
Kaledo Art

Janaina Medeiros
Sweet Seals For You, Always
Stranger Things
sheepfilms

No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Show & Tell
Mike Driver
Lint Roller? I Barely Know Her
Xuebing Du

No title available
Misplaced Lens Cap
ojovivo
No title available

JBB: An Artblog!
Sade Olutola
Monterey Bay Aquarium
RMH
Keni

seen from Argentina

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from India
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Russia
@dwiardhiani
“Allah tests different people with different trials, because everyone has a different level of patience, tolerance and faith. Try to be at high level of patience for greater reward.”
— (via stayonsunnah)
pray as much as you ache .
Yang (masih) Mencari Jawaban
“Sudahkah dalam sehalatmu, kau temukan ketenangan?” Tanya seseorang.
Maka aku terdiam. Tiba-tiba, tenggorokan rasanya tercekat, bahkan seolah kembali mengulang pertanyaan tersebut pada diri sendiri,
‘….sudahkah? sudahkah dalam shalat ku temukan kedamaian?’
‘….sudahkah shalat menjadi kekasih, menjadi yang tercinta, menjadi yang terutama, menjadi senyaman-nyamannya waktu untuk menuai pinta? Mengaduh asa, meluruhkan air mata?’
Seorang lelaki, yang dikenal begitu cemerlang ilmu dan ingatannya. Yang namanya menyejarah, berperan sebagai ahli fikih (termasuk yang utama) di zamannya. Ia sengaja menunggu seseorang selesai dari shalatnya,
“Wahai pemuda, putra saudaraku..” Begitu panggil Urwah bin az-Zubair kepadanya, “apakah engkau tidak memerlukan apapun dari Allah?” Barangkali kedua alisnya bertemu. Bukanlah pertanyaan yang salah, bisa jadi itu memang pertanyaan yang sangat tepat. Sebab, telah diperhatikannya seseorang shalat dengan gerakan yang cepat, seolah kehilangan ruh, begitu terburu-buru.
“Demi Allah,” sambungnya, “sesungguhnya aku meminta segala sesuatu kepada Allah dalam shalatku, bahkan sampai kepada urusan garam sekalipun.”
Maa syaa Allah… betapa, kisah-kisah yang diwariskan para ulama begitu menyentuh kalbu dan mengiris beberapa bagaiannya. Apa gerangan yang membuat diri ini menjauh dari mengenali tapak-tapak mereka? Bukankah, merekalah warisan para Nabi? Sebab bukan harta yang ditinggalkan Nabi kepada ummatnya, melainkan ilmu, yang mana takkan kita dapatkan, jika kita tidak mendatanginya.
Ah, mungkinkah, shalatku masih begitu jauh dari ilmu? Masihkah, hanya sebatas mengingat ‘ini rakaat pertama’, ‘setelahnya kedua’, dan ‘seusai ini salam’? Sebab tak jarang pula, lemah dan lengahnya diri membuat empunya terlupa, ‘sudah berapa rakaat shalatku tadi, ya?’
Subhaanallah…
Sungguh, hingga kini aku masih mencari jawaban. Bukan untuk kuberikan kepadanya yang bertanya, melainkan kepada diriku sendiri. Sebab, aku jauh lebih membutuhkannya, dari pada orang lain yang tidak akan ditanyai oleh Allah nantinya.
Duhai diriku, “sudahkah kau temukan ketenangan dalam shalatmu?”
***
Salam hangat dari mimin. Dan menyambungkan nasihat, kata seseorang kepada mimin, “Cah bagus, kalau kau ingin diperbaiki segala urusanmu, maka perbaikilah shalatmu.” demikian, memang sangat dalam. Semoga pesannya sampai kepada kita, yaa..
–Ibn Sabil
Mencoba Membuat Diri Menjadi Lebih Baik
Cobalah untuk menurunkan ekspektasimu terhadap orang lain, agar kamu tidak kecewa karena mereka pasti memiliki kekurangan. Sebab kita seringkali tidak bisa memberi ruang pada rasa kecewa di hati kita.
Cobalah untuk melemaskan egomu terhadap setiap kehendak, agar kamu tidak lelah dalam menjalani hidup. Sebab banyak sekali urusan kita yang harus bersinggungan dengan banyak orang, sementara setiap orang memiliki kehendaknya masing-masing.
Cobalah untuk melapangkan ruang penerimaan. Sebab, menerima orang lain itu lebih sulit daripada saat menumbuhkan perasaan berharap. Sebab, seringkali kita sulit menerima karena kita seringkali merasa tidak diterima. Dan sekalinya ada yang bersedia menerima kita, kita yang seringkali tidak bisa menerimanya. Membuatnya kecewa dan pergi.
Cobalah untuk berani mengakui kesalahan. Sebab, hidup ini bukan tentang menang dan kalah. Kebahagiaan yang hakiki tidak hadir karena kita bisa mengalahkan orang lain. Mengakui kesalahan, bersedia untuk bertanggungjawab, bersedia untuk menerima risiko. Adalah sikap-sikap yang akan memudahkan kita dalam memaknai kebahagiaan. Bukankah perasaan bersalah, yang membuat kita sulit bahagia?
Malang, 4 Maret 2018 | ©kurniawangunadi
Semakin besar pencapaian, semakin sulit menjaga niat. Itulah mengapa sesekali kita perlu mengambil jeda sejenak, menikmati waktu sendiri, mengoreksi kembali niat-niat yang mulai bengkok dan hilang arah. Pertanyaannya, adakah kita peduli kepada sesuatu sehalus niat?
— Taufik Aulia
‘How To’ Accept Negative Emotions
semua gambar yang disertakan di sini ditemukan dari Google, cuplikan dari film Inside Out (2015). Credit to Disney. Ini karena film Inside Out bagus banget untuk menggambarkan penerimaan terhadap emosi negatif
Beberapa hari kemarin, saya ngepost tulisan berjudul Negative Vibes yang terbagi menjadi bagian satu dan bagian dua saking panjangnya. Terus terang, nulisnya ngga pake outline atau rencana, tau-tau sebanyak itu. Karena merasa tulisannya udah kepanjangan, yaudin jadinya kemarin menyetop jari sendiri. Lalu dipikir-pikir, kayaknya walaupun udah panjang-panjang tetep masih kurang deh. Haha. Yauds lah ya, ini kan blog pribadi. Tulisan ini bisa disebut sebagai bagian ketiganya. Mungkin nanti bakal ada lanjutan-lanjutannya, semacam tulisan yang terkait satu sama lain.
Oke, jadi, sebenarnya yang saya tuliskan di bawah sudah saya sisipkan juga di tulisan Negative Vibes, tetapi, ini versi panjangnya aja. Karena, ada beberapa pertanyaan bernada, “Bagaimana cara menerima negative vibes dalam diri kita?”
Saya paham betapa sulitnya memulai sesuatu, betapa kakunya untuk mengubah suatu kebiasaan yang sudah lama mendarah daging. Saya juga masih belajar untuk menerima negative vibes yang saya alami.
Dari sedikit pengalaman ini, saya merasa ada tiga hal penting yang harus dilakukan saat kita berusaha menerima negative vibes, atau dalam konteks ini, lebih spesifiknya adalah menerima negative emotion yang kita alami.
1. Call its name
Lima emosi dasar manusia: Senang, sedih, takut, marah, dan jijik
Kenali emosi yang mengisi hati kita. Ada banyak sekali jenis emosi, tapi emosi dasar ada lima: senang, sedih, marah, jijik, dan takut. Emosi lainnya tentu masih ada, misalnya emosi tenang, murka, stres, merasa bersalah, malu, kaget, tertarik, cinta, benci, kagum, kasihan, dan lain-lain. Bahkan, dalam sebuah studi di University of California, C Berkeley terungkapkan bahwa ada 27 jenis emosi yang berbeda-beda yang bisa kita alami.. Kadang bedanya tipis sih, jadi mungkin susah juga ngebedainnya.
Terbatasnya kosakata yang biasa kita pakai untuk mengungkapkan perasaaan kita juga bisa bikin kita bingung membedakannya. Misalnya, antara sadness dan grief. Kalau diterjemahkan secara sederhana, keduanya berarti “Sedih.” Padahal, sadness itu suatu perasaan sedih yang tidak berlangsung lama alias intensitasnya rendah, sedangkan grief adalah kesedihan yang berlarut-larut dan berkepanjangan.
Contohnya, kalau saya kehilangan buku saya, saya bakal sedih, iya. Tapi rasa sedihnya tentu jauh lebih kecil dengan rasa sedih ketika saya kehilangan orang-orang yang saya sayangi. Yang contoh pertama itu sadness, yang contoh kedua grief. Kalau di bahasa Indonesia, saya ngga tahu deh, mungkin padanan yang cocok untuk grief adalah: merana, nestapa, atau muram durja. Kesan intensitas sedihnya terdengar lebih besar beberapa kali lipat.
Emosi juga ngga selalu berdiri sendiri, kadang mereka berkombinasi. Misalnya, perasaan marah dan sedih, senang dan sedih, sedih dan takut, dan lainnya. Kalau kamu pernah nonton film Inside Out pasti inget kan waktu si Joy (Emosi senang) dan Sadness (Emosi sedih) bekerja sama menghasilkan emosi sedih dan senang, yang berujung pada perasaan lega yang dialami Riley.
Nah, untuk bisa menerimanya, tentu kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu, emosi apa sih yang memenuhi hati? Sebut namanya, jika perlu.
“Saya sedang sedih,”
“Saya marah,”
“Saya sedih dan takut,”
Bisa juga terjadi, kita mengalami emosi yang sangat kompleks, misalnya terdiri dari sebelas emosi sekaligus. Waduh banyak ya? Iya, bisa saja kan kita mengalami emosi sebanyak itu dalam waktu bersamaan. Bayangkan perasaan seseorang yang dikhianati oleh pasangannya. Dalam satu ‘wadah’ yang sama, dia bisa ngerasa sedih, marah, dendam, cemburu, kecewa, merasa dikhianati, merasa tidak berguna, merasa bersalah, jijik, benci dan cinta sekaligus. Sebanyak itu sampai sulit kalau disimpulkan menjadi satu jenis emosi saja. Walaupun, kita kadang menyebutnya dengan satu kalimat pendek: hatiku hancur! Kalau itu terjadi, cobalah untuk mengenalinya pelan-pelan. Tapi, poinnya adalah kita sadar bahwa kita tengah mengalami suatu perasaan yang negatif. Sadari saja dulu. Jangan menolak pakai alibi, “I’m okay.”
You know what? It’s okay not to be okay, kok :)
2. Don’t feel bad for feeling something bad
Joy menganggap Sadness sering merusak suasana, sehingga ‘memaksa’ Sadness menjauhi papan kendali emosi. Joy yang dominan tak ingin Riley merasa sedih.
Setelah kita aware terhadap apa yang kita rasakan, biasanya logika kita mulai berkomentar macam-macam. Logika kita mulai membangun alasan-alasan, kenapa kita ngga seharusnya merasakan emosi-emosi itu.
Misalnya, ketika sedih, logika kita berkata, “Ih, kamu kok cengeng sih.. Gitu aja sedih. Kuat dong.”
Atau, ketika kita merasa cemburu sama orang lain, logika kita menilai bahwa kita seharusnya ngga merasa begitu, “Memalukan, masa seorang kamu cemburu sama hal seperti itu” dan berbagai penilaian lainnya yang mengarahkan kita untuk merasa buruk karena mengalami emosi yang buruk, alias feel bad for feeling bad. Kayak cerita saya di tulisan bagian pertama yang malu kalau cerita-cerita ke orang lain tentang masalah saya karena saya melihat orang lain hidupnya sangat positif (beda dunia) dan takut dianggap menebarkan negative vibes, merusak citra diri, dan sebagainya.
Nah, don’t do that. Don’t judge yourself. Don’t feel bad for feeling something bad.
Itu semua normal banget kok dialami semua manusia. Kita semua adalah orang-orang yang pernah dipatahkan hatinya oleh kehidupan. Dan rasanya patah hati ya sakit. Hidup itu sulit, menurut perspektif negatif. Hidup itu menantang, menurut perspektif positif. Jadi, ngga perlu merasa malu atau merasa kalah karena mengalami perasaan negatif itu, even heroes have the right to bleed (kata lagunya Five For Fighting–Superman).
3. Be honest to your significant other
Riley akhirnya menyatakan perasaan sedihnya pada orang tuanya
Setelah di poin pertama kita jujur pada diri sendiri, di poin ini saya ingin bilang bahwa kita juga perlu lho jujur pada orang lain. Bukan ke orang asing juga sih, tapi ke orang-orang yang beneran care sama kita, orang-orang terdekat kita. Tahunya dia care darimana? Dari cara mereka bertanya. Ada juga kan yang bertanya, “Apa kabar?” sebagai basa-basi. Tapi ada juga kok yang bertanya begitu karena peduli. Yang ngga berhenti sampai kamu menjawab hal yang sejujurnya.
A: Kamu kenapa?
B: Ngga papa. Cuma sedih.
A: Mau cerita? Aku juga sebenarnya lagi sedih nih.
B: Lho, kamu sedih kenapa?
A: Karena ngeliat kamu sedih. Kalau kamu?
B: *nangis*
Ini penting banget sih menurutku. Kalau kita selalu tampil sok-sok kuat gitu, orang lain ngga bakal tahu kalau kita sebenarnya butuh bantuan. Kalau ngga ada yang peka sama kita, kita juga kan yang jadi merasa sedih dan sendirian, “Kok ngga ada yang bantuin sih. Ngga ada yang peduli sama aku.” Padahal kan itu mungkin bukan karena orang lain ngga peduli, tapi karena mereka belum tahu, karena kita belum membuka diri.
You will be helped
Umumnya, emosi itu muncul sebagai respon dari masalah yang kita hadapi. Misalnya, kita gagal lulus ujian, itu masalah utamanya. Nah, karena kegagalan itu, kita merasa sedih, sedihnya ini masalah emosi. Ada suatu keyakinan (atau bisa disebut teori juga mungkin), bahwa kalau kita mengalami masalah emosi ya berarti diperbaikinya juga pakai cara yang berlaku untuk emosi, bukan pakai cara logika. Sebaliknya, kalau masalahnya adalah masalah yang perlu penanganan logika, ya pakai logika, jangan pakai emosi. Jadi jangan kebalik.
Kegagalan dalam ujian tentu saja harus ditangani pakai cara logika, ya belajar lagi, ikut remedial. Nah, tapi kalau soal emosi, ngga selalu bisa gitu. Ngga bisa serta merta kita ajak supaya tunduk dengan cara-cara logika, misalnya dengan kita buat rasionalisasi. Kalau emosi ya pakai cara emosi juga, misalnya dengan mengekspresikannya (tentu dengan ekspresi yang ngga berlebihan juga). Kalau sudah mengalir, baru kita gunakan rasionalisasi, misalnya, “Oke, aku pasti bisa menghadapi ini.”
Seringkali, masalah utamanya ngga terlalu sulit, tapi karena diiringi oleh masalah emosi yang besar, masalah utamanya jadi terasa besar. Saya juga ngalamin ini. Misalnya pas ngerjain skripsi. Sebenarnya saya yakin saya bisa menuliskan penelitian saya, ikut seminar hasil dan seterusnya, tapi ada masalah emosi yang mengiringinya dan karenanya ngerjain skripsi jadi beraat sekali. Pasti bukan saya aja yang ngalamin. Masalah emosinya bisa bermacam-macam kan, trauma sama dosennya, kesal sama peraturan yang ribet, cemas, dan banyak lagi.
Kalau gitu, masalah emosinya dulu yang diselesaikan. Kalau butuh terapi ke ahlinya, ya terapi. Kalau butuh teman, ya cari teman. Intinya, jangan biarkan emosi negatif itu jadi menguasai hidup kita. Oke kita menerima keberadaannya, kita menerima kenyataaan bahwa emosi negatif itu kita rasakan, tapi kendali tetap ada di tangan kita. Bukan berarti kita boleh membiarkan emosi negatif jadi mengambil hak pilih kita. Itu juga bahaya.
Anggap emosi negatif itu cuaca dingin di pagi hari. Karena cuacanya dingin, bukan berarti kita jadi boleh bolos sekolah atau kerja kan. Kecuali ada badai salju, yang tentunya membahayakan.
Kecuali kalau problem emosi kita sudah sangat parah dan kita ngga mampu melihat jalan keluarnya. Itu satu pertanda bahwa kita butuh bantuan orang lain. Ada ahli yang disebut psikolog dan psikiater yang bisa membantu. Well, saya bukan ahli, semua tulisan ini murni mengalir dari pengalaman dan hasil baca-baca. Jadi mungkin banyak kelirunya juga. Kaget juga sih jadi banyak yang curhat. Saya juga bingung jawabnya gimana. Meski begitu, saya tahu bahwa dalam menghadapi suatu masalah, seringkali kita pertama-tama sekali perlu merasa bahwa kita ngga menghadapinya sendirian, bahwa ada juga kok yang mengalami masalah yang sama. Dan, ya, kamu ngga sendirian kok :)
dalam hubungan antarmanusia, pada akhirnya hanya ada dua jenis manusia: manusia yang nyusahin orang lain dan manusia yang ngebantu orang lain. baik atau tidaknya manusia diukur dari mana yang lebih banyak, nyusahin atau ngebantu?
jadi orang baik. bantu orang lain.
Bertumbuh
Dari bertumbuh ini kami berdoa semoga kita mampu untuk mengelola setiap keadaan. Mampu untuk memahami, bersedia mendengarkan, bersedia untuk berjuang, juga bersedia untuk lelah.
Sebab dalam masa-masa itu, segala sesuatu akan tampak abu-abu. Cita-cita kita akan diuji dengan sedemikian rupa. Segala keresahan akan hadir sebagai dalam berbagai bentuk.
Satu dua diantara kita, ada yang menyerah menghadapi. Kamu jangan. Sebab, satu hal yang perlu untuk kamu percaya bahwa kamu tidak pernah sendirian ketika mengalaminya.
Kita semua melewati proses yang serupa, hanya berbeda bentuk. Hanya berbeda cara, Dan kita hanya tidak saling tahu apa yang kita hadapi. Malang, 4 Maret 2018 | ©kurniawangunadi
goyah
Sejak berstatus warganet zaman now, bukan hal asing bagi kita untuk mengonsumsi potongan kisah hidup orang lain lewat linimasa. Sayang, mengonsumsi kisah hidup para karib, kerabat atau idola secara intens hari ini terasa tak seasyik dulu sebelum kita tumbuh dewasa karena rasa minder yang kadang mencuat kala mendapati hal-hal baik yang dicapai oleh orang lain dalam unggahannya.
Melihat foto mereka yang terlihat harmonis dengan keluarga kecilnya membuat kita sedikit resah dengan pikiran tentang pasangan hidup. Melihat video mereka yang tengah menempuh studi di luar negeri membuat kita lumayan gelisah dengan diskusi tentang titel idaman. Goyah. Perasaan itu bisa lumayan mengusik ketika rasa mindernya tumbuh sebagai penghambat produktivitas.
Maka, hal sederhana yang terbilang ampuh sebagai pelipur resah-gelisah dalam kondisi tersebut adalah menyadari bahwa tujuan, kondisi, ikhtiar, prioritas dan takdir setiap orang sedemikian berbeda.
Katakanlah kita memiliki sahabat yang bertujuan memiliki bisnis - sama seperti kita. Ketika sahabat kita giat mengembangkan diri dengan rajin mengikuti seminar kewirausahaan, membaca buku-buku penunjang hingga berkonsultasi dengan para praktisi, kita masih saja berkutat dengan prioritas lain. Dengan perbedaan tersebut, tentu wajar jika dalam perjalanannya ia lebih dulu meraih apa yang kita sama-sama inginkan.
Namun, contoh di atas hanya menekankan perbedaan poin ikhtiar dan prioritas atas tujuan yang serupa. Apa jadinya kalau tujuan, kondisi aktual dan takdir yang ditentukan-Nya pun berlainan secara keseluruhan bagi setiap orang? Tidak mengherankan kalau momentum pencapaiannya akan berbeda pula. Karenanya, tenanglah. Tak perlu kita berkecil hati apalagi sontak mengubah arah. Malah, perbedaan tersebut layak menjadi lecutan bagi kita untuk terus memacu diri dalam kesabaran dan kesyukuran.
Akhirnya, capaian siapapun dalam bentuk apapun yang terlihat di linimasa hanya perlu dikembalikan pada fungsi asalnya yakni sebagai kabar berita. Kita perlu turut bersukacita dengan capaian karib-kerabat raih lewat ucapan selamat juga doa baik yang diikutsertakan. Dengan begitu, raihan mereka takkan sedikitpun menyulitkan hati apalagi menghambat laju proses yang tengah kita tempuh kini.
Kalaulah unggahan-ungggahan tersebut masih saja menyulitkan hati, tentu menekan tombol unfollow tetap mudah untuk dilakukan. Toh unfollow di dunia maya takkan serta merta dimaknai sebagai upaya pemutusan hubungan di dunia nyata. Selebihnya, cek hati kita. Mungkin selama ini perasaan insecure hadir dalam hati karena kurangnya rasa syukur atas apa yang kita miliki. Lagipula, setiap orang memiliki hak untuk menghiasi linimasa dengan unggahan-unggahannya dalam bentuk apapun.
Kita sederhanakan dengan simpulan bahwa selera bermedia sosial setiap orang pasti berbeda agar kita tak mudah menyalahkan orang lain yang tak sepemahaman. Dengannya, media sosial tetap baik, ringan, asyik lagi menyenangkan untuk disimak - setidaknya bagi diri kita sendiri.
“Seorang teman tidak dapat dianggap teman, sampai ia diuji dalam tiga kesempatan; saat dibutuhkan, saat di belakangmu, dan setelah kematianmu.”
— Ali bin Abi Thalib
قدر
Life doesn’t always introduce you to the people you want to meet. Sometimes, life puts you in touch with the people you need to meet to help you, to hurt you, to leave you, to love you, and to gradually strengthen you into the person you were meant to become.
Qadr. Trust it.
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Rabb-mu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.
Al Insyiqaq:6 (via avinaninasia)
Sudahkah meminta pada-Nya hari ini? Jangan pernah lelah meminta pada-Nya🙏🏻😇 #dokterfina #finaslife
Give. Even when you know you can get nothing back.
Yasmin Mogahed (via q8i-sayood)