Mensyukuri Keluhan
Hari ini udah sekitar 2 mingguan aku dan abang LDR. Dasarnya emang kami bukan tipe yang bisa jauh-jauhan dan sejauh ini kami masih struggle buat ngejalanin.
Selain ketidakadaannya yang banyak aku kangenin, hampir setiap hari aku mulai belajar syukurin keluhan selagi aku sama dia.
Abang ya kaya suami pada umumnya. Dan aku juga kaya istri pada umumnya. Ada love-hate relationship yang dilandasi gender dan watak kita yang beda. Dan suka aku keluhin ke dia.
Perihal kaya naro handuk sembarangan, ngambil bajunya ditarik bukan diangkat, naro barang ga di tempatnya, ya kaya suami pada umumnya yang dasarnya ga seneng bebenahlah.
Sebagaimana aku nerima sisi baik bawaan dia dan sisi baik tempaannya. Aku belajar nerima juga sisi buruk bawaan dan tempaannya. Berdamai kalau sisi buruknya emang ga bisa diubah, menerima kalau sisi buruknya lama berubah.
Kadang aku nanggepin dia cerita dengan senyum, tapi kepalaku kaya berontak “kok dia gitu, kenapa dia ga gini”. Dan itu aku kadang aku pendem karna aku bikin kalimatnya dulu.
Aku harap sih dengan berdamai dan nerima kekurangan yang emang bawaannya dia, aku bisa lebih respek dan memandang dia dengan rasa hormat yang utuh. Berharap juga kepalaku akan bereaksi “oh dia lagi seperti ini ngerasanya, dia kaya gitu pasti ada alesannya, nanti aku tanya kenapa dia ga gini aja.”
Kadang atau sering emang bisanya belajar dari evaluasi kejadian-kejadian hari lalu bukan dari pengalaman orang lain, walaupun orang-orang udah sharing.














