Gerimis datang lagi seperti malam-malam biasanya. Sudah malam keempat, gerimis datang di waktu petang. Biasanya sebagai penutup dari hujan, tapi malam ini sedikit berbeda, ia datang sebagai pembuka. Entah, hujan akan datang lagi pukul berapa. Tidak biasanya juga, gadis bermata minus yang suka menyeketsa itu memulai malamnya dengan secangkir kopi. Ada semacam perasaan ingin sedikit hangat saja, mungkin. Atau bertingkah seperti orang-orang kebanyakan, yang menghilangkan bosan dan frustasi berlebihan dengan secangkir kopi.
Gadis itu sengaja duduk di samping jendela kamarnya, supaya lebih jelas mendengarkan gerimis yang sampai pada genting rumah dan pohon-pohon. Di depannya ada laptop yang biasa ia bawa kemana-mana, selain buku diary, buku sketsa, dan Al Qur’annya. Tepat di samping laptop ada sebotolhabbatussauda, air minum dan segepok tisu. Ah… sudah tersohor sejak lama bahwa ia adalah gadis yang mudah sekali ingusan dan bersin-bersin apalagi di musim seperti ini. Mencium wangi air keran saja ia harus berkali-kali bersin dan berakhir dengan hidung berlendir. Gadis yang malang, sudah lama ia mengidap allergic rhinitis. Sudah tidak terhitung orang yang menyuruhnya untuk rutin memeriksakan diri ke dokter, tapi selalu saja banyak alasan, dasarnya terlahir sebagai gadis bandel.
“ Kak, ayo makan?” suara lembut datang dari balik pintu kamar. Adik kosnya ternyata. Tapi ia malas untuk bergegas.
“ Duluan saja, dind. Aku belum lapar.”
Ia kembali sendiri dan sibuk memainkan keyboard. Pada penampakannya, ia sangat serius sedang mengerjakan tugas akhirnya, realitanya tidak. Antara apa yang diketik dan dipikirkan ternyata seperti tepian pantai dan perahu nelayan di lautan. Jauh.
“ Re, kamu baik-baik saja kah?”
Ah… tidak tau mengapa ia sangat menginginkan ada orang yang menyapanya dengan kalimat seperti itu. Tapi ternyata tidak ada satu pun. Apalagi ia menantikan itu dari mulut seseorang. Sampai pada detik ini, penantiannya sudah terlalu lama. Lama ia mengetik, akhirnya memutuskan untuk mengambil buku sketsanya dan mulai menggambar; dua manusia yang sedang duduk bersama dan menekuni pekerjaannya masing-masing. Re, gadis ber-alergi itu menuliskan beberapa paragraf catatan sketsa, seperti biasanya. Kali ini ia menuliskannya tepat di samping sketsa yang ia buat. Ada space yang cukup untuk menuliskan beberapa kalimat.
; beginilah. Kita seharusnya seperti ini, bukan? Sebenarnya, selama ini kita tidak benar-benar sedang berjalan bersama. Kita berjalan di atas jalan pilihan kita sendiri. Kita semacam… takut bahwa dunia nyaman kita akan terusik dan dirusak oleh orang lain.
; yang kita lakukan hingga detik ini adalah
Kamu ada bersama laptopmu, di kamarmu.
Aku ada bersama buku-buku tebalku, di kamarku.
Seharusnya yang namanya bersama, bukannya:
Aku bersamamu semeja berdua.
Satu cemilan pengusir kantuk.
; nyatanya, kita berjalan sendiri-sendiri. Di penghujung jalan nanti, entah kita akan bersama ataukah mencapainya seorang diri. (Re)
Sudah. Ia mengakhirinya sampai di situ. Diletakkannya pena di atas buku sketsanya. Yang ia pikirkan justru bukan semata-mata dirinya sendiri. Ia selalu menunggui orang lain, agar menuju finish bersama-sama. Tapi, ia selalu menjadi seseorang yang ditinggal. Mm.. bukan, tapi tertinggal. Karena, selalu saja ada hal yang menahannya di tengah perjalanan.
Ibarat musafir pencari hujan, sepanjang jalan ia berharap ada hujan yang jatuh, agar payungnya bisa berkembang. Biar payungnya ia buka dan bisa diajaknya untuk bermain bersama musafir yang lain. Tapi, belum juga hujan jatuh. Gerimis pun tidak ada tanda-tanda akan datang. Payungnya masih kering. Sampai para musafir lain telah menjumpai apa yang mereka cari.
Sang musafir hujan pun kadang terpaksa bergumam,
“ Mungkin seharusnya aku tidak mencari hujan.”
Re sudah ditakdirkan menjadi sahabat yang terlalu setia, barangkali. Karena ia tidak bisa meninggalkan sahabatnya tiba di penghujung jalan sendirian. Tidak terhitung pula, berapa kali matanya gerimis hari ini. Lebih dulu datang daripada hujan lebat tadi siang. Mengingat-ingat lagi jejak perjalanan yang sudah lalu; juga badai-badai yang hadir dalam perjalanan hidupnya. Ia hanya ingin mengindahkan pesan ibundanya; bahwa ia harus tumbuh menjadi gadis yang tegar.
Tanpa mencari-cari nasehat dan pengingat, seperti mencari mata air bagi para musafir, sudah tersedia dengan cuma-cuma. Setiap kali Re membuka BBM-nya, ia menemukan penyemangat. Menjengukfacebooknya, ia mendapatkan nasehat. Mengunjungi blog dan Ig-nya, ia menemukan pengingat. Saat-saat itulah ia kembali menyeka gerimis yang tiba-tiba datang. Allah sayang padamu, Re. Allah sangat menyayangimu. Tidak perlu berpanjang-panjang merenungi takdir. Jalan hidupmu seperti ini, syukuri dan jalani saja, batinnya.
“ Kak, makan.” Suara lembut itu datang lagi, masih sama, datangnya dari balik pintu.
“ Iya, iya. Nanti aku makan, kalau sudah lapar. Lihat, kopiku masih separuh.”
Kata Re sambil menunjukkan cangkir putih di samping laptop.
“ Ih… Kak Re, nih. Jangan kebanyakan minum kopi kak… It’s not good for your health!”
“ Ckckck. Kemarin aku ditemani secangkir cokelat kok, diind.” Re menimpali kata-kata pamungkas terakhir. Adik kesayangan Re itu menghilang dari depan pintu. Kembali menuruni anak tangga. Kamar Re memang ada di lantai kedua.
It’s not good for your health!
Itu kata-kata ancamanmu. Jadi, apakah kita akan bertemu di penghujung jalan? Aku tidak ingin payungku kering selamanya.
Gerimis di luar sudah berhenti. Re menyeruput kopinya yang sudah tidak panas lagi. Jemarinya kembali bermain, dari balik kacamata kedua matanya sambil berkedip-kedip.
Rumah hijau. Jogja, 16 Februari 2016