Hari Ini Saya Sidang? Ku Kira Besok...!
Berkas skripsi serasa bertambah lebih berat dari biasanya, hingga ritme langkahku menuju ruangan sidang terasa kaku tak beraturan.
Dari celah pintu, kulihat bapak penguji duduk dengan tenang sambil merapikan berkas-berkas persidangan. Beberapa saat yang lalu aku mencegatnya ketika keluar dari mesjid sehabis salat ashar, memohon agar bisa melaksanakan sidang susulan. Syukurlah dengan segala keterbatasan, sidang skripsi bisa dilakukan, walau tinggal satu jam lagi pengumuman hasil kelulusan.
“Pak maafkan saya sebelumnya, saya baru tau tadi pagi kalau sidangnya dimajukan jadi hari ini.”
“iya saya faham, silakan duduk.”
Sejak memasuki ruangan sidang aku menguatkan diri atas segala kemungkinan yang akan terjadi. Mau dimarahi habis-habisan pun tak apa.
Antara rasa percaya dan tidak percaya, akhirnya saya bisa berdiri menyampaikan presentasi di majelis sidang skripsi dengan persiapan seadanya, baru tadi malam dan ketika duduk di bangku bus aku mengulas isi skripsi, belum lagi slide presentasi yang masih belum di luar kepala.
Di dalam ruangan sidang ternyata ada beberapa mahasiswa tingkat bawah. Mereka diijinkan untuk menyaksikan presentasi skripsi. Dengan terbata-bata saya berusaha menyampaikan sejelas mungkin presentasi skripsi dengan bahasa Arab, walau agak terganggu dengan adik tingkat yang diam-diam merekam momen akward ini dengan live instagram.
“iya, cukup. Sekarang saya minta kamu bacakan abstrak skripsi punya kamu.”
Singkatnya presentasi skripsi saya saat itu memang kurang persiapan. Banyak hal yang terlewat yang ingin disampaikan. Wajarlah, namanya juga sidang dadakan.
Untungnya skripsi ku tak sampai dibanting dosen penguji. Alhamdulillah semua ketegangan dan ketidakpastian itu terbalas dengan nilai B yang sangat memuaskan.
Rintangan dosen penguji pertama telah dilalui dengan baik. Namun ada satu lagi kekhawatiran yang begitiu meresahkan. Hingga pukul empat sore, keberadaan dosen penguji kedua belum juga ditemukan. Chat dan telpon pun sama sekali tidak ada jawaban gegara aku telat datang selama 7 jam dari jadwal yang telah ditetapkan, konyol kan? Padahal saat itu tinggal beberapa menit lagi, pengumuman hasil sidang akan diumumkan di aula fakultas.
Pikiranku kalut. Di hari pengentasan gelar mahasiswa, bayang-bayang gagal lulus sidang sudah nampak jelas di depan mata. Lantas saja, baru satu dosen penguji yang memberikan nilai, itu pun buah dari presentasi skripsi yang jauh dari harapan.
Aku berjalan dengan pandangan datar. Membelah keramaian di depan gedung fakultas. Melewati balon-balon serta pernak-pernik hiporia ketika pengumuman kelulusan sidang penetapan gelar kesarjanaan.
Dari depan fakultas, ku dengar dengan samar pembukaan pengumuman kelulusan baru saja dimulai. Aku terus berjalan menjauh dari sana, bergegas menuju masjid untuk menenangkan pikiran. Menunggu di sana hingga acara selesai sepertinya lebih baik daripada mendengar secara langsung namaku ditangguhkan dalam persidangan.
Teman-temanku mulai berdatangan, mereka bergantian menanyakan kapan keluar fakultas dan di mana posisi sekarang. Semuanya kujawab dengan singkat, “Di mesjid, alhamdulillah sudah keluar.”
Dari pelataran mesjid, ku lihat mereka berkumpul di persimpangan menuju fakultas. Aku berjalan perlahan, merasa percaya diri namun nyatanya hanya menyembunyikan ketidakpastian yang menghawatirkan.
Ucapan selamat satu-persatu mulai berdatangan. Sebisa mungkin kuungkapkan ekspresi kebahagiaan, walau perasaan aslinya adalah kesedihan dan kekecewaan. Apa yang harus kukatakan jika memang kelulusan sidangku memang gagal.
Mereka minta berfoto bersama. Di depan kamera, senyumku tersungging agak kaku. Aku bergaya seadanya, lengkap dengan kemeja, celana, dan jas almamater yang baru tadi kupinjam dari teman kosan. Raut wajah kebahagiaan berusaha kutampilkan di tengah ketidakpastian dan kekhawatiran.
Ah.. sudahlah mereka pasti mengerti jika cerita sebenarnya kuutarakan. Namun yang menjadi beban pikiran adalah kabar kelulusanku yang lagi-lagi tertunda ini sampai kepada ayah ibu, belum lagi uang ukt yang terpaksa harus nambah lagi.
Serasa sepi, padahal di sini ramai. Penutupan sidang dan pengumuman kelulusan sengaja tak ku ikuti. Bayangkan saja, betapa malunya dalam forum resmi, namamu disebutkan dengan status kelulusan yang ditangguhkan.
Aku membuka grup whatsapp jurusan, katanya di sana ada informasi kelulusan dalam sidang tadi. Ku cari namaku dengan harapan masih ada keajaiban. Hingga akhirnya kutemukan namaku terselip diantara daftar nama mereka.
“yeeaah... dapat nilai A...”
Alhamdulillah, terimakasih dosen penguji dua, atas nilai A-nya secara percuma.
Terimakasih telah membaca kisah unfaedah ini, moga bermanfaat.
Intinya, jangan khawatir dengan kerisauan kehidupan yang sedang atau akan kamu jalani. Allah pasti telah menyiapkan orang-orang dengan hati lembut dan tangan-tangan yang akan menawarkan bantuan, mereka ada dalam kelumit permasalahanmu tanpa disadari, bahkan tak terduga.