Jujur, sampai hari ini rasanya masih hitam. Di beberapa momen terasa sekali tiba-tiba tidak fokus karena kepikiran; beliau baik sekali ya?
Jadi ingin menuliskan di sini—meski tau beliau tidak akan membaca ini—semoga teman-teman yang membaca ini jadi berkenan mendoakan beliau.. at least karena tau beliau orang baik sekali.
Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Alhamdulillaah jadinya sudah tidak sakit lagi ya, Om? Alhamdulillaah dipanggil di hari yang sangat baik ya, Om? Bulan Ramadhan. 10 hari terakhir. InsyaAllah husnul khatimah.
Beliau adalah seorang ayah dari salah satu teman baikku. Bisa jadi teman baik kalian yang membaca ini juga.
Beritanya begitu mendadak buatku. Yaaa walaupun aku memang bukan siapa-siapanya. Tapi rasanya sesak sekali, tenggorokanku tercekat waktu mau menuliskan pesan bela sungkawa di grup dan tiba-tiba pandanganku sudah buram.
—yah sekarang buram lagi juga jadi jeda dulu deh—
Aku memang tidak pandai dalam menghadapi duka karena kewafatan seseorang. Mungkin karena Alhamdulillaah keluarga intiku masih utuh, jadi tidak tau rasanya karena belum mengalami langsung atau ya memang kurang ilmu saja. Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya berduka itu memang gak ada manusia yang bisa ngertiin deh? Duka tiap orang atas kepergian seseorang tuh sangat berbeda-beda. Belum tentu apa yang dirasakan seorang ibu ketika kehilangan anaknya sama dengan apa yang dirasakan ibu-ibu lainnya. Belum tentu juga seorang kakak bisa lebih tidak sedih ketika adiknya meninggal, dibandingkan ibunya yang melahirkannya. Sangat tergantung dan yaaa sepertinya sulit bagi kita (manusia lain) untuk benar-benar memahaminya.
Aku dari kemarin bingung sendiri; ini sedih banget loh aku? Padahal seperti yang ku bilang, aku bukan siapa-siapa. Aku bukan anaknya. Tidak punya hubungan saudara apa-apa juga dengan almarhum. Sama anaknya pun…sebatas teman yang kalau dibandingkan dengan teman-teman lainnya, kayaknya banyak deh yang relasinya lebih dekat dengan temanku itu. Bertemu almarhum yang bisa ngobrol langsung pun kayaknya hanya ada satu momen sejauh yang aku ingat. Aku jadi bertanya-tanya entah kemana: memangnya boleh ya sesedih ini?
Tapi satu momen yang kuingat itu memang begitu berarti sekali si. Yang membuatku terus berdoa; ya Allah almarhum tuh baik sekali. Tolong jaga di sisi-Mu. Tolong berikan alam kubur yang baik untuknya. Berikan ampunan jika almarhum ada salah. Karena almarhum baik sekali ya Allah..
Dulu waktu bapak sakit dan harus dirawat pas aku masih kuliah, rasanya tuh jadi momen-momen paling berat buatku pribadi. Jadi satu-satunya anak yang ‘jauh’ dari rumah, rasanya sedih banget kalau pas bapak sakit tapi aku belum bisa di dekatnya. Waktu itu, waktu kabar bapak masuk rumah sakit, aku langsung dibantu temanku mencari travel malam. Setelah bisa nemenin bapak di rumah sakit, waktu itu lah aku ketemu almarhum yang tiba-tiba datang menjenguk. Aku baru selesai sholat maghrib. Masih memakai mukena ketika almarhum salam dan memperkenalkan diri. Ya Allah, ternyata almarhum pun baru pulang kerja malam itu, menyempatkan datang ke rumah sakit tempat bapak dirawat yang lokasinya gak dekat dari tempat kerjanya ataupun rumahnya alias perjalanannya panjanggg—dari tempat kerja ataupun ke rumahnya nanti—tapi almarhum datang. Mendoakan kesembuhan bapak. Sepertinya itu hanya beberapa menit, gak sampai satu jam, tapi berkesan sekali buatku, buat bapak juga waktu itu.
Almarhum lebih sepuh dari bapak. Jadi ga bisa kebayang gimana effortnya buat menjenguk bapak yang besar sekali, naik transport umum lagi. Oh sama waktu itu agak gerimis, atau habis hujan. Bisa kebayang ga? Aku ga bisa😭
Sejak saat itu jadi bertekad buat mengusahakan menjenguk kenalan yang sakit. Sebisa mungkin disempatkan dan diniatkan. Walu jadinya malu sih. Karena waktu almarhum sakit malah ga pernah jenguk. Dan di hari beliau dipanggilpun belum bisa takziyah langsung.
Jadi mau minta tolong didoakan juga ya kalau berkenan. Almarhum beneran baik sekaliii. Mohon doanya juga buat temanku dan keluarganya yang ditinggalkan—dan juga buatku.
Jadi aku mau mengaku; aku sedih. Masih. Sambil bertanya-tanya juga apakah boleh sesedih ini? Tapi setiap kali mempertanyakan hal itu, kalau diingat-ingat akhir-akhir ini sering sekali mendengar atau mendapati kisah nabi ya’kub yang sedih sekali waktu kehilangan nabi yusuf. Di al-quran, di kajian, di podcast yang bahkan random pick keputer pas lari. Nabi ya’kub menangis bertahun-tahun, dan Itu gapapa. Tapi kan beliau memang ayahnya ya?
Sudah 5 hari dan masih menangis tiap hari.