-Hasil kolaborasi Fatihatu Rizqiy dan Ratih Purnamasari-
Seperti sebuah perjalanan. Mungkin aku dan kamu sedang berada di sebuah persimpangan. Berhenti atau terhenti, akupun tidak tahu persisnya. Apa mungkin kita dipertemukan hanya untuk menciptakan sebuah memori ataukah histori yang sesaat? saling bersimpangan, berpapasan, memalingkan pandang satu sama lain, hingga akhirnya terjatuh, melepaskan erat genggaman.
Jika Tuhan memberikan waktu itu satu kali lagi, bimbinglah aku Tuhan. Cukup berikan aku setangkai dua tangkai, Jika satu ikatpun terlalu banyak adanya. Akan kusirami hingga merekah mewangi. Tak mengapa bila masih kuncup. Apapun itu akan terus kupupuk dan kusiram. Mekar indah tidak layu. Tapi itu hanya sebuah harapan imaji belaka nampaknya. Kini, entah rasa apa ini harus kusebut ? semesta tahu dan hatipun tahu ke mana arah akan terpaut. Apa mungkin waktu yang tak ingin kita bersama? Jangan mencoba sekalipun salahkan waktu yang jelas bisu. Hanya putaran jarum yang bergerak bukan mulutnya, terbata mengucap mengecap satu katapun tidak bisa. Tersadar, semua tak semudah bila kita satu, berjuang sendirian terasa begitu menyakitkan. Masihkah kamu menyalahkan waktu ? Entahlah. Tunggu saja. Akupun masih mencari, tak berani menduga.
Berkelana berkeliling memutari sumbu kehidupan. Mencari asal bisik hati yang tak pasti. Bertemu itu jalan dari Tuhan untuk mungkin memautkan satu hati dengan hati yang lain. Namun kuat lemahnya pautan itu tergantung cinta yang tertancap. Kekal atau fana. Tersesat kita di persimpangan. Entah salah mengartikan atau tak ingin mengartikan. Entah pula hanya sepihak pundak yang jadi sandaran. Lainnya ? Entah. Aku pun tak tahu. Lagi dan lagi entahlah. Keterbatasan naluri ini yang begitu sulit mengartikan, semua bak teka-teki. Kini aku berada di antara keduanya. Salah kah ?
365 hari sudah entah kali yang keberapa akupun tetap masih saja. ketika siup-siup nada berbisik lirih untuk menuntunku maju, tetap saja ada rongga entah sebelah mana yang tetap untuk katakan enggan enyahlah. Kadang batin menyeruak seketika berguruh tak mau kalah. Terdengar sayup-sayup kata yang menggumam “menyesalkah aku?” lalu di bawah sadarku ada kata hati yang menyerobot menjawab “Iya, sedikit” Sesal hati bak belati. Tajam dan mengingkari sebilah hati. Menggeletuk, mematut dan menggumam rindu terlarang. Bukan hukum yang melarang, hanya puing-puing kenangan sendu yang membuat pasal-pasal terlarang.
Lesu, bermuram durja, tertekuk, terpegum lirih. Kobaran telah habis memudar, dulu menggebu, lalu memudar seperti bulir berdebu. untuk merindu aku terasa binasa, apalagi untuk memulai yang lainnya. Tapi biarlah Serpihan rindu kini menggerogoti. Tak tahu pasti sampai mana rindu ini bergelayat ? Harus terhenti, berhenti atau lenyap lalu pasrah merelakan.
Merelakan. Melepaskan. Membuat lebih besar rongga dalam hati. Menganga lebar, membuka ruang rindu baru. Walau kebas menghampiri, pilu mengakhiri kisah, tak pantas jiwa belia ini membungkus rongga dalam lautan dendam. Jangan salahkan siapapun. Siapkan saja hati, bahwa cinta dan rindu kita sempat kalah. Kalah dan terhempas di persimpangan.