yang tak pernah selesai aku baca; kamu
Cosimo Galluzzi
TVSTRANGERTHINGS
will byers stan first human second
macklin celebrini has autism
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

titsay
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Cosmic Funnies

Janaina Medeiros

No title available
KIROKAZE
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

ellievsbear

Discoholic 🪩
art blog(derogatory)

Love Begins
Xuebing Du

oozey mess

blake kathryn

No title available

seen from United States
seen from France
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from Venezuela

seen from Germany
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States
seen from Estonia

seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Poland
seen from United States
seen from Türkiye
@gelangkaret
yang tak pernah selesai aku baca; kamu
IMAN
Seorang profesor yang Atheis berbicara dalam sebuah kelas fisika. Profesor: “Apakah Allah menciptakan segala yang ada?” Para mahasiswa: “Betul! Dia pencipta segalanya.” Profesor: “Jika Allah menciptakan segalanya, berarti Allah juga menciptakan kejahatan.” (Semua terdiam dan agak kesulitan menjawab hipotesis profesor itu).
Tiba-tiba suara seorang mahasiswa memecah kesunyian. Mahasiswa: “Prof! Saya ingin bertanya. Apakah dingin itu ada?” Profesor: “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.” Mahasiswa: “Prof! Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin sebenarnya adalah ketiadaan panas. Suhu -460 derajat Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam. Tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata ‘dingin’ untuk mengungkapkan ketiadaan panas. Selanjutnya! Apakah gelap itu ada?” Profesor: “Tentu saja ada!” Mahasiswa: “Anda salah lagi Prof! Gelap juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tiada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari. Sedangkan gelap tidak bisa. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna. Tapi! Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensitas cahaya di ruangan itu. Kata ‘gelap’ dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya. Jadi! Apakah kejahatan, kemaksiatan itu ada?” Profesor mulai bimbang tapi menjawab juga: “Tentu saja ada.” Mahasiswa: “Sekali lagi anda salah Prof! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan atau kemaksiatan. Seperti dingin dan gelap juga. Kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan Allah dalam dirinya. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dalam hati manusia.”
Profesor terpaku dan terdiam! Dosa terjadi karena manusia lupa menghadirkan Allah dalam hatinya..
Hadirkan Allah dalam hati kita setiap saat, maka akan selamatlah kita.. Itulah IMAN..
SESUNGGUHNYA DOSA ITU LAHIR SAAT IMAN TIDAK HADIR DALAM HATI
Emang Kamu Nikah Buat Senang-Senang Doank?
Nikah kok ngajak susah? Maaf akhi, ayah dan bunda ana berjuang mati-matian untuk membuat anaknya bahagia. Lalu kamu datang meminang hanya untuk ngajak susah? Belajar lagi akhi, belajar untuk menghargai keringat orang tua yang membesarkan anaknya. Tapi lain halnya kau mengajak berjuang, ada tujuan perjuangan tersebut. Maka denga izin Allah akan ana meridhoinya.
Speecheless juga baca ending tulisan ini.
Agaknya paradigma ini perlu diluruskan. Jika mau menelisik perkataan; “Ukhti maukah saya ajak susah jika ukhti menjadi istri saya kelak?” Sebenarnya itu bukanlah ajakan secara langsung untuk ngajak hidup susah, melainkan tantangan kepada seorang calon istri; apa dia siap sekiranya datang masa susah saat bersama suami? Apa dia masih tetap setia menjadi pendamping saat kondisi terpuruk?
Coba tanyakan pada setiap lelaki di dunia ini, apakah mereka rela mengajak orang yang mereka cintai dalam keadaan susah?
Jika kamu seorang istri, tanyakan pada suamimu; apakah dia mengajakmu untuk hidup menderita?
Jika kamu seorang anak, tanyakan pada ayahmu; apa dia mengajak ibumu untuk hidup sengsara?
Duhai istri, lihatlah tetesan keringat yang terjatuh dari dahi suamimu; pergi pagi, pulang petang. Itu untuk kebahagiaanmu.
Dan kamu, sebagai anak … coba lihat rauh wajah ayahmu yang sudah mulai menua. Lalu raba tangannya. Apa kau masih mengira umur yang dia habiskan untuk ibumu adalah warsa-warsa lara?
Tidak ada seorang lelaki pun yang rela untuk mengajak istrinya dalam kesusahan. Melainkan ia akan berusaha menghilangkan kesusahan itu.
Tapi, apakah kamu mengira menikah itu kesenangan belaka?
Apa kamu mengira pernikahan itu seperti di film-film? Penuh romantisme. Indah nian menatap purnama bersama sang pujaan hati.
Saya tidak menampik pentingnya materi dalam bahtera rumah tangga. Tapi itu bukanlah jaminan bahwa hidupmu akan senang. Itu bukanlah jaminan kamu akan terbebas dari hidup susah. Berapa banyak orang kaya yang tak bisa menikmati rumah tangganya.
Atau, dalam perkara jabatan? Apakah itu bisa menjamin dari terbebas hidup susah? Berapa banyak orang-orang yang memiliki jabatan tinggi, tapi biduk rumah tangganya karam.
Bahkan popularitas, itu tidak mampu menjamin hidupmu akan baik-baik saja. Akan senang-senang saja.
Salah satu hal yang paling penting dalam pernikahan adalah kesiapan mental. Percuma banyak harta, jabatan tinggi, memiliki popularitas, tapi tak memiliki mental untuk menjadi suami atau istri.
Lelaki yang bertanya kepada wanita dengan pertanyaan; ”Siap hidup susah nggak, nanti?” Bukan ajakan untuk hidup susah. Melainkan untuk mengetahui, apa si wanita sudah siap mentalnya jika masuk ke dalam zona itu.
Kamu pasti paham tentang pasang surut kehidupan. Tentu saja kamu dan suamimu merencanakan hal-hal yang indah setelah menikah. Tapi jangan lupa, Dia sang pembuat rencana berhak atas segalanya. Termasuk mengubah rencanamu.
Ngajak hidup susah itu bukan syarat, melainkan seorang lelaki tahu bagaimana kedudukannya dalam rumah tangga. Ibarat medan perang, seorang panglima yang menghadapi masa kritis dengan pasukannya akan berusaha sekuat mungkin agar mereka bisa keluar dari zona itu. Dan tentu saja, itu tak bisa dilakukan oleh sang panglima seorang diri. Melainkan perlu peran pasukan untuk bahu membahu agar tujuan itu tercapai.
Begitulah yang diinginkan suami; jika nanti “kita” dalam keadaan susah, apa kamu siap tetap berada di sampingku? Apa kamu masih setia menemani perjalananku? Menjadi bahu tempat bersandar. Menjadi kemudi, agar tak hilang arah.
Saya sendiri pernah berkata kepada calon istri saat akan menikah; ”Apa kamu siap menderita? Saya seorang mahasiswa, dan saya masih belum bekerja (ketika itu masih pengangguran). Jika kamu siap, kita langsungkan pernikahan ini. Jika tidak, silahkan berpikir ulang.”
Saat itu dia menjawab; ”Saya siap memulai dari nol.”
Menikah itu mudah; tapi kehidupan setelahnya yang perlu diperjuangkan.
Menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati. Bukan hanya menyatukan dua pemikiran. Tapi menyatukan dua buah keluarga. Menyatukan adat, budaya dari masing-masing pihak. Menyatukan selera, se-iya, se-kata, satu dalam harmoni. Mendayung bersama dalam biduk rumah tangga.
Menikah itu menyelaraskan visi dan misi. Agar satu tapak. Agar satu langkah. Agar satu jalan. Semusim dalam balutan senyum. Se-payung dalam gerimis lara. Dan senampan dalam pesona surga.
Surabaya, 09:53 WIB 22 07 17
Se-payung dalam gerimis lara. Senampan dalam pesona surga. Bacanya bikin adem. 😊
rinduku lesap diantara doa-doa malam dan gigilnya embun pagi
al
Suatu hari nanti
Suatu hari nanti akan ada lelaki yang datang menawarkan kebersamaan dalam ikatan, hingga membuatmu berhenti dari semua mimpi dan angan angan tinggi yang berusaha kamu raih sendirian. Dan dengan senang hati menyusun segala cita cita dan harapan yang berdua akan mewujudkan.
Suatu hari nanti akan ada lelaki yang datang dan mantap mengajakmu berjalan, bukan sebagai permainan melainkan keseriusan. Hingga hatimu tak akan pernah bisa berkata tidak pada kelembutan dan kebaikannya yang kamu tahu tidak hanya untuk manis pada awalnya.
Suatu hari nanti akan ada lelaki yang dengan kejujurannya, mengajakmu beribadah dalam cinta kepada pencipta, utuh bersama sama. Hingga tidak ada lagi tangisan sepertiga malam sendirian, dan doa duha tanpa teman.
Suatu hari nanti akan ada lelaki yang tak melihatmu dari fisikmu, yang mengagumimu dari hati dan mencintaimu sebagaimana dirimu tanpa perlu kau tebali balutan makeupmu.
Suatu hari nanti akan ada lelaki yang menerima segala sifatmu, baik dan burukmu, kurang dan lebihmu, masa lalu mu dan masa depanmu. Yang akan berbagi susah senang bersamamu, tanpa pernah ragu menjadi sandaranmu.
Suatu hari nanti akan ada lelaki yang dengan sopan mengetuk pintu rumahmu, bertemu dengan orang tuamu, meminangmu dengan cara yang baik tanpa ragu. Hingga Allah bukakan pintu hatimu, menerimanya sebagai imammu…
Suatu hari nanti…
Tuhan mempertemukan kita lebih cepat dari apa yang kita rencanakan.
Seperti itulah cara Tuhan memberikan kejutan_
Jabatan Cuci Tangan
al-fatihah untuk hati yang terluka
Kak titip salam boleh Lusi bisa Ndak? Salam tabokable 😂
Wah.. @duatigadesember kamu minta ditabok ya 😝
belakangan, aku banyak nerima pesan rindu. tak apa jika belum bisa meramu temu, setidaknya kita tahu ada rindu yang sama di hati masing-masing.
berdoa saja, semoga Tuhan mencipta jumpa untuk kita__
Aku pulang pada hatiku sendiri. Mengunci pintu lalu tidur
Sepagi tadi kubiarkan diri terancam oleh pesakitan yang kau kirimkan. Aku penasaran pesakitan macam apa lagi yang kau ingin aku rasakan? Apakah ada salahku (lagi)? sementara, selama perpisahan yang tercipta, aku hanya diam tak mengusikmu sama sekali.
gelangkaret
Getih
Kembang kameumeut anjeun, katurihan cucuk tina sagagang asih nu tuna. Nu teu apal kumaha mungkasna. Boa anjeun jadi ngéwa. Gusti, tuduhkeun ka mana jalan nu pangsimpéna.
Ada Dalam Pelukan,
Ada lembaran kertas yang belum terisi. Ada beberapa perasaan yang tak mampu menembus diksi.
Ada beberapa kesempatan yang belum sempat termanfaatkan. Ada sedikit kenangan tercipta sore tadi, dan kebahagiaan datang semenjak pagi menyapa.
Ada sesuatu yang berharap bisa menjadi sesuatu yang lain.
Mungkin semua akan terjawab malam ini, saat aku menunggu di depan pintu rumahmu. Beberapa terkaan mungkin bisa membantu, meski masih samar terbaca. Aku berharap kau menyapaku, sebentar saja.
@badutcerdas
Ada degup yang tak terkendali
Ada sapa yang urung terutarakan
Ada cemas yang menggelayut di perasaan
Ada sejumlah semoga yang kupanjatkan
Mungkin tak terbaca olehmu, bahwa
Ada rengkuh yang sedia menyambut
Malam ini, ketuklah pintu-pintu langit
dan datanglah dengan sebuah restu
Malam(hai kamu).. Bisakah kau melihat bintang ?.. Dan nikmati setiap kelip manja cahayanya.. Aku ingin bersua, hanya saja ku tak bisa.. Keluarlah sejenak, mari kita nikmati malam ini bersama.. Meski dalam ruang yang berbeda.. Tapi kita masih disuguhkan malam dan rasi bintang yang sama, bukan.. Jika kau dengar, semoga kau mengetahuinya.. Bahwa; rinduku sedang menyapa lewat kelip bintang bermain-mata..
(via kumisssssss)
Sayang, kau tahu? pada ruang yang berbeda, langit tak selalu sama. Terkadang angkasamu penuh berbintang, sementara langitku mendung dan turun hujan. Tapi, sayang, perlu kau tahu rindu bisa menyelinap lewat apa saja. Kau kirim melalui bintang sebagai perantaranya, sedang aku menerimananya dari pelukan hujan. Tak perlu risau, sayang, bagaimanapun kau mengirimkannya, semesta selalu menyampaikan rindumu dengan cara yang manis_
mumpung belum terlalu siang, ada sedikit yang ingin ku ucap perihal pergiku. Kali ini aku pergi dengan sesungguh-sungguhnya pergi, menentukan arah baru dan menutup semua jalur yang menujumu.
Seandainya nanti kamu sedikit mengingatku, atau bahkan tak sengaja merindukanku (meskipun aku tak yakin), kau boleh mengunjungiku, di hatimu paling palung yang tak pernah kau jamah. Mungkin sudah berkarat. Entah jika sudah lapuk menyublim.
Terima Kasih Telah Mematahkan Hatiku.
Karena kau, aku lebih paham apa artinya nyeri. Terlebih karena aku menjalaninya sendiri.
-
Kepada yang sudah menjadi asing dan entah. Terima kasih karena pernah singgah. Datang sekadar mengenalkan apa artinya indah. Meski lalu pergi. Kemudian hanya menyisakan nyeri.
Kepada yang sudah menjadi masa lalu. Terima kasih karena pernah menjanjikan masa depan. Setidaknya aku belajar kecewa. Lalu kemudian, bersiap-siap patah sampai dasar terendah.
Kepada yang sudah membuat patah. Terima kasih telah memberi kesempatan hatiku runtuh sampai tak bersisa. Sepertinya, dunia ini sekejap hitam, lalu berangsur abu-abu. Lalu aku harus berjuang sendiri, mencari warna untuk masa depanku nanti.
Kepada kau, yang mungkin nanti membaca ini. Terima kasih telah memberiku alasan untuk membuka diri. Menuliskan semua luka lalu berniat menyembuhkannya.
-
“Kau tahu, bahwa pada satu titik dalam hidupmu, hati perlu untuk patah. Untuk tahu apa arti berjuang menuju tidak menyerah. Untuk menemukan ia yang bersedia berjalan searah.
Kelak nanti, ia yang seharusnya bersamamu, harus mendapatkan seorang yang mencintai dirinya sendiri. Meski hatinya pernah merasa patah. Meski pernah merasa dunia ini tak pernah memihaknya.”
-
© Tia Setiawati | Tangerang, 22 Agustus 2017