Hikmah “Salah Kaprah”
Konser terbaik yang pernah saya datangi adalah Tame Impala di Malaysia, tanggal 23 April 2016 lalu. Banyak teman saya yang bingung karena keputusan saya menonton mereka disana, karena tepat 6 hari setelahnya mereka akan mengadakan konser di Indonesia. Alasan standar yang sering saya lontarkan adalah “ingin sekalian jalan-jalan”, yang tetap direspon sebagai “kekeliruan” oleh mereka.
Sebenarnya saya juga agak kaget dengan pengumuman bahwa mereka akan mengadakan konser di Indonesia, yang beredar setelah pengumuman konser di Malaysia dikeluarkan. Saya ingat ketika konser di Malaysia diumumkan, saya langsung yakin untuk membeli tiketnya karena hal itu belum lama setelah kejadian bom di Jakarta (Thamrin) yang membuat saya yakin Indonesia akan hilang sementara dari list negara yang mau didatangi oleh artis internasional. Lalu, ternyata saya salah.
Singkat cerita, saya dan beberapa teman (yang juga mengira bahwa tidak ada artis internasional yang akan ke Indonesia untuk sementara) berangkat ke Malaysia 1 hari sebelum konser dimulai. Hal ini membuat saya menjadi semakin tidak sabar untuk melihat penampilan Tame Impala dan tentu saja membandingkannya dengan penampilannya nanti di Indonesia. Dengan semangat, saya yakin akan menemukan sisi positif untuk “membenarkan” keputusan saya menyaksikan Tame Impala di Malaysia.
Tanggal 23 April 2016, antrian panjang terjadi di KL Live, Kuala Lumpur. Saya sampai disana 2 jam sebelum konser dimulai untuk melakukan penukaran tiket. Setelah masuk ke tempat konser, saya cukup kaget karena ternyata tempat konser tersebut indoor dan tidak terlalu besar. Pikiran pertama yang muncul di kepala saya adalah akan sesesak apa nanti ketika menyaksikan konser.
Setelah menelaah tempat, ternyata ada lantai atas yang dapat dipakai untuk menonton. Saya dan teman-teman berinisiatif untuk menonton pertunjukkan dari atas saja agar lebih lowong. Benar saja, ketika sampai diatas, masih banyak space kosong yang dapat diisi. Hal ini sama seperti ketika Anda melihat pertunjukkan musik di lantai dasar sebuah mall dan Anda menonton pertunjukkan tersebut dari lantai yang lebih tinggi, sambil memegang railing. Saya mendapat tempat di sebelah kanan atas, dekat dengan stand minuman dan entah ini merupakan hal baik atau tidak, tepat dibawah AC yang membuat saya tidak berkeringat sama sekali sepanjang konser. Konser dibuka oleh Pastel Lite, band Malaysia yang membawakan jenis musik yang upbeat lewat synthesizer-nya yang digunakan di seluruh lagu.
Ini merupakan kali kedua saya menyaksikan Tame Impala, setelah menyaksikan mereka di Laneway Festival yang diadakan di Singapur, 2013 lalu. Menurut saya perbedaan yang signifikan terdapat di bagian lighting dan sound nya. Lighting yang disajikan sangat menarik dan memang mendukung jenis musik yang Tame Impala bawa, sedangkan untuk sound, saya merasa kualitas sound mereka semakin baik dari 2013 lalu. Berikut kejadian yang menurut saya menarik: confetti di “Let It Happen”, drum solo Julien di “Elephant”, gaya flamboyan Kevin di “Yes I’m Changing”, goyangan riuh penonton di “The Less I Know The Better” dan tentu saja koor massal di “Feels Like We Only Go Backwards”.
Setelah konser selesai, saya sangat puas karena dapat menemukan sisi positif seperti menyaksikan konser dengan nyaman, intimate, dan ditambah lagi dapat melihat Tame Impala dari jarak yang cukup dekat. Akhirnya saya dan teman-teman saya sampai pada konklusi bahwa konser ini tidak perlu dibandingkan dengan yang di Indonesia, mengingat tempat pelaksanaan konser yang sudah jauh berbeda. Apakah ini pengalaman terbaik saya selama menyaksikan konser? Ya!



















