berkembang dan bertumbuh (ke arah yang salah).
kamu menghabiskan setengah kotak brownis yang dibeli kemarin, sembari menatap foto masa kecil ketika usiamu sekitar tujuh atau delapan tahun. tak terasa, sembari mengunyah, air matamu meleleh. meski banyak orang, termasuk dirimu sendiri yang mengatakan bahwa masa kecilmu begitu menyenangkan dan berlimpah dengan berbagai hal, terutama materi, rasanya sangat tidak bersyukur jika menyerukan komplain.
pikiranmu melayang ke pada masa-masa yang kini disebut orang sebagai golden age atau usia emas pertumbuhan. ada yang mengatakan bahwa usia itu terbentang antara 6-11 tahun. saat itu, imajinasimu memang berkembang begitu pesat. rasa ingin tahumu begitu tinggi, kamu tidak takut untuk mencoba hal baru. sebuah hal yang lumrah yang dialami oleh setiap anak.
meski begitu, hari-harimu lebih sering dilewati dengan mendengarkan pesimisme dari orang sekitar. mereka yang enggan membiarkanmu mencoba hal baru karena sering kali kamu gagal dan membuat kekacauan (sesuatu yang akhirnya kamu sadari bukan sebuah kesalahan, melainkan sebuah proses pembelajaran). ada banyak suara yang mereka sendiri tak sadari akan berdampak buruk pada hidupmu kelak.
suara-suara tersebut mengatakan bahwa kamu kurang kreatif, otakmu tidak digunakan dengan maksimal, pekerjaan tanganmu tidak pernah sempurna, serta segudang keraguan yang dilontarkan secara jelas dan keras bahwa mungkinkah kamu akan sukses kelak?
pada awalnya suara-suara tersebut terasa seperti angin lalu. keyakinanmu semasa kanak-kanak sekuat pohon jati, bahwa kamu mampu membuktikan siapa dirimu yang sesungguhnya. namun, seperti ada kekuatan lain yang mengendalikanmu, pikiranmu perlahan-lahan selalu memutar ulang perkataan dari orang-orang terdekatmu, sosok-sosok yang paling kamu kasihi.
dimulai dari aktivitas menggunting di sekolah, kamu melihat pekerjaan teman-temanmu yang rapi, dan membandingkan dengan kertas yang berada di tanganmu. terbesit pemikiran bahwa mungkin kamu tidak serajin mereka dalam mengerjakan sesuatu, persis seperti yang dikatakan orang tuamu. kemudian datang aktivitas menggambar dan mewarnai, kembali kamu melihat hasil teman-temanmu seraya berpikir "sepertinya benar bahwa aku kurang memiliki kreatifitas". padahal, kreatifitas adalah sebuah keunikan yang dimiliki setiap individu yang perlu untuk diasah, bukannya sebuah natur yang akan langsung sempurna begitu saja.
ketika nilai ujian matematika keluar, saat kamu masih duduk di bangku sekolah dasar, seringkali kamu berpikir "mungkin nggak, ya, aku bisa berkuliah? aku sebegini bodohnya". pada usia yang begitu muda, kamu telah belajar untuk melihat diri sendiri dari lensa yang negatif.
saat kamu duduk di bangku kelas enam, dinding rumah menjadi saksi tulisan-tulisanmu yang membenci diri sendiri, seperti "aku bodoh banget", "aku nggak kreatif", sebuah kepercayaan yang justru, ironisnya, ditanamkan oleh orang-orang yang berkata mereka mencintaimu, namun sikap dan perkataan yang muncul seolah mengatakan sebaliknya.
keyakinanmu, yang kamu kira akan bertahan sekokoh batu karang yang meski diterjang badai tak akan tumbang, pada akhirnya tak terbukti benar. badai tersebut berhasil merapuhkan serta mengoyak pertahananmu. pertahanan apa yang kamu miliki saat usiamu masih begitu belia? usia yang seharusnya kamu masih dilindungi dan dibuat untuk merasa aman menelusuri dunia kecilmu, sebelum akhirnya melangkah pada dunia yang jauh lebih luas.
mereka (dan banyak orang yang lainnya) mengatakan bahwa hal-hal tersebut terjadi karena mereka baru pertama kali menjadi orang tua, pertama kali memiliki seorang cucu. ditambah, pada saat itu belum ada internet dan buku-buku parenting seperti saat ini. kamu mengiyakan hal tersebut dan tahu bahwa memang begitulah realita yang terjadi. namun, bagaimana dengan lukamu?
kamu belajar untuk hidup berdamai dengan luka-luka yang ada, perlahan mencoba menyembuhkan setiap luka dengan berbagai hal. kamu berusaha untuk mengasihi mereka yang telah menyakiti, namun juga berjuang untuk mencintai diri sendiri. diri yang selama ini menerima ekspresi cinta yang salah.
seringkali kamu bertanya-tanya ketika rasa pahit timbul tenggelam dari hatimu yang terdalam. apakah sesulit itu untuk mengasihi seorang anak, melihatnya sebagaimana ia adanya, tanpa menggunakan kacamata yang dibalut lensa ekspektasi-ekspektasi dan kecemasan-kecemasan yang berasalh dari lingkungan sekitar.
kemudian, pada akhirnya kamu hanya dapat diam dan berusaha menavigasikan kehidupanmu ke arah yang benar. meski sebenarnya kebenaran itu seringkali tampak buram dan secara konstan kamu pertanyakan.
jauh di dalam hati dan pikiranmu, kamu tahu bahwa mereka yang telah menyakitimu mungkin tak akan pernah sadar atas efek apa yang mereka timbulkan. betapa hal tersebut telah merusak sebagian besar hidupmu. pada akhirnya, sembari menghela nafas, kamu hanya dapat bergumam,
"terjadilah seturut dengan kehendak-Mu. ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."
meski begitu berat, begitu pelan, begitu lamban, kamu tetap berjalan. entah sampai kapan akan begini. setidaknya, kamu berusaha untuk selalu bertahan di tengah kesesakan.