Selama kulihat engkau senang,,
Yang lainnya kusimpan sendiri
-Tulus

Origami Around
No title available

No title available
Doug Jones

ellievsbear
macklin celebrini has autism
taylor price
Cookie Run:Kingdom Official!

roma★

tannertan36
One Nice Bug Per Day
EXPECTATIONS
RMH
Misplaced Lens Cap
Xuebing Du
ojovivo

shark vs the universe
𓃗

Kiana Khansmith
The Bowery Presents

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Russia
seen from United States
seen from Vietnam
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from South Korea
seen from Spain
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Netherlands
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
@erryann
Selama kulihat engkau senang,,
Yang lainnya kusimpan sendiri
-Tulus
Menjaga Rasa
Ada yang dulu sangat menginginkan pertemuan, namun saat ia sudah mendapatkan, rasa itu perlahan pudar atau mungkin sudah hilang. Sebab apa yang dulu ia harapkan dan angankan sudah berada di tangannya.
Ada juga yang dulu berjuang mati-matian untuk bisa membeli barang yang ia mau, namun hari ini barang itu terlihat usang dan tidak terawat hanya karena sudah bosan dan enggan mengurusnya.
Kamu tahu? Yang mahal dan istimewa itu bukan hanya soal perjalanan dan berjuang, tapi soal mempertahankan dan mengawetkan rasa. Cobalah untuk mengingat bagaimana dulu hati dan ragamu berjuang keras, doa lirih yang tidak pernah putus dan semua yang harus kamu bayar untuk mendapatkan sesuatu itu. Apapun itu, entah pasangan atau barang.
Karena menjaga itu bukan hanya soal fisik dan tampilan luar saja, tapi menjaga itu juga urusan hati dan rasa yang tetap kamu tinggikan, kamu muliakan dan jaga agar tidak hilang.
Jika nanti kamu menikah, jangan lupakan soal bagaimana susah payahnya kamu mengetuk pintu langit saat malam hari, dan mengupayakan kehalalan untuk dunia saat pagi dan siang hari.
Rasa itu mahal dan syukur itu istimewa, tidak akan pernah kamu temukan keduanya pada hati yang kotor dan niat yang rusak.
Selamat menjaga rasa, semuanya :')
@jndmmsyhd
Satu serbuk bintang sudah masuk saku. Menjaga rasa.
karena aku sangat mudah untukmu
karena aku sangat mudah untukmu.
kamu tidak perlu lelah-lelah berjuang, sebab aku tidak mungkin sampai hati membiarkan orang yang ingin memperjuangkanku berjuang sendirian.
kamu tidak perlu repot-repot membuat dirimu diterima, sebab aku selalu bersedia mengambil tanggung jawab untuk lebih dari menerima–yaitu memaafkan, melupakan, bahkan melepaskan.
kamu tidak perlu pusing-pusing memikirkanku, sebab aku sungguh selesai dengan diriku sendiri. sebab masa depanku adalah rangkaian rencana yang bisa diganti. sebab ambisiku selalu (hanya) sekeras tangan yang menggenggam pasir, secukupnya mencukupkanku.
kamu tidak perlu khawatir tentang apapun, sebab aku bisa mengikutimu ke mana pun. aku bisa diajak berjalan, berlari, merangkak. aku bisa bertahan pada segala musim dan cuaca, bisa berteman dengan segala rasa dan nuansa.
karena aku sangat mudah untukmu, semoga kamu merasakannya: bahwa yang mudah didapatkan, belum tentu tak berharga.
semoga aku sangat berarti untukmu.
tag mamacin @ajinurafifah
Sama Baiknya
Kata siapa, memberi selalu lebih baik daripada menerima? Padahal ketika memberi, kita 'hanya' bisa memberikan apa yang kita miliki. Sementara ketika menerima, kita menerima 'apa pun' yang orang lain berikan dengan senang hati.
Membaca tulisan seorang teman di feed instagram beberapa waktu lalu, membuatku speechless beberapa saat.
Hari ini, mungkin aku dan kamu sama-sama berlomba ingin memberikan yang terbaik. Berusaha mati-matian mengeluarkan seluruh kemampuan, supaya bisa memberikan yang terbaik sesuai harapan.
Tanpa sadar...
Kita jadi manusia yang enggan menerima. Rasanya terlalu menyedihkan karena selalu terus-menerus diberi. Sungkan, seperti terus-menerus disuapi. Rasanya tidak bisa memberikan sedikit saja kontribusi. Kita jadi merasa lemah, karena terlalu banyak menerima. Ego merasa kalah, karena tidak mampu memberi lebih banyak.
Tapi pernahkah, kita berpikir bahwa menerima itu juga sama baiknya dengan memberi?
Coba pikirkan, ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Apa yang kita harapkan?
Tentu, kita ingin pemberian kita adalah yang terbaik bagi orang yang kita beri, bukan? Kita ingin, apa yang kita miliki kemudian menjadi sesuatu yang bernilai manfaat, diterima dengan senang hati oleh sesiapa pun yang menerimanya. Lebih maupun kurangnya.
Jika begitu, bukankah menerima dengan senang hati juga adalah bagian dari kebaikan?
Jadi, kalau hari ini kita sama-sama banyak menerima, tidak mengapa. Bukan berarti itu sia-sia dan seakan kita tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak perlu ragu untuk mengucapkan terimakasih lebih banyak. Bukankah berarti kita juga belajar untuk jadi lebih bersyukur dengan menerima?
Dengan menerima, kita belajar untuk melapangkan hati. Ada ruang-ruang diri yang tak selalu harus dipenuhi sendiri. Ada kalanya, kita butuh kehadiran orang lain untuk saling mengisi. Sehingga hidup kita beranjak menjadi lebih seimbang: bijak saat memberi, tulus saat menerima.
Sejatinya, penerimaan yang tulus itu juga pemberian. Saat kita menerima, kita belajar melapangkan hati lebih luas lagi. Karena sungguh tidak mudah, menerima sesuatu yang belum tentu sama persis dengan kehendak diri kita.
Jadi.. besok-besok, kusarankan aku dan kamu bisa sama-sama melihat lebih dekat. Lebih dekat lagi dan perlahan merenungi.
Tidakkah saat menerima, ada rasa percaya yang kita berikan?
Jadi, menerima juga merupakan bagian dari kebaikan, bukan?
"Mohon doanya ya,"
Sebuah undangan terkirim di grup, ia menikah dg gadis pulau seberang.
Detik ini aku tahu, apa yang bryn maksud hari itu. Dan aku tahu apa yang bakal beda kali ini, aku akan jadi teman baik yang memberikan selamat paling bahagia dan tulus alih alih ribut kenapa baru dikabari.
---
Belakangan lagi banyak ujian ulang utk beberapa topik yg dulunya belum lulus
Dan ujaran "apa yang beda dari elonya" jadi semacam mantra pengingat mesti gimana.
:)
Kamu sedang jatuh hati ya?
Tak apa, that's totally good.
Cinta bisa jadi energi, bagi penulis itu amunisi.
manfaatkan dengan baik.
-kata kak Ewi pada suatu hari.
Menyakiti diri sendiri juga bisa jadi adiksi.
"Hati hati dengan mereka yang mulai terbiasa berdansa cantik dengan rasa sakit," dr Elv pernah menasihati begitu, di suatu kelas. "Karena, mereka akan sulit untuk beranjak dari tempatnya." sambungnya
Ada yang menyakiti diri sendiri karena menyukai sensasinya, ada yang karena merasa pantas dihukum, ia menghukum dirinya sendiri. Dan ia tidak sadar, kalau ia mungkin justru sedang butuh bantuan seorang yang profesional.
-randomtought
Hari ini segala sesuatu melambat..
Semoga lekas sehat.
"Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku." (QS. Thaha, 25-28)
Aku kepikiran, berapa orang yang jadi salah menafsirkan ucapanku di sharing hari ini..
niatku apa, keluarnya apa, tapi nyampenya apa.
Ya Rabb..
:"
Hari hari terasa berlari,
Dan banyak hal terasa seperti mimpi.
Seperti senyum yang terukir sebentar, lalu tak lama satu persatu kabar duka datang lagi, termasuk kabar teman sekantor yang berpulang karena covid.
Aku menggumamkan kembali sebuah nasihat. Ketika hendak merutuki apa apa yang kupikir kemalangan atau menahan senang yang segera disusul sedih berselang.
Senang dan sedih bukan sebab akibat. Sebab terlalu senang maka akan segera sedih. Sekali lagi bukan, ry.
Jadi nikmatilah senangmu, pun hadapi sedihmu.
28.07.21
Diceritakan dari seorang ulama Salaf, bahwa suatu saat ia bertanya kepada muridnya, "Apakah yang akan kamu lakukan apabila syaithan menggodamu untuk melakukan kemaksiatan?" Dia menjawab, "Akan aku lawan ia dengan sungguh-sungguh."
Si ulama bertanya lagi, "Bagaimana jika syaithan datang kembali?" Si murid menegaskan jawabannya, "Akan aku lawan ia dengan sungguh-sungguh."
Lagi-lagi, gurundanya bertanya, "Bagaimana jika syaithan datang kembali?" dan demikian dengan muridnya, jawabannya pun sama, "Akan aku lawan ia dengan sungguh-sungguh."
Maka, barulah sang ulama menyatakannya, "Ini akan menjadi panjang. Bagaimana pendapatmu jika kau melewati sekawanan kambing, dan tiba-tiba anjing penjaganya menyalak atau menghalangimu lewat. Apakah yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan mendorongnya sekuat tenaga." jawab si murid.
"Ini akan menjadi panjang," Ujar sang guru,
"...sebenarnya, cukup bagimu untuk meminta tolong kepada pemilik kambing tersebut, supaya dia mencegah anjingnya menyerang atau menghalangimu."
***
Maa syaa Allah, termenung sesaat setelah membaca ini. Terkadang, manusia memang kerap lupa, ya..
Maka cukuplah bagi seorang yang beriman dengan dzikirnya, Sedang manusia yang lain, terperdaya oleh kekuataan dan kekuasaannya. Merasa mampu menghadapi segalanya dengan dirinya sendiri hingga tanpa sadar syaithan telah membersamainya. wa naudzubillah~
...kita berlindung kepada Allah 'azza wa Jalla dari syaithan yang terkutuk.
(Faidah yang diambil dari buku Talbis Iblis hal.50-51)
-aviliaarmiani//bekalnanti
Ruang Bertumbuh
Kalau mau sejenak bercermin, atau sekilas menoleh kebelakang, Tentu akan terlihat perbedaan, antara kita yang sekarang, dengan kita yang dahulu. Mulai dari perbedaan yang mudah sekali terlihat, mulai tinggi badan, ukuran sepatu, lingkar pinggang. Sampai pada perbedaan pemikiran dan cara pandang kita. Perbedaan yang menandakan kalau kita sudah bertambah, juga sekaligus bertumbuh.
Ada yang bertumbuh lewat banyak kegelisahan. Kegelisahan yang membuatnya tidak punya pilihan untuk berdiam, gelisah itu berhasil memaksanya untuk segera berubah. Karena mendiamkan kegelisahan hanya akan membuatnya merasa semakin tidak tenang.
Tidak sedikit yang bertumbuh ditengah-tengah rasa sakit. Perasaan yang sama sekali tidak bisa untuk dibuat nyaman. Rasa sakit yang berhasil memaksanya untuk terus bergerak, agar bisa segera terlepas. Karena, nantinya, ia tidak ingin ada orang lain yang masih merasakan apa yang dulu ia rasakan.
Lalu ada yang bertumbuh ditengah keterbatasan, kemauan besarnya tidak dibersamai dengan yang seharusnya mengiringi. Tapi ia tetap bertumbuh, meski tidak jarang harus menunda, bahkan membunuh mimpinya sendiri. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu.
Ada pula yang masih mau memutuskan untuk bertumbuh. Meski keadaan disekelilingnya tidak memaksa untuk itu. Lingkungannya akan tetap terasa nyaman meski ia tidak perlu banyak berbuat dan tidak perlu mengupayakan sesuatu.
Kita memiliki jalan bertumbuh masing-masing, yang sebaiknya tidak untuk diperbandingkan, juga tidak perlu dicari persamaannya. Nanti, setelah semua bisa terbilang cukup, akan tumbuh kesadaran, rasa syukur, kalau jalan kita bertumbuh, adalah jalan yang paling baik. Meski tidak selalu mudah untuk kita pahami.
Danny Dzul Fikri - Di Surabaya yang selalu hangat
Perihal Kasmaran
Pagi ini saat ku buka WA, terpampanglah chat dari dia seseorang yang semalam baru menceritakan perjalanannya menemukan makna pernikahan dan kegundahan lain yang wajar di usia kami.
“Daff” “Astaghfirullah” “I can’t handle this” “Knp dia selalu bersikap sama kayak aku kalo excited beli buku baru” “Aduh” “gak mau kepedean” “but why” “Astaghfirullah ya Allah”
Yang aku lakukan, tarik nafas, nahan ketawa dan bermonolog dengan diri sendiri
Sabar daf kamu sedang berhadapan orang yang sedang kasmaran. Yang kadang logikanya perlu disiram air biar bangun. Ingettt dulu kamu juga gitu kan kalo kasmaran? gak bisa pake logika. Padahal jawabannya udah jelas. Sekarang gantian kamu balas budi dan bantu nyalain logikanya dia oke…
lalu aku menjawab :
“i do” “Bukan cuma kalian berdua kok”
Dan bahasan selesai. Sesaat setelah kejadian aku jadi berkaca ke diriku saat dulu begitu yakin gak mungkin baper, karena track record ku yang gak peka dan emang gak baperan. Tapi sungguh, di fase ini (fase kasmaran) aku merasakan fitrahnya seorang wanita. Yang dominan perasaan daripada logikanya, selogis apapun wanita tersebut. Dan saat itu akhirnya aku mencoba menerima perasaan “aneh” tersebut, perasaan yang aku suka dan gak aku suka di waktu yang sama. wkkwk bingung ya?
Perasaan yang aku suka, karena rasanya bahagia dengan senyum simpul yang otomatis tertarik keatas atau kadang debaran jantung disertai semburat merah di wajah, rasanya muka itu panas sekali wkwkwk. Tapi dilain sisi ini adalah hal yang gak aku suka karena aku gak bisa mengendalikan respon dan perasaanku. Seolah logika adalah hal yang sangat jauh dari jangkauan. Sungguh melelahkan ketika harus mengakali agar logika tetap membersamai. Dan ya, begitulah sekilas diary jatuh hati…
Canda jatuh hati. 😌🙈
31 Mei 2021 :)
Semalam pun aku mendapat pesan yang memicu monolog senada.. pesan yang sebenarnya biasa aja, tapi sempat bikin senyum sendiri gegara indikasi jatuh hati. Pada akhirnya, cuma bisa bersyukur. Iya, bersyukur krn punya circle yang baik dan bisa jatuh hati pada org yg baik. Fitrah perempuannya masih ada berarti.. aku juga bersyukur karena dibekali prinsip bahwa laki laki baik itu banyak tapi hanya satu yang tepat. Laki laki yang pada akhirnya menyelesaikan ucapan akad. Yap, petikan tulisan Mas Gun itu jadi salah satu value yang kupegang erat hingga kini.
Kalau sebelumnya aku mati matian menolak fitrah perasaan itu, kini aku memilih menerimanya sebagai sesuatu yang wajar, sewajarnya anak kecil yang bahagia ketika mendapat hadiah eskrim. Bukankah jatuh hati juga hadiah, hadiah yang menyenangkan. Meski begitu, terimalah secukupnya saja agar pandai menempatkan diri. agar ingat mana yang boleh dan tidak.
Semoga Allah terus menjaga dalam kebaikan. Aamiin..
Urusan siap gak siap nikah ini, sebenernya gak akan pernah siap kalo orang yang dateng itu bukan yang kamu pengen. Bener kan? At the same time, orang yang kamu pengen gak tau kalo kamu lagi nungguin dia, atau ya, se-sederhana dia lagi nyiapin nikahan sama pilihannya. Pedih.
19 Mei 2021
Jadi menetralkan hati lg dan melihat dlm pandangan yg lbh jauh. Bahwa spt hati yg milih nunggu, logika jg bisa memilih utk merelakan. Biar gak pedih2 banget pas dapat undangan..
Level terbaik ketika menyukai seseorang bagi saya bukan saat menyatakan perasaan tapi saat bisa menjadi teman baik dan mewariskan hubungan baik itu pada generasi selanjutnya.
Kutitipkan anak anakku utk berguru padamu ya.. mari menjaga generasi, dimulai dg menjaga lingkaran baik yang ada saat ini.
Hendaknya Kita Mengukur Diri
@edgarhamas
Abu Darda, sahabat besar itu pernah berkata, "tiga alamat orang bodoh; suka takjub dengan diri sendiri dan banyak hal, suka berpikir apa-apa yang sebenarnya tidak untuk dipikirkan, dan memerintah manusia tapi ia sendiri melanggarnya."
Ada lagi satu kata mutiara berujar, "siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya." Itu memang bukan hadits, tapi dikatakan oleh banyak ahli hikmah, di antaranya Yahya bin Muadz Ar Razi. Singkat, tapi begitulah Ulama di zaman dulu, selalu bisa meringkas makna dalam sebaris kalimat.
Dari keduanya, kita belajar untuk pandai mengukur siapa diri kita, tapi bukan dengan kalimat ini : "tau diri lah lu!" Karena itu bukan kalimat untuk mengukur diri, tapi merendahkan diri. Kalimat yang tepat adalah,
"apa yang telah aku lakukan untuk hidup, dan apa yang akan aku lakukan."
Tahun baru Hijriah 1441 ini cocok untuk membuat resolusi. Namun kali ini, hendaknya kita mengukur diri, bukan dengan memaki-maki keadaanmu yang sekarang, karena itu namanya menyalahkan takdir. Mengukur diri adalah: tahu, dimana lebihnya aku dan kurangnya aku. Yang lebih dilesatkan, yang kurang dibenahi.
Entah darimana kaidah ini, tapi saya setuju bahwa kita perlu menyediakan 3 porsi untuk mengukur diri kita. Kaidah itu, 70, 20, 10. 70 persen fokus kita hendaknya digunakan untuk melesatkan potensi kelebihan kita, 20 persen untuk membenahi kekurangan kita, dan 10 persen untuk mengeksplorasi potensi baru.
Hendaknya kita mengukur diri, sebagaimana Umar menasihati, "ukurlah dirimu sebelum kamu mengukur orang lain, dan dan hendaklah kamu menimbang dirimu sebelum kamu ditimbang", sebab "orang beriman lebih sering memuhasabah dirinya dibandingkan rekan kerja tamak yang selalu mengukur kinerjanya demi gajinya" kata Maimun bin Mahran.
Dengan kita tahu dimana posisi kita, kita akan lebih mudah menempatkan diri dalam manusia, dalam kerja-kerja besar untuk semesta.
Setidaknya kita tahu apa yang bisa kita perbuat untuk kebaikan umat ini, sebagai bentuk naik kelasnya kita dari memikirkan diri sendiri.
Hendaknya kita mengukur diri, sebagaimana memang Allah perintahkan kita. Dengan kamu tahu dirimu, kamu bisa memprediksi bagaimana masa depan berpihak padamu, atau berpaling, "Wahai orang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang sudah dia kerjakan di masa lalu untuk masa depan." (Al Hasyr 18)
Madinah, 1 September 2019