I am singing to express my feeling. My voice is not good but i love it 👋 This song meaning is dedicated to every mother. 👍 Especially, my mother.
EXPECTATIONS

@theartofmadeline
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com
Today's Document
🩵 avery cochrane 🩵
d e v o n
macklin celebrini has autism

Origami Around

Jar Jar Binks Fan Club

titsay
No title available
RMH
untitled
Not today Justin
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
🪼

ellievsbear

Kiana Khansmith

No title available

seen from Türkiye
seen from China
seen from Russia

seen from France
seen from Bangladesh
seen from France
seen from Philippines
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Brazil

seen from Bangladesh
seen from Brazil

seen from Germany

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Philippines

seen from Malaysia
seen from Spain
@findingkrisanty-blog
I am singing to express my feeling. My voice is not good but i love it 👋 This song meaning is dedicated to every mother. 👍 Especially, my mother.
dengan pertimbangan "hidup hanya sekali"
Meninggalkan mimpi untuk orang lain atau mengejarnya dengan keegoisan?
Merindu Sambil Menggerutu
Halo, penghujung November! Meskipun November itu nikmat, Desember kedengarannya bakal lebih hebat. Apalagi, aku udah lihat Magelang melambai- lambai. Hehe, lebay.Padahal, aku cuma mau bilang rindu sama Magelang. Lima bulan aku udah di Bintaro dan nemu banyak hal yang berbeda dari Muntilan, Kota Pramuka. Jalanannya, makanannya, bangunannya, airnya, manusianya, pun hujannya. Tinggal di rumah om yang jaraknya 3 kilometer dari kampus, bikin aku ngerti pukul berapa jalanan harus aku hindari. Kalau lagi budhalan kantor, beuh, nyiput deh semuanya. Dan keadaan bakal lebih riweuh ketika ada kolaborasi antara hujan dan sesuatu yang bernama 'pagi'. Kolaborasi keduanya yang kedengarannya sederhana, mampu bikin aku gegana. Lebay, ya. Sering aku telat ngampus. Padahal, sebenarnya itu kombinasi antara kesalahan sendiri yo kuwi mangkat kemepetan featuring ojek onlen yang suka cancel di tengah penantian. Okay, semua itu menyangkut soal kedisiplinan which is a matter I struggle to. Dari semua itu, udah kebaca karakterku seperti apa. Miris, ya. Air. Aku pernah nginep di kosan teman yang berbeda. Dan aku paling suka ngamatin air di kamar mandi mereka. Aku beropini towards apa yang aku lihat aja ya dan yang aku lihat di tempat satu dengan yang lainnya itu berbeda. Of course. Some places are having good water, clear. And some are yellowish and brownish. Kesemuannya jelas berbeda dengan air di kampungku yang kebetulan asalnya dari pegunungan. Nah, ini salah satu yang aku rindukan, air seger adem bersih jernih di kampung. Meskipun kenyataannya aku jarang mandi. Selain itu, di sini, manusianya baru, anyar. Walaupun ada beberapa yang sama, kayak temen- temen SMA, tapi jelas lebih banyak yang baru. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dan itu keren! Personally, aku suka bertemu dengan orang baru apalagi belajar tentang budaya dari daerah orang itu, not too deep though. Gabung jadi anggota organisasi internasional pas SMA, bikin interaksi dengan orang baru hingga foreigners itu spesial dan harus dispesialkan. Dari situlah aku suka- suka aja kenal dengan orang dari berbagai kota dan negara yang berbeda. Lebih tepatnya, I am superb grateful and happy ketemu orang baru. I was expecting "more" about the buildings here in Bintaro. But, actually, I am going to tell you about how the buildings are in my little town. Aku berasal dari daerah yang namanya Muntilan. Menurutku, Muntilan itu sudah cukup cocok untuk disebut sebagai "town". Then I just call it so. Sudah 18 tahun aku tinggal di sana dan nggak ada perubahan yang mencolok. Well, aku ngga berharap didirikan pusat perbelanjaan atau ada bioskop di tengah keramaian. Nope, pasar satu aja lama banget renovasinya. Hehe. Sesuatu yang mengganjal di benakku ada fasilitas. For me, No. Tapi, fasilitas untuk penyandang disabilitas. In fact, aku jarang lihat mereka yang difabel di tempat umum. Wait, jangan dulu deh ngomongin itu. Sekarang, apakah kita pernah denger tentang Sekolah Inklusi? Pernah. Tapi, itu apaan? Sekolah inklusi itu sekolah biasa yang nerima anak berkebutuhan khusus dan nyediain sistem layanan pendidikan yang udah disesuaikan. Sekolah ini berbeda dengan SLB. DI dalam sekolah inklusi, semua siswa bergaul satu sama lain dan mereka dididik untuk saling pengertian dengan latar belakang yang berbeda dan kondisi yang berbeda sekaligus mengembangkan potensi masing- masing. Nah, setelah aku search di mesin pencarian, aku nemu data dari www.b2klk.com yang nampilin daftar sekolah inklusi di Muntilan. Then I found SMPN 3 Muntilan and... That's all. Aku berpikir bahwa emang itu satu2nya atau ada kemungkinan yang lain belum terdata. But, that's the fact i found on laman itu. So, the thing i want to write is... Let me talk, not about human rights. Because i thaink that's agak berat. Let's talk about government and citizen. Sederhananya aja, kita adalah warga negara. Semuanya sama dan setara. Semua bayar pajak, termasuk kalau kita jajan di restoran, terus PBB kita juga bayar, barang mewah pun dipajakin. Kewajibannya sama kan. Nah, Government juga punya kewajiban ke kita, semacam ngasih perlindungan hukum, ngasih kebebasan untuk beribadah, ngasih jaminan dan perlindungan sosial, nyediain fasilitas pelayanan umun, dan lain lain. Semua itu harus diberikan kepada citizen tanpa ngebedain suku, agama, ras, asal kota, warna rambut, panjang hidung, tinggi badan apalagi tingkat kegantengan. And after that, I ask myself and us. Apakah kita nemuin fasilitas untuk penyandang disabilitas semudah kita menemukan bagi mereka yang keadaannya biasa? Setidaknya, apakah kita AWARE SEPINTAS dengan fasilitas itu di pusat keramaian? Jangan- jangan, kita malah nggak ngeh kalau sebenernya ada? Jadi, kalau ada yang nanya, kita jawabnya NGGAK TAHU. Hm, kita ngehnya cuma sama abang- abang parkiran yang tiba2 ilang tiba2 datang. Simply, di supermarket, di kantor kelurahan, di minimarket, di terminal, and maybe di kantor, kita nemu nggak tangga landai? Atau tiap kita jalan di trotoar, ada nggak garis kuning di atas ubin? Di tiap ujung trotar udah landai atau langsung nangkring gitu? Seberapa sering ada petunjuk atau sesuatu yang ditulis pakai huruf braille? Paling krusial nih, toilet, apa udah cukup ramah buat mereka? Dan yang paling sederhana, pintu rumahmu bisa dimasukin kursi roda? Ada lagi, di TV, berapa jumlah channel di pojok bawah ada mas mas atau mbak mbak gerak gerak? Hidup ini nggak cuma tentang kita, tetapi juga tentang mereka. Ada 11.580 penyandang disabilitas pada 2010 menurut PUSDATIN. Mereka juga melakukan kegiatan sama seperti kita, bertamasya, bersekolah, bertemu dengan teman dan berkegiatan lainnya. I am extremely sure that they also punya kemampuan untuk mandiri. Aku pernah baca di situs berita online, narasumber yang seorang tunanetra bilang kalau dia pernah jatuh karena celah antara peron dan kereta yang jauh dan tinggi di sebuah stasiun. Well, that's pretty scary. Gelisah. Gundah. Selama aku hidup, dari jaman Pak Habibie hingga Pak Jokowi, a thing changes a bit. Aku pernah jalan di trotar depan kampus. Di tengah trotar tuh ada lubang yang jadi tempat aliran air dari jalanan ke sungai dan tuh lubang jadinya mutus trotar. Alhasil, aku kudu lompat agak lebar dengan rok yang bikin kakiku nggak bisa ngejangkau jauh. Aku aja kesulitan, how about them? So, penyediaan fasilitas kayak gini emang tergantung maunya pemda kayak gimana. Harapan aku pribadi dan kayaknya harapan semua orang Indonedia, warga negara maupun bukan warga negara, adalah setidaknya ada kemudahan akses bagi siapapun a.k.a. universal acces, withouth exceptions for every public place. I am hoping for my little town be humble to every people. "They" are not objects who rely on other people, but they can do everything like other people. I am deeply hoping for yang fasilitasnya nggak ada jadi ada, yang udah ada TERUS dipelihara, dan kita bisa nyaman bersama- sama. Dan aku berharap, perbaikan itu menjadi nyata. Kalau ada pertanyaan, "Dimulai dari siapa?" Jawabannya adalah "Kita"
Kelak Menjadi Tempo Hari
Aku akan menganggap bahwa aku belum mengenalmu, Karena sampai aku menulis ini pun, masih hanya Tuhan yang tahu Mungkin kamu sedang tertidur pulas, atau sedang bekerja keras Mungkin kamu sedang di jalan pulang, atau break untuk makan siang Aku belum tahu kamu siapa dan kamu di mana Bahkan, aku belum mampu menyebut namamu dalam do'a Aku tidak tahu umurmu berapa Tidak tahu pula, apakah sudah berdasi, atau masih senang berlari- lari Benar- benar tidak tahu Saat aku kuliah ini, apakah kamu sedang menyelesaikan skripsi, masih mencari kampus di sana- sini, sudah memiliki meja kerja sendiri, atau sedang mengembangkan bisnis, entah aku tak mengerti Beberapa hal yang aku inginkan darimu, izinkan hatimu bergetar Setiap kali aku memikirkanmu di tengah kesibukanku, karena itulah sinyal dariku Berikan senyuman terbaikmu, seolah-olah aku ada di hadapanmu di setiap pagi Berbesar hatilah, ketika kegagalan ada di hadapan, karena hidup adalah menempa ketangguhan Tegarlah, bagaimanapun juga, kesedihan akan datang Aku mohon, perbaiki dirimu, agar diriku juga menjadi baik Jangan lelah dalam pencarian, tapi pastikan bahwa caramu adalah dengan kebaikan Jangan lupakan Tuhan, karena hanya Dia-lah Sang Mahacinta, yang dapat menyatukan kita, kelak di suatu masa. Berjuanglah dan bersiaplah, seperti kamu mencari rizki dan menanti kematian Karena jodoh adalah satu dari tiga hal yang ditentukan Tuhan Salam, dari pemilik 'cinta yang tersimpan' 👋
A grateful piqued Thursday Gal
Aku lagi multitasking, nulis post ini sambil garuk- garuk kaki.
Hari Kamis kemarin sedikit laknat dan bikin penat.
Kamis dini hari, aku masih terjaga. Malam sebelumnya, aku dapat kabar kalau kelas Pengakun dicancel yang berujung reschedule. Okay, aku iseng- iseng nyelamin yucup yang berujung candu, kebablasan sampai nggak bisa turu. Well, aku mapan udah kepagian, sekitar jam 2-an. Merem, nglempus.
Sejam, dua jam, tiga jam, empat jam, 5 jam, nggak berasa. Tiba- tiba, jam udah pukul 7 pagi aja.
Tante teriak dari luar kamarku, pamit mau berangkat kerja dulu. Kay.
Hampa.
Akhirnya, aku dengan skill iseng- isengku nyoba ngringkes materi kuliah yang bakal dianu. Beberapa halaman doang, jari- jari mandjah-ku kembali datang. Sesekali ngecheck notifikasi, yang kalau diakumulasi ternyata durasinya lebih lama dari ngringkes materi. HEHE.
Tuing... Pukul 12.30 meluncur bersama Abang Gojek ke kampus tertjintah, betewe awannya gelap.
Abis ngambil surat kelulusan dinamika, langsung deh cus ke kelas statistika yang ternyata dimulainya agak lama dan bikin aku SADAR kalau tugas PIH-ku ketinggal. OMG. Padahal, hanya ada 10menit buat break dr Statistika ke PIH. Well, fix, aku balik ke rumah ambil tugas. No care about hujan dan dingin. Pas jam 15.00 aku cus dari kampus ke rumah dan JENG JENG JENG... Perumahanku banjir. IT WAS A REAL BANJIR. Buat masuknya aja kudu pakek PERAHU KARET... ASTAGHFIRULLAH... Di jalan kehujanan, kedinginan, dan... nyampe- nyampe malah gituan. Yaudah, yang terpikirkan cuman balik lagi ke kampus dengan tangan hampa sambil agak misuh mampus mampus mampus.
Oiya, aku balik pakek gojek yang sama. Bedanya, pas balik ke kampus, aku ga pakek app, tarifnya naik 2x lipat deh. A la a la ojek konvesional. Agak sedih sih, sepuluh rebu hehe. Pas aku ngasih uang ke abang driver, sengaja aku senyumin sambil lihat ke mata abangnya. Biar disenyumin balik dan bikin siang-ku agak baikan. But, no smiling back. Okay, kurasa abangnya capek ngadepin jalanan yang macetnya kebangetan dan membuat si abang ngeluarin 'tenaga dalam' untuk nyelip- nyelip di antara padatnya kendaraan. Kay, bang, semoga harimu menyenangkan. HE HE.
Aku masuk ke kelas deh. Sepik this that these those ke Ibu Tita why I was late. Aku telat 20menit. HEHE. Itu nggak lucu. But, so relieved, masih dibolehin ikut kelas. Pukul 17.00 kelar kuliahnya dan langit masih hujan. Aku jalan ke kontrakan sahabatku dengan numpang payungnya Maskhan dan akhirnya dipinjemin Resti di tengah jalan. Di kontrakan, kami cuapcuap agak sebentar soalnya mereka mau kuliah malam. Aku ditinggal deh sendirian, berdua sama teman ding tapi beda kamarnya. Well, karena aku capai banget, aku pengin berkeluh kesah ke tempat yang bikin aku semangat. Aku butuh infus, telepon mamah yang pada akhirnya bikin kantong mataku kayak roti, menggembung tp ngga ada isi. hehe.
I talked about what i have been through that day. She listened to every complain I cried. My mom said that she have missed me too. I knew from the tone she spoke, she had been waiting for me to come home. I want to come home bringing happiness, good news, and bright smiles.
She is looking forward to welcoming me also w/ cheers. Mamah sama Bapak tuh dua orang yang benar- benar pengin aku temuin, imagining how happy aku bisa tinggal bersama mereka pas kuliah gini bekos after these superb tight course schedules, work schedules will be tighter and time will be more difficult to be divided. I think...
So... i am quite grateful that day. Unpredictable moments always come unpredictably. Sometimes it is good moment. Sometimes it is difficult moment. But, moment is always be moment. It has it's own value and price. Everything I face is berkah. I have to be stronger even I am petite. The strenght is in my heart, the seeds my parents spread.
I am smiling at you, at a very bright eyes, at a very full of love face. You are making me forget about these chaos for a while. I love you.
Aku menunggu, kesepian di tengah ramainya aktivitas manusia kala senja. Setiap getaran telepon genggam, aku berharap notifikasi pesan darinya. Harapanku terwujud. Meskipun kalimat harap yang aku teriakan dalam batinku salah. Dia enggan menemaniku pulang, enggan mengevakuasi tubuhku yang terlilit sepi di antara bisingnya percakapan manusia pada sore hari. Lantas aku berdiri, melangkahkan kaki beberapa meter. Lalu, aku duduk kembali. Tidak, aku tidak boleh buru- buru pulang. Aku ingin menikmati rasanya ditolak dan disingkirkan seakan aku sarden lawas yang siap dibuang. Lega rasanya tersadar aku bahwa berharap pada manusia sama dengan bertaruh 99 kegagalan dari 100 percobaan.
Aku menulis di Bintaro, khayalanku terbang hingga Yogyakarta.
Bukan tentang menanti dan menunggu, tetapi memang telah waktunya untuk bertemu. 🌻 168- Monita Tahalea
November 12, 2017 was PSH’s birthday. My dorm girls gave her birthday surprise after she had taken a bath. Right in front of her bedroom door. I thought it would be more suprising if we could give her surpise in front of the bathroom door hehe 🌸 HAPPY BIRTHDAY EMAK yang abis diguyur air comberan sama anak anak kos bokis. Semoga selalu berkah hari- harinya. Love you from silence. 🌹
It was Friday night. I aint really looking forward to stepping outside because I was still surprised and a bit down thinking about my exam not going well. But, they asked me to go out and i couldnt find any excuses. I walked to that place, still crowded around the station. I was refreshed. So grateful. They made my day👋 Even I only bought snacks and a cup of cream, costing 16K only HEHEHE. The moments worths thousands 😉 Alhamdulillah...