[Book Review] Dear Nathan
Judul: Dear Nathan
Penulis: Erisca Febriani
Penerbit: Best Media
Terbit: Maret 2016
ISBN: 9786026940148
Halaman: 520
Harga: 90.000
Blurb: Berawal dari keterlambatan mengikuti upacara pertama di sekolah baru, Salma Alvira bertemu dengan seorang cowok yang membantunya menelusup lewat gerbang samping. Selidik punya selidik, cowok itu ternyata bernama Nathan; murid nakal yang sering jadi bahan gosip anak satu sekolah.
Beberapa rangkaian kejadian pun terjadi, yang justru menghantarkan Salma untuk menjadi kian lebih dekat dengan Nathan. Dua kepribadian yang saling bertolak belakang, seperti langit dan bumi; yang tidak bisa bersatu tapi saling melengkapi. Novel ini mengisahkan tentang masa indah putih abu-abu, persahabatan, pelajaran kehidupan, dan pentingnya untuk selalu menghargai perasaan.
“Jatuh cinta itu nggak butuh alasan, Sal. Proses memulai jatuh cinta memang bisa terjadi tanpa alasan.” -Halaman 328
Hari itu, Salma terlambat datang ke sekolah. Sebagai anak baru, terlambat adalah sebuah kata yang wajib ia hindari. Namun, kata tersebutlah yang membawa salma bertemu dengan Nathan, si pembuat onar nomor satu di sekolahnya.
Semenjak itu, Nathan yang jarang sekali mendekati perempuan mulai mendekati Salma. Namun, Salma memilih untuk menghindarinya. Walau begitu, Nathan tidak berhenti untuk memperjuangkan cintanya. Dan perlahan, hati Salma pun terbuka untuknya.
Ketika kedua hati sudah bertemu dalam satu ruang, seorang gadis dari masa lalu Nathan berusaha untuk memasuki ruangan tersebut. Membuka gerbang masa lalu yang selama ini berusaha Nathan sembunyikan di sudut memorinya.
Siapakah gadis dari masa lalu Nathan? Masa lalu apa yang selama ini selalu Nathan sembunyikan? Dan bagaimana titik akhir dari kisah cinta antara Nathan dan Salma?
“Tunjukin perasaan lo suka ke seseorang itu nggak salah, tapi jangan pernah berharap orang itu bakalan suka balik sama lo. Karena kalau seseorang itu emang suka balik sama lo, berarti itu keberuntungan.” -Halaman 339
Sebelumnya, saya sudah pernah membaca Dear Nathan di wattpad. Dari awal, saya sudah jatuh cinta dengan ceritanya yang ringan dan menghibur. Jadi ketika Dear Nathan akan dibuat novelnya, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membelinya walaupun harus mengeluarkan uang yang cukup banyak. Walau begitu, saya tidak merasa kecewa karena apa yang saya keluarkan sebanding dengan apa yang saya dapatkan.
Ketika membaca Dear Nathan, saya seperti sedang membaca novel Dilan yang digabungkan dengan kisah AADC. Sosok Nathan pun seperti irisan dari tokoh Dilan dan Rangga. Cara bicara Nathan yang baku juga mengingatkan saya dengan cara bicaranya Rangga.
Sebenarnya, saya lebih menyukai cara bicara Nathan yang dahulu, mengunakan gue-elo karena lebih terkesan nyaman walau begitu saya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
Dalam novel ini, saya juga bertemu dengan tokoh-tokoh absurd bin ajaib seperti Nathan dan kawan-kawannya. Belum dengan kelakuan-kelakuan mereka yang kerap kali mengundang tawa saya.
Apalagi dengan kelakuan Nathan yang menuliskan namanya dengan nama Salma di depan pintu kamar mandi perempuan. Beneran deh saya sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah Nathan yang aneh itu. Tokoh-tokoh tersebutlah yang membuat Dear Nathan menjadi lebih bewarna dan menghibur.
“Meskipun saya tampang berandalan. Tapi saya amat sangat menghargai perempuan. Perempuan itu kayak kaca, kalau retak ya bakalan retak seumur hidup dan nggak bakal bisa balik kayak semula. Gimana pun caranya.” -Halaman 95
Selain tokoh-tokohnya yang ajaib, novel ini juga berhasil menimbulkan berbagai ekpresi di wajah saya. Mulai dari tersenyum sendiri melihat sikap Nathan yang manis seperti gulali. Tertawa dan geleng-geleng kepala melihat kejailan Nathan yang sudah tingkat dewa itu.
Sampai berdecak kagum dengan kata-kata puitis atau metafora yang kadang sering diselipkan oleh sang penulis. Jujur saya, saya sedikit iri melihat tulisan tersebut karena saya yang suka menulis belum berhasil membuat kata-kata indah seperti itu.
Selain itu, saya juga ingin berterima kasih kepada sang penulis yang telah menyadarkan saya untuk berjuang lebih keras lagi supaya tulisan saya juga bisa diakui oleh banyak orang><
Dan, saya berharap kakak bisa terus menulis dan jangan lupa untuk mempertahankan kata-kata indah tersebut karena kata-kata tersebut adalah ciri khas dan nyawa dari cerita kakak:))
“Lo suka nggak sih sama Nathan sebenarnya? Cowok itu juga butuh dikasih kepastian, jangan cuma dikasih harapan tapi ujung-ujungnya dijatuhin, kan kasian.” -Halaman 128
Selain menghibur, novel ini juga memberikan saya banyak pelajaran bagus. Apalagi buat para remaja. Dalam novel ini, saya belajar untuk mencintai diri saya sendiri seperti Dinda yang berusaha mencintai dirinya. Memaafkan kesalahan di masa lalu seperti Nathan yang berusaha berdamai dengan masa lalunya. Mencoba keluar dari zona nyaman seperti Salma yang selama ini selalu mempertahankan perinsip kehidupannya.
Dan, tidak lupa persahabatan dan juga kasih sayang dari keluarga karena hal itulah yang paling indah dalam buku ini dan juga kehidupan kita.
4 dari 5 bintang untuk Dear Nathan