Kurasa, asing lebih aku suka daripada sapa yang mengandung banyak variabelnya.
Apa maksudnya?
Iya, variabel. Aku sangat malas ketika harus mencari-cari rumus untuk memecahkan variabel itu. Mengapa kamu begini, mengapa kamu begitu. Mengapa kamu bersikap manis, mengapa kamu terlihat tak peduli. Mengapa kamu singgah, dan mengapa selalu pergi ketempat yang tak pernah kuketahui.
Jujur, aku amat tak suka jika kepalaku dipenuhi riuh pertanyaan. Rasanya menyesakkan saat harus menerka-nerka, sebentar merasa aman, sebentar kemudian merasa tak tenang. Sebentar merasa kau menyukaiku, dan sebentar aku merasa kau hanya membutuhkan aku.
Aku lebih suka asing. Karena dengan asing, aku hanya memiliki satu langkah, yaitu berbalik arah.
Sebab jika kau menyapa, aku memiliki beberapa langkah yang terkadang aku sulit dan merasa kelelahan untuk melewatinya.
Terkadang aku merasa sadar diri dan harus pergi karena kau yang seringkali tiba-tiba menghilang tanpa pesan, tak memintaku untuk menunggumu, seolah kau tak perlu lagi aku. Dan dititik ini lah aku berusaha mencari jalan pulang setelah jauh melangkah ke jalan yang menujumu.
Terkadang aku merasa bahagia membuncah karena kau yang tiba-tiba meminta waktuku untuk bersamamu, seolah yang kau tatap hanya aku. Dan ya, dititik ini aku selalu mencari cara agar kembali ke jalanmu lagi setelah hampir sampai pada kepulanganku. Sikapmu yang manis seolah meyakinkanku bahwa kau akan menetap, tapi lagi-lagi kau mengulang kepergian.
Kau mengertikan? Aku lebih suka asing. Agar aku tak perlu repot pulang dan pergi ke jalan yang itu-itu lagi. Jadi tolong jangan menyapa. Jika kita tak sengaja harus berpapasan, usahakanlah, anggap saja kau tak melihat aku. Bukankah dulu pun kita begitu?













