Menjalani hidup memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi dengan mengangkat kedua telapak tangan dengan memohon, kita bisa mengubah hidup menjadi mudah.
seen from United Kingdom
seen from Canada

seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from Netherlands
seen from Germany

seen from Egypt
seen from Greece

seen from United Kingdom
seen from Saudi Arabia
seen from Germany

seen from Poland
seen from United Kingdom

seen from Czechia
seen from United States
seen from Czechia

seen from Malaysia
seen from Sweden
seen from Lithuania

seen from Canada
Menjalani hidup memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi dengan mengangkat kedua telapak tangan dengan memohon, kita bisa mengubah hidup menjadi mudah.
Jika Ingin Sukses. Jangan Lupakan Segitiga Kesuksesan!!!!
Jikalau aku hanya berdoa dan bertawakal tanpa disertai usaha. Maka aku jadi golongan orang yang terlalu pasrah. Kesuksesan hanya sebuah angan bagiku
Jikalau aku hanya berusaha dan bertawakal tanpa disertai dengan doa. Maka sesungguhnya aku tak menyadari keutamaan sebuah doa. Yang dapat membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin
Jikalau aku hanya berdoa dan berusaha tanpa diiringi dengan tawakal. Maka aku masih menjadi orang yang bergantung kepada selain-Nya. Karena sesungguhnya semua apapun yang kita lakukan di dunia ini harus diserahkan kepada-Nya
Jikalau aku berusaha, berdoa dan bertawakal. Yakinlah Allah SWT akan memberikan ribuan jalan kesuksesan kepada kita
Semarang, 4 April 2020
YOUNG GENERATION “Pemuda banyak karya bukan banyak gaya”.
Kata demi kata, isyarat demi isyarat rupanya tak henti hentinya terus berevolusi di dunia maya. Belum lama telinga kita di akrabkan dengan kata kece, yang dapat diartikan mereka yang berjiwa stylis berpenampilan mahal bak artis yang sedang turun kondang. Duit yang tak seberapa besar nilainya disombongkan, rela dihabiskan dan kobarkan demi berpenampilan kece. Terlebih jika bokab dan nyokap sedang tidak ada uang mereka memilih maksa untuk dibelikan baju atau kaos distro yang sedang trendy!. Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, bergegaslah mereka ambil pose dengan gaya bak model majalah yg memamerkan pakaian yang akan di jual belikan. Sebegitulah pemuda.
Jika kita ingin di katakakan kece ambilah sisi yg menegaskan kepada generasi bangsa bahwa pemuda harus banyak karya bukan banyak gaya. Bahkan lahir ditengah masyarakat sebuntan teranyar, yakni ADM (anak dunia maya). Mulanya saya mendengar dari temen-temen yang seringkali terlihat bermain diwarung internet, berpenampilan super gaul stylish, super manja dan sedikit lebay.
Hari ini kita hisup di zaman yang dengan keluhan. Merengek ketika ia ditekan dan dan menindas ketika berkuasa. Padahal dahulu seringkali kita di ceritakan oleh kakek kita tentang banyak kisah pemuda yang tahan banting dan pemimpin di zamannya. Salah satunya adalah kisah sahabat Rasulullah Saw, dan termasuk kedalam jajaran Khulafurasyidin, dia adalah Usman bin Affan. Di kisahkan beliau memaksa ikut perang di usia dini demi menegakan panji-panji islam. Begitu pula dengan abdullah bin auf rela meninggalkan ketampanannya, harta banyaknya dan penampilan-penampilan super kerenya hanya untuk menegakan agama Allah. Lalu ada pula Muhammad Al Fatih menjadi pemimpin pasukan pada umur 19 tahun, sekitar dua tahun berikutnya beliau dapat menaklukan konstantinopel. Dan masih banyak lagi generasi muslim zaman dahulu yang berhasil akan kepemimpinanya.
Untuk itu sebagai generasi penerus, marilah kita bersama sama belajar dan mulai memilih prilaku yang pantas dan tidak pantas serta bijak dalam memilih segala sesuatu yang pantas kita tiru dalam kehidupan kita sehari-hari.
THU, 28 Mei 2020
Menikmati Sunyi Pada Bibir Cangkir
Sebentar lagi malam 'kan datang. Senja tiada. Di kota ini, para pecinta malam mulai terlihat hiruk-pikuk. Ada yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah setelah bosan dengan aktivitas kantor. Ada yang sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah perjalanan yang jauh. Dan, ada banyak kesibukan yang tak dapat dieja satu per satu. Saya adalah salah satunya.
Memilih berjalan kaki bersama Maria menuju sebuah taman doa. Sambil menikmati sisa senja. Habiskan cerita-cerita masa kecil. Dan, melambungkan doa kepada Dia dengan harap segala yang sudah dan sedang terjadi adalah cerita yang tak pernah akhir.
Membaca buku puisi sambil tertawa kecil. Sesekali merayu agar tak ada yang merasa kaku. Sesekali saling menatap agar tahu apa itu saling menghargai ketika lawan bicara sedang berbicara.
Memang asyik ketika semua itu dibalut dalam rasa persahabatan. Tanpa sekat yang memisahkan lantaran tak begitu dekat dalam keseharian. Sebab, di antara kami terdapat kesibukan masing-masing.
Pun, malam tiba, Maria kembali ke rumahnya. Saya memilih ke sebuah caffe di tengah kota ini. Sebuah caffe yang sederhana. Pengunjung tidak begitu ramai. Maklum caffe ini baru dibuka dan banyak yang belum tahu. Caffe Eat itulah namanya.
Sesampainya di Caffe tersebut, saya memesan kopi panas dan bukan cappucino. Memilih sebuah buku yang dipajang. Membaca dan sesekali tertawa. Ditemani Fourtwenty, Banda Neira, dan Felix. Suasana semakin asyik dan enak untuk berbincang dengan diri sendiri.
Menikmati sunyi di bibir cangkir itu mengasyikkan. Tanpa harus benar-benar sunyi untuk mengatakan bahwa ini sunyi. Yang benar-benar sunyi itu ketika engkau mampu menempatkan diri dalam keramaian. Mengambil jarak tetapi tidak apatis.
Memang asyik apalagi berdua. Tetapi sayang, saya memilih sendiri. Menikmati malam dan gelisah yang terus beranak pinak dalam kepala. Sebab, dalam keadaan demikian, saya yakin bahwa sendiri dalam kesendirian itu bukan sesuatu yang menyakitkan. Tetapi itu adalah sebuah kemajuan dalam mematangkan diri lebih cepat dari yang sesungguhnya.
Boleh sendiri tetapi tidak menyakiti siapa saja pada kesempatan yang lain. Kalau pun berdua dan pada akhirnya menciptakan luka, maka sia-sialah.
Yang sering merasa sendiri, jangan takut. Sebenarnya dirimu tidak benar-benar sendirian. Ada orang lain yang sedang meluangkan perhatiannya untukmu. Tetapi kau tidak merasakan itu. Sebab, saking pedulinya mereka, mereka lupa memedulikan diri sendiri.
Mari menjadi sendiri sebelum akhirnya kita tahu apa itu kemandirian saat berdua.
Dan, kopi telah selesai diseruput. Saya pulang dan menertawakan diri sendiri sambil berterima atas segala yang pernah terjadi.
Pokoknya, kopiku kamu rasanya.
Fian N
Maumere, 2019
Desember 17
Mereka yang Kita Sebut ‘Pemuda’ #1
Tanggalnya berubah, tahunnya berganti, waktunya terlewat, tapi keresahannya tak ikut serta. Keresahan itu tetap tinggal di puncak malam hari ke 23 bulan Juli, selalu begitu. Keresahan kian menjadi saat bicara tentang anak, pendidikan dan kondisi para pemegang estafet perjuangan saat ini. Rasanya obrolan kemarin jumat bukan obrolan orang yang reuni setelah lama terpisah di tanah rantau. Obrolannya terlalu berat wkwk.
Lagi-lagi Anak. Saya pikir setelah melepas status kepengurusan di FAN Kabupaten 3th silam, saya tidak perlu berusrusan lagi dengan persoalan "anak", tapi beberapa alasan sering kali menahan saya untuk terus berpikir tentangnya. Bagaimana anak-anak akan terus tersenyum? Bagaimana anak-anak akan terus memiliki masanya? Bagaimana anak-anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik? Bagaimana anak-anak akan memiliki kehidupannya?
Ah, miris rasanya melihat potret anak di belahan bumi lain, saat darah seorang anak tak berdosa mengalir, saat jerit dan tangis anak terdengar hingga seantero dunia, dan tangan tidak mampu berbuat apa-apa.
Masih teringat jelas pagi itu, sebuah berita nasional, polisi menemukan jenazah bayi yang dibuang orangtuanya karena lahir diluar pernikahan. Meradang rasanya. Belum mereka yang mondar-mandir di jalanan; jualan koran, menjajakan asongan, bahkan memungut botol plastik untuk dijual. Ketika ditanya, "Kelas berapa?" mereka jawab, "Kelas 3 SD kak", "Gak sekolah dek?" mereka hanya menggeleng seolah semua akan baik-baik saja, ayah dan ibunya tidak akan marah, uang jajan malah bertambah. Ah mungkin benar apa yang dibilang mentorku dulu, sebaiknya tidak perlu ada lampu merah jadi tidak ada yang namanya anak-anak jualan, mengemis atau mengamen di jalanan 😅
Terkadang kita, orang dewasa, merasa cukup hanya sekadar memberikannya hak hidup, tapi anak lahir tidak dengan satu hak saja dan kita, orang dewasa, memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak lainnya; tumbuh & berkembang, berpartisipasi dan dilindungi dari kekerasan dan diskriminasi (UU No. 23 Tahun 2002, 4 poin diantaranya diakui secara Internasional dalam Konvensi Anak 1989 dalam sidang Majelis Umum PBB ke-44)
Sosaku Kobayashi, kenal dia? Saya belum pernah bertemu dengannya, tetapi pria yang meninggal di tahun 1963 ini, berhasil membuatku cemburu karena cinta dan kepeduliannya kepada anak-anak. Dari metode pendidikannya, Mr. Kobayashi begitu yakin bahwa setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh buruk orang dewasa. Beliau mencoba menemukan ‘watak baik’ setiap anak dan mengembangkannya, sehingga anak-anak tumbuh menjadi dewasa dengan kepribadian khas. Aku yakin, di mana-mana di dunia ini ada banyak pendidik yang baik (orang-orang yang punya idealisme tinggi dan sangat mencintai anak-anak) yang bermimpi bisa mendirikan sekolah ideal. Dan aku tahu betapa sulitnya mewujudkan impian itu.
Sabondama tonda, yane made tonda Yane made tonda, kowarete kieta Sabondama kieta, tobazuni kieta Umarete suguni, kowarete kieta Kaze kaze fukuna, sabondama tobaso (Sabondama- Noguchi Ujo, 1922)
Semarang, 24 Juli 2017
Sekarang, jika direnungkan lagi tulisan lamaku itu. Sebagai anak, err tidak mari kita sebut saja PEMUDA mulai dari sini, apa yang kita lakukan hari ini benar-benar akan berpengaruh pada kehidupan di masa yang akan datang. Aku mulai berpikir, dalam angka usia yang bisa dibilang usia matangnya yang disebut PEMUDA, apa yang bisa kulakukan? Karena jika bicara tentang kontribusi untuk bangsa dan negara bukannya akan lebih efektif mengawali dari 'individu'-nya? Lalu apa? Sampai hari itu datang, di mana mataku kembali disuguhkan data dan grafik kekerasan, kriminalitas, kematian, gangguan psikis dan sejumlah data lainnya yang di alami para pemuda tadi. Astaga diantaranya bahkan terjadi persis di sekitarku.
Para pemuda ini adalah manusia-manusia yang akan hidup di masa yang tidak akan pernah kita lihat, bukan begitu? Mereka adalah surat yang coba kita tulis untuk masa depan. Indonesia seperti apa yang ingin kamu lihat di masa itu? Dunia yang bagaimana yang ingin anak, cucu dan cicit-cititmu tinggali? Aku sih hanya beringin mereka tidak perlu pergi ke bulan untuk mencari hal yang mereka sebut keadilan. Itu saja.
Apa yang membuat saya begitu berharap akan tumbuhnya kesadaran diri? Biar saya ceritakan sedikit tentang kejadian dalam perjalanan menuju rumah teman. Hari itu, saya berniat mengembalikan buku kepada teman, karena rumahnya jauh maka saya harus menaiki angkutan umum. Saya menggunakan jasa angkutan umum angkot. Ketika itu keadaan angkot masih kosong, hanya ada saya dan Pak supir. Beberapa menit kemudian ada seorang ibu-ibu yang menghentikan angkot yang saya naiki. Ibu itu duduk di belakang Pak supir, saya di dekat pintu. Saya hanya melihat dan mengamati jalanan. Jalanan sore itu cukup lengang, tak terasa sudah sampai di pasar Citereup. Ibu itu turun di pasar, dan memberikan uang ongkos di dashboard dekat jendela pintu depan angkot. Hanya ada tumpukan uang receh lima ratusan yang tak begitu tinggi. Setelah memberikan uang tersebut ia langsung melenggang pergi. Dilihatlah ongkos itu oleh Pak Supir, ia hanya bisa mendengus melihat tumpukan uang receh itu. Tumpukan yang tak begitu tinggi menandakan tak banyak jumlah uang tersebut. Walau begitu, ia tetap mencari penumpang lagi dengan membesarkan suaranya seperti supir angkot kebanyakan. “Cileungsi Cileungsi Cileungsi,” Ya, hanya itu suara yang keluar. Tapi, bukan suara lantang seperti Supir mencari penumpang. Suara Pak Supir nyaris tak terdengar dari luar. Karena posisi saya di dalam angkot maka saya mendengarnya. Suaranya serak sekali, dan hanya satu kali ia memanggil penumpang. Setelah itu, ia hanya diam dan menunggu penumpang datang. Namun tak ada penumpang yang naik. Ia terlihat sangat lesu, dan langsung menjalankan mobil angkot tanpa bertambahnya penumpang. Melihat Pak supir seperti itu saya sangatlah iba, namun saya pun belum bisa membantu apa-apa. Saya hanya bisa membayar ongkos ‘sesuai tarif’. Maka, kesadaran untuk membayar sesuai tarif itu harusnya dimulai dari siapa? Dari kita. Baik muda ataupun tua, kita harus bisa memulainya. Mari sadarkan diri (terkhusus untuk saya), untuk harapan besar kita kepada Tanah Air tercinta, Indonesia. #millennialsberkarya #mimpimillennialsuntukindonesia #pemudaindonesia @millennialsberkarya @semenindonesia @likaahanif_ @anislstri @pitashaumy
Ternyata untuk memberikan yang terbaik kepada orang banyak harus banyak-banyak mencari,harus siap mendengarkan dan menerima solusi orang lain, bahkan harus siap mengubah konsep sampai berkali-kali. 00.04
- Rasa Cinta Yang Masih Sama -
Selama kita masih dibawah langit yang sama
Selama kita masih melihat cahaya rembulan yang sama
Selama itu juga rasa cintaku kepadamu masih tetap sama
Semoga suatu saat rasa ini kan bertemu diatas jalan-Nya
Dari ribuan wanita yang telah ketemui
Hanya dikaulah yang meneduhkanku
Dari ribuan wanita yang begitu menebar pesona
Hanya dikaulah yang menyejukkan hatiku
Begitu ku mencoba melupakanmu
Malah dikau menghantui dalam mimpiku
Ah apakah ini yang namanya diperbudak cinta
Asam pahit tak terasa, yang terasa hanya manisnya saja
Dan seketika aku teringat dengan saksama
Bahwa cinta butuh perjuangan
Tak butuh ribuan retorika gombalan
Apalagi hanya sekedar angan-angan
Dan ku mencoba memperjuangan itu yakni pembuktian ( bersambung)
Semarang, 9 April 2020
Sajak Ke-3 dalam Antologi Rasa