MENAJAMKAN LOGIKA JIWA
Oleh Abi Syatori
Hidup Sarat Arti Sarat Makna dengan Logika JIwa
Menajamkan logika jiwa—kata "tajam" memiliki makna agar logika jiwa kita selalu mampu menembus setiap lapisan hidup dan kehidupan. Logika jiwa adalah kemampuan berpikir yang membuat lembaran kehidupan manusia dipenuhi goresan indah, penuh arti, dan sarat makna.
Tanpa logika jiwa, sangat mungkin hidup menjadi hampa—tanpa arti dan tanpa makna. Keberartian dan kebermaknaan hidup seseorang sangat bergantung pada tujuannya dan cara ia mencapainya.
Sebagai contoh, seseorang yang hendak pergi ke Finlandia butuh membuat visa dan diharuskan mengurus ke kedubes yang berada di Jakarta, maka perjalanan ia ke Jakarta itu akan menjadi perjalanan yang bermakna.
Begitu pula hidup kita. Tujuan akhir dari hidup ini adalah menuju ﷲ—Allahu Ghayatuna.
Tidak ada yang lebih membuat hidup manusia bermakna kecuali ketika tujuannya adalah ﷲ. Oleh karenanya, segala yang kita lakukan di dunia ini seharusnya menjadi langkah-langkah menuju ﷲ.
Sesungguhnya, perjalanan menuju ﷲ sudah dimulai sejak sebelum kita lahir.
Maka, pertanyaannya adalah: sudahkah kita dekat dengan ﷲ?
Tanda dekat dengan ﷲ:
Sangat menyukai segala yang disukai oleh ﷲ
Tidak suka dengan segala yang tidak disukai ﷲ
Tenang bersama ﷲ
Tidak khawatir dengan segala urusan dunia
Dari tanda-tanda di atas, sudah seberapa dekatkah kita dengan ﷲ?
Kisah Seorang Alim dan Sahabat-Sahabatnya
Ada sebuah kisah yang menggambarkan bagaiman seseorang itu menjalani hidup dengan perasaan tenag bersama ﷲ. Alkisah, seorang alim dikunjungi oleh beberapa sahabatnya ketika mereka masih di pesantren. Mereka berbincang-bincang hingga masuk waktu Isya, lalu menunaikan shalat berjamaah bersama. Saat menjadi makmum, beberapa sahabat itu sempat membatin bahwa suara bacaan imam (si alim) tidak enak didengar.
Setelah shalat, mereka makan malam bersama, bercakap-cakap, dan kemudian beristirahat di rumah sang alim. Ketika malam tiba, mereka melaksanakan qiyamul lail. Karena rumah sang alim terletak di pegunungan, mereka harus berwudhu di sungai yang airnya segar dan dingin. Merasa segar, mereka memutuskan untuk mandi di sungai tersebut.
Namun, sang alim menyadari bahwa sahabat-sahabatnya tidak kunjung kembali. Ia lalu pergi menyusul mereka. Sesampainya di sungai, ia mendapati sahabat-sahabatnya diam terpaku karena ada seekor harimau di dekat mereka. Dengan tenang, sang alim mendekati harimau itu dan berkata:
"Wahai harimau, mereka ini adalah tamu saya. Mereka juga adalah hamba Allah, seperti dirimu. Pergilah dengan tenang."
Ajaibnya, harimau itu berbalik dan pergi tanpa mengganggu mereka. Para sahabat kembali ke rumah dengan perasaan takjub akan keberanian sang alim.
Saat makan bersama keesokan harinya, salah satu dari mereka bertanya:
"Kiai, bagaimana engkau bisa begitu tenang menghadapi harimau semalam?"
Sang alim tersenyum dan menjawab:
"Karena kalian hanya melihat dhahirnya, bukan isinya."
Mendengar jawaban itu, salah satu sahabat merasa tersindir. Ia teringat bahwa ia pernah membatin tentang buruknya suara bacaan sang alim saat menjadi imam Isya. Dalam hati, ia menyesal telah menilai sang alim hanya dari luarnya, tanpa memahami isi hatinya.
Prinsip Perjalanan Mengejar Waktu
Hidup adalah perjalanan mengejar waktu. Jika bukan mengejar waktu untuk dunia, maka kita sedang mengejar waktu untuk akhirat—ini adalah suatu kepastian.
Dalam mengejar dunia, prinsip yang harus dipegang adalah slow living—hidup dengan tenang dan penuh kesadaran. ﷲ berfirman:
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ
Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Q.S. Al-Mulk: 15)
Namun dalam mengejar akhirat, prinsip yang dipegangi adalah fast living---segera, penuh semangat dan tidak menunda-nunda. ﷲ berfirman:
فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ
Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. (Q.S. Al-Jumu’ah: 9)
فَفِرُّوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۖ إِنِّى لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (Q.S. Az-Zariat: 50)
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu.
فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ
Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.
Sebagai contoh: kuliah itu adalah bagian dari mengejar dunia, tapi belajarnya harus dilakuikan dengan prinsip mengejar akhirat—yaitu dengan niat yang lurus, belajar yang giat, usaha yang optimal dan mengutamakan keberkahan.
Fisika Kehidupan
Dalam kehidupan, rumus mengejar waktu dapat digambarkan dengan rumus kecepatan:
S = V x t (Jarak = Kecepatan x Waktu)
Untuk mengejar waktu dengan optimal, kecepatan hidup kita harus dua kali lipat kecepatan waktu. Artinya, kita harus selalu selangkah lebih cepat dan lebih terencana dalam menjalani hidup, baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Dengan mengatur ritme ini, hidup akan lebih bermakna, produktif, dan penuh keberkahan.
3 jenis manusia dalam perjalanan mengejar waktu:
Manusia yang berjalan di belakang waktu
Ini adalah golongan manusia yang kepribadian dan perilaku hidupnya terbelakang dari umurnya. Misalnya, secara usia sudah 20 tahun tapi kepribadian dan sikapnya berusia 19 bahkan 10 tahun.
Motto hidup mereka: “Hari ini adalah masa lalu”
Mereka cenderung mengulang kesalahan yang sama.
Sebagai contoh, saat masih SMA mereka mudah marah jika dihina teman, meskipun sekarang sudah dewasa respon mereka tetap sama yaitu marah jika dihina teman. Artinya, waktu terus berjalan dan usia mereka tersu bertambah tetapi tidak ada perubahan dari diri mereka sejak SMA.
Mereka itu termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak bisa menyelesaikan hidupnya bahkan sampai hidupnya berakhir.
Adapun 3 hal yang harus selesai sebelum hidup berakhir yaitu:
Selesai dengan ﷲ – hubungan dengan ﷲ sudah benar (taubat, ibadah, dll)
Selesai dengan diri – tidak menyimpan dendam, menerima diri dan berdamai dengan masa lalu
Selesai dengan sesama – tidak memiliki hutang, tidak ada permusuhan apalagi dengan sesama muslim
Seseorang yang mati dalam keadan belum selesai dengan 3 hal di atas maka ia ibarat mati dalam keadaan meninggalkan hutang dan akibatnya adalah merasakan pedih saat sakaratul maut. Dan di akhirat, ia harus membayar hutang itu dengan penyesalan yang tiada akhir—dan penyesalan itu harus ia bayar dengan adzab pedih di neraka.
Apa yang menyebabkan seseornag hidupnya tertinggal dari umurnya?
Sibuk dengan segala urusan dunia sampai lupa dengan urusan akhirat
Sengaja meninggalkan yang diperintah ﷲ—wajib dan sunnah
Melakukan hal wajib itu kecepatannya setara dengan rata-rata kecepatan waktu, maka jika melakukan lebih dari yang wajib (sunnah) itu kecepatannya dua kali kecepatan waktu.
Sengaja melakukan sesuatu yang dilarang oleh ﷲ—dia berjalan mundur sedangkan waktu terus berjalan maju
Menyimpan kebencian, kedengkian dan permusuhan dengan sesama muslim
Manusia yang berjalan bersama waktu
Manusia golongan ini adalah manusia yang hidup dengan kepribadian dan perilaku yang sejalan dengan umurnya. Mereka mampu menyelesaikan hidup tepat pada waktunya yaitu saat hidupnya berakhir (ajal menjemput).
Berminat masuk golongan ini? Berikut SOP-nya:
Hanya melakukan yang wajib
Tidak harus melakukan yang sunnah
Tidak pula melakukan dosa
Manusia yang berjalan di depan waktu
Golongan ini adalah manusia dengan kepribadian dan perilaku yang lebih dewasa dari umurnya. Mereka menyelesaikan hidup sebelum hidupnya berakhir.
Hidup dan Peran Logika
Hidup tidak bisa dijalani tanpa logika. Di sisi manapun kita menjalani kehidupan, logika itu berperan.
Namun pertanyaannya, dengan logika apakah kita menjalani hidup ini?
Ada empat jenis logika:
Logika Nafsu – Bertindak untuk kesenangan dunia.
Contoh: "Saya baik pada tetangga supaya saya dianggap orang baik."
Logika Akal – Bertindak untuk kepentingan dunia.
Contoh: "Saya baik pada tetangga supaya mereka baik kepada saya."
Logika Hati – Bertindak berdasarkan perasaan suka atau tidak suka.
Contoh: "Saya baik pada tetangga karena mereka baik kepada saya."
Logika Jiwa – Bertindak untuk ﷲ dan akhirat semata.
Contoh: "Saya baik pada tetangga, meskipun mereka jahat, karena ﷲ menyukai kebaikan."
Dari keempatnya, tentu kita tahu mana logika yang benar yang harus kita pakai—yaitu logika jiwa.
Hanya logika jiwa yang mampu membawa kita menuju keridhaan ﷲ dan itulah mengapa menjadi penting bagi kita untuk menajamkan logika jiwa.
Kajian Jelajah Hati
Sabtu, 04 Januari 2025












