Buka puasa hari kedua di kota tempatku dibesarkan tetapi bukan dilahirkan, turut sertalah diriku dalam sekelompok rekan-rekan yang aktif di perteateran pada masa kuliah dengan latar belakang asal daerah yang sama tempat ku dibesarkan.
Baiklah, aku berpikir ini akan sedikit menyenangkan dengan ekspektasi akan ada pergibahan akbar diantara kami. Tapi nyatanya yang terjadi?
Mungkin koordinasi sepihak hanya terjadi di personil tertentu, sehingga beliau ini harus hadir.
Ada perasaaan kurang enak, dan mendadak seperti meriang yang bukan merindukan kasih sayang.
Begitu rombongan terakhir hadir di rumah makan cukup sederhana dengan harga bintang 3 rasa bintang di langit-langit kamar, dadaku kembali bergetar.
Seolah dibawa ke masa lalu, badan ini rasanya ndredeg (kalo kata orang jawa). Tangan mulai merasakan kemitir pengen nampol rombongan terakhir yang hadir.
Kenapa?
Ya itu. Salah satu dari rombongan yang hadir adalah orang yang berkontribusi dalam membuat masa remajaku sedikit suram saat sekolah di smp yang katanya favorit, tetapi favorit di akademis saja. Untuk attitude beberapa siswanya masih dipertanyakan (menurutku sih).
Baik, kuceritakan mundur 17 tahun yang lalu saat diri ini masih ABG.
Kelas 1 SMP diriku bertumbuh menjadi anak yang mungkin agak banyak berbohong karena ada beberapa lingkungan yang membentukku menjadi seperti itu. Tapi percayalah, ku yang sekarang sudah lebih baik, insyaallah. Aamiin (yak jangan maido plis)
Namanya juga anak smp yang liet kakak kelas agak gantengan dikit, bawaannya kan agak caper gimana gitu. Ya apalagi diriku yang hanya anak abg biasa yang normal. Cenderung suka pada ketampanan pun kecerdasan yang nampak berkilau dan memancar dari aura wajah.
Aku kurang ingat persis kasus yang dibilang aku bohong dibagian mana. Yang kuingat hanya ada seorang kakak kelas yang waktu itu bilang kalo diriku ini mengaku sebagai pacar dari laki-laki favorit sejagad smp favorit itu.
Baeklah. Agak nggak umum juga ya sepertinya.
Tidak berhenti disitu, ternyata ada kebohongan lain lagi yang kubuat agar eksistensi di depan kawan-kawan diakui. Adalah punya hape, tapi nomornya ganti-ganti. Padahal di zaman itu (2002), nomor hape masih mahal bin mehong. Tau nggak gimana caranya beberapa orang memojokkan statement bohongku itu? Diajak ngobrol terus, ditanya bak pelaku kejahatan yang sedang diselidiki oleh penyidik. Terang saja ku seorang anak polos yang glagepan mengeluarkan beberapa kalimat yang ada bohongnya.
Yaaaa, pejabat publik saja kalo ada kepepetnya ada kata yang bertelingkah, apalagi remaja yang suci dengan sedikit dosa.
Oke.
Mungkin hampir satu sekolah jadi mendengar sedikit atau bahkan banyak tentang 2 hal yang kulakukan itu. Tapi apa mereka berhak melakukan judgement?
Awalnya ku ikuti ekskul pramuka, sekali lagi untuk menunjukkan eksistensi diri ini, ku ikuti pula Dewan Ambalan di sekolah yang saat itu bisa membuat seorang siswa biasa, menjadi cukup dikenal di kalangan sekolah, baik guru maupun siswa.
Benar saja. Selain dikenal sebagai seorang yang memiliki nama, dikenal pulalah seluruh attitude dan anu. Yahhh itu tadi di atas itulah..
Kemudian di sore itu, pada saat seluruh anggota pramuka selesai mengikuti ekskul, tinggalah kami para DA, dari kelas 1,2, dan 3. Latihan DA memang dilakukan setelah seluruh peserta pramuka reguler selesai menerima materi, kemudian dipulangkan.
Pada hari itu pun bertepatan dengan pensiun atau purna tugas DA kelas 3 yang menurutku agak cukup lumayan baik. Dan rasanya beban menjadi sedikit terangkat kalau latihan DA sore ada mereka. Enggak berat maksudnya latihannya.
Baiklah. Sore sudah menjelang, kelas 3 sudah pamit, dilanjutkanlah latihan PBB (baris berbaris).
Banyak yang melakukan kesalahan, sehingga pada saat itu ketua DA kelas 2 memasukkan kami ke ruang kelas yang ada di samping ruang guru. Feelingku mengatakan bahwa akan ada insiden balas dendam yang dilakukan oleh mereka.
Yakkkkk, Gubrakkk !
Benar saja. Diawali dari dibanting si pintu yang ga bersalah itu keras-keras.
Mulailah mereka mengeluarkan segala bentuk kesalahan PBB kami, displin kami, dan lain-lain.
Ujungnya?
Permasalahan pribadi personal masing-masing DA dibahas dan diminta untuk mengaku.
Semacam pengakuan dosa bung !
Sebenarnya dari awal sudah kurasakan ujung-ujungnya pasti di aku, ya itu, 2 kesalahan yang kulakukan yang kuceritakan di atas. Dan mungkin wajahku yang songong barangkali. Hahaha
Segala macam penghapus, kapur tulis, penggaris kayu, mulai dilempar.
Syukurnya, papan tulis hitam, meja, kursi, dan lantai tegel tidak ikut diangkat kemudian dilempar.
Ya hanya dipukul-pukul aja.
Benda mati sih, tapi diperlakukan kurang baik begitu. Mereka juga yang jadi saksi bisu diapakannya kami, DA kelas 1 oleh DA kelas 2.
Mulai berjatuhanlah kawan DA seangkatanku dengan dalih pusing, mau pingsan, keletihan, lemah jantung, tapi tidak lemah syahwat.
Pada saat itu sih statement mereka untuk menunjuk kesalahan dan mendisiplinkan kami sudah keterlaluan dan melampui batas menurutku. Karna kalo masih ditahap dimarahi orang, hatiku masih kuat. Berhubung segala macam mercon dan bom sudah dilemparkan kearahku, akhirnya jatuhlah air mata anak polos ini.
Saat itu sih sebenernya secara fisik aku masih kuat, tapi hati aku tu lemah. Ide kreatifku selalu muncul di detik-detik menegangkan begitu. AKu melakukan adegan (pura-pura) pingsan, kemudian bubarlah penganiayaan verbal berkedok pendisiplinan itu.
.
.
Cukup membuat trauma nggak ceritaku?