Writing-Activity Lover | Graphic Designer | Communication Science, Social & Politic Science Faculty, Unswagati Cirebon '12 | Coffee and Tea Addict | Penulis dan Pengisi Suara di Misty Poems (function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-83459737-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');
Perjalananmu hanya empat atau lima tahun yang cukup singkat, dan tak terasa telah berakhir. Namun, perjalanan itulah yang akan mengubah dirimu. Mengubah duniamu. Termasuk mengubah dunia.
Kita akan belajar lagi bagaimana bisa beriringan dengan hidup yang kini begitu bebas, kejam dan liar. Kita akan belajar berdiri sendiri. Berjuang lalu berserah dan menerima apa yang disuguhkan hidup kepada kita.
Hidup akan menempa dan membentuk kita.
Semoga kita berdua mampu berproses menuju titik yang didambakan. Proses yang tak mungkin mudah, namun selalu indah jalannya bila kita syukuri.
(Pada tulisan ini, izinkan saya mengucap selamat pada wisudawan/wisudawati di seluruh universe ini, yang berhasil mendapatkan gelar sarjananya. Kapanpun dan di manapun, semoga setidaknya kita semua bisa jadi orang yang memiliki guna, amiin).
Sedari awal, memang tak jelas. Kisah kita ini terjadi atas dasar apa. Kebosanankah? Rasa penasarankah? Atau kecocokan kita? Akupun tak tahu. Kita memulai semuanya dari rasa hormat satu sama lain. Kemudian lebih dalam dari itu. Pertemanan yang kita jalin nampaknya telah menjelma menjadi perasaan yang ingin mencumbu setiap kehadiran. Meskipun tak mungkin bersatu, kita tetap melanjutkannya dengan sisa rasa nyaman yang ada dalam diri.
Sampai akhirnya kita merasa bahwa kita unbreakable. Namun, kita salah. Waktu perlahan menghancurkan kita. Keakuanku meretakkan kita. Keakuanmu memecahkan kita. Kita menghilangkan kita.
Aku tak pernah lupa bagaimana perlahan kau masuk dalam kehidupanku. Dari teman berbagi keluh kesah, berbagi rasa senang, tawa dan canda, sampai tangis dan amarah. Kita saling membagi semua itu. Sampai sesuatu yang tak bisa diterima nalar terjadi antara kita. Kita terbuai, kita saling menyayangi. Kemudian kita sadar, kita telah terbuai pada sesuatu yang tak bisa diterima nalar. Kau menginginkan kita agar tak berjumpa lagi. Kau menganggap semua yang terjadi ini karena aku. Padahal kau sadar, semua yang terjadi antara kita adalah karena âsalingâ. Kitalah yang memulai semuanya.
Kalimat menusuk, menghujam dada, tak lagi ada. Kini hanya diam tanpa ujung. Sepi tanpa titik. Kau membisu seperti tak pernah ada huruf, kata atau kalimat yang lahir ke dunia ini. Lalu, aku yang terlanjur kau buat begini, bisa apa? Apa yang kau harapkan?
Yang tampak dari sorot matamu, hanya,
âSudah! Turuti saja apa mauku! Tidak ada negosiasi! Kita tak usah saling bertemu lagi! Titik!â
Baiklah, jika itu memang maumu.
Akan kupilih jalanku sendiri.
Biar kaupilih jalanmu sendiri.
Simpan saja jejak-jejak yang pernah kita buat.
Atau lupakan, buang ke palung ingatanmu yang paling dalam. Sehingga kau takkan bisa menemukanku dan kenangan tentangku lagi, di hidupmu.
Hate no one, no matter how much they've wronged you.
Live humbly, no matter how wealthy you become.
Think positively, no matter how hard life is.
Give much, even if you've been given little.
Keep in touch with the ones who have forgotten you.
Forgive who has wronged you.
And do not stop praying for the best... for those you love.
Those day of hating, those day of complaining, or blaming..
Those day are done for me.
Today, instead of taught someone what to do, I choose understanding them.
Respect what they've chosen to live with.
I do apologize for the things that I've done with you.
Love you, always!
Especially, you.
I hope you read this. We all are humans so we could do something wrong, or hurt each other.
Jika ada yang menanyakan, saya suka lagu yang kayak gimana? Saya suka band apa kalau yang dari Indonesia? Terus terang, dengan tegas saya akan menjawab, âHomogenicâ.
âHomogenic? Baru tau, lur!â Tanya seorang kawan yang mungkin belum mengetahui, dan akan segera mengetahuinya beberapa saat lagi.
Kalau kamu mau sedikit buang energi, silakan googling dengan keyword, âHomogenic Bandâ. Google akan secara otomotis ngasih info sekilas tentang band ini. Ya, Homogenic adalah band âTrio Sci-Popâ yang diisi oleh Dina Dellyana (Synth/Sound Programming/Back Vocal), Grahadea Kusuf (Synth/Sound Programming), dan Amandia Syachridar. Vokalis lamanya, yakni Risa Saraswati (sekarang punya proyek musik bernama âSarasvatiâ) sebelumnya telah bergabung di Homogenic dari 2002. Menghasilkan dua album yakni âEpic Symphony (2004) dan Echoes of the Universe (2006), kemudian mengundurkan diri sebelum album ketiga Homogenic (Let a Thousand Flower Bloom) dirilis pada tahun 2010.
Setelah itu, Homogenic mengeluarkan mini album yang bertajuk, âLetâs Talkâ pada tahun 2012. Album ini menjadi original soundtracknya film Demi Ucok. Kemudian, Homogenic melakukan re-branding dengan mengganti namanya menjadi HMGNC. Perubahan itupun seperti mengisyaratkan perubahan warna musik band ini dari album-album mereka sebelumnya. Hal tersebut ditandakan dengan single pertama mereka sebagai HMGNC yang berjudul âToday and Foreverâ, rilis pada 2015. Akhirnya, pada 2017, HMGNC merilis album self-titlednya yang berisi 10 lagu.
***
Mungkin semua Savior (sebutan fans HMGNC) setuju, bahwa dua album pertama mereka merupakan album yang sangat memorable. Bagaimana tidak, ketika tahun 2004-2007, musik di Indonesia sedang digandrungi oleh warna musik âIndonesian mainstream popâ. Sebut saja yang terkenal kala itu, seperti Peterpan dengan lagu âAda Apa denganmuâ. Â Atau Radja dengan âJujurâ, Cinderellaâ, bahkan Ungu dengan âDemi Waktuâ-nya.
Tapi, HMGNC waktu itu berani merilis album dengan warna musik sangat jauh dengan warna musik yang sedang digandrungi masyarakat. Electro pop, gloomy-themed lyrics, dikombinasi dengan efek-efek musik yang menambah suasana hopeless, bertanya-tanya pada hidup, dan dark side pada kepribadian manusia di dunia ini. Sebut saja lagu Hilang dalam album Epic Symphony. Dari liriknya saja, sudah bisa dilihat bahwa ini adalah theme song bagi mereka yang menikmati jadi misterius dalam kesendirian.
âTak lagi redup ku meragu,
Letih hariku hindari bayangmu,
Sepi melanda saat kuterjaga,
Kan kunikmati kesendirian iniâŠâ
sumber gambar
Jujur saja, saya baru menemukan HMGNC sekitar pertengahan tahun 2009 ketika saya membeli laptop baru. Di laptop itu, sudah tertinggal lagu dari beberapa band Indonesia dan salah satunya HMGNC dengan album Echoes of the UniverseÂnya. Awalnya, saya tidak bisa memahami warna musik seperti itu, mungkin karena yang paling hot saat itu adalah genre musik pop-melayu. Di samping itu, untuk saya yang pada 2009 masih transisi dari kelas 3 SMP menjadi anak kelas 1 SMK, lagu-lagu HMGNC mungkin masih terlalu rumit untuk saya pahami. Tapi lambat laun, saya terus dengarkan seisi album itu. Perlahan saya tertarik karena beberapa lagunya ânyambungâ dengan cerita pada hidup saya.
sumber gambar
Lagu pertama yang menarik perhatian saya pada album Echoes of the Universe ini adalah Transmutasi. Lagu ini seperti menggambarkan orang yang lebih nyaman berada di balik avatar (dunia maya). Ia seperti lelah dan berpandangan biasa saja pada kehidupan nyata. Kehidupannya lebih banyak dan mungkin lebih âgilaâ pada dunia maya.
âSampai nanti di dunia nyata
Lelah ku merangkai cerita
Biarkan diriku slalu bermimpi
Sendiri, âkanku rangkai lirihkuâŠâ
Kemudian, lagu selanjutnya yang sudah barang tentu tak ada satupun Savior yang tak tahu, adalah Utopia. Lagu ini, bernada ceria, namun liriknya menurut saya begitu miris. Seperti kita, yang terkadang sering mendambakan hal indah pada hidup, eh semuanya masih utopis alias masih dalam bayang-bayang tak pasti. Seperti kenyamanan, kenikmatan hidup termasuk kekasih masa depan dalam hidup kita.
Atau kamu lagi sayang sama seseorang. Tapi terpisah karena suatu sebab yang sama sekali kamu gak bisa jelaskan. Meskipun terpisah, kamu merasa kamu akan tetap sayang dengan orang tersebut, meskipun akhirnya kamu melepaskan. Tenang, di album ini ada lagu yang judulnya âYang Terpisahâ. Dengan nada yang masih mengiring pendengarnya untuk merasa nyaman dalam dunia khayalan dan imajinasi yang tak beraturan, lagu ini begitu menyayat bersama liriknya yang puitis namun tetap mudah dipahami.
âMungkin harapku âkan membawamu
Maknai hari yang terwujud bersamaku
Bilakah suatu âkan terpisahkan
Kau tak pernah hilang dalam mimpikuâŠâ
Seorang dreamer seperti saya, pasti âketampolâ rasanya setelah dengar lagu ini. Hehehe.
Masih banyak lagi lagu yang bisa kalian dengarkan di album ini. Seperti lagu Guitar Song, Unfolding Sympathy, Lirih, Untukmu Duniaku, dan seterusnya. Masterpiece deh, jaminan. Tapi, semua itu kembali pada selera masing-masing.
Kemudian pada album ketiga, âLet a Thousand Flower Bloomâ, Risa Saraswati pada posisi vokal telah terganti oleh Amandia Syachridar. Album ketiga baru saya dengarkan ketika saya sudah duduk di bangku kuliah, dikarenakan saya tidak terlalu update lagi tentang HMGNC waktu itu.
sumber gambar
Pada album ini, kesan HMGNC yang bergenre gloomy, hopeless dan berkhayal perlahan-lahan hilang meskipun belum seluruhnya. Warna vokal Amandia membuat lagu-lagu HMGNC menjadi lebih terdengar happy, easy going, light dan cerah. Seperti lagu Happy Without You, lagunya jomblo, nih! Lagu yang menjadi theme songnya orang-orang berhasil move on dari mantannya yang nyebelin.
âAre you happy without me
'coz I'm happy without you
You don't have to feel sorry
'coz I'm happy without you
For all the things we've done
For all the things we've run away
You don't have to feel sorryâŠ
âŠMaybe I must admit that I'm happy being aloneâ
Atau lagu bermood senang malu-malu karena baru jadian atau baru dilamar sang pacar. Ada lagu Seringan Awan dan Destiny. Semua itu dikemas HMGNC secara epic walaupun saat itu telah berganti vokalis!
Pada lagu Seringan Awan, penggalan liriknya ada yang berbunyi seperti ini,
âSentuhlah hatiku, rasakannya berbeda
Rengkuhlah pikirku, bawaku ke duniamu
Dengarlah harapku, akankah kau mengerti
Bila hadirmu buat hatiku, seringan awanâŠâ
Atau pada lagu Destiny,
âDestiny, here I am
Giving all my day
I never felt so in love before
Forever is not enough
Nothing can tear us apart
To be at your side
wheneverâŠâ
Benar, kan? Cocok nih lagu buat yang baru jadian atau baru menikah. Ihiy-ihiy-ihiy!
Setelah itu, HMGNC tidak terlihat mengeluarkan major albumnya. Pada 2012 saja, HMGNC mengeluarkan mini album, Letâs Talk yang berisi tujuh lagu.
sumber gambar
Sebagiannya adalah remix dari lagu di album lama. Lagu yang saya suka pada album ini, adalah Takkan Berhenti di Sini. Melukiskan cinta buta yang diharapkan oleh pemiliknya agar selalu diam namun terdengar oleh si tujuan. Rumit ya? Rumit tapi asik. Seperti itulah musiknya HMGNC. Digemari untuk mereka yang memang menyukainya. Karena, yang menyukai akan berusaha memahami.
âBerhenti bertanya, suatu yang tak terucapkan
Karena slalu tersirat, ku ada untuk kau saja
Berhenti berkata, ku harap hanya tatapan
Tak perlu ada, tangis tercurah dan tak perlu
Ku ada untuk kau sajaâŠâ
Benar. Cinta ga mesti kebanyakan ribut. Santai aja, napa? HEHEHE.
***
Setelah itu, HMGNC seperti tertidur untuk sementara waktu. Tertidur untuk menyiapkan kejutan di masa depan. Hanya sekali-kali saja dalam setahun sekali, HMGNC merilis single-singlenya. Single-single tersebut kemudian muncul pada album terbarunya HMGNC yang rilis pada 2017.
sumber gambar
Rilisnya album Self-titlednya HMGNC ini menandakan bangunnya kembali band trio Electro Sci-pop tersebut . Bangun dengan nuansa musik yang lebih segar, optimis, kekinian, namun tak meninggalkan kesan sebagai lagu pengiring aktivitas berkhayal. Mengapa begitu? Saya ambil contoh pada satu lagu, yakni pada lagu Today and Forever. Lagu yang melukiskan cinta kita yang begitu total pada pasangan, sambil sedikit-sedikit berkhayal gitu. Sambil diiringi electric instrument yang sangat kekinian dan match di zaman sekarang.
âEach day and night
Minute and hour
Today and forever
With you, with you, with you
Asleep and awake
Happy and sad
Aware and subconcious
With you, with you..â
 Ada lagi, lagu yang bisa kamu interpretasikan sesuai kehendak kamu. Mau jadikan lagu ini sebagai lagu romantis untuk pasangan, ataupun lagu spiritual kita terhadap Tuhan. Lagu tersebut berjudul Kisah Kita.
Kemana lagi jalan Kau beri?
âYakinkan kini, Kau beri ruang tuk mengerti
Takkan terganti, rasa hati ini
Biarkan waktu yang menyembuhkan hari
Ku yakin ada diri-Mu
Temani aku yang sendu
Menghalau ragu yang selalu menggangguku...â
 ***
Akhir kata, sungguh. HMGNC telah menjadi band yang musiknya bisa mewakili liarnya imajnasi manusia, termasuk manusia seperti saya. Walaupun tidak terlalu di âover-exposureâ oleh media mainstream seperti TV, tapi kualitas musik HMGNC yang idealis, sangat tidak patut untuk diremehkan. HMGNC atau Homogenic telah menemani saya dari kehidupan zaman sekolahan, kuliahan, hingga sekarang menjadi seorang pekerja (rada) kreatif.
Buat kamu yang mau denger lagu-lagunya HMGNC, usahakan dengerin secara legal ya. Gampang kok, lagu-lagunya mereka udah tersedia di Spotify. Jadi dengerinnya minimal lewat sana, deh. Atau beli produk originalnya dari mereka. Yang terpenting, jangan nikmati lagu HMGNC dari produk bajakan. Asli, dosa besar dengerin lagu mereka dari file loss quality seperti MP3 dengan bitrate 128kb/s. Asli, rugi, bos!
Okay, jadi begini.
Sekitar satu minggu yang lalu, di akun BBM dan di Line saya membuat sebuah postingan tentang betapa noraknya orang yang di tahun 2017 ini masih mengirim invitasi game-game. Komentar teman-teman saya, ada yang mendukung, ada yang sadar, ada pula yang kontra.
Yeah first thing first, pro dan kontra tuh wajar. Pro lebih baik, kontra juga tidak apa-apa asalkan pendapat untuk melawannya masuk di akal. Untuk yang pro, berarti otaknya sudah sehat. Untuk yang sadar, ya bersyukur sudah ada pergerakan ke arah yang benar.
Nah, yang kontra ini. Oke sih, gapapa. Tapi ada beberapa dari mereka yang bilang gini,
"Ah elah, elu. Invitasi kayak gitu tuh langsung ke semua kontak. Gak pilih satu-satu. Gimana sih, elu. Wajarin ae lah, sensi amat lu, hape lu sepi, ya?"
"Bego lu, gw ngirim invitasi begituan juga gw sih cuman peduli sama hadiah doang, kalo gak ada hadiahnya juga ngapain kurang kerjaan ngundang-ngundang lu. Bodo amat tuh invitasi lu mau apain juga."
"Cocod lu, bro. Kalau mau tenang sono pake 3315"
Di dunia maya ini, ada yang dinamakan SPAMMING. You know what spamming? Itu lho, nyampah di lini sosmed orang. Dan harus kita tahu, ukuran SPAM bagi tiap-tiap orang tuh beda-beda. Ada yang menganggap bahwa foto gelendotan sama pacar, lima kali rentetan diupload, terus dicaption "unch unch unch maaci cayang" itu spam. Ada yang menganggap menyebar hoax itu spam, dan lain sebagainya. Pokoknya, apapun yang sebenarnya tidak perlu kita lihat, kita berhak memilih untuk tidak melihatnya. First time, second time, OK kita masih biarkan. Tapi kalau berulang kali, mengganggu kan? So I absolutely define, pengiriman invitasi game itu merupakan salah satu bentuk SPAMMING. Apalagi kalau berulang kali kamu kirim begituan. Tbh, gw pernah dapet 10x invitasi game begituan dalam sehari. Pas tiga kali gw block kontaknya. Diem-diem aja keep it simple. Tapi akhirnya saya terusik. Dan kamu tahu kan orang yang hobi nulis, kalo terusik ngapain? Ya nulis! Tapi enggak dengan gaya nyinyir-nyinyir ala netizen lambe turah, ya! Karena saya menyuarakan dengan berpendapat, bukan dengan menyindir!
Apalagi kalau mereka menyalahkan saya yang menulis ini, beralasan seperti di atas. Demi mengejar bonuslah, poin ekstra lah. Lalu mereka tahu enggak definisi egois? Gak peduli sama apa yang orang lain rasa, yang penting dia puas, yang penting dia seneng. Bodo amat lu mau keganggu apa enggak, yang penting gw dapet bonus. Dih.. gitu amat mikirnya.
Tahu enggak? Tahu enggak rasanya lagi nunggu notifikasi penting dari one of our line contacts, tapi yang nongolnya invitasi "BODO AMAT" nya kamu? Kamu pasti pernah kan dapat pesan yang menurut kamu itu mengganggu? Kamu apain? Cuekin kan? Kalo terus-terusan? Masa iya lo nggak terusik? :)
Coba kalau udah salah tuh, jangan suka beralasan deh. Apa, kamu mau marah terus ngedebat saya di sini? Hahaha, itu tandanya kamu terusik atas hal yang kamu lakukan sendiri. Tapi kamu terlalu gengsi buat ngaku. Udah, stop, sana main game. Gak ada yang ngelarang kok, bebas. Itu hak orang. Tapi kalau kamu berpikiran "Bodo amat, lu mau keganggu juga yang penting gw dapat bonus," Insya Allah saya ikhlas diremove dari friendlist kalian :')
It's just a simple notification, but it's quite disturbing. Mau bagaimanapun, saling menghormati tuh perlu. Sekian dan tidak terima perdebatan dalam bentuk apapun. Komentar yang bernada ngajak debat akan saya abaikan. Jika suka silahkan like, boleh dibagikan gak usah izin. Jika tidak suka abaikan saja atau kalau perlu report as spam. Bebas gak usah ngedebat lagi. Tapi saya rasa tumblr juga cukup pintar, untuk menilai seperti apa sih yang spam itu. :))
Di tempat ini lagi. Menyeruput kopi yang sama. Di sudut yang sama, Aku kembali menyeruput kopi yang pahit namun tertolong oleh manisnya kenangan. Kemanakah dirimu? Aku tahu kau ada. Tapi nyatanya kau tak ada. Ketika kuharapkan kau ada, kau tak ada. Lalu, kemanakah dirimu?
Barangkali saja, kau mengizinkan aku bercerita. Tentang malam-malam yang pernah kita lalui dengan menghabiskan aksara. Perdebatan kita yang menyebabkan tawa terlukis, amarah yang menyala, atau sedih yang tak tertahan. Kau dan aku menumpahkan segala perasaan. Tapi kau lupa, aku di sini menyimpan rasa. Rasa yang kukira bentuknya sama denganmu. Ternyata, apa yang kita rasakan sungguh berbeda.
Barangkali saja mereka benar. Tak perlu mengorbankan banyak waktu, usaha, daya ataupun upaya, untuk merengkuh arti kenyamanan. Karena, sesungguhnya perasaan bukanlah sesuatu yang bisa luluh dengan sejuta bukti, rayuan ataupun tindakan. Perasaan seperti dedaunan, ia akan gugur dengan sendirinya. Peristiwa itu bukanlah  hal yang bisa kamu hitung, kapan, dan bagaimana pastinya. Semua terjadi dengan sendirinya. Mungkin, aku hanyalah manusia yang transit di bawah pohon rindang, namun pohon itu tak sedikitpun menggugurkan daunnya. Pohon itu adalah kamu.
Bagi pecandu sejati secangkir kopi, mereka tahu kopi hanya bisa menemani. Kopi tak bisa menyembuhkan, karena yang bertugas menyembuhkan luka hati hanya dua. Dia atau dirimu sendiri.
Barangkali, setiap sudut kedai kopi ini bisa mengingatkanku padamu. Barangkali saja semua ini bisa membangkitkan kenangan yang sebenarnya pahit untuk dikenang. Kukecap kopiku. Aku duduk sendiri. Setengah jam, satu jam, dua jam, hingga tiga jam berlalu, aku menunggu. Namun sosokmu tak kunjung hadir di penghujung rindu. Kau hanya hadir di setiap pojok pikiranku. Memenuhinya tanpa memberi ruang kosong, seperti hantu.
Padahal, aku sudah mencoba segala cara untuk memenuhi satu hal yang simple untukmu, nyaman. Tapi entah mengapa kita tak kunjung bersua menjabat tangan. Aku adalah payung, siap memberi keteduhan. Namun, kau layaknya seperti hari terik tak berhujan. Mungkin perasaan ini adalah rindu yang dikira menyenangkan. Tapi, untukmu, semua ini hanyalah tentang keangkuhanmu yang meresahkan sekaligus menyedihkan. Aku kira, di saat semua tanggapanmu untukku yang membahagiakan, kita telah punya satu tujuan. Tidak! Kita tidak satu tujuan, dan karenanya, kita tidak akan bertemu di akhir perjalanan.
Mungkin benar katamu dulu, perkara perasaan ialah saling. Bukan perkara siapa yang paling. Mungkin aku yang paling merindu tapi kamu tidak. Akulah yang paling menanti tapi kamu tidak. Akulah yang paling berupaya, tapi kamu tak bergeming untuk menyambutnya.
Kini, aku sadari bahwa apa yang dulu kita pernah upayakan, telah menjadi impian yang nyaris mustahil dibangkitkan. Hanya aku yang terlalu dalam mengenangmu, dan kamu tak begitu.
Ah, barangkali saja kedatanganku kali ini, di kedai kopi ini, bisa mengembalikan perasaanku seperti semula. Ya, seperti saat belum bertemu denganmu. Sehingga pada saatnya nanti, ada hal manis di sela pertemuan kita yang melibatkan kopi pahit, tanpa memasukkan perasaan manis yang sempat kita arungi.
Otak mah selalu nempel di kepala manusia. Tapi ketika manusia mulai menaruh hatinya kepada seseorang yang lain, semuanya bisa bertanya, "otak lu di mana, cuy?" . . Ya, manusia belum jatuh cinta kalau masih otaknya masih jalan. Manusia belum jatuh cinta kalau dia "tanpa otaknya" kemudian melakukan apa yang selama ini dia tentang. Manusia belum jatuh cinta kalau dia belum mendadak bodoh, pun mendadak alay. Dan mereka belum sepenuhnya jatuh, sampai mereka sendiri bertanya, "otak gue di mana ya?"
Andai saja, waktu itu kedai kopi di dekat rumah saya berdagang, mungkin saya tak akan pernah bertemu dengan kamu. Andai saja, saya tak pernah punya keinginan untuk seruput kopi setelah minum yang manis-manis, bisa saja kita tak saling tahu, untuk sekarang. Andai kawan saya tak pernah kenal kamu sebelumnya, bisa saja kita kini masih berstatus stranger to each other.
Jika saya tak menuju meja seduh, melewatimu, dan kamu tidak memandang saya mungkin takkan pernah ada rasa dalam bisu. Jika saja kamu tak duduk dekat-dekat saya, mungkin saya akan menduga kamu hanya sebagai perempuan milenial. Jika saja, kamu tidak menjatuhkan benda milik saya, barangkali apa yang saya rasakan tentang kamu saat ini takkan pernah tercipta. Siapa sangka, perempuan di kedai kopi malam ituâmeski cangkir kopinya sudah kosong, tapi masih sibuk memoles bibirnyaâadalah dia yang membuat saya merasakan jatuh cinta. Ya, jatuh cinta. With a genuine feelings. Setelah saya lupa, bagaimana rasanya jatuh cinta yang genuine itu. Dia, seorang perempuan yang dengan keramahannya, bisa membuat 1.000 lelaki di dunia ini baper. Dia, perempuan yang saya ingin berlama-lama memandangnya. Dia, yang saya tak pernah kenal sebelumnya, yang tak pernah saya duga, bisa membuat saya kembali bertemu genuine feelings-nya jatuh cinta.
Buat kamu,
Saya tentu paham, sebelum pertemuan kita, sebelum ada percakapan kita yang begitu intens, kita memiliki hidup masing-masing. Masa lalu yang kita jalani sebelumnya. Saya dan kamu bukanlah manusia sempurna dengan masa lalu yang sempurna juga. Kamu memiliki masa lalu yang indah sekaligus pahit untuk diingat, begitupun saya. Tapi, ya sudah. Mau apa lagi, semua sudah terjadi, and we should accept our past.
Kini,
Saya dan kamu tentu takut akan kegagalan. Takut semuanya berakhir dengan kesedihan, lagi. Saya tidak mau kamu sedih, apalagi sedihnya karena saya. Maka dari itu, saya berusaha jadi lebih baik. Bukan untuk kamu semata tapi juga untuk saya sendiri. Saya mau kamu happy, bahagia dan terlihat indah, apalagi dengan saya di samping kamu. Saya mau menjadi rumah yang meneduhkan bagi kamu. Saya mau jadi jawaban atas pertanyaan kamu. Mengapa ngopi berdua itu enak. Mengapa makan berdua itu lebih lezat, dan mengapa nonton berdua itu lebih syahdu. Saya mau jadi alasan kamu berdandan, sekaligus jadi alasan untuk kamu tampil tanpa olesan makeup. Saya mau jadi alasan kamu setia, pun saya mau kamu jadi alasan saya untuk setia.
Tapi, saya tidak tahu bagaimana caranya, supaya saya bisa jadi alasan untuk semua itu.
Saya mau menyayangi kamu, toh saya sudah melakukannya sekarang. Saya mau menatapi kamu lama-lama. Saya mau dekat dengan kamu seperti teman-teman kamu dekat sama kamu. Tapi, saya tidak tahu apa dan bagaimana caranya. Meskipun begitu, ada satu hal yang saya tahu. Saya tidak bisa memaksakan. Saya tidak bisa memaksakan kehendak saya, apalagi itu berhubungan dengan kamu. Saya harus terus belajar dan harus mau memahami kamu. Saya tidak bisa egois, karena jika mendahulukan ego, semua ini bakal berakhir kurang baik untuk kamu maupun saya.
Saya sayang sama kamu. Kamu begitu memahami apa yang saya katakan, no matter how random it going to be. Meskipun tak ada yang sempurna, tapi saya nyaman sama kamu, walau saya tidak tahu bagaimana sebaliknya. Saya selalu berharap perasaan yang masih prematur ini bukan untuk sekejap. Bukan untuk berhenti pada status prematur. Tapi setidaknya bisa berlaku setiap saat. Untuk saat ini, dan semoga seterusnya.
 I do hope youâll know how it means to me. Even though I doesnât know how to make it.
Saya mau coba menambah usia namun bersama kamu. Saya mau selalu memandangi tatapan kamu. Saya mau ada untuk kamu, menjadi tempat kamu berbagi hal apapun yang membuat resah. Saya ingin kamu menerima dan memahaminya. Tapi, kembali lagi. Saya tidak mungkin memikirkan diri saya sendiri. Saya harus mau belajar memahami dan menerima kamuâsebagai apapun. Meskipun apa yang saya mau ini, saya juga belum tahu, apa dan bagaimana caranya.
I do hope youâll know how it means to me. Even though I doesnât know how to make it.
Selama ini, aku tak pernah tahu banyak hal.
Selain kedai kopi tua ini; dan kamu.
Kedai kopi ini, sangat kusukai.
Kamu?
Ya, kamu kusayang.
Aku lihat matamu bersinar ketika kautatap cangkir kopimu,
dan harus kuakui, aku ingin menjadi kopi itu.
Menjadi yang kaupandang. Pandangan yang dalam
namun tak berlebihan.
Kopi itu bersinar, membuat matamu bersinar.
dan kini, aku ikut-ikutan jadi bersinar.
Pengertianmu pada secangkir aksara yang tersaji, mungkin berbatas;
namun tak demikian dengan pesonamu.
Pesona sederhana
Identik dengan kopi yang katamu pahit di akhir.
Jika aku tak pernah tahu adanya kamu, lebih baik begitu.
Namun jika aku tak memilikimu, aku lebih baik sendiri saja.
Selama ini, aku tak pernah tahuâŠ
Selama iniâŠ
Selama iniâŠ
Semuanya ternyata tentang kamu.
(c) R. Eris Prayatama
credit image: youtube(com), with âLife is Like a Cup of Coffeeâ titled video.
Kudengar kau gundah, kudengar kau resah. Entah apa yang membuatmu begitu. Apakah tugas kuliahmu yang itu-itu saja, apakah dia teman menulismu yang diam-diam kau kagumi, ataukah distorsi dunia luar yang membuatmu sedikit tak tahan. Semua itu tak kau tampilkan pada dunia, apalagi pada laman sosmedmu. Semua itu hanya bisa didengar, dirasa, dan dibaca. Tentunya, orang dengan sedikit perasaan; yang mampu melakukannya.
Dan, pada akhirnya aku harus kembali memasukkan unsur perasaan untuk ini. Untuk apa yang kaugundahkan, untuk apa yang kaurisaukan, serta untuk dirimu, tak terkecuali.Â
Ketahuilah, berapa purnamapun kita tak bersua, aku tak pernah lupa. Pertama kali jumpa, pertama kali kau tertawa, pertama kali kaubawa aku ke duniamu yang kaupunya, dan saat kau mendiamkanku dengan sengaja.
Aku tak pernah berpikir, akan sejauh apa, aku denganmu pada akhirnya. Namun, sejujurnya, aku ingin tahu bahwa aku ada di sini. Aku ada, di dekat dan jauhmu. Pada bahagia atau sedihmu. Meskipun kadang tak bersuara, namun aku ada. Berharap kau berani untuk menghadapi semua masalahmu, berharap kau percaya, bahwa semua yang meresahkanmu pasti akan berlalu. Akupun tahu, semua hal yang kaulalui takkan mudah. Namun, aku percaya. Ketika kau tersenyum, kekuatan itu terpancar.
Dan untuk senyum itu, aku akan bertahan. Bersuara ataupun diam. Meskipun, sekarang kau tak butuh siapa-siapa untuk sekedar menyandarkan kepala. Ketahuilah, aku ada dan bersedia untuk ada. Di setiap harimu.
Sore itu, sejuk semilir angin tak bisa memecah kesunyian di antara kami. Sampai hampir setengah jam, akhirnya kuberanikan membelah sepi.
"Jadi dua tahun ini mau dibuang begitu saja?"
Dia tetap terdiam sambil tertunduk. Lalu aku menghentak lagi kesunyian itu.
"Ngomong, dong!"
Ia kemudian memelukku. Erat. Pelukan yang beda dari biasanya. Rasanya aku ingin sekali lepas dari pelukan itu. Tubuh kami yang setiap jengkalnya sudah saling mengenali, mendadak enggan untuk sekedar bersua.
Semakin kulepas, semakin kencang ia merengkuhku. Lama kelamaan, aku larut... dan aku tidak berdaya. Ia menangis dan aku sebagai laki-laki tak kuat menahan bulir air mataku sendiri. Kami berpelukan. Merasakan lagi setiap inci lekuk tubuh, meski dengan kesadaran yang berbeda. Pelukan yang hangat, bercampur getir amarah, sakit, sekaligus aspirin gaib sebagai penawarnya. Pelukan terjujur dari setiap pelukan tertulus kami.
Dari pelukan itu, aku sadar aku telah dimengerti sekaligus mengerti. Bahwa kami berdua tidak diciptakan untuk saling membuat utuh. Kami berdua tak layak bersama hanya karena takut sendiri. Kami berdua pantas mendapat lebih dari sekedar cinta yang tak lagi sama.
Kami melanjutkan pelukan ini. Meskipun sadar luka kami takkan terobati, juga bukan untuk diobati. Namun kami merasakan berjuta emosi. Ingatan yang hanya bisa terdefinisikan oleh nalar kami. Lalu kami tersadar, bahwa kami berdua tak pernah mungkin saling melupakan. Kami berdua hanya bisa.... saling melepas. Mungkin. Untuk saat itu.
Peluk yang tak menyisakan ruang untuk dusta itu, perlahan kami lepaskan. Dan saat itu juga kami resmi saling melepas.
Aku perlahan mengerti. Aku bagaikan selimut untuknya di kala musim hujan. Nyaman bergelayut di dalamnya. Tapi kini yang ia butuhkan tak lain ialah hujan untuk membasahi pelupuk matanya. Hujan yang barangkali bisa menyelamatkan kami, dari ketidaksadaran bahwa kami hampir mati, karena terlalu lama berlindung dalam selimut itu.
Aku perlahan mengerti, bahwa kami nyata saling mengasihi. Dan untuk membayar dua tahun berharga itu, kami tak layak saling mendera demi sebuah cinta yang tak lagi sama. Dan aku, dirinya, serta dua tahun itu... takkan lagi pernah sama apalagi kembali.~
#TrueStory
Jangankan orang bodoh. Orang berpendidikan tinggi saja kadang masih suka memanfaatkan "Desain Grafis" dengan paham "Desain Gratis"
Banyak permintaan, harus dituruti. Balas jasa? Makasih juga enggak. Desainer grafis diperkosa!!!
Untuk para manusia-manusia bodoh yang suka minta desain ini-itu dan mendulang keuntungan darinya baik materil maupun nonmateriil. Tapi suka lupa bahwa desainer grafis itu perlu belajar, sekolah dan jam terbang yang cukup. Suka lupa bahwa ada jasa maka ada nilai materil yang harus disetujui.
Mengapa orang begitu sulit memanipulasi sesuatu yang tidak ada menjadi ada? Padahal apa adanya justru lebih mengesankan. Mengapa orang-orang begitu harus memoles-moles sesuatu agar terlihat sempurna? Padahal keindahan selalu tersimpan di balik ketidaksempurnaan. Mengapa ada orang yang dengan tega dan inosennya membiarkan orang lain tertatih-tatih menjalani hidupnya? Sedangkan orang yang tertatih-tatih tadi sangat mengharapkan si inosen? Mengapa bisa seorang manusia pintar mempertahankan manusia-manusia yang jelas mempermainkan kebusukan, sedangkan yang bersih dikecewakan dan akhirnya dibiarkan pergi begitu saja? Mengapa selalu protes, mengumbar kejelekan orang lain, yang sama saja membuka kedok diri sendiri? Padahal banyak cara lainnya untuk sekedar bertahan hidup. Mengapa tak memilih pergi secepatnya jika memang di sini hanya bisa membuat kita mengeluh walau kita tak berpeluh? Padahal kita bisa pergi dan singgah di tempat yang lebih baik. Mengapa pula masih banyak yang bicara soal dedikasi, loyalitas, profesionalitas jika idealisme kita saja seperti diperkosa. Diambil jiwanya tanpa mengisinya kembali! Ya, kali ini otakku sedang diperkosa dengan kata mengapa! Tolong!
Saat seseorang yang kita anggap pemimpin, ternyata tidak bisa memimpin dengan baik, masihkah kita harus menganggapnya pemimpin? Sudah terlampau sering, terlampau jauh ia menyakiti, mengabaikan, bahkan tidak mau tahu bagaimana keadaan kita. Ia hanya perlu tau, pekerjanya bekerja untuknya. âGet things done. Thatâs it. Fee? Jelas ada. Tapi itu semua adalah hakku untuk menentukan. Walaupun itu hakmu, tetap terserah padaku. Iâm your boss. If you donât like the way I did just move your ass, donât be stupid.â Mungkin seperti itu gambaran akan prinsipnya.
Hak pekerjanya tidak ditunaikan. Tapi masih saja punya nyali menyuruh-mengatur ini itu. Pekerjanya bagi dia mungkin ibarat volunteer saja. Sukarelawan. Pekerja cuma-cuma.
Tidakkah ia berpikir bagaimana keadaan anak-istri, para pekerjanya di rumah? Toh keadaan tiap pekerjanya sangat berbeda. Tidakkah ia berpikir, makan apakah pekerjanya jika hak pekerjanya saja belum kunjung dipenuhi. Tiadakah empati? Tiadakah kerut yang terlukis di keningnya sebab rasa gelisah belum menunaikan kewajibannya sebagai seorang pemimpin? Tiadakah terlintas keinginan untuk meminta maaf?
Bukan lagi soal loyalitas, bukan lagi soal âapa sih yang sudah dihasilkan para pekerja untuk perusahaanâ,
Ini soal kebutuhan.
Soal urusan yang lebih luas, keluarga.
Rasa percaya anggota keluarga terhadap mereka yang dijadikan tulang punggung, terkikis sedikit demi sedikit.
Lalu, semua ini karena apa?
Ya, sudah jelas.
Karena tidak semua orang bisa jadi pemimpin, meskipun ia punya segudang ilmu, harta atau berbagai pencapaian lainnya.
Jika masih saja bersifat langit, tidak mau berempati terhadap sesama manusia, tunggu saja waktunya. Time is heal everything and destroy everything either.
Minimal orang yang masih punya kecerdasan, akan tahu ketika dirinya sedang dibodohi, atau bahasa halusnya âdibuaiâ. Sedangkan orang yang terlalu gampang âdibuaiâ tidak akan sadar ketika dirinya dibodohi. Maka dari itu, sepatutnya sebagai pekerja kita sadar kalau kita sedang dibuai seseorang yang kita anggap pemimpin. Dan semoga, sesegera mungkin kita dapat menentukan pilihan untuk pergi atau tetap tinggal.
Untuk para pemimpin di seluruh muka bumi ini, buka mati hati kalian, kali ini tidak perlu dengan hormat. Coba jawablah dengan jujur, pertanyaan âAm I deserved to having this, lead them?â
Jika masih pantas, maka berlakulah sebagai pemimpin. Urus kewajibanmu dengan benar dan tagihlah tanggung jawab pekerja sesuai porsinya. Latih empatimu, karena semua hal di dunia ini tak selalu uang dan profit. Jika dirasa melelahkan dan tidak pantas lagi untuk memimpin, sudah saatnya turun tahta dan mengurangi bangga atas apa yang kau kerjakan. Atau kalau perlu turun kasta, melihat mereka yang penuh harap, setiap hari datang ke tempat kerjanya dan bertanya, âUdah gajian belum?â
Selama ini kamu bercerita uring-uringan dihadapanku
Tentang perasaanmu yang kalang kabut setiap kali bertemu
Tentang rindu-rindumu yang tertahan
Tentang keinginanmu yang tak bisa tertuang
sebab, kamu perempuan
Tidak dan jangan memulai duluan, katanya
Kamu harap dia memiliki perasaan yang sama denganmu
sehingga perasaanmu tidak perlu kamu bunuh satu persatu
Kamu berandai bisa menjadi pendamping hidup yang menguatkannya
bersandar dan bergantung kepadanya
Coba dengar
Harapanmu sungguh setinggi langit
Kamu tidak takut jatuh?
Padahal dia atas awan sana sama sekali tidak ada pegangan?
Coba dengar
Bila rasamu itu begitu jauh
Bagaimana bila kamu membuatku jatuh cinta?
Dan aku memiliki perasaan yang mirip seperti yang kamu miliki kepada orang lain
Apa kamu juga akan diam saja?
Selalu sulit memahami posisi diri kita bukan?
Bila kita tidak pernah mengalami keadaannya
Bagaimana?
Aku membutuhkan jawabanmu.
Dan kamu diam saja, membisu.
Tidak percaya.