Hi again!
Sweet Seals For You, Always
Peter Solarz

blake kathryn
trying on a metaphor
tumblr dot com
d e v o n

祝日 / Permanent Vacation
h
we're not kids anymore.

No title available
No title available
taylor price
almost home
will byers stan first human second

Origami Around
No title available

if i look back, i am lost
Sade Olutola
wallacepolsom

❣ Chile in a Photography ❣

seen from Vietnam

seen from Malaysia

seen from China

seen from Russia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Hong Kong SAR China
seen from Japan

seen from Singapore
seen from United States
seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Spain

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Malaysia
@fajriiee
Hi again!
@Ayala Triangle, Makati. Christmas is coming and the city become city of lights :)
Pandangan Subjektif Seorang Turis: Part 1
Berkunjung ke sebuah negara baru membuat diri ini sok tahu membandingkan negara yang didatanginya dengan tanah airnya sendiri. Postingan kali ini saya ingin berbagi sedikit informasi tentang Filipina. Diawali dari transportasi dulu. Transportasi umum di Filipina didominasi oleh jeepney, kendaraan khas negara ini yang dari namanya pasti kita sudah tau bentuk umumnya, seperti jeep. Keunikan jeepney ada ketika penumpang membayar ongkos. Ongkos dibayar ke supir dengan mengoper dari penumpang paling pinggir sampai penumpang yang berada di dekat supir. Jadi buat yang hobi tidur di kendaraan agak tersiksa karena terus-menerus akan dikasih duit untuk dioper ke orang sebelahnya. Bagi orang yang pertama naik jeepney pasti akan bingung ketika dikasih duit sama orang, padahal maksudnya untuk terus dioper sampai ke tangan supir. Repotnya lagi kalau ada kembalian, terus aja oper-operan tu duit. Ongkos naik jeepney 8 peso, 1 peso saat ini Rp. 285.
Transportasi dominan berikutnya adalah bus. Bus di sini sebagian besar ber-AC, jadi cukup nyaman. Tempat naik-turun penumpang bus bisa dimana saja, tapi di beberapa ruas jalan ada halte tempat tertentu untuk menaikkan penumpang saja (tulisan di haltenya “Loading”) atau menurunkan penumpang saja (tulisan di haltenya “Unloading”), tidak boleh berenti di sembarang tempat. Kalau bus sudah sangat penuh, penumpang yang mau naik siap2 gigit jari karena supir ga akan membukakan pintu untuk menaikkan penumpang lagi. Berbahagialah para pembenci asap rokok karena transportasi di sini bebas asap rokok.
Selanjutnya adalah taksi, ada 2 jenis taksi di sini yaitu taksi sedan dan taksi avanza. Serunya di sini pesen taksi bisa menggunakan aplikasi khusus untuk Android, namanya Grab Taxi. Aplikasi ini sangat berguna karena mencari taksi secara manual di sini hampir sama sulitnya kaya mencari jodoh. Kenapa? Udah nunggu lama, giliran dateng taksi yang dikira jodoh eh dianya gamau karena alesan macet. Ya, cari taksi jauh lebih enak di Jakarta karena supir taksi yang nyari penumpang, kalau di sini sebaliknya. Perusahaan taksi di sini juga ga sebanyak di Jakarta dengan berbagai warnanya. Ada kesamaan dari 3 transportasi darat ini, baik jeepney, bus, ataupun taksi semua ugal-ugalan. Jadi bayangin aja supir metro mini yang suka ugal-ugalan di Jakarta bawa angkot, taksi, dan bus patas, semua kumpul dan ugal-ugalan di satu jalan raya yang sama, itulah gambarannya.
*It happens here in Philippines :D
Selama 3 bulan saya tinggal di Makati, kawasan yang menjadi pusat bisnis negara ini. Di Jakarta kawasan ini mirip seperti kawasan Sudirman sebagai Central Business District. Pedestrian di sini lebar jadi nyaman buat jalan kaki. Ada beberapa titik tertentu dimana kita tidak bisa sembarang menyebrang jalan melainkan harus melewati terowongan pejalan kaki, seperti yang ada di dekat stasiun Jakarta kota. Ketika turun ke terowongan, pejalan kaki harus lewat tangga, sedangkan untuk naik disediakan eskalator, satu fasilitas umum yang saya bilang memanusiakan manusia. Hal ini ditemui juga di seluruh stasiun kereta api dimana pejalan kaki disediakan eskalator sehingga tidak terlalu capek naik tangga.
*salah satu penampakan subway di Makati*
Bicara tentang stasiun saya hampir lupa memasukkan 1 transportasi darat lainnya, yaitu kereta. Di sini ada 2 jenis kereta; LRT (Long Range Train) yaitu kereta api jarak jauh dengan rute antar provinsi, dan MRT (Medium Range Train), kereta listrik yang membelah kota Manila. Kereta di sini tidak jauh berbeda dengan di Jakarta, tiket menggunakan kartu, kereta ber-AC (dan AC-nya sangat terasa), penuh sesak, ada setiap 5-10 menit sekali. Karena kereta selalu muncul 5-10 menit sekali jadi tidak disediakan bangku di peron untuk penumpang menunggu kereta.
Terakhir yaitu tricycle, kendaraan bertenaga manusia yang mirip seperti becak di Indonesia. Tapi ada juga tricycle yang bertenaga motor dengan muatan maksimal 4 orang. Saya belum pernah merasakan naik moda transportasi yang satu ini sih jadi belum tau sensasinya. Sesuatu yang hanya ada di jakarta dan sangat dirindukan kehadirannya di sini adalah ojek. Di Filipina masih sangat jarang orang yang memiliki motor, tidak seperti di Indonesia yang mana motor seperti laron saking banyaknya. Jadi kalau dibilang semrawut ya Indonesia masih lebih semrawut kondisi jalan rayanya, tapi kalau macet menurut saya tidak berbeda jauh karena di sini pun macetnya luar biasa di hari dan jam tertentu.
Oke, itu dulu saja gambaran kecil tentang transportasi di Filipina, semoga bermanfaat.
Room PH, 20 Desember 2014, 00:51 waktu Manila
sumber gambar: http://yourlifeinthephilippines.com/2013/09/the-story-of-the-jeepney-4/ http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=96151&page=748 https://arnoldpadilla.wordpress.com/tag/mrt-fare-hike/ http://www.xdayv.com/tricycle-philippines/
Random as usual
Bedanya manusia dan binatang ada pada akal pikiran. Manusia seperti halnya binatang, punya naluri2 yg berujung pada kenikmatan duniawi dan puncaknya adalah kenikmatan seksual. Manusia diberi akal pikiran agar bisa menahan itu semua. Kalau kemampuan manusia untuk menahan itu sudah tidak ada maka manusia itu tidak lagi beda dengan binatang. Kalau mau terus mengikuti nafsu tentu saja bisa, tapi ingat kita bukan binatang, kita harus bisa menahan itu semua sehingga tidak kebablasan. Ada teman pernah bilang saya takut menjadi diri sendiri karena tidak mau ikut minum alkohol, karena menurutnya jika sedang mabuk akan keluar karakter aslinya. Jika memang begitu menurutnya, saya memilih tidak menjadi diri sendiri daripada saya harus ikut mabuk. Alam menyediakan cara lebih baik untuk manusia saling mengenal karakter asli manusia lainnya, tanya sama para pendaki gunung tentang hal ini. Sebut saya kolot, konservatif, atau munafik sekalipun, terserah. Orang bebas berpendapat, nge-judge orang itu kan emang paling gampang, yang sulit itu menghargai.
Another Random Post
Dunia ini hanya panggung sandiwara katanya.. Terkadang banyak ketidakadilan terjadi di dalam skenarionya. Bagi yang benci ketidakadilan, ini adalah ujian. Jika pada akhirnya terbawa arus dan melakukan sandiwara yang tidak diskenariokan, maka dia akan seperti orang kebanyakan, tapi jika lulus ujian dengan tetap memegang prinsip kebenaran, maka ketahuilah bahwa dia telah menanjak 1 level lebih tinggi ke atas.
Dear you sang pembela kebenaran dan keadilan, ada 2 pilihan saat ini; Pertama, terus mengutuk ketidakadilan di saat kita sudah di luar dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi, yang akhirnya hanya akan menyalurkan energi negatif ke tubuh kita; atau Kedua, menerima dan memaafkan pelakunya dan mencari pintu rizki yang lain, dan biarkan Sang Aktor yang membalas ketidakadilan ini.
RoomPH, 00.45 waktu Manila
Indonesia terus meningkat. Dalam satu dekade terakhir, negara terbesar keempat di dunia ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat dan mantap di samping jatuhnya tingkat kemiskinan, dan tampaknya bangsa negara ini siap untuk mengambil peran yang berpengaruh di panggung dunia pada abad ke-21....
I'm Gonna Miss This Moment
Bekerja di start up company ya beginilah resikonya, suasana kerja yang begitu dinamis, tau-tau tanpa direncanakan diri ini akan kembali berjibaku dengan kemacetan ibu kota Jakarta dengan suasana politiknya yang makin panas. Masih belum tau tepatnya kapan akan kembali ke Indonesia tapi sepertinya tidak sampai 2 bulan lagi..
Hampir 3 bulan di sini, dibilang betah ya tidak juga, tapi dibilang tidak betah juga salah, kata yang tepat adalah sudah mulai terbiasa. Terbiasa nongkrong sama teman-teman sampai pagi, terbiasa melihat pemandangan yang tidak ada di Indonesia, terbiasa kesulitan mencari makanan halal, terbiasa tidur jam 03.00 dini hari, dan terbiasa dengan segala kebiasaan yang tidak pernah dilakukan ketika di Indonesia.
Yang bakal paling dikangenin tentu aja momen-momen kaya sekarang nih, ngobrol ngalor ngidul mulai dari boy's talk yang trivia, sampai masalah politik dan agama. Jam 1 malem ke All Day, sebuah convenience store mirip seven eleven di Jakarta, ngobrol-ngobrol sambil cuci mata tau-tau udah jam 5, ahhhh i'm gonna miss this moment :)
Kamar Prio n Daus, 01.33 waktu Manila
Late is better than never... my new target is i should have a new soft skill before i go back to Indonesia next year..
Si Cerdas Kinestetis Ini Namanya Upang
Membagi yang belum sempat terbagi. Beberapa postingan ke depan akan diisi oleh pengalaman saya setahun lalu ketika menjadi Pengajar Muda. Semoga apa yang tertulis bisa menularkan energi positif ke orang yang membacanya...
Saat pelatihan intensif pengajar muda selama dua bulan, kami dibekali pengetahuan mengenai Multiple Intelligences, bahwa setiap anak adalah juara tidak ada anak yang bodoh, bahwa terdapat delapan jenis kecerdasan pada tiap manusia, salah satunya adalah kecerdasan kinestetis. Kecerdasan ini biasa dimiliki oleh para atlit, penari, dan profesi lain yang menuntut kepandaian dalam mengolah gerakan. Selama hampir dua bulan aku dikampung, aku melihat sebagian besar anak-anak kampung Tarak memiliki kecerdasan kinestetis yang baik sekali, tapi ada satu muridku yang kinestetisnya kulihat lebih baik dari teman-temannya yang lain, Upang Baruan namanya.
Pertemuanku dengan Upang pertama kali saat upacara penyambutan yang dilakukan oleh warga kampung untukku. Saat itu beberapa anak murid SD Negeri Tarak mempertontonkan tarian noi noi untuk menyambutku, di situ lah pertama kali kulihat Upang si pemimpin pasukan noi noi. Para penari noi noi menghitamkan sekujur tubuh dan wajah mereka persis seperti orang negro, masing2 dari mereka membawa senjata berupa pedang hitam terbuat dari kayu dan sebuah tombak. Terlihat sekali keseriusan anak2 dalam menari, layaknya pasukan yang hendak berperang mereka menghentakkan pedang dan tombak ke depan, saling mengadu pedang dengan temannya, dan yang mengkomandoi setiap gerakan adalah Upang. Melihat matanya saat menjadi pasukan berbadan hitam sempat membuatku takut juga, seperti hendak menyerangku dengan pedang dan tombaknya, di situlah aku sadar anak ini berbeda, begitu menjiwai tarian yang dibawakannya.
*tari noi-noi*
Waktu berjalan dan aku pun mulai berinteraksi intensif dengannya ketika bermain ke gunung dan ketika di kelas. Anak ini ternyata tidak terlalu banyak bicara, di kelas kemampuannya dalam menulis perlu bimbingan lagi karena agak lambat jika dibanding temannya yang lain. Itu hasil pengamatanku yang baru selama 2 minggu ini mengenalnya. Upang ketika di kelas dan ketika bermain denganku berbeda sekali dengan Upang ketika “di depan panggung”. Hal ini aku temukan ketika idul fitri kemarin saat warga di kampung mempertontonkan silat tradisional ala kampung Tarak. Siapa saja boleh mempertontonkan kebolehannya dalam gerakan silat, kebanyakan yang tampil tentu bapak2 dan pemuda, dan hanya ada 2 anak kecil yang tampil saat itu, Upang dan Boyong yang keduanya muridku di kelas VI.
*silat yang menjadi tontonan khas ketika Idul Fitri*
Melihat mereka berdua melakukan gerakan2 silat di depan warga kampung membuatku bangga, dan saat itulah kulihat Upang yang berbeda. Tatapan matanya begitu mengancam, gerakannya lincah, hentakannya kuat, kuda2nya sempurna, kamera tak lepas dari tanganku selama pertunjukkan berlangsung, kurekam sampai habis. Selesai bersilat dengan teman sebayanya, tak lama kemudian Upang kembali tampil. Kali ini ia mengajak ayahnya sebagai lawannya, wow, anak yang sungguh pemberani, pikirku. Ayahnya hanya tertawa2 melihat kelakukan anaknya yang “menantang” sang ayah, awalnya ayahnya masih tertawa2, tapi karena Upang terus melakukan serangan akhirnya kulihat raut serius wajah sang ayah. Selesai silat mereka pun berpelukan, ingin kusampaikan saat itu juga kepada ayah Upang, “Anda harus bangga punya anak yang hebat dan berani seperti Upang”.
Itulah Upang, anak yang tidak terlalu banyak bicara dan bisa menjadi orang yang sepenuhnya berbeda ketika sudah menari dan “di atas panggung”.
Tarak, 14 Agustus 2013, 22.50 WIT
Mabuhay!
Ini adalah pengalaman pertama saya keluar negeri, yup, nandito ako, Filipina. Mabuhay dalam bahasa tagalog artinya kurang lebih selamat datang, sedangkan nandito ako artinya “here i am”. Setelah purna tugas sebagai guru di ujung timur Indonesia, Papua, diri ini kembali berganti profesi, tapi masih dalam 1 benang merah yang sama yaitu pendidikan. Kalau setahun kemarin saya melayani para murid, tahun ini saya melayani para guru. Melayani, setelah 3x ganti profesi akhirnya saya tau dimana saya bisa menikmati pekerjaan saya dan mengeluarkan potensi terbaik saya. Ternyata saya sangat menikmati ketika saya bekerja melayani orang, perasaan puas dari orang yang dilayani ternyata berefek besar terhadap diri ini. Puas dan bahagia sekali rasanya ketika saya bisa melayani dengan baik. Mental pelayan? Bisa jadi, but not in a bad way.
Kali ini saya tidak mau bahas panjang tentang kerjaan, saya ingin menceritakan tentang apa yang saya amati selama 2 bulan berada di Filipina. Kesan pertama menginjakkan kaki di Filipina adalah, “eh, ini udah di Filipina?”. Waktu di bandara saya merasa masih seperti di Cengkareng, gak ada perbedaan signifikan. Baru pas kami meluncur ke tempat tinggal kami kelihatan perbedaan pertamanya, cara menyetir. Di sini stir adanya di sebelah kiri, jadi jalannya di sebelah kanan. Butuh waktu beberapa hari untuk menyesuaikan, terutama pas nyebrang jalan. Pastikan sebelum nyebrang lihatnya ke kiri dulu baru ke kanan, jangan kebalik. Sayangnya sampe sekarang belum pernah nyoba bawa kendaraan di sini, pasti harus ekstra hati-hati nih kalau belum biasa. Sepertinya satu-satunya negara di Asia Tenggara yang stir kiri hanya di sini, mengikuti Amerika.
Filipina seperti halnya Indonesia pernah mengalami masa kelam penjajahan. Kalau di Indonesia penjajahnya Belanda selama 350 tahun, penjajah di Filipina adalah Spanyol selama sekitar 400 tahun, setelah itu Amerika pun sempat lama di negara ini. Jadilah kebudayaan di sini campuran antara keduanya. Dari bahasa, banyak sekali bahasa Tagalog yang merupakan serapan dari bahasa Spanyol, contohnya ketika tanya kabar, “Kumusta ka?” berasal dari bahasa Spanyol “Como esta?”. Tapi ternyata banyak juga lho kata-kata yang sama dengan bahasa Indonesia, misalnya “anak, lalaki, minum, ako (di Indonesia “aku”), payung, kanan”, dan lainnya. Salamat dalam bahasa Tagalog artinya “terima kasih”. Bahasa Tagalog banyak diakhiri dengan po untuk menunjukkan kesopanan, misalnya, “salamat po, sorry po”.
Bicara masalah bahasa, satu hal yang saya kagumi di Filipina adalah penggunaan bahasa Inggris yang sudah seperti bahasa resmi negara. Di Filipina, selama pernah duduk di bangku sekolah, hampir pasti orang tersebut bisa berbahasa Inggris. Dari satpam sampai orang kantoran semua bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Malah kadang saya pikir beberapa orang kantoran di Indonesia ini masih kalah bahasa Inggris-nya dengan tukang Laundry di Filipina. Itu artinya SDM di sini bisa dibilang menang banyak kalau dibandingkan Indonesia. Bahkan sekolah perawat di sini banyak yang membekali mahasiswanya dengan bahasa Indonesia untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun depan. Indonesia persiapannya sudah sampai mana ya untuk MEA tahun depan?? Sangat besar kemungkinannya ketika nanti perawat di rumah sakit, pegawai di hotel bintang di Indonesia, mensupply karyawan orang Filipina yang bahasa Inggris-nya di atas rata-rata orang Indonesia. Prepare our self brother n sister..
Sebagai pembuka mungkin sekian dulu postingannya, semoga kebiasaan nge-blog ini bisa dirutinkan lagi kaya dulu. Baiklah, magandang gabi po :)
Bagi seorang guru merancang sebuah evaluasi atau test untuk mengukur pemahaman siswa terhadap konten pembelajaran dan ketercapaian mereka terhadap kompetensi yang telah ditetapkan adalah sesuatu hal yang sangat menantang sedangkan bagi siswa evaluasi atau test adalah sesuatu hal yang...
Sejenak terlupa asyiknya dunia blog, meski blog yang lama sudah tak bisa terbuka, jadilah meneruskan blog baru yang juga sempat terbengkalai hampir setahun. Karena ada emosi dalam setiap tulisan yang bisa membawaku kembali merasakan emosi tersebut setiap kali membacanya, bersiap kembali menumpahkan emosi dalam tulisan. Ik schrijv voor mijn zelf, enjoy :)
Mijn Familie in Tarak :)
Malam Takbiran
Kali ini aku mau cerita tentang malam takbiran di kampung Tarak, what a night! Mulai dari selepas Ashar warga sudah sibuk berlalu-lalang ke masjid untuk menyerahkan zakat fitrah, sama seperti ritual menyerahkan serana, sebelum zakat fitrah imam masjid juga membakar kemenyan. Pembacaan akad zakat fitrah di sini dilakukan secara bersama2 serentak, berbeda dengan dirumahku yang mana setiap orang akan bersalaman dengan amil zakat dan membaca akad. Selepas pembacaan akad berjamaah, warga langsung mendekati orang yang ingin diberi zakat fitrah secara langsung, jadi tidak ada amil zakat di sini, semua diberikan langsung ke penerima oleh pemberi zakat.
Setelah pembagian zakat fitrah, warga kembali ke rumah untuk berbuka puasa, dan kembali ke masjid untuk shalat maghrib. Selepas Isya warga sudah mulai ramai di masjid dengan membawa obor. Jam 20.00 WIT pawai obor dimulai dimulai dari masjid, yang menarik adalah yang membawa obor seluruhnya adalah wanita, sedangkan pria membuka jalan di depan dan anak2 pasang meriam bambu dan petasan di sana-sini. Meriam bambu, mainan tradisional ini seperti teror bagiku, suaranya sangat menggelegar memekakan telinga. Saat anak2 di kota main petasan, anak2 di kampung sini main meriam, petasan hanya untuk amatir di sini, hehe. Selama pawai aku menyumbat telingaku dengan kapas, khawatir tuli selama seminggu karna telingaku belum terbiasa.
Sepanjang pawai gema takbir tidak putus dilantunkan oleh para warga, syahdu sekali mendengarnya meski banyak suara meriam bambu dan petasan, tapi aku sendiri tidak ikut mengumandangkan takbir. Awal puasa aku ikut pemerintah pusat, kampungku beda dua hari lebih cepat puasanya dibanding dengan pemerintah pusat, karenanya lebarannya pun lebih dulu kampungku baru kemudian pemerintah pusat. Jadi saat orang2 berlebaran aku masih puasa, what a day! Tantangan sekali, dan awkward, karena warga terus meminta maaf karena makan di depanku, yang mana akunya biasa saja, hahaha.
Oiya, selama pawai obor kemarin ada beberapa pemuda yang melakukan atraksi menyemburkan minyak ke obor yang menyala. Duh, aku gatal, ingin ikut mencoba, tapi khawatir nanti diikuti anak2 di sini. setelah sepi barulah aku dekati pemuda dan meminta minyak serta obornya dan wooosshhh bak naga yang sedang marah aku menyemburkan api besar dari mulutku, hahaha, nostalgia masa kecil nih, senang sekali ketika bisa melakukannya lagi. Aku tidak lihat jam berapa pawai selesai, tapi yang jelas sangat malam, dan aku pun pulang sambil dipayungi bintang2 di atas, dan ya, aku melihat bintang jatuh malam itu, what a night J
Tarak, 9 Agustus 2013, 11.15 WIT
Naar Kokas
Pelatihan guru telah selesai, laporan telah selesai dibuat, selanjutnya tinggal kembali ke kampung masing-masing. Sebagai orang yang bergantung sama orang lain kalau mau balik ke kampung, aku hanya bisa pasrah menunggu warga yang mau ke kampung. Selama beberapa hari tidak ada warga yang naik ke kampung, sambil menunggu, aku, angga, dan deasi memutuskan untuk mampir ke kampung salah satu pengajar muda di distrik kokas. Excited sekali rasanya ketika bisa mengunjungi kampung teman kami, apalagi kali ini jalurnya pegunungan. Berangkat sore hari jam 15.00 WIT, kami meluncur menuju kampung baru dengan menggunakan taxi *sebutan untuk angkot di Fakfak* sambil diiringi musik yang memekakan telinga sepanjang jalan.
Musik yang distel oleh supir sangat kencang, beberapa ada lagu yang bagus dan aku ikut bernyanyi, paling suka ketika lagu yang diputar adalah “A Thousand Years” Christina Perry, dan ketika lagu itu diputar pemandangan di kanan-kiri kami adalah hutan, jadi merasa sedang syuting Twilight saat itu, hahaha.
Perjalanan ke Kokas tidak lama, kurang lebih selama sejam, yang membuat lama adalah menunggu taxi sampai penuh, karena selama taxi belum penuh abang supir tidak akan berangkat. Sampai di kokas kami menyapa mama piara wiwik, lanjut jalan2 ke pelabuhan kokas. Ngapain di sana? Menikmati matahari senja sambil berfoto tentunya. Lumayan lah dapet beberapa foto level nangis dan satu foto level national geographic channel *versiku*. Pulang dari foto2 di pelabuhan kami kembali ke rumah wiwik dan bersiap berbuka puasa dengan es pisang ijo, slurrpp. Selesai buka puasa dan shalat maghrib kami lanjut makan besar dan tarawih. Tarawih di sana kecepatannya tidak supersonic meski bacaannya surat2 pendek.
Niat hati ingin mengobrol sepanjang malam tapi apa daya saat itu listrik di kampung wiwik sedang ada pemadaman bergilir, jadilah kami tidur sepulang sholat tarawih. Esok harinya aku, angga, dan deasi berkunjung ke sekolah wiwik dan bermain bersama anak2 di sana. Memang ya, bagaimanapun kondisi kampungnya dengan berbagai tantangannya, yang selalu menjadi hiburan dan semangat bagi kami para pengajar muda adalah anak-anak, ya anak2 itu lah yang sama di setiap tempatnya, merekalah alasan kami berada di sana. Meski hanya bermain sebentar dengan anak2 karena kami harus pulang ke kota lagi untuk ke dikpora tapi tetap hari itu diawali dengan menyenangkan.
Sepulang dari Kokas aku jadi berikrar pokoknya selama di sini aku harus mengunjungi semua kampung teman2ku, mulai dari distrik teluk patipi, kramongmongga, siboru, bomberai, dan urat di fakfak timur. Masing2 tempat pasti ada keunikan tersendiri, aku yakin akan banyak nilai dan hikmah yang bisa aku ambil ketika berkunjung ke tempat teman2ku. Ketika ke kokas kemarin aku baru merasakan hidup di desa yang tidak ada sinyal sama sekali, terasa sepi sekali, ada enaknya juga karena kita bisa fokus berkegiatan di sana, tapi juga ada tidak enaknya ketika kita tidak punya media untuk refreshing barang sejenak. Itu baru satu hikmah, aku yakin akan banyak sekali hikmah yang bisa ditemukan jika diri ini terus membuka pikiran dan hati.
Tarak, 5 Agustus 2013, 01.40 WIT
Warna-warni Malam Damar
Di kampung Tarak terdapat sebuah tradisi pada bulan Ramadhan tanggal 27, Malam Damar namanya. Kegiatan yang seringkali diceritakan pace di rumah ini sukses membuatku penasaran dan khawatir melewatinya karena aku masih berkegiatan di kota. Alhamdulilah aku tidak melewati kegiatan ini dan bisa melihat langsung keramaian di malam damar. Ada apa saja di malam damar? Ada serena, yaitu berbagai macam kue yang ditempatkan disebuah wadah yang diberi hiasan menarik. Di depan rumah, warga memasang pelita yang diberi hiasan juga. Sejak pagi pace di rumah sudah sibuk memotong fiber glass untuk hiasan lampu damar yang akan dipajang di depan rumah.
Sore hari setelah Ashar, masyarakat membawa serena ke dalam masjid. Ketika semua serena sudah terkumpul di dalam masjid, tete *sebutan untuk kakek* imam masuk ke dalam masjid dan memulai ritual membakar kemenyan dan membaca doa. Setelah itu serena diserahkan kepada orang yang dikehendaki si pemberi serena, biasanya diberikan ke tete imam, bapak muadzin, bapak khatib, dan bapak marbot. Oiya, intermezo sedikit, sapaan yang biasa digunakan di kampung ini umumnya menggunakan jabatan orang tersebut, misalnya pace desa (bapak kepala desa), bapak dusun (kepala dusun), bapak wakil (wakil dusun), bapak mantan desa (mantan kepala desa), termasuk tete imam, bapak muazin (yang bertugas azan di masjid), dan bapak marbot (yang bertugas memukul bedug di masjid). Bersamaan dengan pemberian serena biasanya orang yang diberikan serena juga diberikan uang sedekah yang tidak tentu jumlahnya.
Selesai pemberian serena warga pun kembali ke rumah masing2 dan bersiap untuk berbuka puasa. Lampu damar mulai dinyalakan setelah maghrib, jalanan di kampung yang biasanya gelap tanpa cahaya jadi terang dihiasi lampu2 yang cantik di depan rumah. Pemandangan malam ini jadi lebih cantik lagi karena taburan bintang yang berserakan di atas langit malam. Ritual bakar menyan dilakukan sekali lagi setelah sholat taraweh, seperti biasa jika bakar menyan setelahnya pasti makan2. Alhamdulilah sekarang lidahku sudah beradaptasi dengan kore, makanan tradisional kampung Tarak yang terbuat dari sagu dicampur dengan kenari yang ditumbuk. Pertama kali makan kore aku berasa makan pasir karena bentuknya yang bulat2 kecil halus dan kasar seperti pasir, tapi lama kelamaan ternyata enak juga dan bikin ketagihan, hehehe. Paling enak makan kore dicampur dengan pisang goreng.
Oiya, yang tak ketinggalan di malam damar adalah meriam bambu. Suasana malam itu seperti sedang perang karena suara meriam bambu yang menggelegar. Meriam ada, petasan juga ada. Oiya, anak2 disini jail sekali melempar petasan ke teman2nya, termasuk gurunya, iya gurunya, iya itu aku. Kalau begini caranya aku jadi tak heran mas maman kena petasan di kakinya tahun lalu. Kearifan lokal, selama setahun di sini aku akan banyak sekali melihat kearifan lokal khas kampung Tarak. Itulah kenapa aku sangat merasa rugi ketika harus kehilangan momen di kampung karena harus urus kegiatan di kota.
Banyak nilai yang bisa diambil dari kearifan lokal di sini, yang paling membekas di diriku adalah tentang semangat gotong royong dan sense of belonging antara warga kampung. Setiap kali ada pekerjaan yang berat, masyarakat di sini selalu gotong royong, mulai dari anak2 sampai bapak2 semua ikut bekerja. Sense of belonging kurasakan sekali setiap acara tahlilan atau pengajian. Makanan2 yang ada tidak hanya disediakan oleh tuan rumah tapi juga oleh para tetangganya. Mace2 semua berkumpul di dapur untuk masak bersama, ada juga yang masak di rumahnya masing2 untuk kemudian dibawa ke rumah orang yang punya hajat. Setiap kali mendapat insight dari apa yang kusaksikan di kampung, tak lupa ku bersyukur bisa bergabung di gerakan IM dan mengenal Indonesia langsung dari masyarakatnya, yang penuh dengan kesederhanaan dan ketulusan di setiap fase kehidupan yang mereka jalani.
Tarak, 4 Agustus 2013, 02.13 WIT
Meriam bambu ala Tarak., karena petasan terlalu mainstream :D