Duka yang tidak ada ujungnya
Kehilangan yang terkasih, terlebih lagi satu-satunya yang kita anggap ia yang paling menyayangi dan mencintai kita dengan tulus di dunia yang sulit, gelap, dan luas ini memang akan menimbulkan duka yang berkepanjangan. Bahkan, tidak tahu bagaimana cara menanggulanginya hingga sampai dengan titik ini, yang menulis pun belum mengetahui caranya bagaimana.
Ada yang bilang, berdukalah secukupnya, lalu jalani kehidupan kembali. Berduka secukupnya itu seperti apa? ada waktu titik berhenti lalu setelahnya tidak berduka lagi? atau berduka dengan waktu tertentu sampai kita merasa cukup? cukup dengan anggapan siapa?
Tidak akan ada yang mengerti bagaimana menghadapi luka kita masing-masing diantara manusia lainnya, karena setiap manusia mempunyai bagian tersediri di dalam dirinya yang hanya bisa diketahui olehnya dan Tuhannya.
Mari menyelami bagaimana rasanya berduka yang tak kunjung selesai ini. Ada hari dimana air mata mengalir sangat deras hingga bantal di kamar basah, dimalam hari dengan sayup bersembunyi-sembunyi kita dengan brutal mengingat bagaimana rasa sakit, sedih, rindu, disayangkan, bahkan penyesalan yang membuat dada sesak hingga tak kuasa ribuan bulir air mata itu mengalir.
Ada hari dimana kita sudah terasa baik-baik saja, menjalani hari dengan semangat mengais rezeki atau mencari ilmu karena memang hidup tetap berjalan, tak memberi ampun kita untuk berhenti sejenak. Tidak ada air mata, hati pun terasa tenang, bisa tertawa dan mulai menapaki keikhlasan itu,
Ada hari dimana air mata sudah tidak mengalir lagi, semangat pun tidak ada, tetapi kehidupan tetap berjalan semestinya. Kita tetap berjalan, melakukan sesuatu, dan berbincang dengan manusia lainnya. Tetapi rasanya seperti kosong, tidak ada yang dirasa. Mau nya hidup berhenti saja diwaktu itu, meski sejenak untuk menyelami apa yang terjadi pada diri. Tetapi lagi dan lagi, hidup bukan kita yang menentukan, kita tetap terus berjalan bahkan berlari meski semuanya terasa melayang.
Ada hari dimana tidak mau melakukan apapun, hanya ingin berdiam diri di dalam kamar dengan ponsel, melihat-lihat apa yang terjadi di luaran sana. Tidak mau bertemu siapapun, manusia manapun. Hanya ingin dengan diri sendiri menikmati semua rasa duka dengan sebenar-benarnya, hanya diri sendirilah yang berperan dalam merawat luka ini, tidak dapat melibatkan manusia lainnya, tidak mau bergantung dengan manusia lainnya.
Hari, rasa, dan duka ini tercipta karena ketergantungan dan kemelekatan kita dengan manusia lainnya. Padahal sudah sering banyak orang terdahulu yang bernasihat untuk tidak membuat diri bergantung dengan manusia lainnya. Tetapi bagaimana pun, tanpa dipungkiri kita adalah manusia lemah, memerlukan yang terkasih, memerlukan menyampaikan kasih.
Biarlah sekali lagi, setiap manusia menyelami lukanya dengan cara mereka masing-masing. Bagiku, terutama, kehilangan bukan hal yang mudah, meski sudah berkali-kali menghadapi kehilangan dengan cara ditinggalkan berbeda-beda.
Duka yang tidak pernah usai, tetaplah seperti itu. Titiknya adalah, kita dapat terus meneruskan hidup dengan sebaik-sebaiknya untuk ia yang terlebih dulu meninggalkan hidup ini. Meski tertatih dan sulit menghadapi hari-hari tidak mengenakan seperti yang diceritakan diatas, di hari berikutnya akan selalu ada hari-hari yang melegakan.
Dan untuk yang sudah meninggalkan dunia ini, semoga kita dipertemukan kembali di tempat terbaikNya.
Dan untuk yang meninggalkan karena sudah tidak adanya kecocokan diantara kita, semoga semesta menemukanmu dengan manusia lainnya yang dengannya hidupmu menyenangkan & terasa cukup.
Dan untuk yang meninggalkan karena cita-cita, jalan kehidupan berbeda, serta tempat yang sudah tidak lagi bisa bersama, semoga dimana pun berada mereka selalu sehat dan menjalani kehidupan terbaiknya.
Dan untuk yang ditinggalkan, semoga kita dapat merawat pikiran dan diri dengan sebaik mungkin agar hari-hari menyenangkan lebih banyak daripada hari menyedihkan itu.


















