Salahkah ku menuntut mesra
Tiap pagi menjelang kau disampingku
Salahkah ku menuntut mesra
Tiap taufan menyerang kau disampingku
“Sampai Jadi Debu - Banda Neira”
Lirik sebuah lagu yang sampai saat ini masih menjadi lagu magis buat saya. Entah apa yang sedang dirasakan oleh si pencipta lagu kala itu “Ananda Badudu”. Setau saya ini lagu diciptakan terinspirasi dari kisah Moma Popanya. Dan lagu ini diperdengarkan pertama kali kepada Moma Badudu yang kala itu terbaring di sebelah ruang ICU sebuah rumah sakit.
Namun kesehatan Mom ternyata terus memburuk. Oleh Rumah Sakit, keluarga dipersilakan secara bergiliran menyampaikan kata-kata terakhir selagi Mom masih bersama kami. Bahasa kasarnya, Mom sebentar lagi akan berpulang. Inilah kesempatan terakhir bertemu dengannya. Akhirnya tiba giliran saya menemui Mom di sebuah ruangan di ICU. Ruang itu, katanya, setingkat lebih tinggi dari ICU. Itu adalah ruang tempat menangani orang yang berada di ambang hidup dan mati.
Itu kali pertama saya melihat orang menghadapi sakratul maut. Sulit rasanya untuk tegar, mengingat yang terbaring di sana adalah orang yang sangat saya sayangi. Bersama dengan sepupu-sepuepu lain, kami memasangkan headphone pada telinga Mom dan memperdengarkan padanya lagu Sampai Jadi Debu. Ini seharusnya diperdengarkan di rumah Mom pada acara kumpul-kumpul keluarga, bukan di ruang ICU seperti ini.
http://dibandaneira.tumblr.com/
Waktu itu, belum tahu cerita apa dibalik lagu ini sehingga membuat begitu magis untuk didengarkan. Tak ada makna untuk saya pribadi tentang lagu ini sebelum kejadian itu. Januari 2016 Banda Neira merilis album Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. Bukan lagu utama yang menarik saya, tapi lagu ini, lagu Sampai Jadi Debu yang begitu indah, begitu jujur, begitu magis. Saya mendengar lagu ini secara berulang-ulang hingga Maret 2016 tiba. Bulan dimana Nenek (dari Bapak) saya masuk rumah sakit. Komplikasi. Beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Tapi waktu itu, dokter menyampaikan bahwa kami harus siap dengan skenario terburuk yang akan terjadi. Satu malam tanpa sengaja saya menunggui Mbah Putri (panggilan kami untuk beliau) seorang diri. Duduk disebelah ranjang tempat Mbah Putri terbaring tak bisa berbicara apapun. Beliau tidur, lelap. Terpasang Earphone di telinga saya dan lagu ini yang saya dengarkan sembari memandang wajahnya. Beliau yang sebelumnya ketika masuk rumah sakit masih bisa tertawa lepas mendengar banyolan saya, waktu itu hanya bisa memejamkan mata. Tanpa terasa mata saya berkaca-kaca mengingat ketika Mbah Putri tertawa lepas. Semalam suntuk saya terjaga disebelahnya.
Pagi menjelang dan Om saya datang menggantikan menjaga Mbah Putri. Saya pulang. Tidur.
Hari berganti hari, tak ada perkembangan baik, dan Mbah Putri minta “Pulang”. Bukan pulang ke rumah Budhe saya yang waktu itu menjadi tempat tinggal beliau. Tapi, “Pulang” ke rumah yang ditinggali sejak dulu. Rumah yang sesungguhnya. Rumah yang terletak di Klaten, tempat Bapak saya dibesarkan, Rumah dimana saya dilahirkan.
12 Maret 2016 Mbah Putri dibawa Pulang dari Rumah Sakit ke rumah Budhe.
13 Maret 2016 Mbah Putri dibawa dari rumah Budhe saya untuk “Pulang” ke “Rumah”.
14 Maret 2016 Mbah Putri “Pulang” yang sesungguhnya.
Mendengar kabar itu, saya hanya berpikiran bahwa ya memang Mbah Putri ingin pulang ke rumah di Klaten untuk “Pulang”. Beliau ingin “Pulang” ketika ada di rumah. Dengan perasaan lega dan kehilangan saya berangkat ke Klaten dengan kedua orang tua saya. Perjalanan 1 jam yang saya gunakan untuk melamun. Mengingat semua kejadian dengannya. Lamunan tersebut tersadar ketika sampai di gang rumah yang sudah terpasang bendera kuning pertanda kabar duka. Semakin tersadar ketika sampai didepan rumah sudah banyak kendaraan terparkir dan sudah ada tenda terpasang. Saat kami tiba, Mbah Putri belum dimandikan. Menunggu Bapak katanya. Bapak anak pertama dari pernikahan Mbah Putri dengan Mbah Kakung, atau anak keempat dari Mbah Putri. Saya melihat tubuhnya yang dimandikan diatas pangkuan Bapak. Pecah. Tidak bisa menahan lagi. Pelukan Ibu yang menenangkan belum cukup mampu untuk membuat air mata berhenti waktu itu. Setidaknya pelukan itu menjadi tempat mata bersembunyi dari kerumunan orang.
“Ku di liang yang satu, ku disebelahmu”. Mbah Putri dimakamkan disebelah makam Mbah Kakung yang sudah lama mendahului. Mereka sudah bertemu kembali.
Dari cucu yang rindu melihat tawa lepasmu.
Denpasar, 04 Februari 2019.
Terimakasih Banda Neira atas lagu magisnya. Lagu yang sampai saat ini masih selalu saya dengarkan. Lagu yang masih dan akan membuat saya melamun. Lagu yang akan membuat saya ingat selalu dengan Maret 2016.