Tentang langit, awan, bulan, hujan, kucing, senjata, dan lainnya. Sebuah tumblog sederhana tempat pelarian saya dari kenyataan yang kian gila. Selebihnya, lihat di laman "The Author" atau kunjungi askbox saya. Either enjoy your stay or escape while you...
Saya (berusaha untuk) memiliki keyakinan baik bahwa semuanya, di Nusantara ini, mencintai tanah airnya. Sayang, universalitas cinta tidak terletak pada wujudnya. Hal ini diperparah dengan kita yang masih hobi meruncingkan perbedaan ketimbang mencari titik temu dari ini dan itu yang berbeda-beda. Nampaknya memang, mengambil faedah dan nilai-nilai kebermanfaatan dari perbedaan yang ada merupakan pekerjaan berat.
Seperti halnya berpikir. Bahkan berpikir untuk diri sendiri saja kadang kita sudah kelimpungan, ya toh?
Mungkin, sebagai bangsa, kita masih (harus) belajar Bab Bhinneka. Masih belum lulus, belum nyampe KKM. Masih jauh untuk sampai Bab Tunggal Ika.
Dan sebagai anggota masyarakat, masing-masing dari kita masih harus belajar mengenali mana yang hak, mana yang kewajiban, dan yang mana yang harus didahulukan. Kita masih harus belajar untuk berpikir “apa yang bisa saya sumbangkan bagi masyarakat” ketimbang melulu berkutat di “apa yang masyarakat berikan untuk saya”.
Maafkan kami, ya, Bu, anak-anakmu ini yang masih ndablek dan sering kisruh meributkan mulai dari persoalan perut kami masing-masing sampai rebutan kursi Bapak.
Kata guru saya, cari sekolah bagus itu gampang, tapi cari berkah itu susah banget.
Zaman sekarang, sekolah bagus fasilitas lengkap lulusan banyak yang tembus ke PTN ternama mah pabalatak. Tapi, yang saya yakini dan alami sendiri, hakekat belajar tidak terletak tempat dan berbatas hanya pada sepuluh-duapuluh instruksi menteri yang terjabarkan dalam dokumen-dokumen kurikulum.
Keberkahan ilmu dan belajar terletak pada pemahaman kita atas ilmu itu sendiri, dan pada sikap hormat pada ilmu beserta seluruh ahli ilmunya (guru, buku-buku, fasilitas pendukung, teman belajar, dan seluruh elemen yang terkait). Saya bersyukur bisa bergabung untuk belajar lagi tentang belajar dan pendidikan itu sendiri sebagai keluarga SMA Islam Terpadu Miftahul Khoir. Saya merasa jadi bodoh, makin sadar bahwa ilmu yang dititipkan pada saya selama ini sungguh belum ada apa-apanya, karenanya makin semangat saya ingin belajar terus tentang pendidikan.
Kesempatan pendaftaran masih terbuka. Cek IG @smaitmiftahulkhoir untuk info lebih lengkapnya.
Dek, orang (mungkin) bisa paham apa yang kamu katakan. Tapi, orang cuma bakal percaya sama apa yang mereka lihat.
"Don't judge a book by its cover"
but
"First impression matters"
because
"Seeing is believing"
Dek, kamu bisa bilang kamu merasa dunia menjauhi kamu, dunia tidak adil sama kamu, dunia mengucilkan kamu. Tapi, secara alami, orang-orang juga bakal segan mendekati orang yang dari awal sudah memandang buruk sekelilingnya, yang merasa selalu terancam ketika didekati oleh yang tidak sejenis-sepemikiran-seperbuatan.
Dek, kamu bisa bilang bahwa mereka, orang-orang itu yang menjauhi kamu, tidak bisa memahami kamu. Kamu bisa bilang mereka terlalu kuno untuk dunia yang baru, untuk mengerti dan memahami jalan hidup serta cara berpikirmu. Kamu bisa bilang pemikiran mereka terlalu sederhana dan sudah harus diganti sesuai perkembangan zaman.
Soal itu, kamu bisa jadi benar, Dek. Tapi, bagi mereka yang (menurutmu) sudah zadul dan tidak kompeten dalam menyelaraskan diri pada perubahan, hal-hal baru yang biasa kamu banggakan itu bagi mereka adalah barang yang sama sekali asing. Dan, mereka melihat hal asing itu disampaikan kepada mereka dalam bentuk komunikasi yang, maaf, kurang santun dan etis.
Dek, kamu bisa bilang bahwa hidup kamu sangat berat, jauh lebih berat ketimbang masalah hidup orang-orang lain (yang kamu tahu). Tapi, mungkin kamu lupa, Dek, makanya saya coba mengingatkan kembali (kalau kamu berkenan, sih). Bukan cuma kamu yang rumah tangga orang tuanya retak. Bukan cuma kamu yang punya kakak/adik yang "dzalim", yang menurutnya (dan menurutmu juga) cuma menyusahkan dan tidak lebih peduli pada keluarga ketimbang kamu (itu pun kalau kamu rasa memang perlu peduli pada kelurga yang sudah berantkan).
Bukan cuma kamu yang punya masalah keuangan, yang sadar bahwa kemampuan finansialnya sangat terbatas tapi tidak bisa mengontrol keinginannya untuk membeli barang-barang kesukaan. Bukan cuma kamu, Dek, yang membenci sekolah karena, entah mungkin, gurunya, "teman-teman" sekelasnya, atau pelajarannya yang menurutmu menambah beban hidup dari keluarga yang sudah berat. Bukan cuma kamu yang paling merana karena putus cinta (kalau memang kamu benar-benar paham apa itu cinta) atau ditikung teman atau sesak oleh perasaan yang tak bisa diungkapkan.
Dek, kamu bisa bilang, apa yang kamu alami selama ini menjadikan kamu dengan sikap kamu yang sekarang, yang (mungkin) banyak ditentang dan membuat kamu bekali-kali dipanggil orang tua atau guru untuk dinasehati. Tapi, beberapa dari mereka yang nasibnya mirip denganmu (kecuali kamu memang masih merasa nasibmu paling buruk ketimbang 7 miliar manusia di muka bumi) lebih memilih jalan yang lebih sulit yakni meneguhkan hati menguatkan diri dan memperbaiki sikap hingga pada akhirnya badai hidup mereka berlalu; dan mereka lantas hadir sebagai pribadi baru yang lebih tangguh.
Mereka tidak menjadikan latar belakang mereka yang naas itu, sepertimu, sebagai alasan untuk bertindak merugikan diri sendiri apalagi orang lain. Benar, sebagian yang lainnya lebih memilih jalan lebih mudah untuk bersikap seakan-akan hidup mereka sungguh merana dan menganggap apa yang dialami orang lain, termasuk kamu, tidak ada apa-apanya. Lantas, kalau kamu pun seperti itu, apa bedanya kamu dengan mereka yang merendahkan kamu dengan sikap yang tidak mengenakkan?
Dek, kamu bisa bilang, sikap kamu sekarang itu adalah respon alami atas apa-apa yang sudah kamu lalui, sesuai dengan teori psikologi (atau sains lainnya) yang kamu baca di artikel-artikel yang dibagikan di timeline sosmed atau web lainnya yang biasa kamu kunjungi. Kamu bisa bilang, sains (yang pelajaran-pelajarannya di sekolah itu paling kamu hindari) menjawab semua permasalahan. Kamu bisa bilang, standar moral yang diajarkan agama (apapun itu) ketinggalan zaman, dan orang-orang yang mengikutinya secara buta tanpa pengetahuan dasar adalah yang mereka yang hanya terbawa emosi, adalah mereka yang hanya sesekali mencuplik sebagian fakta saintifik yang hanya sesuai dengan keperluan pribadi mereka.
Tapi, Dek, apa kamu sendiri sudah baca secara lengkap artikel-artikel saintifik yang isinya justru bertentangan apa yang kamu pahami dan percaya sebagai kebenaran selama ini? Sains mengajarkan untuk berpikir objektif, kan? Sains mengajarkan untuk belajar dan melihat berbagai sisi permasalahan, kan? Apakah kesimpulanmu selama ini diambil setelah kamu memeriksa, secara saintifik, bawhwa antitesis dari apa yang kamu yakini selama ini sesungguhnya tidak ada atau tidak terbukti? Kalau belum, apa bedanya kamu dengan kaum yang mencuplik sebagian demi kepentingan pribadi yang bersifat emosional, Dek?
Dek, mungkin kamu lupa, kita hidup berdampingan, bermasyarakat. Sistem masyarakat yang berisi orang-orang yang persis sama (pemikirannya, perilakunya) sungguh utopis. Perbedaan adalah keniscayaan, dan bukankah itu yang kamu yakini, Dek? Perbedaan ada untuk dirayakan, bukan? Perbedaan ada agar kita saling belajar, saling memahami, saling mentoleransi, saling melindungi, dan saling menyayangi.
Kamu (masih) bisa bilang, Dek, saya pribadi tidak mengenal dan memahami kamu atau siapapun yang senasib dengan kamu. Ini hanya ikhtiar saya supaya mendapat restu dari kamu, yang lebih canggih, untuk belajar memahami kamu dan zaman yang kian berubah. Mau, kan, kita belajar saling memahami?
Saya mungkin bisa membuat kamu mengerti tulisan saya ini, Dek. Tapi, saya hanya bisa berharap kamu bisa percaya, karena saya hanya seorang guru SMA yang masih belajar mengenali kamu dan teman-teman kamu dan zaman yang kian pesat perkembangannya, dengan segala latar belakang kondisi keluarga dan finansial yang juga sulit, tapi, ya, sepertinya tidak lebih sulit dari kondisi kamu (maaf, ya, saya malah curhat).
Gery Pratama O.
Guru SMA paruh waktu, pembelajar seumur hidup.
Makin kemari saya mengalami dan belajar, udah kurang hebat apalagi Allah mengatur rezeki hamba-hamba-Nya. Ini rezeki dalam arti luas, lho, ya--memang sudah seharusnya konsep rezeki itu tidak dikerdilkan hanya sebagai uang, sih. Kitanya ajah yang terlalu sering berpikir sempit
Kalau diibaratkan jasa pengadaan, Allah “mengadakan” kita di dunia sudah lengkap dengan spesifikasi (kebutuhan) masing-masing, jelas tupoksi-nya, dan RAB (Rancangan Anggaran Belanja) yang masing-masingnya menyesuaikan spesifikasi/tupoksinya dengan tingkat ketelitian sangat tinggi sekali--saking telitinya saya sampai penggunaan katanya tidak efektif. Tiap-tiap ciptaan-Nya sudah direncanakan sedemikian rupa “penggunaannya” serta kapan/ seberapa besar/ bagaimana pencairan RAB-nya. Itu sungguh luar biasa.
Cuma kadang kita sebagai barang yang diadakan-Nya sering merasa lebih tahu soal perencanaan RAB kita sendiri. Selalu merasa berhak mendapatkan lebih. Spesifikasi celeron, minta dihargai setingkat core i7 generasi ke-7. Padahal kita sendiri masih menebak-nebak spesifikasi dan tujuan pengadaan kita masing-masing.
Lucu, ya, kita?
Yah, ini mah cara saya, yang cenderung gegabah, menggambarkan cara kerja Allah dalam mengatur rezeki agar bisa agak lebih mudah kita cerna karena, bisa jadi, cara kerja Allah sesungguhnya berbeda dari apa yang saya gambarkan. Akal kita masih terlalu kerdil untuk memahami Dzat Yang jauh lebih memahami kita.
Untuk siapapun yang berniat menikah dalam waktu dekat atau baru mulai menjalani kehidupan pascapernikahan:
ABANDON ALL HOPES
Karena nikah bukan karena harap.
Menikah karena berharap akan lebih bahagia? Nyatanya selalu ada prahara pada tiap rumah tangga, bahkan bisa berujung sangat pahit.
Menikah karena berharap akan lebih sejahtera secara finansial? Nyatanya selalu ada pasutri yang mengalami kesempitan rezeki.
Menikah karena berharap dikaruniai keturunan yang sedemikian rupa? Nyatanya selalu ada suami istri yang bertahun-tahun beranak sepi.
“Ah, mungkin mereka begini.”
“Ah, mungkin mereka begitu.”
Seakan-akan yang bersangkutan paling menahu, padahal siapa juga yang bersuka dan haru.
Menikah bisa jadi ibadah, menikah mungkin perlu disegerakan. Tapi disegerakan tidak sama dengan terburu-buru. Boleh jadi kita sudah waktunya lebih dulu (menikah), bukan berarti orang lain diharuskan mennyusul segera. Berlomba-lomba dalam kebaikan bisa jadi soal kualitas, bukan kecepatan. Amanah datang hanya pada jiwa-jiwa yang siap, bukan?
Bagi yang belum menikah, tenanglah; dalam ikhtiarnya, dalam kesehariannya. Tuhan Maha Mengetahui atas waktu atas segala sesuatu. Luruskan niat, teguhkan hati. Jodoh hanyalah konsep yang melulu kita kerdilkan pada terbatasnya dimensi dan definisi. Kala hati lurus dan suci, damailah kita dengan misteri Ilahi.
Bagi yang baru melangkah bersama pasangan sahnya, selamat dan ingat!
Menikah itu bukan 100% bahagia.
Bukan pula 100% nelangsa.
Tapi 100% komitmen.
Komitmen untuk saling meluruskan niat dan mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
Komitmen untuk saling mengenal dan belajar hal baru; setiap hari, setiap petang, setiap pagi.
Komitmen untuk tetap mengantar jemput demi mengikhtiarkan keselamatan sang istri, meski habis peluh mencuci diri.
Komitmen untuk tetap menyambut suami dengan cerah diri, meski perih iris emosi.
Komitmen untuk tetap berada di bawah satu selimut, meski pasangan buang angin atau mungkin belum mandi.
Komitmen untuk menuntaskan hidangan, meski belum mahir bersaji sang dambaan hati.
Komitmen untuk tetap beriringan dengan segala komitmen berat yang mengikuti.
Boleh jadi itu semua tidak berlaku bagi satu dua ribu pasangan namun semua itu sangat membantu kami menghadapi petualangan tiap pagi.
Selamat dan ingat!
Amalan tak lekang dari niat.
Bandung, 16 April 2017
Saya dan @fierlyfierly yang telah, sedang, dan akan terus (belajar untuk) berbahagia
Here’s one of my favourite weather phenomena, the Asperitas cloud. Added just last month, It’s the first new addition to the International Cloud Atlas since the cirrus intortus was included in 1951. It was first proposed in 2009 by Gavin Pretor-Pinney, the founder of the Cloud Appreciation Society.
Common in the American plains, Scotland, and Australia, Asperitas clouds may look stormy, but they rarely herald tempestuous weather.
Gavin Pretor-Pinney says that classifying clouds makes us care more about what’s above us, and observing them gives our minds a chance to focus on something other than our busy modern life.
Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dan memikirkan: apa yang sebetulnya hati kita katakan ketika lisan kita mengucapkan kalimat tertentu?
Ketika kita bertakbir, apakah kita sesungguhnya sedang merasa dan mengakui betapa kerdilnya kehadiran diri kita di hadapan-Nya, atau justru kita (mungkin secara tak sadar) merasa besar, seperti Gusti Allah, ketika membersamai orang-orang yang juga sedang bertakbir, sehingga merasa berhak berbuat ini dan itu?
Ketika lidah kita berucap istighfar, apakah itu sesungguh-sungguhnya permohonan atas ampunan-Nya bagi diri kita, atau sekedar refleks kalimat yang muncul sebagai pengganti umpatan ketika kita menemui hal menjengkelkan di tengah jalan?
Mari, kawan. Kita duduk sejenak. Kita telaah apa sesunggunya isi hati sebelum kita terlalu sering mengobral kalimat-kalimat suci tanpa tahu arti memaknai.
kayaknya kausnya pake bendera israel karena pada belajar krav maga deh, liat aja pas bagian rebut pistol. gerakannya emang kayak khas krav maga sih.
tapi selain dari itu emang udah pernah dengar sih sejak 2 tahunan lalu, kalo bodyguard cewek di cina lagi laris karena akhir-akhir ini di sana banyak orang kaya. jadi bisa sekalian nyamar jadi pegawai atau jagain istri bos. sempat juga ada seleb internet cina yang ternyata tentara PLA, tapi ngetop karena disebut-sebut sebagai bodyguard paling cantik di pertemuan G-20 tapi gak tahu yang mana hahahah. gosipnya juga dia salah satu top bodyguard bukan cuma karena cantik doang XD femme fatale sekali ya mbaknya
Jadi ceritanya beberapa pekan (atau bulan, entah) kemarin saya membantu menyiapkan pengadaan kegiatan ekstrakurikuler baru di SMAIT Miftahul Khoir. Ya, panahan. Saya cukup senang menyaksikan anak-anak yang antusias dengan adanya kegiatan tersebut. Motivasi mereka mengikutinya pun bermacam-macam. Mulai dari “pengen kaya Legolas, Pak,” sampai “mengikuti sunnah Rasul, Pak.”
Saya sendiri pun ikut memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kembali berlatih memanah setelah sekian lama. Walaupun ini bukan kali pertama, tapi saya mendapatkan beberapa pelajaran baru setelah beberapa kali melesatkan anak panah menuju target (walau masih sering meleset) bersama anak-anak.
Seperti halnya anak panah, selama hidup kita akan sesekali ditarik ke belakang supaya bisa melesat lebih jauh.
Punya bidikan itu perlu. Penting. Kita perlu tujuan agar bisa mengarahkan: anak panah maupun hidup kita. Ya, hanya mengarahkan. Hanya sebagai patokan ke mana kita akan menuju.Tidak sekedar mengikuti arus lalu tersesat dan (mungkin) menyesali tempat di mana kita terdampar atau bahkan berakhir.
Tapi apakah harus sesuai target? Itu di luar kuasa kita, iya kan? Kita hanya diperintahkan sebaik-baiknya berikhtiar, bukan untuk berhasil. Tembakan kita memang tidak akan pernah bisa sempurna namun secara kontinyu mengejar kesempurnaan justru membuat kita makin giat dan tekun dalam berikhtiar: memberi arti dalam tiap hari dalam hidup kita.
Dan, tak ada gunanya menyesali anak panah yang melenceng dari target. Tak ada gunanya merintih di atas kegagalan. Terimalah dengan cara yang baik, dan jadikan sebagai pelajaran untuk tembakan selanjutnya. Hidup pun seperti itu: proses pembelajaran yang berkelanjutan dari serangkaian kegagalan dan penyikapan terhadap tiap kegagalan tersebut.
Fail better, aim better.
Bandung, 5 Maret 2017
p.s. hatur nuhun bung @errvonhg sudah mengingatkan hahaha
terakhir saia liad orang parlemen ribut-ribut beneran gini parlemennya ukraina (dan sampe sekarang saya gak ngerti juga sebenarnya ada apa, yang jelas lagi-lagi jadi meme xD)
sama di korsel
menurut reuters sih ribut-ributnya turki gara-gara debat soal kekebalan hukum untuk anggota parlemen
wuaaa hahahaha. yang di ukraina itu yang ada anggota parlemennya dilempar ke tong sampah itu bukan sih mbak? atau bukan yah? hmmmm
ceritanya saya kurang kerjaan nyari lagu di youtube buat didengerin biar bisa balik tidur lagi, eh nemu ini #hidayah xDDDD
mungkin udah tahu soal lagu “lir ilir”. dulu saya dikasih tahu sama guru agama waktu SMA, terus dikasih tahu juga sama bapake yang emang wong jowo asli kalau lagu ini tuh sebenarnya banyak simbolismenya. jadi menurut beliau-beliau ini memang lagu ini lagu daerah yang awalnya diciptakan sunan kalijaga (waktu zaman kerajaan demak sih kalo gak salah kata bapak saya hueheheh). sunan kalijaga seperti yang kita tahu kan memang lembut orangnya dan menghargai kebudayaan lokal, jadi karya-karyanya juga bernapaskan perpaduan islam dengan kebudayaan jawa. dan memang penyampaian beliau ini damai sekali, kalau kata bapak saya sih gak cuma lagu ini aja, tapi juga ada di seni lain misalnya pentas wayang.
(di sini cak nun sama kelompok kesenian kyai kanjeng. sengaja pake nada shalawat badar dan shalawat badarnya diaransemen dengan rasa musik jawa. tonton deh sampe selesai. gak nyesel. mana foto-fotonya bagus lagi. ke sawah yuk #salah).
jenggot saya udah cukup lebat untuk menanggalkan panggilan “dedek” mbak *hiks
iyaa saya pernah baca juga ulasan ini mbak. adem, dan (seharusnya) memberikan citra bahwa dakwah islam itu tidak identik dengan arabisasi, menurut saya sih. tapi kadang yang begini ini yang dikit-dikit dicap bidah ga sih mbak?