Dulu aku pernah minta sama Tuhan untuk dicintai sama laki-laki yang selain taat pada-Nya, juga laki-laki yang baik, cerdas dan bisa diajak diskusi nggak abis-abis. Cakep dan bisa fotografi adalah bonusnya. Lalu aku sempet bertanya-tanya: apa aku muluk-muluk yaa hingga aku nunggu selama ini. Hingga semesta mempertemukanku dengan seseorang yang membuat duniaku nyaris jungkir balik. Saat dikenalin dia, aku nggak ngarep apa-apa. Selain dia udah punya cewek, aku udah minder duluan dia se-sempurna itu; lebih dari yang aku minta. Semesta emang selucu itu, dengan ajaibnya menggerakan hati kami untuk saling kenal lebih jauh, diskusi via telepon, chat absurd sampe absurd banget. Tuhan... Cowok cakep yang super cerdas dan asyik diajak diskusi ini ternyata hobby fotografi. Malah dikasih bonus; dia suka jalan-jalan, suka bertualang, suka baca buku. Ngomongin buku sama sastra sama dia tuh ga abis satu obrolan. Singkatnya aku nemu orang se-frekuensi. Tapi muncul ketakutan itu, takut kalau aku terlalu ngarep tar ujung-ujungnya sakit kalo ditinggal gitu aja, kaya yang udah-udah hehe. Ini yang buat aku bingung, dari awal perkenalan dengan seseorang, aku selalu buat batasan: apakah orang ini hanya akan dijadikan teman atau berprospek lebih, biar gampang menempatkan dalam hati ini. Hehe. Untuk orang ini aku menempatkan dalam posisi teman yang bisa berprospek lebih. Ah, jangan ngarep tapiii. Ah, masa melewatkan lelaki sesempurna dia. Waktu itu aku debat dalam hati.
Hingga hari sabtu, menjelang senja, magic hour aku dan dia berhadap-hadapan di tengah hutan pinus, salah satu primadona wisata di Bandung. Momennya udah romantis banget kan. Setelah seharian keliling Bandung emang worth it banget sih nyaksiin pergantian siang ke malem di sini. Untuk pertama kalinya dia genggam tangan aku erat banget dan aku degdegan, oh bukan degdegan tapi saat itu jantung aku bekerja kaya ombak, berdebar. Dia nggak natap aku, aku dan dia sibuk mandangin langit yang saat itu indaahh banget.
"Di perkenalan kita yang baru dua bulan ini aku gak bisa nahan diri lagi." Dia memecah keheningan. Aku menoleh, menatap wajahnya yang lagi fokus ke arah langit.
"Nahan diri dari?" Aku pura-pura polos. Haha.
"Aku tau, kamu bukan orang yang gampang jatuh cinta. Orang yg pernah kamu cintai juga orang yang udah kenal lama sama kamu."
"Terus?" Kini aku yang harus nahan diri. Kenapa nggak langsung intinya aja sihh...
"Kalau orangnya aku, kamu mau nggak berusaha buat jatuh cinta lebih cepet," dia menoleh dan sial, aku ketauan lagi natap dia dari tadi. Aku nunduk, menghindari tatapan dia, lebih ke... malu.
"Hei," dia menyipitkan matanya heran. Lalu aku menangkat wajah, menatap dia dengan lebih berani, dia masih keheranan dan sepenuhnya balik menghadap aku. Aku meraih tangan dia yang satu lagi, hingga kedua tangan kami bergenggaman.
"Aku udah jatuh cinta sama kamu. Entah sejak kapan. Tapi sekarang, aku lagi jatuh cinta banget sama kamu." Ucapku sambil ngangguk. Dan aku kaget saat dia narik tangan aku supaya lebih dekat. Jangan bayangkan kayak k-drama yang tiba-tiba ada adegan yang romantis yang nggak disangka. Haha. Tapi dia cuman meluk aku singkat sambil masih canggung. Aku berbisik di telinganya: terimakasih. Aku udah nunggu selama itu. Dia malah meluk aku makin erat. Hehe.
Haha, inget momen ini aku jadi malu.
"Tau ga, dari pagi aku mikir gimana bilangnya. Mau di taman, di kedai kopi, dan pas di sini pum aku ragu-ragu sampe nggak bisa natap kamu." Ucapnya lagi.
Tempat itu udah sempurna banget buat aku. Senja yang aku sukai dan orang yang aku cintai ❤️ makasiii 😍😭














