āAkar dari semua rasa sakit hati adalah harapan.ā - William Shakespeare
āAku sudah pernah merasakan kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap pada manusiaā - Ali bin Abi Thalib
Dua quotes ini memiliki satu arti yang mendalam, dan bisa kita perluas maknanya. Setelah direnungi, quotes ini juga mengantisipasi kita untuk menjadi orang yang mandiri. MANDIRI dalam artian sebenarnya.Ā
mandiri/manĀ·diĀ·ri/ a dalam keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain: sejak kecil ia sudah biasa -- sehingga bebas dari ketergantungan pada orang lain;
kemandirian/keĀ·manĀ·diĀ·riĀ·an/ n hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
- Kamus Besar Bahasa Indonesia
Jadi, mandiri berarti dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Jadi sebenarnya termasuk kita seharusnya tidak boleh bergantung atau berharap pada teman sendiri atau bahkan pada orang tua?
Sejak kecil aku selalu diajarkan menjadi mandiri oleh orang tua ku. Dari hal kecil sampai hal yang besar. Misal hal yang kecil adalah aku tidak diperbolehkan minta/ icip makanan punya temanku, daripada minta punya mereka lebih baik aku punya sendiri, sama seperti daripada aku pinjam penghapus teman, lebih baik aku punya sendiri. Sampai hal yang besar seperti masa depanku. Papa lebih suka aku menjadi dokter dan masuk Fakultas Kedokteran karena menurut beliau profesi dokter adalah profesi yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Tapi untungnya harapannya kepadaku berbanding lurus dengan cita-citaku.Ā
Jadi karena didikan mereka lah, sampai hari ini aku memang lebih suka memiliki segala sesuatu sendiri atau melakukan segala sesuatu dengan tangan ku sendiri.
Semakin ku beranjak dewasa, aku juga sadar bahwa aku juga semakin tidak bisa berharap pada orang tua. Kita sibuk dewasa, lupa bahwa orang tua kita juga menua. Tenaga mereka sudah semakin berkurang.
Aku ingat ketika aku masih di semester 1 atau 2 kuliah. Ketika balik dari rumahku di Jakarta kembali ke Nangor, Papa selalu mengantar ku dengan mobilnya. Aku mulai pulang ke Nangor dengan bis ketika tingkat 2 kuliah. Aku ingat mama bilang kepadaku suatu siang sebelum aku pulang,Ā āDira pulang ke Nangor naik bis aja ya, Papa sekarang gampang capek kalo nyetir jauh, pas nganter Dira terakhir pulang-pulang Papa jadi flu...ā, sejak itu aku selalu pulang sendiri dan tidak lagi bergantung pada Papa.Ā
Mama pun juga demikian, tenaga nya untuk pergi kemana-manapun sudah berkurang. Tapi itu adalah suatu kejadian yang alami. Aku tidak bisa mencegah penuaan mereka dengan menyuruh sel-sel tubuh mereka untuk berhenti berproses, aku cuma bisa menjaga mereka tetap sehat di umur mereka saat ini.
Harapan pada teman pun juga sama. Bahkan pada teman baik sendiri pun. Kita tidak bisa menjamin teman baik kita akan selalu ada untuk kita. Mereka punya hidup mereka sendiri. Dan karena sifat kita yang berbeda-beda, kita tidak tau kapan perilaku buruk mereka akan merugikan kita. Dan dari pengalaman yang lalu-lalu, bahkan untuk sekedar berharap agar mereka menjaga rahasia kita pun, teman yang kita anggap sudah seperti saudara sendiri bisa berkhianat.
Dan semakin aku dewasa, semakin tampak mana orang-orang yang memiliki banyak wajah. Dimana dia bisa baik di depan kita, dan pada waktu yang sama bisa sangat jahat di belakang kita. Orang-orang yang berbuat jahat untuk mendapat banyak teman, untuk diterima di lingkungan sosial, dsb juga banyak. Ada banyak orang yang seperti itu, teman.
Jadi kesimpulannya, adalah suatu kesalahan untuk berharap pada manusia. Orang yang mencintaimu, tak akan membiarkanmu berharap. Dan jangan salahkan seseorang bila kamu sakit hati karena merasa di-PHP-kan olehnya. Mungkin dia tak bermaksud memberimu harapan, mungkin ekspektasimu yang berlebihan.
Tak ada tempat bergantung bagi manusia selain kepada Tuhannya, Allah swt. Kalo mau curhat, curhat lah pada Allah, disamping Dia pasti mendengar, Dia juga pasti akan memberikan jalan keluar untuk segala masalah mu ;)