“Yats, kuliah dimana?”
“Di Solo.
“UNS?”
“Bukan UMS. Muhammadiyah Surakarta.”
“Lha ngapain kuliah jauh-jauh ke sana. Swasta disini kan banyak. Muhammadiyah Tangerang ada, Muhammadiyah Jakarta aja. Nyusahin diri sendiri lu.”
Sebenarnya, sampai saat ini, sampai semester enam hampir kunjung usai, jangankan sering, sekalipun gak pernah nyesel buat keputusan ngerantau ke Solo buat belajar. Satu-satunya penyesalanku adalah kesempatan pulang dan bersua dengan orang tua semakin sedikit, padahal mereka semakin tua, tapi baru setiap di penghujung semester ada kesempatan pulang.
Pasti ada yang tanya, “Lha kan Tangerang-Solo deket. pulang setiap bulan juga bisa.”
Betul. Aku sebenarnya bukan tidak mampu, tidak ingin ataupun tidak sempat. Tapi, malam itu, di stasiun Pasar Senen, bapakku sebelum keberangkatan berpesan, “Laki-laki harus kuat. pundakmu tidak diciptakan hanya untuk menampung beban masalahmu sendiri, masih ada keluargamu, yang sekarang ataupun yang akan datang, beban negaramu, pekerjaanmu, kehidupanmu, dan beban lainnya. Jadilah lebih kuat dan lebih kuat lagi.”
Dari situ, ada pesan bapak yang sebenarnya tersembunyi, “Sebenarnya, akan ada saatnya kau kehilangan kami, kehilangan beberapa orang yang kau cintai, yang kau sayangi. Dan, kau harus tahu bagaimana cara bangkit meskipun kau seorang diri.”
Maka dari itu, aku pikir caraku untuk jarang pulang adalah caraku yang paling kejam terhadap diri sendiri untuk bisa sesuai dengan pesan bapak.
Solo, beserta isinya; siang harinya yang panas, malam harinya yang romantis, angkringan setiap lima ratus meter, lampu neon yang tak terlalu gemerlap, Slamet Riyadi yang panjang, Ngarsopuro yang menyenangkan, Manahan yang berkelipan, Laweyan yang berkebudayaan, Balekambang yang sederhana, Kotabarat yang penuh manusia, makanan yang tiada matinya, harga murah yang tidak pernah aku habis pikir, keramahan dan sopan santun yang lekat dan dekat, timlo Sastro di Pasar Gede, Selat Vien dekat Solobalapan, bakso patung kuda, simbok-simbok sepanjang Sriwedari dengan jadah bakar serta (aih) perempuan-perempuan yang dalam setiap panorama menampilkan senyum anggun dengan kerudungnya cukup mampu sampai sekarang… membuat aku mencintai kota kecil ini.
Tapi, bahwa kebenaran yang paling aku hindari adalah; kenyataan bahwa aku lebih mengenal tanah rantau ketimbang tanah kelahiran adalah satu-satunya kebenaran yang paling tidak ingin aku akui.
Meskipun begitu, kemanapun langkah kaki ini berjalan, ke kota serta negara lain aku berlayar, kepada rumah pula lah aku berlabuh.
Merantau (terutama ketika kuliah) adalah cara paling asyik menikmati jeda dalam hidup yang maya ini. Meski tidak jauh tanah rantaumu tapi tak mengapa, bepergianlah, kau akan tahu bahwa meme meme anak kos dan mahasiswa ternyata benar-benar ada.
Setidaknya meskipun kau tidak bisa menulis untuk dibagikan ke orang banyak. kau masih bisa membagikan ke anak anakmu kelak dan bilang, “Dulu bapak ngaduk kopi seduh pake bungkusnya,” atau “Dulu bapak balik celana dalam karena lupa nyuci,” atau “Dulu mamah pergi KFC tapi bawa nasi sendiri dari rumah.”
Dimanapun dan kapanpun, hijrah itu adalah nikmat.
Nikmat dimana pada akhirnya menyadarkan kita bahwa berpindah-pindah tempat, berganti-ganti kota adalah latihan yang tepat sebelum kita menetap setelah akhir hayat.
yang sedang pulang dan akan kembali pergi
Tangerang, 30 Juni 2017.