Allah mengingatkan diri kita tentang perubahan waktu yang baru saja terjadi lewat momentum pergantian tahun 2022 menjadi 2023.
Allah ta’ala pernah mengingatkan kita secara khusus tentang waktu yang tetera di surat Al-‘ashr.
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Berkaitan dengan surah ini, Imam Asy-Syafi’I Rahimahullah berkata: “Seandainya Allah tidak menurunkan surat-surat lain, maka surah ini sudah cukup menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia”.
Begitu pentingnya surah Al-‘Ashr ini, apabila kita suka jika imam membaca surat ini tatkala sholat berjama’ah maka pastikan kesukaan kita itu bukan karena pendeknya melainkan karena isi yang mengandung nilai-nilai tauhid dari surah Al-‘Ashr.
Mari kita bedah isi kandungan surah Al-‘Ashr ini secara detail:
Terdiri dari dua kata yaitu و dan العصر
Kalau kita lihat menggunakan pendekatan nahwu, و (wawu) yang ada di ayat ini disebut sebagai wawu qasam.
Wawu qasam ialah wawu yang digunakan untuk menyatakan sumpah. Dalam bahasa Arab, untuk menyatakan sumpah itu bisa menggunakan 3 kata, yaitu وَ, بِ, تَ. Apabila ingin mengungkapkan demi Allah maka bisa menggunakan 3 kata yaitu: وَاللهِ – تاَللهِ – بِاللهِ.
Di ayat ini, Allah bersumpah atas nama waktu - وَالعَصرِ لا
Para mufasir mengatakan, apabila Allah bersumpah dengan menggunakan nama makhluk-Nya maka makhluk tersebut memiliki kedudukan yang sangat khusus lagi penting dalam kehidupan manusia.
Waktu adalah kehidupan, tidak akan mungkin ada kehidupan tanpa ada waktu. Orang kalau sudah tidak memiliki waktu sama saja dengan ia sudah tidak memiliki hidup, hidupnya telah selesai.
Disamping itu, waktu adalah perubahan, tidak akan mungkin ada perubahan tanpa ada waktu. Kehidupan kita sendiri menjadi cermin yang nyata bahwa perubahan itu akan berjalan bersamaan dengan waktu.
Waktu mengajarkan pada kita bahwa tidak ada pilihan bagi kita kecuali harus berubah.
Dimensi perubahan yang dimaksud di sini bukan perubahan secara fisik melainkan perubahan sikap dan perilaku kita sebagai manusia.
Bagaimana dengan orang hidup tetapi tidak mau berubah?
3 tahun yang lalu kita dihina teman, kita merasa sakit hati, apakah sekarang ketika kita dihina teman masih merasa sakit hati? Kalau iya itu berarti pertanda kalau selama 3 tahun ini tidak ada perubahan yang terjadi pada diri kita.
Orang yang tidak berubah seiring berubahnya waktu, Allah telah ingatkan dalam ayat kedua surah Al-‘Ashr:
اِنَّ الْاِنْسَا نَ لَفِىْ خُسْرٍ لا
“sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian"
Pada ayat ini terdapat dua kali penekanan yaitu pada kata اِنّ dan لَ
Di ayat ini Allah menggunakan kata الْاِنْسَا نَ yang didahului dengan alif lam yang mana artinya menunjuk kepada semua manusia.
Jika dikaitkan dengan waktu, maka yang mengalami kerugian ialah semua manusia, tanpa terkecuali.
Refleksi: di usia kita saat ini, ada orang yang umurnya sama dengan kita tetapi sudah hafal al-qur’an, ada yang kesabarnya melebihi kita, ada yang pemaaf dan lapang hatinya melebihi kita. Maka kalau kita belum bisa memiliki akhlak dan kepribadian seperti mereka di usia yang sama itu berarti kita telah mengalami kerugian, rugi dalam soal penggunaan waktu, itu menjadi catatan bagi kita ❗❗❗
Seringkali kita mengukur untung-rugi hanya dari aspek duniawi tetapi melupakan aspek ukhrawi.
Ada satu ungkapan yang bisa menjadi pengingat bagi kita:
Kerugian akan menjerat setiap manusia yang tidak menjerit saat ia menyia-nyiakan waktu.
Dan orang yang rugi adalah orang yang hari ini sama dengan hari kemarin dan hari esok sama dengan hari ini.
Berarti apa yang harus kita lakukan agar kita tidak berada dalam kerugian yang nyata itu?
Allah ta’ala sebenarnya senantiasa mengingatkan kita untuk sering-sering melihat apa yang telah kita lakukan di masa lalu.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-Hasyr: 18)
Ukuran rugi itu adalah apa yang telah kita lakukan di masa lalu tidak menjadi sesuatu yang bermakna bagi hari esok.
Sehingga menjadi penting bagi kita untuk mengevaluasi kegiatan yang kita telah lalai di tahun-tahun sebelumnya apakah membawa kebermanfaatan bagi hidup kita di tahun ini dan tahun yang akan datang.
Dan yang paling penting dari itu semua adalah mengukur untung rugi itu dengan memastikan apakah hari esok kita.
Hari esok itu identik dengan masa depan dan masa depan terbagi menjadi dua: 1) Masa depan sebelum mati dan 2) Masa depan setelah mati, keduanya memberikan kita pilihan untuk menjadikan masa depan di syurga atau masa depan di neraka. Maka prinsip yang bisa kita pegang adalah:
Artinya: “Tidak ada masa depan kecuali syurga”
Refleksi: kalaulah masa depan kita adalah syuga maka apakah masa lalu kita sudah benilai syurga?
Kalau masa lalu kita sudah bernilai syurga maka insya allah kita bukanlah termasuk orang-orang yang merugi tetapi kalau seandainya ada orang yang di masa lalunya tidak ia gunakan untuk sesuatu yang bernilai syurga maka jelas dia adalah orang yang merugi. Satu menit saja digunakan untuk melakukan kesia-siaan itu sudah temasuk kerugian, dalam satu jam ia kehilangan satu menit yang barangkali bisa saja membawanya masuk syurga.
Lalu bagaimana agar kita tidak termasuk sebagai orang yang merugi?
Alah ta’ala telah menjelaskannya di akhir ayat surah al-‘ashr.
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْر
“kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran"
Ada 3 hal yang harus kita garis bawahi dari ayat ini yakni: iman, amal shalih dan nasihat-menasihati. Ketiganya yang akan menjadi anak tangga untuk mengatasi kerugian.
Tiga tangga dalam mengatasi kerugian:
Afiliasi (iman): komitmen kepada Aqidah dan syari’at Islam
Partisipasi (amal shalih): proaktif membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan
Kontribusi (nasihat): memilih satu bidang spesialisasi ilmu/pofesi yang bisa menghasilkan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik dan lebih mulia
Kalau ketiganya telah menyatu dalam hidup kita, maka kita telah melahirkan kwalitas hidup syurgawi di setiap kehidupan “hari ini”-nya kita.
Seperti apa kwalitas hidup syurgawi itu?
Kualitas hidup syurgawi adalah kualitas hidup para ahli syurga, yang mana keindahan dan kenikmatan syurga itu tidak pernah dilihat oleh mata, di dengar oleh telinga bahkan terbesit di dalam hatipun tidak pernah.
Di samping itu, kualitas hidup syurgawi juga dapat digapai dengan memahami apapun dari sisi baiknya. Kita betul-betul melihat apapun yang hadir dalam hidup kita dengan kejernihan, sejernih embun yang akan mencerminkan apa yang tebayangkan dalam dirinya.
Ketika dihina orang, kalau kita mau kita bisa melihat sisi kebaikan darinya. Kata-kata yang terucap mungkin memang penuh dengan hinaan dan cacian tetapi sesungguhnya disebalik itu ada pesan yang hendak disampaikan yaitu,
Saudaraku, yang sabar yaa.. 💌
Karena kalau saya tidak seperti ini kepadamu, maka engkau tidak punya kesempatan untuk sabar.
Dia, yang menghina kita adalah orang yang telah merelakan dirinya untuk menjadi jembatan bagi kita menuju keadaan yang lebih baik, sangat berjasa bagi hidup kita.
Begitu juga dengan sakit, ia datang membawa pesan kebaikan bagi kita yaitu,
Saya datang untuk menyampaikan pesan kalau Allah ta’ala ingin sekali menghapus dosa-dosa yang selama ini engkau perbuat.
Bisa juga saat kita kehilangan uang, ia pun membawa pesan kebaikan bagi kita yaitu,
Saya ingin menyampaikan pesan kepadamu bahwa Allah ta’ala ingin mengganti diriku yang hilang ini dengan yang lebih baik dan lebih banyak.
Atau saat jodoh tak kunjung datang, pesan kebaikan disebaliknya yaitu,
Saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah ta’ala tidak ingin antara engkau dan Dia ada sosok lain yang menghalangi.
Termasuk juga atas datangnya sakaratul maut, sudah pasti ia membawa pesan kebaikan yaitu,
Saya datang untuk menjemputmu dan membawamu ke satu “tempat” yang tidak pernah ada di dunia ini, yang segalanya indah untukmu.
Semua pesan itu akan sampai kepada kita kalau kita Ikhlas dan Ridha dalam menerima kedatangannya.
Kita punya satu keyakinan bahwa setiap kejadian adalah pemberitahuan dari Allah agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Semoga pergantian waktu dalam hidup kita semakin membuat kita mencium harum wangi syurga. Menjadikan kualitas hidup kita benar-benar kualitas hidup syurgawi, untuk kita bisa merancang kehidupan pasca kematian. 🌼🌼🌼
Sumber: Kajian Jelajah Hati (Sabtu, 07 Januari 2023)
Disampaikan oleh Abi Syatori