Bola-bola putih menggelinding dari matamu, dan hadir pada akhir bulan Desember.
Aku tidak tahu kalau ternyata salju terbuat dari air matamu; begitu kerasnya kau buat manusia bahagia tanpa sadar kau terluka.
$LAYYYTER
art blog(derogatory)
todays bird

pixel skylines
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

oozey mess

No title available
I'd rather be in outer space 🛸

Love Begins
No title available
𓃗
ojovivo
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

❣ Chile in a Photography ❣
🩵 avery cochrane 🩵
h
Peter Solarz

★

if i look back, i am lost
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Russia
seen from Brazil
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from France

seen from Hungary
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
@aesna
Bola-bola putih menggelinding dari matamu, dan hadir pada akhir bulan Desember.
Aku tidak tahu kalau ternyata salju terbuat dari air matamu; begitu kerasnya kau buat manusia bahagia tanpa sadar kau terluka.
Jalan pintas menuju dirimu adalah sedekat jalanku menuju sajadahku. Yang daripada itu, kelak kudoakan lelahmu kan bersandar pada pundakku. Menginsyafi malam hingga pagi: menjagamu hingga mati.
Jurnal Hari Kamis
Kemarin, kulihat peluhmu yang berbulir-bulir itu bak biji jeruk ada di jeda antara alis dari lipatan kerudungmu. Namun, kau tidak lagi mengeluh dan berputus asa pada kelelahan, kau senantiasa berlarian, berbicara, dan mengatur beberapa orang di hari itu, agenda yang menguras tenaga, waktu, dan pikiran.
Kau, tetaplah kuat dan nantinya kau akan menjadi lebih kuat. Seperti yang kemarin-kemarin, kau tahu, selain Allah, dan orang tua, kemana kau harus bercerita, pundakku tidak kuat benar; kurus dan ringkih. Namun, imajinasiku punya sebaskom besar untukmu menampung kata-katamu, akan kudengarkan. Akan kudengarkan sepenjang hari jika itu membuatmu lega.
Namun, barangkali, aku tidak bisa mencampuri urusanmu terlalu banyak.
Kau punya segundang euforia yang tidak dapat kurengkuh, senyummu bahkan terlalu besar untuk orang seperti aku. Namun, tenang saja, untuk doa yang kau selalu kau panjatkan, aku senantiasa untuk mengaminkannya.
Pada suatu hari, semoga kau bisa mengaminkan doa yang kupanjatkan dan itu terdengar jelas pada telinga dan sudut rumahku.
Pagi yang merindumu adalah pagi yang kucintai.
Iedul Adha tahun ketiga. Masih tetap di tanah rantau, dan memutuskan untuk tidak kembali pulang. Semoga bapak, ibu, serta adik tetap sehat. Maaf tidak bisa membersamai untuk sholat Ied di pagi hari yang (harusnya) berbahagia.
Draft SMS yang urung untuk dikirim.
Lihainya aku menyembunyikan gelegak rasa lelah dan keinginan untuk berteriak-teriak adalah karena keenggananku untuk kauperhatikan dan kaubilang, “Kamu istirahat saja, biar nanti nggak sakit.”
Lihainya aku bersemayam dalam senyum adalah caraku untuk tetap menguatkanmu, tidak hanya sebatas pada doa dan harap-harap, namun juga sebagai bentuk pengabdian bahwa diri ini selalu bersetia pada dirimu yang selalu berusaha keras dan lebih keras lagi. Bahwa diri ini sangsi untuk lebih lemah darimu, karena nantinya, bagaimanapun, kau yang akan senantiasa untuk kukuatkan. Oleh karena itu, aku harus lebih kuat, dan lebih kuat lagi dari sebelum-sebelumnya.
Diam-diam adalah cara terbaik untuk mencintai.
Karena dalam diam-diam itu, hening dan jeda antara aku dan Tuhan terasa begitu dekat; terasa bahwa kau yang kudoakan secara diam-diam menyentuh garis terdekat dari hubunganku dengan Tuhan.
Pengembaraan adalah salah satu proses asyik yang diciptakan Tuhan untuk kita belajar bagaimana proses adalah segalanya.
Namun, entah mengapa, bagi manusia, ia justru sebaliknya. Proses tak semenarik hasil. Orang-orang terus melihat hasil yang mana ia hanya puncak dari gunung yang telah didaki dengan susah payah. Mereka meskipun berkata begitu menghargai proses. Namun, rerata menjadi sangat depresi, frustrasi, dan gagalnya hidup hanya karena tak sampai pula apa yang ia cita-citakan sebagai hasil.
Skenario Allah itu asyik.
Ingat saja ini: apabila kau tak merasakan gembiranya hasil akhir. Perasaan pedih saat kau mengalami proses adalah perasaan bahagia Tuhan atas hamba-Nya yang terus berusaha.
Bukankah Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum apabila kaum itu tidak merubahnya sendiri?
Pengembaraan adalah proses. Kau tidak melulu akan sampai di tujuan. Tapi selama perjalanan, bukanlah banyak hal baru yang akan kau temui?
09 Agustus 2017 Kereta Api Argo Lawu Solo - Jakarta
Menghargai momen adalah cara saya menghargai waktu pemberian Allah.
Karena setiap yang diciptakan akan senantiasa dimatikan, yang dibangkitkan akan kembali dikuburkan, dan yang diberikan nyawa pada akhirnya harus mengembalikan pinjamannya. Maka, setiap jengkal momen yang terjadi adalah tanda cinta-Nya pada makhluk yang Ia cipta. Bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materil, ia bisa datang dari teman yang tingkat lakunya aneh, yang tak kau temui ia dimanapun meskipun kau harus bayar dengan segepuk rupiah.
Karena setiap waktu yang diberikan, pada akhirnya akan menguap pelan-pelan. Ia laksana daun yang tumbuh, menghijau, lalu akan berujung pada kondisi yang sama; renggas dan tersungkur ke tanah. Ketika itu, ia menjadi buruk dan tidak dipedulikan. Tanpa kita sadari, manusia pun mempunya alur yang identik, perbedaannya, beberapa orang sengaja membuat dirinya menjadi daun yang tidak beguna, yang gugur tanpa membawa kenangan apapun, beberapa orang lainnya mencoba menguatkan tangannya pada cabang, berfotosintesis lebih banyak dari biasanya, dan tumbuh lebat dari lainnya; tragisnya, tidak semua orang mau seperti itu.
Karena terkadang, ia membutuhkan teman untuk memuji dari belakang, menghardik dari depan, dan membersamai dari samping.
Surakarta,
27 Juli 2017
Dan, saya pikir, cara mencintai setiap orang terhadap Tuhan itu berbeda-beda; salah satunya adalah dengan meyakini bahwa kau kelak akan menggenapi harapanku. Namun, jika pada saatnya itu tidak terjadi. Setidaknya aku yakin, bahwa aku selalu dilibatkan dalam skenario terbaik-Nya.
Aesna
Kerapkali ada yang lupa dari seseorang yang hidup di zaman modern dekade belakangan: ia tidak sadar bahwa ia hidup bersama orang lain.
Salah seorang temanku yang seorang aktivis pejuang hak masyarakat pernah bilang, “Jangan salah, aku tidak melakukan ini untuk masyarakat, jauh di atas segalanya aku melakukan ini untuk kebaikan diriku sendiri. Untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tetap menjadi ‘manusia’ yang diciptakan Tuhan untuk memanusiakan manusia lain.”
PMI Surakarta, 14 Juli 2017
Prawirotaman sore hari adalah Prawirotaman yang diguyur romantisme Yogyakarta.
Bule-bule mulai dari berambut putih sampai kuning, bercelana pendek sampai berkaus oblong lalu-lalang begitu sering. Seakan akan aku tengah menginjak ranah eropa. Sepanjang jalan, ia tidak lebar ataupun tidak sempit; pas. Aku membayangkan tiba-tiba, pada malam hari nanti mungkin aku akan menyusuri Prawirotaman sekali lagi, dengan menapak kaki, mendengarkan lagu KLA Project sembari tersenyum kecil sendiri.
Konon, bagiku, cara-cara seperti itu setelah kulakui beberapa kali, kerap aku merasa bahwa cara menikmati kesendirian adalah caraku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa.
Bahwa daripadaNya, kaki yang bugar ini senantiasa diberikan izin untuk berjalan lebih jauh lagi, lebih banyak lagi, dan lebih merasuk lagi pada semesta.
Sore ini, di salah satu kedai Jalan Prawirotaman, tepatnya kedai Tempo Gelato; muda-mudi, sanak keluarga, ataupun anak kecil dengan khidmat mencecapi es krim yang tidak lagi bermakna makanan, melainkan kebersamaan dan kasih sayang.
Kedai Tempo Gelato, Sepanjang Sore Yogyakarta, 04 Juli 2017
Mereka adalah yang ditindas zaman. Satu sekolah tidak lebih dari 60 orang. Yang bilamana direratakan, satu kelas hanya berisi 10butir bocah ingusan. Guru mereka tidak lebih dari 10 dengan kepala sekolah yang berjalannya telah sulit dan napas yang diburu umur. Buku mereka KTSP 2006, dipukul telak dengan janji K13, CBT, dan program lainnya yang apalah itu. Papan tulis mereka masih kapur, yang bahkan kita terlalu uzur untuk mengingat benda apa itu. Bangku dan meja telah reyot. Di sekolahku dulu, benda-benda seperti itu sudah dijadikan api unggun, tapi bagi mereka, benda-benda tersebut adalah bahan bakar masa depan. Perpustakaan dan UKS lebih mirip tempat loak sampah ketimbang dibilang sarana intelektual dan kesehatan. Dan itu semua baru saya sadari ketika di hari yang panas pada bulan Mei saya berkunjung ke sekolah tersebut. Tapi, dari situ saya percaya kepada mereka, masa depan adalah milik yang selalu menggenggam mimpinya, yang menyematkan gembira pada degup perjuangannya, yang tak mati meski ditindas zaman. Karena, mereka yang akan merubah zaman.
Kalau ada orang yang mengingatkan kita atas kekeliruan yang kita lakukan tapi kita merasa tersinggung. Barangkali ada yang salah dengan diri kita, dengan hati kita. Dan menjadi renungan saat hati dan pikiran kita cukup jernih: “Apa arti semua ibadah kita saat kita msh tersinggung ketika diingatkan atas perbuatan kita yang keliru?” Bukankah barangkali itu caraNya menyelamatkan kita? Jangan-jangan sudah berulang kali, kita berdoa memohon keselamatan tapi saat akan diselamatkan justru kita yang menolaknya? #NTMS
Merantau; Menikmati Jeda
“Yats, kuliah dimana?” “Di Solo. "UNS?” “Bukan UMS. Muhammadiyah Surakarta.” “Lha ngapain kuliah jauh-jauh ke sana. Swasta disini kan banyak. Muhammadiyah Tangerang ada, Muhammadiyah Jakarta aja. Nyusahin diri sendiri lu.”
Sebenarnya, sampai saat ini, sampai semester enam hampir kunjung usai, jangankan sering, sekalipun gak pernah nyesel buat keputusan ngerantau ke Solo buat belajar. Satu-satunya penyesalanku adalah kesempatan pulang dan bersua dengan orang tua semakin sedikit, padahal mereka semakin tua, tapi baru setiap di penghujung semester ada kesempatan pulang.
Pasti ada yang tanya, “Lha kan Tangerang-Solo deket. pulang setiap bulan juga bisa.”
Betul. Aku sebenarnya bukan tidak mampu, tidak ingin ataupun tidak sempat. Tapi, malam itu, di stasiun Pasar Senen, bapakku sebelum keberangkatan berpesan, “Laki-laki harus kuat. pundakmu tidak diciptakan hanya untuk menampung beban masalahmu sendiri, masih ada keluargamu, yang sekarang ataupun yang akan datang, beban negaramu, pekerjaanmu, kehidupanmu, dan beban lainnya. Jadilah lebih kuat dan lebih kuat lagi.”
Dari situ, ada pesan bapak yang sebenarnya tersembunyi, “Sebenarnya, akan ada saatnya kau kehilangan kami, kehilangan beberapa orang yang kau cintai, yang kau sayangi. Dan, kau harus tahu bagaimana cara bangkit meskipun kau seorang diri.”
Maka dari itu, aku pikir caraku untuk jarang pulang adalah caraku yang paling kejam terhadap diri sendiri untuk bisa sesuai dengan pesan bapak.
—
Solo, beserta isinya; siang harinya yang panas, malam harinya yang romantis, angkringan setiap lima ratus meter, lampu neon yang tak terlalu gemerlap, Slamet Riyadi yang panjang, Ngarsopuro yang menyenangkan, Manahan yang berkelipan, Laweyan yang berkebudayaan, Balekambang yang sederhana, Kotabarat yang penuh manusia, makanan yang tiada matinya, harga murah yang tidak pernah aku habis pikir, keramahan dan sopan santun yang lekat dan dekat, timlo Sastro di Pasar Gede, Selat Vien dekat Solobalapan, bakso patung kuda, simbok-simbok sepanjang Sriwedari dengan jadah bakar serta (aih) perempuan-perempuan yang dalam setiap panorama menampilkan senyum anggun dengan kerudungnya cukup mampu sampai sekarang… membuat aku mencintai kota kecil ini.
Tapi, bahwa kebenaran yang paling aku hindari adalah; kenyataan bahwa aku lebih mengenal tanah rantau ketimbang tanah kelahiran adalah satu-satunya kebenaran yang paling tidak ingin aku akui.
Meskipun begitu, kemanapun langkah kaki ini berjalan, ke kota serta negara lain aku berlayar, kepada rumah pula lah aku berlabuh.
Merantau (terutama ketika kuliah) adalah cara paling asyik menikmati jeda dalam hidup yang maya ini. Meski tidak jauh tanah rantaumu tapi tak mengapa, bepergianlah, kau akan tahu bahwa meme meme anak kos dan mahasiswa ternyata benar-benar ada.
Setidaknya meskipun kau tidak bisa menulis untuk dibagikan ke orang banyak. kau masih bisa membagikan ke anak anakmu kelak dan bilang, “Dulu bapak ngaduk kopi seduh pake bungkusnya,” atau “Dulu bapak balik celana dalam karena lupa nyuci,” atau “Dulu mamah pergi KFC tapi bawa nasi sendiri dari rumah.”
Dimanapun dan kapanpun, hijrah itu adalah nikmat.
Nikmat dimana pada akhirnya menyadarkan kita bahwa berpindah-pindah tempat, berganti-ganti kota adalah latihan yang tepat sebelum kita menetap setelah akhir hayat.
yang sedang pulang dan akan kembali pergi Tangerang, 30 Juni 2017.
Pada akhirnya, sejauh apapun kita melangkah, beratus-ratus kilometer kita berjalan, ke rumah jua lah kita berlabuh. Masa muda adalah masa-masa terbaik; di dalamnya hidup sahabat, kenangan, dan cinta. Bersua dengan salah satu diantaranya adalah gegap yang gempita, derap yang tak menua, dan alasan untuk selalu kembali dengan bahagia. Karena dari sana, masa depan dipupuk, semangat diabdi, jiwa ditempa, agar kelak dewasa, meskipun tanpa mereka, diri ini mampu berdiri dengan sendiri.
Memungut Epitaf yang Berserakan
Akhirnya aku kembali lagi setelah beberapa tahu lalun menebar epitaf-epitaf dalam sunyi-sunyi yang berhamburan di antara manusia yang giat menggelimangkan air matanya ke nisanmu, di antara manusia yang hatinya kecut dan jiwanya kebas melihat kepergianmu.
Aku datang untuk memungut kembali; air mata yang berleleran dan eulogi-eulogi yang panjang, aku juga datang untuk menagih utangmu terhadapku bahwa kau baik-baik saja. Karena setelah kutahu, rasa-rasanya air mata dan eulogi itu hanya bertahan barang satu hari saja terhadap orang baik. Jadi, biarlah kukumpulkan kembali semuanya dan biar Tuhan tahu, betapa banyaknya orang baik yang kuburannya lebih sepi dibandingkan orang-orang biadab yang menjilati darah mereka dari tangan yang mengotori dan menggorok leher manusia lainnya.