“mas kok bisa cinta banget sama teater sih?”
Jadi, tulisan ini didedikasikan untuk mendiang ingatan tentang hidup yang sangat patut untuk dirayakan. Nukilan yang membangun seorang manusia untuk utuh, sepotong demi sepotong.
Hampir ganjil, mungkin kalau dihitung-hitung hampir 7 tahun saya memulai mencintai seni, mulai dari cinta monyet yang sampai berakhir pada keseriusan untuk membawanya ke pelaminan. Tapi naas, seni milik saya menikah dengan orang lain.
Sekolah Menengah Pertama, dan saya menjadi aktor sampingan dalam sebuah lomba operet berbahasa lain. Berlaku menyesuaikan gerak tubuh dan bibir sesuai dengan narasi yang telah direkam. Saat itu, cinta saya pada seni sepertinya adalah cinta monyet, kesukaan yang baru saja tumbuh. Tidak langsung jatuh cinta, toh pada akhirnya saya lebih sepakat tidak ada cinta pada pandangan pertama, tertarik mungkin. Suka? Setelah mencoba mengerti tertarik atau tidaknya baru bisa bilang suka.
Celakanya adalah, saya bertemu dengan sosok lelaki yang memegang sebatang rokok ditangannya itu. Pria berkumis, yang mengenakan kaos oblong hitam dengan tulisan “pengamat policik”. Dia satu-satunya guru yang rambutnya gondrong dan mempersilahkan muridnya merokok di hadapannya, tapi di foto itu memang dia sudah cukur karena kelahiran Nesya. Dia yang membuat saya menyadari kalau cinta saya pada seni itu bukan sekedar cinta monyet. Dia yang membuat saya tenggelam dalam rumah yang dia bangun, yang biasa ia sebut “Teater Kolong Langit”. Celakanya yang kesekian adalah, saya bertemu sosok perempuan yang biasa menjadi matahari dalam beberapa tulisan jauh sebelum tulisan ini.
Pria itu kadang suka seenaknya sendiri, melegitimasi diri sendiri dan anak buahnya, tidak jarang juga saya diberi kalimat-kalimat kasar. Tapi, dia yang mengajarkan bahwa batasan yang terlihat itu tidak semestinya dilihat, cukup dengan bijak saja mengerti batasan yang terlihat itu. Dan, sampai sekarang salah satunya masih sangat saya pegang, batasan umur yang cukup dilhat dengan bijak. Dari sana, saya mulai perlahan-lahan mencoba mencintai yang namanya seni, terutama teater.
Mei, entah tanggal berapa, adalah hari jadi yang patut dirayakan. Lagi-lagi, seorang manusia akan merasakan hidup setelah berani memilih dan mempertanggung jawabkan pilihannya. Saat itu, sebuah pertunjukkan sedang dibangun tepat setelah Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Atas. Apa yang saya lakukan tidak seharusnya ditiru, karena saya lebih memilih berlatih untuk pertunjukkan dibanding mengerjakan soal ujian dengan konsentrasi penuh. Hanya untuk, merayakan hidup bersama wahana yang membuat saya semakin kecanduan dalam setiap detik yang saya buang didalamnya.
Tidak ada yang begitu manis untuk diingat sebenarnya, karena selama lebih hampir 3 tahun disana, tahun-tahun terakhir lebih banyak ditutup dengan cerita sedih. Terlebih 2 tahun terakhir adalah masa dimana kolong langit menjadi begitu menyeramkan, karena saya sendiri yang banyak berulah. Saya pikir, saya banyak lalai dan tidak memanusiakan yang lain. Lagi, pria tua itu harus diberhentikan dari sekolah, keluar dari wahana yang dia bidani sendiri dalam kelahirannya. Saat itu, saya pikir seni saya sudah perlahan-lahan berpikir untuk menikah dengan orang lain.
Setelah pentas terakhir yang terganggu oleh ujian akhir itu, terjegal oleh banyak hal, saya pikir saya ingin berhenti. Saya ingin mebiarkan seni mencari pendamping lain, kemudian tegas mengejar mimpi untuk bekerja di korporasi.
Teater Selasar dan Bagian Menariknya
“tonk, dimintain tolong buat pentas teater sama UKM MaPaLa Fakultas”
Sekiranya, itu satu kalimat yang tidak bisa benar-benar saya lupakan. Lagi-lagi, celakanya yang kesekian adalah, saya menjawab dengan sadar kalimat itu dengan ucapan, “sayang kalau cuma pentas sekali, mending diseriusin”.
Selamat, saya kembali merajut hubungan gelap dengan seni sekali lagi, dan berniat membawanya menuju jenjang yang lebih serius.
Selama hidup, mungkin kedua orang yang membuatku lahir selalu mendukung apapun langkah yang saya tapak, tapi tidak untuk hal-hal yang seperti ini. Sialnya, saya tidak punya keberanian untuk membantah dan berucap saya ingin menjadi seniman dan saya bangga menjadi satu diantara empat yang tidak bekerja di korporasi nantinya. Sayang, kalimat itu lebih memilih diucap di dalam hati. Dan, dari ucapan secara sadar itu saya mulai mencari seni ke pasar-pasar tradisional.
Mulai dari Teater Jari Kelingking saya bertemu dengan orang-orang yang saya pikir juga keranjingan dengan seni. Satu pentas yang mengakhiri heningnya sebuah bangunan karena tidak ada hiruk pikuk manusia yang bersandiwara, setelah lama tidak begitu akhirnya jadi begini.
Dari situ, saya lebih jauh lagi tenggelam dalam hunian mewah yang namanya Teater Selasar. Awalnya ada tulisan Yth,Teater Selasar, hanya saja apa yang akan terjadi bila seandainya kita tidak bisa menjadi yang terhormat? Benar juga ucapan temanku satu itu, kupikir.
Lalu ada foto-foto selanjutnya yang menjadi jejak rekam bagaimana saya merajut hubungan gelap dengan seni. Hal yang sangat tidak harus disyukuri karena saya benci hal-hal seperti ini. Maksud saya adalah, saya benci kalau harus pergi dari sana, karena saya benci untuk membiasakan diri hidup tanpa orang-orang yang ada di dalam selasar. Banyak orang datang, tentu banyak orang juga pergi. Nikmati saja, setiap orang punya caranya sendiri-sendiri.
Entah kenapa, bila berjalan dari rumah menuju Teater Kolong Langit dan terutama Teater Selasar, perjalanan itu menjadi sangat cepat. Seperti yang biasa orang bilang, perjalanan menuju rumah itu adalah perjalanan yang nyaman hingga tidak terasa kamu sudah sampai tiba-tiba. Celakanya yang kesekian kalinya, lagi, adalah saya enggan pergi dari rumah meski harus menuju rumah. Saya enggan pergi kembali ke rumah yang sebenarnya, saya lebih suka tinggal di dalam rumah dengan kalimat teater di depannya. Terkutuk.
Disini, saya benar-benar jatuh cinta secara serius pada seni. Pada kalimat ini, saya benar-benar dengan sadar menulis kalau saya jatuh cinta pada seni apa adanya. Buat saya, bermain di dalam teater membuat saya menjadi seperti manusia, yang belajar menjadi manusia utuh. Entah dengan orang-orang lain, semoga saja mereka juga.
Di selasar, adalah waktu-waktu yang menjengkelkan, walau mungkin hanya sepasang tahun saya habiskan tapi itu jadi jalan cerita yang menarik. Bahkan saya tidak peduli kehilangan matahari, karena orang-orang di dalam foto-foto terakhir membuat saya lupa siapa itu matahari. Toh, dari sini muncul sosok lain yang membuat saya sadar kalau matahari itu harus lepas dari sosok, karena siapapun bisa jadi matahari.
Sebentar lagi, selasar akan tambah usia begitu juga kolong langit. Tidak ada yang banyak diucap, semoga tetap terbangun saat aku bercerita pada 10 pemuda yang diinginkan Soekarno, bahwa dahulu kakek pernah bercengkrama dengan orang-orang yang mencintai seni apa adanya. Mereka yang terlihat sama gilanya dengan kakek, bahkan lebih. Meski begitu, jangan pernah takut untuk terjebak dalam dunia yang berbau seni.
Teater, dan dunia seni itu hanya secuil dari dunia, seperti yang temanku satu itu ucapkan. Jadi, saya ingin biarkan seni menikah dengan orang lain sekali lagi. Sudah, saya lelah. Karena hanya secuil tidak seutuhnya, saya ingin melarung jauh sampai jauh sampai benar-benar jauh melihat potongan dunia yang lain, mencobanya dan siapa tau saya berjodoh. Semoga nanti kalau saya baca tulisan ini, saya bisa mengerti bagaimana saya pernah menjadi seperti manusia. Sudahi saja lah, berhenti, ikuti saja kata ayah dan ibu kalau seni itu memang tidak akan bisa menghidupi dirimu. Cukup jadikan sampingan tapi tidak yang utama, karena yang utama tetap uang, yakan?
Oh ya, jangan lupa ucapkan selamat merayakan hidup yang tidak perlu dirayakan kepada kedua rumahku ini ya. Terimakasih.