehat, supaya umurmu panjang dan kamu berbahagia.
Untuk sehat kamu harus makan makanan yang bergizi, minum air putih 2 liter/hari based on ilmu pengetahuan alam’s notes, olahraga yang teratur serta tidur yang cukup (well, takaran tidur cukup tiap individu berbeda, so set up your own). Begitu juga untuk jatuh cinta, karaktermu harus sehat karena karakter tersebut ialah bahan dasar konstruksi untuk proses mencintai ini. Karaktermu harus diberi makanan yang sehat, bergaul dengan orang-orang sehat, isi waktumu dengan kegiatan-kegiatan yang menyehatkan, rohanimu pun harus sehat, jadi berdoa lah. Maka dari itu saya sering gemas melihat orang-orang yang malas atau pun hidup tanpa niat untuk menjadi lebih baik. Make your “bad” to be “better”, your “good” to become your “best”. Tidak mudah tapi pasti bisa.
Ecclesiastes 8:17 then I saw all that God has done. No one can comprehend what goes on under the sun. Despite all their efforts to search it out, no one can discover its meaning. Even if the wise claim they know, they cannot really comprehend it.
Hari ini bangkit dari tempat tidur, saying bye bye to the sickness. Take rest for few days (for someone overactive was not easy buddy) because the temperature of body out of normal.
The beginning of 2015 had been quite of a roller-coaster ride to me—which probably makes the most acceptable excuse to why I hadn’t been writing lately. You see: people don’t really write on a moving roller coaster; they either find a grip, close their eyes, both, or give up and simply cry in half-excitement. In other words: trying to survive the ride. That’s pretty much what I’ve been trying to do: enjoying the unexpected happenstances—they might be inconvenient sometimes, but most of the time, they are also fun.
Being 20, you couldn’t help but realize that the world doesn’t revolve around you anymore—in fact, it never did. You do, however, continue to gravitate towards certain people: those who make you feel home, and those who give you the courage to leave it; to fight for your dreams. Some of these individuals might just happen to be around you (because you share the same university major or work at the same firm); some are people from the past who had to go separate roads (because life took them there) but bothered to make their way into your present; and some others were naturally drawn into you for what you both love. Either way, you now know better than ever that they matter.
Growing up has taught me to never take anything for granted—my home and family included. No, especially my home and family.After five semester I spent out of town, I decided to invest more time and effort for the lady I haven’t prioritized enough due to other assignment and passion callings.Expressing emotions has never been easy for me, but this year I dared myself to tell them about how grateful I am to learn first-hand that nobody should tell women to stay in the kitchen. That they should be free to choose what they want to do with life. The younger of them two told me to ‘chill out about marriage’ and ‘achieve your dreams first’. When I have my own daughter (or son, doesn’t matter), I will make sure that she understands that, too.
After all, what doesn’t kill us only makes us stronger.
depot air minum @depotairminum - Tumblr Blog | Tumgag