Sedih
Sakit banget, pengen nangis.

PR's Tumblrdome
No title available

ellievsbear
Cosimo Galluzzi
Sade Olutola
sheepfilms

bliss lane
Lint Roller? I Barely Know Her
RMH
art blog(derogatory)
Cosmic Funnies
The Bowery Presents
Doug Jones
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Phantogram Three

@theartofmadeline
Noah Kahan

❣ Chile in a Photography ❣
Color Me Curious

Discoholic 🪩
seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from India

seen from Japan

seen from Singapore
seen from United States
seen from Brazil

seen from Australia

seen from Singapore

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from Egypt
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Singapore
seen from Philippines
seen from Malaysia
@duniaalesha-blog
Sedih
Sakit banget, pengen nangis.
Aku merasa bersalah untuk apa yang aku tinggalkan. Tentang kesedihan untuk apa yang akan hilang. Cinta itu bukan sebuah kesalahan. Ia menguatkan dan saling memperjuangkan. Tapi cinta tidak akan pergi tanpa kesan. Jika salah, semoga kita kembali kepada cinta sesuai kebenaran bukan pembenaran.
Dina kepada hati
Aku...rindu...
Gelisah, dulu aku. Menunggu, dulu aku. Rindu, dulu aku. Berharap dan kecewa diwaktu bersamaan, dulu aku. Semua tentang kamu, isi kepalaku.
Aku kecewa dengan senja dan hujan. Ternyata kesamaan tidak menjamin kebersamaan.
Katanya kejujuran jika diletakkan diatas luka akan menyembuhkan. Tapi aku, bahkan tidak terluka, skrg menjadi luka.
Dulu cintaku menggebu2, kata mereka. Tapi 3 tahun kala itu bukan waktu yang singkat ku rasa.
Dulu, Waktu malam membuat bincangku dan bincangmu terhenti. Gelapnya malam membuat kita lupa hingga terlelap.
Perbincangan kita tidak ada perintah makan atau sekedar bertanya lagi apa dan dimana. Tp obrolan kita tetap menarik, kita bercerita banyak hal, tentang hidup dan nasehat kehidupan.
Terimakasih dulu pernah mau dan kalau skrg aku rindu, bolehkan?
Tangisan Terindah dan Rindu
Jika ternyata semua harapan yang kamu langitkan Alloh kabulkan semuanya, jika ternyata semua impianmu Alloh bumikan semuanya, jika saja semua yang kamu usahakan Alloh berikan semuanya, lalu darimana kamu belajar sabar layaknya Ayyub dengan luasnya sabar ? Darimana kamu belajar merendahkan diri lagi hanya mengadu padaNya layaknya Yusuf dalam penjara ?
Air mata paling indah hanya terdapat dari tangisan yang tidak ada yang tau kecuali Dia, saat menangis mengadu menceritakan setiap jengkal masalah hanya padaNya, saat yang lain tertidur lelap dalam hangatnya selimut tebal, saat yang lain tersenyum dalam mimpi indah dan tenangnya istirahat
Sajadah tempat dia sujud menjadi tempat paling di rindukan, saat dimana sempitnya dunia menjadi sangat luas di atas sajadah dengan sujud penuh harap akan ampunanNya
Semua hanya tentang pergantian, rumah yang di huni lambat laun akan berganti kepemilikan saat kamu telah tiada. Kendaraan mewah berjuta rupiah dan harta melimpah akan berganti tangan saat ternyata kamu telah membisu dalam tempat 2 x 3 di dalam tanah.
Pergantian, bahagia, tangisan, air mata. Dunia ini hanya berhiaskan dari semua itu, tidak ada yang abadi. Sudah seberapa banyak perbekalanmu ?
@jndmmsyhd
Kompas Kesadaran
Jika sebuah hidayah bisa datang dalam bentuk kebaikan, jangan pernah menunggu datangnya hidayah dari sebuah musibah, atau mungkin sebuah kematian seseorang yang tercinta. Setiap jiwa yang terlahir dari rahim akan tertulis baginya sebuah peta perjalanan dan halangan juga rintangannya masing-masing, entah ia berhasil atau tidak semua akan menentukan pada fase berikutnya.
Akan tiba waktu ketika banyaknya kebaikan menghampirimu, entah saat itu kamu tengah dalam keadaan baik atau buruk, sadar atau pun tidak. Ia tidak akan melihat waktu, ia hanya akan melihat seberapa sadar dirimu.
Perjalanan hidup ini membutuhkan sebuah kompas kesadaran, kesadaran dalam arti jangan sampai terlambat menentukan arah untuk setiap amalan. Semoga aku dan kamu sadar bahwa kebaikan yang datang setiap harinya adalah sebagai bentuk pengingat untuk meninggalkan keburukan yang masih melekat pada daging yang hanya berbalut kulit ini.
Jika ternyata kamu mendapati bahwa amalanmu tidak ada satu pun yang di terima, bagaimana ? Jika ternyata Dia mengambil kompas kesadaranmu hingga terlewat olehmu ribuan kebaikan yang menghampiri, bagaimana ?
@jndmmsyhd
Maunya Umi
12 Feb, mbak imut memasuki usia ke 24 tahun. Sebagaimana aku akan berumur 23 tahun ini pada bulan oktober. Hal itu membuat kekhawatiran pada umi. Semenjak kakak ku menyelesaikan perkuliahannya 3 tahun lalu, umi sudah sibuk mewanti-wanti kami harus menikah sebelum usia 25 atau pada usia itu kurang lebih.
Awalnya, kami merasa itu hanya candaan umi. Atau emang maunya aku. Tp setelah berlalu, sepertinya umi serius dengan ucapannya. Bukan tdk berdasar. Umi menikah diusia yang diblg cukup berumur. 29 tahun. Sehingga beliau sudah tua, tp belum bercucu. Sebagaimana teman-temannya atau org tua seusianya.
Aku sih tdk mempermasalahkan umi menargetkan usia kami saat menikah, toh aku dulu ingin menikah di usia 19 tahun. Walaupun begitu umi tdk pernah memaksakan itu kepada kami, insya allah beliau percaya takdir. Sebagaimana dia percaya, bahwa kucing dirumah kami bisa mencari makan sendiri kalau tdk dikurung didalam rumah, walau nyatanya umilah yang ditakdirkan untuk memberi makan kucing-kucing yang sering kami panggil zombie itu.
Aku melihat, mbak imut yang awalnya cuek juga mulai memikir hal itu. Tp tetap, dia ingin bekerja setelah menikah, tentunya setelah dirundingkan dg calon suaminya kelak. Maksudku, itu semua pilihan. Jika dia ingin bekerja dan suaminya mengizinkan. Maka aku sebagai adiknya yang sering berantem tapi sayang hanya bisa mendoakan. Semoga kehendaknya Allah, seperti maunya mbak imut.
Sedangkan aku? Ya seperti ini saja. Walaupun mbak imut menyarankan ikut seminar nikah. Atau perjodohan melalui proposal disalah satu mesjid dibumi, seperti temannya katanya. Menurutku itu baik, tidak salah menyarankan. Dia paling tahu aku ingin menikah cepat. Tp aku pikir, nanti saja. Tunggu Allah kasih rasa gelisah dulu.
Mbak imut blg saat kami sedang masak didapur waktu itu, "orang kayak kau ni na, udah menikah waktu kuliah loh. Kau jangan lama-lama. Ikutlah biro jodoh dimesjid tu. Teman aku ikut itu 3 kali jumpa, lgsg nikah."
Aku tdk pernah marah jika banyak yang menyarankan menikah dg cara seperti apa dan dengan siapa. Menurutku itu tanda sayang mereka tentang status jomblo ku. Tp hidupku punyaku, aku yang memilih dan Allah yang menentukan. Sesuai kehendakNya saja menurutku. Maksudku, bukan aku tak berusaha, sambil menunggu aku ingin belajar dulu. Masakkan ku sering keasinan dan aku tdk bisa buat rendang. Masakan org sumatra yang katanya terenak didunia. Aku juga belum baca buku tentang pernikahan ataupun masih sedikit mengikuti kajian dan seminar tentang nikah. Aku rasa harus membereskan urusan itu dulu sebelum bertemu jodohku. Sambil menunggu itu aku bisa menyelesaikan beberapa episode drama korea ku dulu sebelum sepenuhnya hijrah. Atau bisa jadi, sebelum bertemu jodohku. Aku bertemu duluan dg ajalku. Tidak ada yang tahu.
Kepada umiku, Terimakasih doanya. Sayangnya. Cinta kasihnya. Makanan enaknya. Dan, Kami sayang umi. Terimakasih tdk banyak belanja gegara menabung utk pernikahan kami kelak. Itu utk mbak imut aja, dina yang biasa aja. Sesuai syari'at aja. Kataku kepada umi.
Februari. 2018.
Kak, kalau gendut perlu diet gak?
Perlulah kalau mau, tp kalau ideal kayak saya ini, sepertinya... Tidak perlu utk dipertanyakan lagi:))
Setelah ini berbahagialah dan bahagiakan ibu yang selalu membahagiakan mu
Selamat Wisuda Abang - Kalimat yang ingin aku kirimkan kepadamu atau hanya sekadar tulisan dimedia sosialku tanpa pernah kamu tau.
Berhenti-dari Nisa
waktu begitu mudah merubah alur hatimu sementara aku disini masih sibuk bersama sendu mungkin waktu itu kau pernah rindu tapi apalah artinya rindu bila raga tak mungkin dapat bertemu berkalikali aku mencoba memahami waktu mencari celah dimana aku bisa menemui atau sekedar melihat dari jauh namun sepertinya waktu tak berniat sedikitpun memberi ruang pada kata bertemu pernah aku kecawa bukan karna tatapmu kini telah berubah tapi karna waktu yang tak punya tanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya jika hari ini dia mempertemukanmu dengannya
kenapa kita juga harus bertemu diwaktu lalu? mungkin ini adil untukmu karna mudah saja bagimu melihat yang lain dan aku sedang mencoba memahami dimana kau berdiri saat ini kau adalah senja dan akan selalu kurindu cahayanya.
Nisa a.k.a Icak
Perginya ibadah
Benarlah kata banyak orang. Setelah ramadhan pergi. Maka kita akan kembali seperti dulu. Aku, merasakannya. Sedih. Tapi begitulah. Rasanya begitu susah dan sulit mengambil qur'an atau sholat diawal waktu atau bangun disepertiga malam atau mau memulai puasa 6 hari dibulan syawal. Perlu niat yang tinggi. Sejujurnya. Padahal, ini Aku. Bagaimana mereka yang diramadhannya saja tidak berubah? Diluar ramdhan bagaimana? Banyak yang mengatakan ketika ramadhan pergi, maka mereka telah "bebas". Padahal jika aku, kamu dan kalian mengetahui. Sungguh, kita ingin ramadhan selalu setiap bulannya.
Khutbah jum'at
Pagi itu dingin, malamnya hujan. Aku dengar dibanyak bagian dari kotaku tergenang air. Rumah murlan katanya sih airnya tinggi. Semoga segera surut. Kasihan. Aku masih ditempat yang sama membaca kitabullah disudut ruangan. Karena jika ditempat tidur ibu sebelah ku ngajinya lebih lancar dan suaranya besar, aku agak sulit berkosentrasi ketika membaca. Hari itu, Jum'at. Aku ikut sholat waktu itu, setelah adzan ku dengar khutbah ustadz. Kebetulan aku dan ibunya ustadz bertemu dimesjid. Ingin agak sedikit ku goda. “ciee.. Anaknya dong yg khutbah” Tapi ku urungkan. Soalnya, ibu itu terlalu serius. Mungkin, karena umurnya 79 th dan menggunakan logat bahasa sumatra barat. Dan aku agak kurang paham. Ku dengar dengan sedikit terkantuk. Belum tidur sedari malam. Perlahan namun tajam. Setiap kalimat sang ustadz ucapkan. Ku lihat jilbab ku basah. “Hujankah?” ternyata mataku yg basah. Sedih, sedih sekali. Ku dengar suara mesjid kala itu. Sama sepertiku. Kami menangis bersama sang ustadz. Begitu indah setiap ucapan. Menusuk setiap relung hati terdalam. Aku masih tak ngerti, jika masih ada yg merasa biasa saja setelah mendengar ucapan ustadz itu. Dalam hatiku “duh ustadz, mau sholat loh. Nanti aku beringus:(” Oh, Ramadhanku. Terimakasih tahun ini telah hadir. Terimakasih sudi menyapa kembali. Maaf jika aku masih sama seperti bulan2 sebelumnya. Maaf..maaf.. Dan Maaf.. Dan, aku tunggu. Selalu ku tunggu. Kedatangan mu ditahun depan, depan dan depannya lagi. Jika Allah mengizinkan. Selamat datang syawal. Bulan walimahan!!!!! 😊 he he
Kenyataannya tidak ada yang harus ditunggu. Kamu hanya dengan amalanmu. Begitu juga dia. Karena yang kamu harapkan juga tak pernah dia janjikan.
Karena kebijaksanaan terlahir dari sebuah kegagalan dan sakitnya pengharapan.
Untuk aku, dimasa itu.
Ngawi... Tahun ini ku tak pulang. Tolong sampaikan kepada sawah itu, gunung itu, sungai itu, dingin itu, dan perjalanan panjang itu. Rinduku tetap sama. Sama selalu.
H-3 ? Kakak udah mau....?
WqwqwqwqMau apaan (dek)?
Kak dina, kapan nyebar undangan?
H-3 lah ya:)
Sepertiku yang benar-benar menghilang. Menyisakan satu pilihan, melepaskan. Untukmu yang tak pernah melihat langkah ku dibelakang, semoga melepaskan mu adalah langkah menuju kebahagiaan.