Nyeri hate sih
Jujur, yang paling membuat kecewa bukan karena dibandingkan, tapi karena selama ini ternyata dianggap saingan.
🙄

izzy's playlists!
Show & Tell

Janaina Medeiros

No title available
Monterey Bay Aquarium
Stranger Things
$LAYYYTER
noise dept.
Cosimo Galluzzi
Sweet Seals For You, Always
Misplaced Lens Cap

Product Placement

Kiana Khansmith

tannertan36
tumblr dot com

pixel skylines
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

if i look back, i am lost
Not today Justin
Sade Olutola

seen from Ukraine
seen from United States

seen from Italy

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States
seen from Pakistan
seen from Türkiye
seen from Uzbekistan
seen from Lithuania

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Egypt
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@gadispurnama
Nyeri hate sih
Jujur, yang paling membuat kecewa bukan karena dibandingkan, tapi karena selama ini ternyata dianggap saingan.
🙄
Silent struggle itu nyata
Haha
This is so basic
Saat kamu merendahkan seseorang, kamu tidak sedang menunjukkan nilai orang lain, tetapi sedang menunjukkan nilaimu.
Keseringan, yang aku sesali dari banyak berbicara adalah, rasa takut untuk dipahami. Aku tidak bersedia jika orang lain semakin melihat betapa aku begitu kecil, rapuh dan tak ada apa-apanya.
Luka-luka itu sejak awal milikku seorang, jadi tak perlu ada yang melihat kedalamannya.
Saring traumamu. Jangan Jadikan Standar Menilai Dunia
Penafian: aku pernah bilang padamu, tidak semua tulisan untuk semua orang. Kenali level luka dan medan emosionalmu. Jika tidak sesuai, berpindahlah ke tulisan lain yang mungkin lebih bisa memelukmu.
Di antara luka-luka yang tidak pernah kita minta, tumbuh semacam keyakinan bahwa dunia ini tidak lagi netral.
Kita menatap orang lain seakan-akan mereka menyimpan motif tersembunyi yang akan merusak kita. Kita mencium niat busuk bahkan dari tangan yang menawarkan roti. Karena pengalaman mengajarkan bahwa kasih bisa menjelma jebakan, dan janji bisa menjadi preambul dari penindasan.
Tetapi, apakah adil jika kita mengangkat trauma sebagai tongkat pengukur seluruh umat manusia?
Trauma adalah bekas luka dari percakapan yang tidak selesai. Ia membentuk pola pikir, cara menakar bahaya, dan memilih siapa yang boleh mendekat. Tetapi, tidak semua orang datang untuk menusuk. Beberapa hanya ingin duduk di sebelah kita, tanpa kata-kata, dengan mata yang jujur dan tangan kosong. Dan kita, karena terbiasa membaca dunia dengan skenario perang, menolak mereka masuk. Kita menjadikan trauma sebagai algoritma utama: jika dia begini, maka dia pasti akan begitu. Jika mereka memakai kata “sayang”, maka mereka pasti akan pergi. Jika dunia terlihat cerah, maka badai pasti di depan mata. Begitu seterusnya.
Trauma yang tidak disaring akan menjelma menjadi ideologi. Ia memberi kita rasa kuasa untuk menilai sebelum mengenal, membenci sebelum disentuh. Ia membuat kita merasa benar karena kita pernah salah. Membuat kita merasa bijak karena kita pernah disakiti. Tapi itu bukan kebijaksanaan. Itu adalah mekanisme bertahan hidup yang belum sempat dipertanyakan. Kita hidup dari luka, dan diam-diam membangun kekuasaan moral darinya.
Seorang penulis pernah menggugat kepalsuan dalam konsep ‘kesucian’. Menolak menjadikan perempuan sebagai lambang penderitaan suci yang pasif. Ia menulis perempuan bukan sebagai luka yang harus dikenang, tapi sebagai tubuh yang berpikir—penuh hasrat, logika, dan pilihan. Itu mengingatkanku bahwa kita tak harus terus-menerus hidup dari luka.
Kalau aku boleh menambahkan: kita boleh pernah disakiti, kita boleh membawa luka, tetapi jangan membuatnya menjadi dalih untuk menyalahkan dunia yang belum kita kenal. Jangan jadikan luka sebagai lensa satu-satunya. Dunia mungkin tidak didesain untuk mengobati kita. Tapi dunia menyediakan kemungkinan untuk sembuh, jika kita mau menenun luka itu dengan benang yang baru
Saring trauma itu, bukan untuk menghapusnya, tapi untuk memastikan ia tidak memutuskan semua jalur komunikasi. Dunia tidak akan mengecil demi luka kita. Tetapi kita bisa membesarkan jiwa kita agar tak merasa sesak di dalamnya.
Jangan jadikan trauma sebagai satu-satunya tafsir. Karena jika hidup hanya dibaca lewat trauma, maka harapan akan selalu tampak seperti ilusi.
Kugenggam satu tanya yang tak henti kuulang.
Dendam yang kita balaskan hari ini, akan membawa kita sampai ke titik yang mana?
Apakah sungguh kita akan tiba di titik lega yang kita harapkan?
Dendam itu memabukkan. Ia janji palsu yang menawarkan kelegaan, padahal hanya menuntun kita pada labirin emosi baru—amarah lain, luka lain, dan kadang penyesalan yang tak punya pintu keluar.
Lalu, apa gunanya menang kalau damai tak ikut pulang?
Pasrah.
Menerima segala yang sudah terjadi. Menerima takdir bahwa memang betul tidak semua orang akan berpihak pada kita. Sekalipun orang itu yang seharusnya menjadi orang terdekat, nyatanya orang itulah yang sangat melukai.
Sudah. Sudah menerima kok. Kalau memang di dunia ini. Ada dia yang begitu sibuk "memikirkan" bagaimana aku. Haaaaha
Mungkin ini jawabannya...
Rasa dimana hanya mengikuti alurnya. Tidak mengikuti hati senang atau tidak senang lagi.
Walau pun nyatanya...
Dari setiap hal yang terjadi hari ini, masih banyak sakit yang bersembunyi dibalik senyuman.
Hari ini
Hanya belajar ikhlas menerima segala yang sudah terjadi. Hanya belajar untuk bisa menghadapi dunia dengan hati yang lebih baik.
😭
Benar yaaa... orang yang paling menusuk adalah orang yang paling dekat dengan kita.
"Padahal mah sami ti kalangan biasa da"
seolah apa yang kita lakukan dan kita dapatkan itu tidak pntas untuk kita. Merasa sangat direndahkan oleh orang yang tidak mau tersaingi oleh kita. Dan emg iya.
Tetap menjadi orang yang ga perlu cerita ini itu, biarkan mereka merayakan setiap apa yang ingin mereka rayakan tanpa memperdulikan perasaan kita.
Emang alusna mah teu kudu nganggap sasaha kanu kitu mah. Masing-masing.
Kalau lagi cape tuh kadang suka mikir pengen balik lagi ke masa sebelumnya. Tapi dipikir-pikir bisa sampe saat ini tuh penuh perjuangan yang berdarah-darah.
Tapi rasanya cape banget. Ingin istirahat. 🙃