finding passion, where it is?
Misplaced Lens Cap
art blog(derogatory)
Acquired Stardust
DEAR READER
One Nice Bug Per Day
dirt enthusiast
YOU ARE THE REASON
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
i don't do bad sauce passes

izzy's playlists!
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Sade Olutola
Peter Solarz

tannertan36

oozey mess

PR's Tumblrdome
h

blake kathryn
noise dept.
No title available

seen from Türkiye

seen from South Africa

seen from Poland
seen from Türkiye

seen from Mexico
seen from Ecuador

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Ecuador
seen from Ecuador

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@dmhdyoung
finding passion, where it is?
these past weeks were really hard, to be balanced. April and Ramadhan was not really a good combination for someone who worked on tax. the datelines, the workloads.
Semoga Allah masih mengizinkan untuk bertemu bulan Ramadhan di tahun-tahun selanjutnya, dengan keluarga yang sehat, dengan ibadah yang juga jauh lebih meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Aamiin🥲
Ramadhan 1444H
Sebetulnya ada banyak sekali kurang dalam memaksimalkan kesempatan kali ini. Tapi jauh dibandingkan tahun lalu, tahun ini aku lebih merasa didekatkan? Mungkin bisa jadi perasaanku saja, tapi semoga memang benar sejatinya seperti itu.
Aku ingin sekali selalu dijaga agar bisa tetap dekat. Kiranya doa itu adalah salah satu yang ingin kuulang-ulang di penghujung ini. Ya Allah semoga di mana pun kapan pun bersama siapapun, Engkau buat aku bisa semakin mendekat kepada-Mu.
Entahlah mungkin karena tahun lalu merasa cukup ‘jauh’. Sedih banget kalau diingat-ingat, tapi untungnya Allah maha pemaaf, suka memberi maaf, jadi tolong maafkan hamba dan buat masa lalu adalah sejauh-jauhnya waktu sehingga aku tidak akan kembali pada hal-hal yang harusnya ku tinggalkan.
Bersyukur sekali berjumpa dengan orang-orang baik. Semoga senantiasa perjumpaan selanjutnya pun banyak orang baik yang bisa membuat diriku terus memperbaiki diri.
Benar kata seorang teman; Allah itu Maha Baik. Begitu baiknya hingga Allah memilihkan kita sebuah keputusan yang di masa depan begitu kita syukuri karena telah kita pilih, dan Allah hindarkan pada sesuatu yang lain.
Ya Allah, jangan biarkan saya menjauh ya? Dekatkan teruuus selama-lamanya.
Depok, 20 April 2023
it’s really terrible feeling, when you just one-feet-away to reach one of your bucketlist but the excitement is not like the expected. the guilty feeling somehow lingered more and you just keep asking yourself the question you really dont understand.
Nggak apa-apa untuk mengakui bahwa diri sendiri lelah, kelelahan dengan hidup yang menyesakkan setiap harinya. Hari demi hari yang ingin cepat berlalu, tidur menjadi waktu istirahat meski tak lagi ingat kapan tidur nyenyak. Senyenyak dulu. Dulu waktu menjalani hidup ini dengan penuh rasa bahagia dan khawatir, tapi tetap dijalani dengan penuh rasa percaya. Rasa itu kini telah mati, bertahun lalu, saat perjalanan ini dimulai. Memulai jalan yang salah.
Salahnya aku tak berpikir panjang. Panjang anganku mengalahkan rasionalitasku untuk lebih bijak. Kebijaksanaan yang saat itu belum tumbuh dalam diriku yang penuh energi tapi tidak hati-hati.
Nggak apa-apa untuk mengakui bahwa diri ini sangat lelah. Terlalu banyak masalah, mau kembali tapi tak memiliki rumah. Merasa arus kuat, meski tidak tahu harus ke mana dengan masalah yang serumit ini. Dan berbohong terus menerus setiap harinya, mengatakan bahwa hidupku baik-baik saja.
Tak hanya ke orang lain, tapi juga diriku sendiri. ©kurniawangunadi
slowly moving from my comfort zone to another uncertainty; that so funny the thoughts, and the phase always come in 4th quarter.
it’s another tiring day, but here the world trying to cheer you up🥹
Kepercayaan
Mendapatkan kepercayaan itu sulit, tapi sangat mudah untuk menghancurkannya. Dan sekalinya mengkhianati kepercayaan, sulit sekali untuk membangun ulang.
Sekali kita tahu seseorang berbohong kepada kita, maka sudah pasti itu bukan pertama kalinya. Entah ditempat lain, diwaktu yang lain, pernah dilakukan. Dan karena tidak mendapat konsekuensi apapun, maka itu berulang.
Berulang sampai kepada kita.
Dan tidak ada kesempatan kedua untuk kebohongan. Karena kesempatan kedua, pasti sudah pernah diberikan oleh orang lain, atau oleh keadaan yang lain. Mengkhianati komitmen, mengkhianati janji, mengkhianati rahasia, mengkhianati kepercayaan. Pikir-pikir ulang untuk mempercayainya lagi.
Nasihat ini kutujukan untuk diriku sendiri yang semoga dalam keadaan apapun, bisa menjadi orang yang bisa dipercaya, dan orang yang berkomitmen. ©kurniawangunadi
🥲
Ada beberapa hal yang mungkin baiknya dibiarkan saja sesuai interpretasi masing-masing. Dibiarkan saja sebagaimana kehendak ingin menilai baik dan buruknya, baik dan jahatnya.
Mungkin memang seperti itu, mungkin tidak sepenuhnya seperti itu, tapi toh, orang-orang tetap hanya akan meyakini apa yang dia ingin yakini, bukan?
Semakin kesini, semakin menyadari bahwa menutup diri bukan hal yang baik, namun terlalu terbuka juga bukan hal yang tepat. Entahlah, apakah seharusnya itu cukup menjadi dasar atau terlalu berlebihan.
Pikirnya masih sore, namun gedung-gedung di luar sudah mulai menyalakan sinarnya. Senja yang telah berganti pekatnya malam, tanpa sinar bulan yang tertutup kelabunya awan.
Ia masih terdiam, khawatir apakah beranjak sekarang adalah pilihan yang tepat. Takut di tengah jalan tiba-tiba disergap hujan dan badai.
Rekannya satu persatu pamit untuk meninggalkannya duluan. Ada yang membawa payung, dan ada yang menyiapkan jas hujan. Hanya dirinya yang pergi tanpa persiapan. Hah, lagian, udah tau musim hujan, keluhnya.
Dirinya kembali menatap layar di depan. Semakin ia melanjutkan, semakin ia kehabisan ide untuk menyelesaikan. Ruangan semakin sepi, dan di luar, rintik hujan mulai menyapa.
Putusannya untuk tinggal tidak seluruhnya tepat, mengingat hujan yang sepertinya tak akan kunjung mereda dalam waktu dekat sementara ruangan yang kian kosong.
Ia menghela napas sebentar. Kenapa tadi harus ragu dan memutuskan untuk tinggal. Kenapa perkara melanjutkan pergi atau tidak saja bisa sebegini memusingkan harinya.
Denial
Tanpa sadar, mungkin kita pernah bahkan sering melakukannya. Saat kita sedang bersedih, kita mencari cerita-cerita sedih dari orang-orang lainnya hanya untuk menghibur diri bahwa ada orang lain yang hidupnya lebih menyedihkan dari kita, dan apa yang kita jalani belum ada apa-apanya. Dengan kata lain, hidup kita lebih bahagia.
Mungkin saat dalam kondisi waras, kita akan mengingkari hal tersebut.
Berulang kali terjadi, berusaha menyemangati diri dengan mencari-cari alasan bahwa hidup kita ini tetap lebih baik, lebih tidak sesengsara orang lain. Dan yang terjadi sebenarnya adalah kita sedang memumpuk rasa sedih dan kecewa kita, yang entah kapan, bisa meledak sewaktu-waktu. Dan saat itu terjadi, kita menghancurkan semuanya. Alih-alih menyelamatkan apa-(si)apa yang perlu kita selamatkan hari ini, kita justru melukai semuanya. Diri kita dan orang-orang yang kita sayangi juga yang ingin kita lindungi saat ini. ©kurniawangunadi
“Tidak ada yang mengejar-ngejarmu, kecuali kekhawatiran dan ketakutanmu sendiri.“”
—
Kurniawan Gunadi
Tulisan : Tolonglah Dirimu Sendiri
Kadang kita berusaha untuk selalu menolak apa yang sedang kita rasakan. Alih-alih mengakuinya jika kita memang sedang bermasalah, sedang perlu bantuan, sedang merasa lemah. Kita terus menerus berpikir bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa semuanya tidak apa-apa.
Sementara di saat yang sama, tanpa kita sadari, kita tengah memupuk rasa bersalah, rasa penyesalan, rasa lelah, semua perasaan yang membuat hati kita terpuruk tapi dibungkus seolah tidak terjadi apa-apa karena kita tidak ingin membuat sedih dan kecewa orang-orang yang kita sayangi, tapi mereka tak bersedia menerima keluh kesah kita.
Dan disaat yang sama, kita menyakiti orang-orang di sekitar kita tanpa kita sadari. Tanpa kita sadar, perasaan itu telah muncul melalui perkataan kita, sikap kita, dan semua hal yang yang terjadi sehari-hari.
Mungkin banyak orang yang sebenarnya ingin menolong, tapi kita sendiri tak mau ditolong. Tak mau mendengar nasihat. Tak mau menerima kenyataan bahwa keadaan kita memang tidak baik-baik saja, dan kita harus membuat keputusan yang konsekuensinya begitu besar.
Sering kali, kita tak mau membagi beban. Seolah-olah kuat menanggungnya sendirian. Beban itu mungkin tak seberapa bagi kita saat ini, tapi kalau kita menggenggamnya seumur hidup. Apa kita sanggup? Ibarat memegang sebuah gelas, semenit dua menit mungkin kita bisa. Tapi sehari, sebulan, setahun, atau seumur hidup? Tangan kita mungkin takkan sanggup. Suatu saat gelas itu akan jatuh, pecah, berserakan. Karena kita tak lagi kuat menahannya.
Ini bukan tentang seberapa besar beban yang sedang kita hadapi, melainkan seberapa lama kita telah membawanya dalam kehidupan kita. Dan tak pernah kita selesaikan, tapi justru bertambah setiap waktu. ©kurniawangunadi
IZINKAN DIRIMU Memberi izin ke dirimu sendiri agar orang lain bisa menolongmu, mengintervensi masalahmu, saya yakin bukanlah hal yang mudah. Urusan mau minta tolong ke orang lain pun kita ragu, malu, bahkan takut.
Bahkan banyak yang memilih menenggelamkan diri, tak ingin siapapun tahu, tak ingin diketahui dan ditemukan, menghindari bertemu manusia lain.
Kalau ada masalah yang kamu sadar bahwa kamu tak bisa menyelesaikannya sendirian, kamu merasa tak ada yang bisa memahami dan mengerti. Izinkanlah dirimu agar bisa ditemukan, tak perlu bersembunyi. Izinkanlah orang lain menolongmu. Memang adalah hal yang sulit, memberikan kepercayaan kepada orang lain, mengetahui rahasia, masalah, atau sesuatu yang selama ini kita pendam.
Semoga apa yang sedang dialami saat ini, kita diberikan kekuatan dan juga teman-teman yang baik saat menghadapinya. ©kurniawangunadi
Menampar Diri
Coba lihat wajahmu sendiri di cermin, sosok yang selama ini tak kamu pedulikan kebahagiaanya. Dikorbankan dirinya untuk melakukan sesuatu yang tak kamu inginkan, tapi untuk menyenangkan banyak orang. Dan kini kamu mengeluh tidak bahagia, tidak tahu harus berbuat apa. Padahal kamu tidak berbuat apa-apa untuk dirimu sendiri. Bahkan membiarkan dia tetap bodoh dengan tidak belajar, membiarkan dirinya tetap penakut karena tak pernah mengajaknya melakukan hal-hal yang berbeda dan menantang, tidak pernah mengambil risiko.
Kamu tidak pernah berbuat apa-apa untuk dirimu sendiri, sekarang kamu mengeluhkan keadaanmu? Yang benar saja. ©kurniawangunadi
Obrolan di hari sabtu ini berat sekali walaupun pada akhirnya lumayan memahami, kalau yang paling sulit untuk dipahami adalah kehendak diri sendiri.
:(