Produktif Pasca Nikah
Bayak sekali problem dalam pernikahan. Salah satunya adalah kejenuhan dalam pernikahan, yang pada akhirnya akan menyeret banyak problem-problem yang lain didalam kehidupan pernikahan.
Menikah adalah merupakan dunia baru. Ketika kita menikah, kita tidak merubah diri kita sendiri, tidak merubah kepribadian kita, karakter kita, tidak merubah kepentingan kita. Karena menikah itu sesungguhnya kita sedang beradaptasi dengan peran baru, belajar di lahan baru.
Siapa aku setelah menikah??
1. Sebagai diri sendiri. Seharusnya kita telah mengenal apa yang menjadi passion kita. Perlu ditanyakan juga kepada pasangan kita apa yang dilihatnya pada saat taaruf tentang diri kita, apa yang dilihatnya tentang potensi kita. Karena sejatinya pasangan kita adalah cermin daripada diri kita. Pasangan yang memiliki karakter pribadi yang kuat sangat bisa mempengaruhi kebaikan atau keburukan pasangannya. Jika seorang laki-laki baik, maka istrinya akan lebih baik setelah menikah dengan dia, begitu pula sebaliknya baik secara atitude (sikap) ataupun dalam karirnya. Sifat produktif: disiplin/rapih, akan menjadi produktif apabila menghasilkan kebermanfaatan.
2. Sebagai suami/istri. Harus memahami peran individu tersebut dalam rumah tangganya, dalam hubungannya dengan pasangan.
3. Sebagai ayah/ibu. Apabila telah memiliki anak, maka kita tidak dapat semaunya sendiri dalam melakukan hal dalam manajemen waktu. Sebagai orang tua, kita harus memberikan contoh yang baik-baik kepada anak (makan, tidur, dan pola-pola yang baik lainnya). Hal itu merupakan tugas-tugas keayah bundaan yang sangat penting. Ibu diberi fitrah banyak berbicara, karena ibu diberi tugas untuk membentuk ahlak, etika, berekspresi bagi anak-anaknya. Tugas ayah adalah memastikan bahwa anak dan istri memiliki pemahaman keagamaan yang baik. Ayah memastikan mepemimpinannya menjadikan keluarganya lebih produktif atau tidak.
4. Sebagai menantu. Menikah itu istilahnya “connecting people”, menghubungkan banyak orang, banyak manusia, banyak peran. Sehingga sebagai anak, sebagai menantu kita dituntut untuk melakukan hal-hal yang lebih baik. Berupaya berinteraksi dengan baik dengan keluarga pasangan.
5. Sebagai aktivis dakwah. Jika seseorang memiliki amanah-amanah lain sebagai aktivis dakwah dll, maka seseorang perlu untuk mengatur waktu agar aktivitas-aktivitas yang dilakukan maksimal sehingga produktif. Dengan memahami peran-peran kita, maka kita dapat memetakan dan melihat potensi-potensi yang harus kita lakukan setelah menikah.
6. Sebagai anggota masyarakat. Sebuah keluarga juga memiliki tanggung jawab sosial kepada lingkungan dan masyarakat. Memiliki kebermanfaatan dalam masyarakat.
Dengan memahami peran, maka kita dapat memetakan peran kita, melihat potensi-potensi yang harus kita lakukan setelah menikah.
Setelah punya anak, bukan menggurangi porsi tanggung jawab kita kepada suami karena kesibukan kita terhadap anak, tetapi menambah tanggung jawab untuk mengatur waktu dengan suami dan anak. Dalam menikah kita tidak mencari happy ending tetapi mencari tempat untuk kita belajar memperbaiki diri.
Produktif itu bukan berarti sibuk apalagi sok sibuk.
Sibuk sepertinya melakukan banyak hal tetapi tidak memiliki value apapun.
Terencana. Jelas apa yang akan dilakukan hari ini (agenda hari ini). Apa saja yang prioritas.
Tertunaikan. Jika sudah direncanakan maka harus dilaksanakan. Belajar mengatur waktu, agar memiliki waktu yang berkualitas.
Tereveluasi. Produktifitas harus terevaluasi, ada input dan output. Jangan marah jika pasangan kita mengevaluasi (mengkritik), karena itu demi kebaikan. Jika suami kita tidak pernah mengevaluasi kita malah perlu dipertanyakan, mungkin mereka takut pada kita (melihat diri kita terlalu rapuh untuk dikritik). Atau bisa jadi pasangan kita tidak intens dengan diri kita, tidak tau program-program dan rencana-rencana hidup kita. Sehingga dia tidak merasa terlibat dengan kehidupan kita. Padahal suami istri itu harus saling terlibat dengan rencana hidup masing-masing. Terlibat tetapi tidak menggurui. Semakin kita bersahabat dengan pasangan kita, semakin kita akrab dengan pasangan kemungkinan malah akan semakin banyak kritik yang akan diberikan, supaya lebih baik.
Memantapkan misi keluarga:
Lahir dari misi pribadi. Misal: setelah menikah saya ingin terus belajar, jadi setelah menikah kita pasti akan memrogramkan.
Internal solid. Seseorang dalam pernikahannya happy dan menghasilkan karya-karya. Produktifitas hasilnya bukan hanya berkaitan dengan materi, tetapi juga termasuk kenyamanan dan semua urusan rumah tangga terback-up semua.
Selesai dengan diri sendiri. Akan ada hal-hal baru yang memengaruhi jalan hidup dan pandangan hidup, tetapi yang tidak boleh dihilangkan adalah karakter baik kita. Mengetahui kita mau apa dan potensi positif kita apa.
Membuat misi keluarga. Ajak pasangan bermusyawarah menetapkan misi keluarga. Misal: kita akan membuat gen yang bagus di literasi, harus disiplin.
Blueprint keluarga. Sebuah keluarga harus punya peta jalan (prioritas) dalam keluarga. Laki-laki sebagai leader harus tahu misi keluarganya.
Misi keluarga harus dimantapkan karena akan sangat mendukung produktifitas keluarga.
Tidak ada produktifikas pasangan kecuali kita mendapat support pasangan kita. Orang yang produktif itu punya ide, punya support, punya skill (untuk mewujudkan ide tsb). Yang banyak ditemui adalah pasangan tidak mengetahui/ lupa dengan potensi pasangan. Bisa jadi setelah menikah mengapa pasangan kita jadi lemot, lola, hilang kecerdasannya. Bisa jadi yang membuat lemot adalah kita, karena tidak memberi kesempatan belajar.
1. Saling support. Misal: pasangan harus study maka berikan kesempatan padanya untuk study sebagai sebuah amanah (jika terpaksa LDR sementara ttp harus didukung, namun bukan LDR jangka panjang).
2. Produktifitas tidak boleh melalaikan kewajiban asasi sebagai seorang ibu, istri.
3. Menjaga amanah dan adab. Meskipun punya banyak aktivitas dirumah dan diluar rumah, maka tetap harus menjaga amanah. Contoh: amanah dengan harta, amanah dengan anak-anak yang harus kita rawat. Jika memang seorang istri memiliki aktivitas diluar rumah, maka usahakan quality time bersama keluarga tidak berkurang. Aktivitas diluar pada saat jam-jam sekolah anak, sehingga saat anak pulang sekolah ibunya sudah menunggu mereka dirumah. Tetapkan prioritas dalam mengatur waktu. Adab dengan lawan jenis, relasi di kantor.
Semoga kita mendapatkan pasangan yang selalu mensupport kita dalam melakukan aktivitas yang produktif sesuai koridor islam. Aamiin..












