FLASH FICTION: KISAH CINTA DONGENG, BUKAN(?) Ia turun dari mobilnya diawali dengan kaki kanan jenjang yang terbalut sepatu high-heels berwarna nude. Sejenak orang-orang sekitar berpikir, tempat itu kedatangan bidadari apabila melihat sosoknya malam itu. Aroma tubuh yang wangi, rambut hitam kemerahan yang tergerai sebahu dan bibir yang berserasian dengan lesung pipi di kanan kiri membuat hormon testosteron para lelaki di sekitarnya meningkat. Ditambah blouse hitam yang dikenakannya sejalan dengan kalung kristal yang melingkar di lehernya, membuat orang terdistraksi dari apapun tujuan mereka. Langkah pertamanya mengayun dibarengi dengan bibir merah yang menyimpul. Ada clutch merah tergenggam pada tangan kirinya. Ada lengan yang digamit terbalut tuxedo di tangan kanannya. Malam itu lantai lobby hotel yang bersebelahan dengan restoran cukup lembab dan berkilau; langit menjilat bumi berkali-kali, deras-deras, sedari siang, air lembut mendarat di atas lantai serupa sisik ikan. Seorang resepsionis restoran mengawal langkah-langkah itu, mengarahkan meja yang telah direservasi. Tepat di sudut ruangan yang temaram sinarnya, dengan dua kursi, satu vas bunga mawar merah, dua set peralatan makan malam dan juga sebotol champagne. Ah, dan tak terlupakan, seorang pemain biola lengkap dengan dasi kupu-kupunya, memainkan lagu-lagu cinta. *** Sesekali rambutnya dimainkan manja dengan jari-jari tangan kanannya. Bibir merah itu tergigit dengan anggun ketika pujian membelai mesra pikiran dan hatinya. Tak jarang pun berubah menjadi senyuman dan dibarengi semu-semu merah di pipi. Ia, sambil menopang dagunya di atas dua punggung tangannya, memandang mata yang ada di depannya dalam-dalam. Siapapun bisa melihat, sinar matanya sedang berjabat dengan rayuan dan hasrat. Bahasa tubuhnya membuatnya terbaca, bahwa ia sedang menikmati bahasa-bahasa cinta. Dengan sebuah kode jentikan jari telunjuk, tak lama kemudian seorang pramusaji menghampiri mejanya. Menghadirkan sebuah kotak kecil berwarna ungu berlapiskan beludru. Dengan malu-malu seorang bidadari, ia membuka kotak tersebut. Sudah bisa menebak? Tentu saja, sebuah cincin lamaran yang kemudian dipasangkan di jari manis sebelah kiri. Ia terharu, tersenyum, kemudian mengusap lembut sudut matanya yang basah. Kisah cinta dongeng, bukan? *** Pramusaji yang membawakan kotak itupun kembali ke dapur. Dijumpainya tiga dari lima pekerja mengintip aksinya dari celah dapur restoran ketika membawakan kotak beludru itu. "Bagaimana, Sup?" "Yah. Masih seperti kemarin, tugasku masih sama seperti empat hari yang lalu.", katanya sambil bergeleng kepala kebingungan. "Kasihan ya, Mba itu. Makan sendiri tapi reservasi untuk dua orang." "Kata Pak Char juga, beliau memainkan lagu yang sama selama satu setengah jam." Dari belakang, satu juru masak menimpal, "Namanya Sandra, rumahnya tepat dua blok dari rumahku. Tunangannya meninggal karena kecelakaan tunggal lima hari yang lalu setelah melamarnya di sini, tepat di tempat ia saat ini duduk." Dari tempat juru dapur memandang itu, Sandra masih bercengkrama sendiri sambil sesekali menyunggingkan senyum di bawah temaram lampu restoran. Kesendiriannya diiringi lagu Time after Time yang dimainkan oleh Pak Char sendu-sendu. --- Yogyakarta, 11122016 || (c) Farah Al-Kaff PS: - Ditulis untuk almarhum Abah--yang tetap hidup di hati Ummi--yang berulang tahun tanggal 12 November lalu. - Time after Time adalah funeral song (lagu pemakaman) oleh Eva Cassidy. - Gambar adalah ilustrasi dari foto Lana del Rey untuk GQ Magazine. Meet me on Instagram: @laviaminora 😃