Bom waktu
Begitu banyak tanya yang ada di kepala semakin ingin ku cari tau jawabannya semakin sakit terasa diam, sesak mencari tau jawabnya juga sesak Ah ini seperti jalan buntu aku seperti bom waktu
cherry valley forever
Xuebing Du

shark vs the universe
taylor price
Alisa U Zemlji Chuda

roma★
No title available
trying on a metaphor
One Nice Bug Per Day
Sade Olutola
todays bird

oozey mess
Claire Keane
occasionally subtle
Cosimo Galluzzi
wallacepolsom
will byers stan first human second
DEAR READER
KIROKAZE

Origami Around
seen from United States

seen from Germany

seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States
seen from Paraguay
seen from Brazil

seen from United States
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from Paraguay
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Italy

seen from Peru
seen from United States
@indirafier
Bom waktu
Begitu banyak tanya yang ada di kepala semakin ingin ku cari tau jawabannya semakin sakit terasa diam, sesak mencari tau jawabnya juga sesak Ah ini seperti jalan buntu aku seperti bom waktu
aku seperti sedang berdiri di kawat berduri entah ingin berjalan lanjut atau kuputuskan berhenti bergerak diam, ternyata tidak sepenuhnya tak bergerak karna jatuh tentu bukan pilihan. aku memang bukan sedang dalam bayangan tapi rasa sesaknya tentu tidak ada jalan keluar membiarkan semua, karena akan terus menerus sama saja menggerogoti kertas yang sering di sebut kepercayaan aku ingin lari tapi tak kutemukan lagi tujuan pasti menetap tapi semakin menyakiti diriku sendiri toh kamu dengan alasan, sudah menjadi satu kesatuan yang nyatanya akan kutelan bulat bulat ingin berteriak, tapi pita suaraku enggan bergetar mengeluarkan kata pun tak bisa kulakukan sekali lagi hanya aku yang tertinggal dengan tanda tanya yang jawabannya tak pernah kutemukan kejujuran…
Kertas putih yang kujaga itu nyatanya sekarang tak kutemukan lagi dimana
Sejak punya anak, duniaku ya tentang anakku. Aku seperti berjalan di dunia yang bukan milikku. Aku gak boleh komplain, ga boleh menjuh, bahkan gak boleh ga peduli. Karena cuma aku yang akan di salahin atas semua yg ga bener tentang anakku.
Kesepian…
Berasa sendiri…
Aku merasa tidak punya tempat untuk sekedar merasa lelah. Atau sekedar berkata sudah.
Interaksi dengan seusia jarang, jadi berasa bego sendiri.
Ga PD ketemu orang, ga lagi merasa mampu atas diri..
Kapan ya bisa terlewati.
Gak mau mikir muluk muluk.
Yang kejadian 2 menit setelah nulis ini aja aku ga tau
"Lelah itu biasa, kecewa itu wajar. Namun, percayalah dalam pernikahan bukan tentang seberapa kali engkau lelah dan kecewa, melainkan tentang seberapa lama dan kuat engkau bertahan."
Kata Orang...
“Wah enak yaa kerja nya bareng suami” / “lhoo terus pendidikan nya untuk apa kalo skrg kerjanya ini...” / “ga sayang sekolahnya?”
Wowwww... rasanya kalo dengerin omongan orang itu ga akan ada habisnya. Kadang kalo lagi ngerasa kurang iman atau mau kedatangan tamu bulanan, perasaan insecure selalu ada... takut menjadi beban orang lain, takut malu maluin keluarga, takut ayah ibu tidak bangga..
Tapi...
Dapet omongan dari suami, “bersyukur.. mungkin ini jalan hidup kita yang Allah pilihkan. Bersyukur masih diberikan pekerjaan..”
Langsung seketika lemes... berapa banyak waktu yg harusnya aku lewati dengan bersyukur, malah banyak insecure 😭
Kasih ibu sepanjang masa...
Sekali lagi benar adanya. Tidak ada yang lebih melegakan dan mengharukan, selain melihat anak kita tidur terlelap dalam pelukan.
Nak... jangan cepet cepet besar ya. Bunda masih mau terus peluk pelukan sama sama
Terimakasih Indira.
Karna sudah bangun pagi dan langsung ke dapur biar anak suami tidak kelaparan.
Terimakasih indira.
Karna sudah ngucek nyuci baju padahal sebelumnya tidak pernah melakukan.
Terimakasih indira.
Karna terus mau berusaha. Walaupun berkali kali menangis seperti tak sanggup.
Terimakasih....
Diriku sendiri
Menyayangi diri sendiri
Sepertinya aku sudah lupa bagaimana caranya menyayangi diri sendiri. Padahal sudah tau teori bahwa tidak bisa kita menyayangi orang lain tanpa terlebih dahulu menyayangi diri sendiri.
Yaaa begitulah. Menikah, hamil, melahirkan dan dengan semua dilema dan dramanya terkadang seperti ombak yang menerjang batu karang. Merubah bentuknya dikikis sedikit demi sedikit. Mungkin sekarang aku sudah seperti batu karang yang bahkan tidak tau seperti apa rupaku semula.
Berat badan yang naik, hormonal yang tidak menentu, rutinitas yang berbeda sekali dengan dulu, agaknya tidak hanya membuatku sibuk tak menentu. Tapi seakan mengikis cinta pada diriku.
Aku tau, aku harus mencintai diriku, aku tau jalannya. Tapi tidak punya daya untuk melakukannya. Terlalu takut melangkah. Terlalu tidak terbiasa dengannya.
Haaahh... krisis identitas.
Dilema ibu muda
Nggak PD sama keadaan...
Nggak tau deh sampai kapan.😂
- b e r s e n y a w a -
Setiap manusia mendapatkan kesempatan yang sama untuk terlahir di dunia, mencoba dan berusaha, bahkan memilih untuk ingin memiliki dan dimiliki, tentu semuanya membutuhkan perjuangan meskipun akan tetap ada beberapa hal yang sepenuhnya tak diraih walau sudah diupayakan
Itulaha cara Tuhan memperhatikan kita agar manusia senantiasa betikhtiar
Sepertihalnya juga kita yang selalu diberi kesempatan untuk memilih ingin mengisi hidup kita bersama orang yang seperti apa; Yang menenangkan atau yang mencemaskan ?
Seberapa pun kuat angin menghembus ke arah pantai, tentu ia tak akan mampu membawa isi lautan ke daratan kecuali atas izinNya, begitu juga sekuat apa rasa aku ingin memilikimu, tentu semu tak akan terlegakan, kecuali bila prosesnya telah diiringi dengan campur tangan Tuhan, buahnya adalah ketenangan bila benar telah diridhoiNya
Ingatlah bahwa usaha apapun seyogianya diniatkan dengan niat yang baik, terlebih bila disertakan untuk ibadah, karena jika demikian, hal yang mubah-pun akan menjadi sunnah bila di-ibadah-kan. Hanya untukNya, karenaNya, padaNya.
Bila nanti aku hidup yang setelah ini dengan adanya kita, Aku tak hanya ingin terlahir kembali hanya menjadi diriku. Namun sebagai sosok yang lebih mencintai keberduaan, bukan diriku satu ataupun hanya dirimu sendiri
Karena kamu adalah rumah dari sepanjang perjalananku pada Tuhan selama ini, akhir dari dua puluh tiga tahunmu dari sekian penantian yang mungkin tak disadari
Hingga kelak pada perjalanan perjalanan berikutnya setiapku ingin pulang, itu hanya akan selalu tertuju pada pelukmu
Karenamu aku slalu ingin menjadi orang paling pertama yang menjagamu dari kecemasan dan rasa kekhawatiran menjauhkan rasa kebimbangan
Selagi Tuhan selalu kau tempatkan pada titik hati, tentu tak akan ada rasa bimbang yang mendekati, karena tuhan selalu maha imbang dan juga pasti,
Jika Ia ingin maka tanpa sedikitpun pertimbangan; karena janji Tuhan itu pasti terjadi
Dengan sepanjang usiamu yang kudoakan keberkahannya, pada akhirnya hanya Dialah penentu dari kebahagiaan seutuhnya
Utuk ke-DuaPuluhEmpat tahunmu yang akan #bersenyawa denganku. -and-
Aku adalah pelangi di tengah gaduh gemuruh badai yang menghampiri, Itu katamu.
Aku adalah rintik hujan di tengah gersang padang panjang perjalanan, itu katamu.
Aku adalah gemericik suara aliran air dari mata air paling murni, itu katamu.
Aku adalah teduh rindang pohon ditengah savana terik, itu katamu.
Aku dan segala katamu, akan kah tetap begitu?
Nyatanya...
Menikah bukan lah hal yang mudah, pantas saja jika buku cerita putri putri yang aku baca hanya berakhirkan dengan kebahagiaan di hari pernikahan.
Aku baru tahu sekarang alasannya kenapa...
Karena selepas hari pernikahan, itu layaknya sebuah kertas putih kosong yang kita lukis sendiri isinya. Bisa bahagia, bisa sedih, yang jelas ujungnya kita yang tentukan sendiri.
Happy ending bukan lah hari pernikahan, justru hari pernikahan itu adalah gerbang pembuka perjalanan.
Mau dibawa kemana selanjutnya arah, cuma kita yang bisa tentukan.
“Ketidakbahagiaan kita saat ini mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk bersyukur atas hal-hal yang bisa dengan mudah kita dapatkan”
— Kurniawan Gunadi
Jaga malam,
Takut sendirian di kamar jaga.
Telfon suami.
Suaranya masih sama.
Cara menenangkan yang sama.
Kata kata yang sama.
Aaaahhh... memang tidak ada yang berubah sebelum dan sesudah menikah.
Ia selalu meneduhkan
Jalan saja.. Jika memang satu tujuan pasti akan bertemu tanpa perlu ragu.
Aku tak akan pernah menyesal telah memilihmu hingga untuk memilikimu, yang aku takutkan dari penyesalan adalah jika aku tak mampu mensyukuri sepenuhnya dari kasih sayang yang kau berikan padaku.
231018
"Allah tuh ngasih lebih dari yang kamu harapin."
Sekarang bener bener tau maksud kalimat itu.. duluu ekspektasi Ramadhan setelah menikah adalah puasa dan ibadah berdua sama pacar halal. Eeehhh ternyata sekarang malah puasanya bertiga.
Bareng sama dedek di perut.
Alhamdulillah... Allah Maha Baik. Sangat baik. Teramat baik.
Mengeluh yang tertunda
Perut membesar, kadar hormon yang tidak lagi sama. Metabolisme tubuh yang berbeda. Mual, muntah, begah, jerawat. Banyak sekali yang tiba tiba ada.
Kadang merasa...
Ya Allah kok gini banget..
Sebelum terucap sudah Allah ingatkan lewat orang orang sekitar.
"Sabar yaaa. Di nikmati. Kan adek bayinya lagi berkembang. Mual muntah tanda dia makin besar."
"Sabar... setiap yang ada di ibu hamil itu ladang pahala.."
Sekali lagi malu. Karena belum pandai bersyukur, malah semakin kufur. Astagfirullah..