Menikah adalah Kehilangan
Satu jam menjelang akad, di ruang rias pengantin saya ngobrol-ngobrol cantik dengan Uni saya sebelum dia berstatus sebagai istri.
“Uni, apa yang dipikirin detik ini banget?”
Uni saya menghela nafas..
“Kalo nikah bukan sunnah rasul, mungkin uni ga akan menikah”
Waduh, kenapa nih? Jangan-jangan uni masih ragu-ragu. Saya yang panik tetep sok cool nanggepinnya. Katanya emang syndrome orang yang mau nikah gitu, suka tiba-tiba ngerasa ga yakin.
“Emang kenapa uni lebih milih ga nikah kalo bisa?”
“Tia, kamu tau, menikah itu segala hal tentang kehilangan…”
“Uni akan kehilangan banyak hal. Kehilangan kesempatan untuk berbakti langsung pada papa, karena nanti yang harus didahulukan adalah bakti Uni pada suami Uni nanti. Meski itu juga tidak akan menghilangkan bakti Uni sepenuhnya pada Papa dan Mama”.
“ Uni kehilangan kesempatan untuk menentukan dan menanggung resiko pribadi yang selama ini menjadi ruang ujian bagi Uni. Karena setelah menikah, semua hal harus dikompromikan bersama suami. Semua hal harus dipikirkan untuk kebaikan keluarga kecil Uni nanti. Dan apapun yang Uni jalani, nantinya akan menjadi resiko bersama suami. Baik untuk kita bersama, itu sih aman. Tapi ketika hal buruk yang Uni lakukan, maka resiko juga dialami oleh keluarga baru yang Uni bangun”.
Uni merapihkan riasan di wajahnya (yang sebenarnya sambil menghapus air mata yang menggenang)
“Untuk hal-hal sepele, Uni akan kehilangan waktu untuk mendengar cerita-cerita kamu, beraktivitas sebebas-bebasnya selama papa bilang boleh, main, jalan-jalan, nginep-nginep, kerja sampai target terpenuhi, dan lain-lain. Prioritas hidup Uni akan berubah seiring dengan hadirnya seseorang yang menjaminkan diri ke Papa, atas nama Allah, bahwa akan selalu membimbing Uni”.
Saya mengerti, sepertinya cukup. Saya takut Uni nanti beneran nangis padahal akad tinggal beberapa menit lagi.
“ Uni, pake suntiang minang itu lelah gak? Udah gitu Uni harus salaman sama seribuan orang, berdiri berjam-jam.. Hemm nanti aku mah kalo nikah mau yang private aja lah, aku gamau salaman sama orang yang ga aku kenal. Pake suntiang juga sih, tapi gausah pake berdiri lama-lama. Cape”
Uni masih mematut diri di depan cermin…
“Kamu pernah baca bukunya Tere Liye yang judulnya Rindu?”
Tanpa mendengar jawaban saya, Uni meneruskan jawabannya. “Ada kalimat yang masih sangat Uni ingat dalam buku itu. ‘Apalah arti kehilangan? Ketika kami sesungguhnya menemukan banyak saat kehilangan’ sama dengan pernikahan ini, Tia”
“Tadi Uni bilang, Uni kehilangan banyak hal saat menikah. Tapi Uni tetap menikah, selain karena sunnah rasul, juga karena Uni menemukan banyak hal. Kalo ditanya pake suntiang cape gak? Cape banget. Berat plus bikin ngantuk. Tapi Uni berpikir, mungkin ini bisa jadi salah satu cara Uni berbakti sama Mama dan Papa sebelum akhirnya Uni benar-benar akan berbakti pada suami nanti”.
“Setiap orang memiliki impian pernikahannya. Termasuk setiap orangtua memiliki impian per nikahan untuk putra-putrinya. Mengundang banyaknya teman dan kerabat Mama-Papa yang Uni sendiri tidak kenal, mungkin memang melelahkan karena Uni harus berdiri bersalaman berjam-jam. Tapi itulah kebahagiaan mama dan papa yang ingin dibagikan kepada rekan-rekannya. Kebahagiaan bisa menghantarkan putrinya menuju level kehidupan selanjutnya”.
“Uni menemukan banyak kesempatan untuk memohon doa dari orang-orang yang hadir untuk kehidupan Uni selanjutnya. Kan kita ga pernah tau doa siapa yang akan diijabah, bisa jadi salah satu dari tamu-tamu yang tidak begitu Uni kenal yang doanya sampai menembus langit”.
“Uni juga bersiap untuk naik kelas. Karena menikah sama dengan menemukan tantangan baru. Mengkompromikan segalanya dengan seseorang yang baru di dalam hidup Uni. Menemukan kebiasaan-kebiasaan baru, menemukan keluarga baru, juga menemukan impian-impian baru”.
Kemudian saya mengantar Uni sampai ke ruang Akad.
*biasanya Saya ga pernah mau bahas soal nikah atau cinta, tapi semoga ini bisa menjadi bahan perenungan kita semua*