Bertahan satu hari lagi ya.
Mike Driver
Not today Justin

Product Placement
Today's Document
Lint Roller? I Barely Know Her
Cosimo Galluzzi
RMH

⁂
Show & Tell

Andulka
DEAR READER
Cosmic Funnies
Claire Keane
we're not kids anymore.
Game of Thrones Daily
taylor price
YOU ARE THE REASON
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Discoholic 🪩
TVSTRANGERTHINGS
seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Peru

seen from United States
seen from Argentina
seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from Mexico

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@ikaher
Bertahan satu hari lagi ya.
Saya sudah berusaha sekuat yg saya bisa. Tapi jika memang itu belum cukup, maka saya akan berhenti. Saya bukan menyerah. Saya hanya tau diri.
Sewindu
Sudah sewindu ku di dekatmu Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu Tak mungkin bila engkau tak tahu Bila ku menyimpan rasa yang kupendam sejak lama
Setiap pagi ku menunggu di depan pintu Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis Di setiap pagimu, siangmu, malammu
Sesaat dia datang, pesona bagai pangeran Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan Engkau lupakan aku, semua usahaku Semua pagi kita, semua malam kita
Oh, tak akan lagi Ku menunggumu di depan pintu Dan tak ada lagi Tutur manis ku merayumu
Sewindu menjadi salah satu lagu on repeat di tahun 2019. "Tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu, dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu." Semua upaya dilakukan hanya untuk terlihat "baik-baik saja". Dan itu ga mudah.
Allah, aku mohon semoga bahagiaku nanti tidak akan melukai hati perempuan lain. Semoga postingan di sosial mediaku nanti tidak akan menyakiti hati perempuan lain yang pernah berharap menjadi satu dengan seseorang sehingga tidak ada air mata dari perempuan tersebut. Pernah ada di situasi ini dan rasanya sakit banget, sampe memilih pindah kos supaya bisa khusuk dan semangat nangisnya.
March 2025
My March is full and so is my heart (2025 edition).
Berkah banget ya bulan Maret 2025 ini karna full Ramadhan dan Idul Fitri 1446 H. Ga nyangka juga bulan Maret ini banyak hal yang ga bisa diungkapkan dengan kata kata, bisanya cuman bersyukur, Alhamdulillah, bersyukur, dan Alhamdulillah. Maret 2024, cuman Solawat aja pas dikirimin foto sama temen yang lagi umroh, ga pernah kebayang bisa dateng jadi tamu Allah dengan membawa Ibu dan Mbah Putri di bulan Ramadhan 1446 H ini. Kata orang "Allah akan memampukan orang yang diundang", dan itu bener banget. For real.
Dan ternyata dibalik belum menikahnya aku, Allah masih punya Tugas buatku untuk mengawal Ibu dan Mbah Putri bisa jadi tamu Allah. Jadi kalo ada yang masih nanya, kok belum nikah nikah, bentar dulu biar aku tanyain ke Allah masih ada Tugas apalagi nih hehe. Doain aja bisa segera ketemu my "Yang Gwansik" in real life.
Ada pepatah bilang gini "Jika sudah waktunya, hujan akan turun. Jika sudah masanya, bunga akan mekar. Begitu pula dengan doa-doa kita, jika sudah tiba waktunya, pasti akan terwujud". Sungguh Allah sesuai prasangka hambanya.
Sekian. Sampai jumpa di bulan Maret tahun tahun berikutnya. Minal Aidin Wal Faidzin.
Yogyakarta, 31 Maret 2025
114
Aku menemukan lagi, tulisan yang membuatku semakin tertampar. Tidak ingat bagaimana tulisan persisnya, tapi kurang lebih seperti ini;
"Kalau kita melihat pernikahan seseorang, lalu berencana tentang bagaimana pernikahan kita kelak. Apakah ketika kita melihat kematian seseorang, kita juga merencanakannya?"
Terimakasih pengingatnya, barakallahu fiikum.
@ffahraa
Meminta sebuah tenang..
Kebaikan itu ada pada rasa tenang dalam menjalani. Ketika seseorang telah merasa tenang atas hidupnya, maka ia menjalani kehidupannya dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab akan hidup yang telah Allaah berikan kepadanya.
Kehidupan baik adalah salah satu nikmat yang patut disyukuri. Kehidupan yang baik tak lantas seseorang tidak Allaah uji. Kehidupan baik ataupun tidak, ia akan tetap Allaah uji sesuai kadar imannya. Sejauh mana rasa yakinnya kepada Allaah, sejauh apa rasa syukurnya atas segala nikmat yang telah ia terima.
Rasa syukur akan melahirkan rasa tenang. Dan rasa tenang ini adalah sebuah karunia yang tidak semua orang merasakannya. Rasa tenang itu begitu berharga sebab ia memahami hakikat bahwasanya Allaah sudah mengatur dengan baik sebagaimana mestinya. Berapa banyak kita lihat pada hari ini, orang beramai-ramai mencari ketenangan kesana kemari yang mungkin hanya sesaat saja.
Bila saat ini jalan hidup kita sedang Allaah mudahkan, Allaah beri ketenangan dalam menjalaninya. maka itu adalah sebuah karunia. Semoga Allaah karuniahkan rasa itu hingga akhir hidup kita
Namun bila saat ini kita sedang mencari sebuah ketenangan. maka jalan keluarnya tidak lain tidak bukan adalah terus mendekat kepadaNya seraya mengupayakannya dalam doa-doa kita, dalam lamanya sujud-sujud kita, dan dalam lamanya tangisan kita. Sejengkal kita mendekat kepada Allaah, maka Allaah akan datang kepada kita sehasta. Demikianlah kasih sayang Allaah yang begitu luasnya.
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).
Kehidupan yang tenang itu sungguh lapang. Orang-orang yang hidup dengan rasa tenang bukan berarti mereka tidak pernah bersedih, tidak pernah kecewa, mereka juga merasakan sedih dan juga kecewa. Namun hakikatnya mereka kembalikan lagi kepada Allaah pemilih semesta ini. Mereka kembalikan kepada Allaah, Dzat yang tidak akan mengkhianati titipan.
Demikianlah rasa tenang itu mereka raih dengan memahami hakikat bahwasanya apa yang menimpa hidup mereka adalah terbaik untuknya. Allaah karuniahkan ketenangan kepada mereka sebab keyakinan mereka yang begitu utuh akan janji Allaah..
"Allaah, jika pada hari ini aku disibukkan pada hal-hal yang aku sendiri tidak tahu sedang mengejar apa, maka hadirkan lah rasa tenang dalam diriku. agar aku paham kapan aku harus berhenti, kapan harus berupaya, kapan akan harus terus berjuang. Karuniakan aku rasa tenang dalam menjalani kehidupan yang tidak pasti ini. agar aku tidak begitu takut pada apa-apa yang belum aku gapai, pada apa-apa yang memang tidak menjadi bagianku. aku hanya ingin menjadi hamba yang banyak syukur atas segala kebaikan Engkau kepada diriku ini."
menatap langit || 19.42
Sore itu...
Sebulan yang lalu, iya tepat sebulan yang lalu, 11/11/23, bukan tentang flash sale, tapi tentang kabar mengejutkan yang datang tiba tiba dan selalu tanpa persiapan apapun.
Sabtu itu aku lalui dengan beres beres selepas pulang dari Malang. Tidak ada sepatah kata yang diucapkan Bapak dan Ibu tentang kondisi di keluarga besar saat itu. Pergi ke Malang dengan suasana menyenangkan walaupun sejujurnya ada perasaan gusar yang membuat tidak bisa tidur, dan aku tidak tau itu perasaan apa. Selain gusar, tiba tiba playlist sering memutar Sampai Jadi Debu, seperti dejavu Maret 2016 pikirku. Ah mungkin kebetulan saja, kataku waktu itu.
Selama aku di Malang, Bapak Ibu tidak di rumah, menunggu simbah kakung katanya. Cerita yang baru ku dengar setelah mendengar berita sore itu.
Sore itu, 11 November 2023, sekitar pukul 16.30 aku memutar kembali mesin cuci untuk menyelesaikan tugasnya. Tiba tiba ibu datang dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya seraya berkata "Ika, simbah ga ada". Aku masih tegar dan mencoba untuk tidak larut sembari bertanya "baru aja atau dari tadi bu?". Tak lama pikiran di kepala meminta untuk berkata "aku belum ketemu simbah". Lalu semua tangisan pecah saat itu, rasa bersalah tidak sempat menunggui bahkan melihat untuk terakhir kalinya. Kembali, pelukan ibu yang menenangkan belum cukup mampu membuat hati dan pikiran tenang sampai akhirnya jatuh karena kaki terasa lemah. Ibu, yang saat itu berkata "ibu nyesel kemaren ga ke rumah simbah, ibu juga ga ketemu buat terakhir kali" masih bisa berkata "udah tenang, tugas kita sekarang cuman ikhlas, biar simbah bisa pergi dengan tenang". Perasaannya yang lebih hancur masih bisa menenangkan aku yang waktu itu berbisik ke Allah "ya Allah maaf, aku "lelah"" dengan segala penyesalan yang tidak bisa terungkapkan saat itu.
Sore itu, setelah mendengar kabar, dan berusaha tenang, aku pergi ke rumah simbah. Sepanjang perjalanan, isi kepala terasa kosong sambil air mata masih mengalir tanpa henti. Sesampainya di rumah simbah, sudah terpasang tenda untuk para pelayat, dan kendaraanku di amankan oleh om yang saat itu paham seperti apa perasaan kami. Ibu dan aku berjalan menuju ke dalam, bertemu tante yang sudah lebih dulu datang, "iya nangis aja gapapa sekarang, jangan ditahan" katanya sambil memeluk kami. Aku datangi mbah putri yang saat itu masih berbalut mukena untuk menenangkan diri sembari bermunajat ke sang pencipta. Tidak sanggup berkata kata, tidak juga keluar suara, hanya air mata dan tangisan yang ditunjukkan.
Saat aku datang, simbah belum dimandikan, "itu kalo mau ketemu simbah, tapi jangan nangis, jangan sampe air matanya jatuh kena ke simbah, kasian simbah". Aku ga sanggup, lebih memilih untuk duduk di samping mbah kakung sembari berbincang dengan sang pencipta. "Ini apalagi? Aku harus apa? Aku ga tau harus ngapain" kataku dalam hati ke sang pencipta. Kalut. Rasa bersalah dan penyesalan beradu jadi satu di dalam hati dan pikiran.
Bapak datang tepat saat simbah akan dimandikan. Situasinya sama persis Maret 2016. Aku pegang kain penutup masih dengan pikiran yang kalut. Kosong.
Malam itu, aku tidak beranjak dari sebelah mbah kakung. Memandangi kain berwarna hijau bertuliskan bahasa arab "Innalillahi wa inna illaihi roji'un". Rasa masih tidak percaya kalau dibalik kain itu ada simbah. Aku kehilangan lagi seseorang yang selalu menyebut namaku dalam doanya. Dalam munajatnya kepada Allah. Aku kehilangan seseorang yang 5 tahun terakhir selalu bilang "lho kapan pulang?". Aku kehilangan seseorang yang menjadi salah satu alasan pulang ke Jogja. Aku kehilangan simbah. Aku belum berterima kasih untuk semua doa yang dipanjatkan, untuk nama yang disebutkan. Aku sudah kehilangan simbah..
Aku sudah pulang ke Jogja mbah, tapi simbah juga "pulang".
Selama sebulan, masih belum bisa lepas dari rasa bersalah dan penyesalan karena belum bertemu simbah. Sekitar satu minggu yang lalu, tiba tiba simbah datang dalam mimpi. Aku dijemput simbah, aku dibonceng naik motor. Tapi tak ada satu katapun yang diucapkan oleh simbah. Lalu aku diturunkan dipinggir jalan oleh simbah, melihat ke arahku, senyum, lalu pergi sendiri. Aku pandangi punggungnya hingga tak terlihat lagi. Seakan beliau berkata "sudah ya, sudah ketemu, aku lanjutkan perjalananku, kamu lanjutkan perjalanan kehidupanmu." Aku terbangun, tak terasa air mata jatuh lagi.
Ah aku rindu...
Sleman, 11 Desember 2023
Kita ini nyari apa sih sebenarnya?
Setelah ini apa? setelah waktu kita selesai dan batas waktu kita berakhir, kita ini mau ke mana?
Aku termenung oleh pertanyaan-pertanyaan selalu berulang-ulang memojokan diriku sendiri.
"Iya yah, habis ini bagaimana?"
Pergi nyari senang, berlibur kesana kemari, tapi ujung-ujungnya sama juga. Saat kembali pulang, resahnya masih, cemasnya juga masih.
Lalu apa sih sebetulnya yang bikin jiwa ini tenang? Aku harus nyari ke mana?
Mengapa setiap upaya mengejar kebahagiaan hanya membuatku lelah dan menderita.
Capek, capek sekali....
Berusaha mengendalikan semua hal sesuai inginnya kita.
Mungkinkah semua ini hanyalah sebuah peristiwa singkat?
Seperti seorang bayi yang tidak pernah bisa mengingat kehidupan di kandungan ibunya. Lalu tau-tau terlahir di dunia.
Jangan-jangan waktu kita di duniapun memang sama, sesingkat itu?
Kita ini nyari apa sih sebenarnya?
Kita ini ngejar apa?
—ibnufir
"Dongakne aku kuat mental fisik ngasi lulus ya, aku yo ra reti pilihanku iki bener opo gak, seenggaknya sak mumet-mumet e aku hasile dadi doktor gitu" quotes terbaik sejauh tahun 2023 ini.
Pendengar yang baik
Mendengar tanpa harus menghakimi Mendengar tanpa harus mengomentari Mendengar tanpa harus tanya “kok bisa” Mendengar tanpa harus tanya “kenapa” Iya cukuplah mendengar, tanpa ikut berpendapat, pun ikut beradu masalah kehidupan. Dunia tempatnya capek, tempatnya lelah, tapi tak perlu beradu lelah.
Setangguh Suhita, Setabah Rengganis
https://rahma.id/menjadi-setangguh-suhita-setabah-rengganis/
Banyak konflik terjadi dalam rumah tangga bukan karena kurangnya rasa cinta, tapi ia terjadi karena kurangnya ilmu tentang cinta.
Ustadz Salim A Fillah
Definisi Rindu (pt. 1)
Ka, sehat? Kok makin sering ga muncul? HP mu kemana? Seseorang yang kalo tiga hari aja aku ga ada kabar, langsung wa duluan begini tanpa ada gengsi, padahal atasan. Padahal dulu perjanjiannya, kita damai di tempat kita masing-masing, kalo yang wa duluan berarti dia yang kalah.
Yogyakarta, 10 Mei 2023
Tulisan: Pesawat
Jika kamu begitu yakinnya pada pilot yang sedang menerbangkan pesawat, padahal mengenalnya saja kamu tidak, sementara ragamu tergadaikan antara jatuh atau selamat.
Seharusnya kamu lebih bisa yakin dan menyerahkan diri pada Allah atas semua yang hari ini kamu khawatirkan. Rezeki, jodoh, keluarga dan semua gemuruh hati.
Ikhtiarkan dengan ikhtiar yang terbaik dan semaksimal mungkin, doakan dengan doa yang penuh keyakinan dan prasangka baik, kemudian pasrahkan pada-Nya dengan sepenuhnya pasarah.
Sebab Tuhanlah yang menjadikan pesawat itu bisa terbang dan landing dengan selamat, Tuhan pula yang memberikan kemampuan dan ilmu pada pilot. Tuhan kita sama meski kita berbeda tempat dan waktu.
Kadang, kita terlalu menuhankan kekuatan dan kuasa kita, padahal kita hanyalah hamba biasa, penuh kurang dan cacat.
Sebab kamu mengenal-Nya, maka Dia akan membersamai dan menolongmu.
@jndmmsyhd
Life Lessons (pt.1)
Berhati-hati dalam pemilihan kata yang akan digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Kita tidak pernah tau kejadian apa yang dialami oleh seseorang di hari itu. Salah kata yang disampaikan akan sangat menentukan hari itu menjadi semakin baik atau semakin buruk untuk seseorang. Apakah akan membuat simpul senyum atau justru membanting hp sampe mati dan baru nyala di keesokan harinya. Tanpa disadari kita tidak pernah mempertimbangkan hal tersebut sehingga asal saja mengeluarkan kalimat sesuai apa yang ada di kepala kita. Sebuah pelajaran sangat berharga untuk diingat. Lalu tiba tiba inget ada anak kosan yang bunuh diri karena merasa tidak ada respon baik/merasa tidak didengar oleh lingkungan sekitar. Yang bertanggung jawab atas diri kita ya memang diri kita sendiri. Tapi bukankah lebih baik jika hidup kita bermanfaat untuk orang lain?
Ga ngerti mau di kasih judul apa
“Mau buka puasa di mana? tak temenin”
“Kalo perlu temen ngobrol atau cerita, bilang aja ya”
“Mau diabsenin nggak?”
Kayanya kalimat kalimat ini terakhir denger tahun 2020, dan baru denger lagi dihari ini, 3 Maret 2023. Mungkin karna 2 tahun skip ga ada cerita apapun lagi, jadi sehari ini banyak yang disampaikan oleh diri masing-masing. Sampai saat ini, selalu memberi kabar setiap ada perkembangan baik atau buruk dari permasalahan yang dihadapi. Sederhana saja, hal seperti ini yang membuat kita merasa masih dianggap sebagai seorang teman. Bukan orang lain lagi yang harus merasa sungkan untuk cerita apapun.
Ternyata, orang yang selama ini aku kira sudah tidak perduli lagi, justru masih sangat perduli. Dan ternyata aku sendiri yang selalu lupa sama sekitar. Cukup sekian dan terima kasih.
Denpasar, 5 Maret 2023
Sedikitkan bicaramu, nanti akan berkurang kesalahanmu dan akan meninggikan derajatmu. Banyak bicara itu seringkali menjadikan seseorang bisa terpeleset dan berbohong.
Ingat, tidak semua harus dibicarakan dan disampaikan, seperlunya saja.
@jndmmsyhd