Refleksi 9 tahun Pernikahan
Sahabat itu kita, satu persatu kita menyulam hari merangkai makna, sampai kita benar-benar merasa menjadi satu. Satu hati satu kata satu pikiran satu langkah satu tujuan seperti seorang sahabat sejati.
āDemi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.ā (QS- Al-Ashr: 1-3)
Pernah ada di satu masa, malam-malam yang bagi kita sangat panjang. Bahwa ternyata untuk mengenalimu buktu waktu setiap hari, bahwa memahamimu butuh waktu setiap saat.
Malam itu pekat dan sangat sepi, tangan kita saling mengenggam sangat erat, segala tangis dan harap kita tumpahkan bergantian. Memulai satu demi satu percakapan pengenalan, percakapan pembukaan sampai pada akhirnya kita menemukan sebuah pelajaran yaitu kesetiaan. Sampai waktu fajar tiba, kita bersiap diri untuk bergegas menuju tempat beribadah bersama. Aku bilang, jangan pernah lupa masa-masa ini. lalu aku tersenyum sambil berjalan menggandeng tanganmu.
Ternyata, kita melewatinya sayang. Jangan karena siapa aku. Kata-kata yang sempat kamu ucapkan sekitar 9 tahun yang lalu. Menikahimu bukanlah sebuah keputusan yang salah, kita berdua sudah dalam kendaraan yang benar menuju keabadian SurgaNya yaitu sebuah ibadah pernikahan. Ternyata disinilah tempat kita bertumbuh, karena kamu orang yang sudah dipilihkan Allah untukku, maka denganmu lah aku banyak belajar. Bahwa kita perlu bersama-sama meraih ridhoNya. Kita perlu meninggalkan diri kita yang dulu untuk terus bertumbuh, bukan untuk aku bukan pula untuk kamu, tapi untuk-Nya.
Menjadi setia bukanlah sebuah pilihan, tapi kewajiban untuk menjaganya.
Sayang, maafkan tindak tandukku masih belum bisa menjadi istri yang baik, tapi satu hal.
Ada yang diam-diam yang tidak berhenti mendoakanmu. Termasuk, supaya Allah tetap menggenggam hati kita. Agar tidak lari jauh-jauh. Tetap dalam dekapanNya, tetap dalam penjagaan dan rasa cintaNya. Ada yang diam-diam memohonkan bagaimana memiliki hati yang luas ikhlasnya tak punya tepi tak punya batas. Bagaimana belajar mencintai dengan penuh ikhlas, bahwa yang sedang bersamaku ini pun sebenarnya bukan milikku ya Allah. Maka jika Engkau mengambil dari kami kapanpun juga kita tetap dalam keadaan siap.
Jangan pernah bosan membimbing dan mengingatkan aku ya sayang. Menjadi dua manusia yang saling mencintai karena Allah dan bisa seperti yang diceritakan dalam surah Al-Ashr. Kita tetap saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan menetapi kesabaran. Selama 9 tahun ini aku bersamamu aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.
Terima kasih sudah menjadi pemimpinku, imamku, temanku, sahabatku, kakakku, suami terbaikku, yang telah dikirimkan Allah untuk menemani separuh perjalanan hidupku. Semoga nanti kita dikumpulkan bersama dengan anak cucu kita menjadi penduduk yang mempunyai derajat tinggi dalam Surga Allah kelak.
Aamiin Aamiin Yaa Robbal Alamiin.





