Saat pertama kali aku bertemu dengan dirinya adalah di lorong itu. Dimana ia jalan tergesa tanpa tahu arah, sedangkan aku hanya melihatnya lewat begitu saja. Aku sadar kalau itu dia. Tapi karena belum kenal tidak kusapa. Pertama kali aku tau dari grup kelas, dengan sok akrab aku menyapanya. Temanku mengetahui, mungkin aku terlalu frontal.
Hari pertama bertemu itu, hari pertama juga sekelas bertemu. Ketika dia memasuki kelas, aku menghela napas, “Ternyata benar dia”. Hari itu juga termasuk pembagian kelompok praktikum. Entah kenapa Tuhan berkehendak, aku satu kelompok dengan dia dan satu orang lagi yang aku nggak berharap sekelompok dengan dia. Haha. Waktu pertama kali praktikum, dia terlambat, dan belum juga masuk kelas. Aku takut untuk mulai chat duluan untuk mengetahui keberadaannya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memulainya.
Dari praktikum pertama itu, tentu ada laporan, yang harus dikerjakan bersama karena aku tidak terlalu pandai pada mata kuliah tersebut. Aku menerka-nerka apa dia sudah punya pacar atau belum, sebelumnya aku cek media sosial dengan mengetik namanya. Akunnya terkunci dan terdapat beberapa baris program Bahasa C dengan tulisan nama. Mungkin. Ternyata benar. Dia sudah punya pasangan. Aku bercerita dengan sahabatku waktu itu. Yasudah mungkin bukan dia.
Lambat laun kita akrab, entah karena apa. Tapi aku nyaman bercerita dengan dia. Dimana saat itu juga aku sedang salah paham dengan seorang teman laki-lakiku, akhirnya dia yang menjadi penggantinya. Tapi kadang aku cerita tentang temanku itu kepadanya. Hanya sebagai alasan, awalnya. Kita mulai bercerita tentang apapun itu, di kelas, saat nunggu kelas, di chat, dan lainnya. Dia bercerita yang membuat aku berpikir mungkin aku bisa menggantikan dia. Bodohnya aku. Itu tidak terjadi.
Di akhir masa kuliah, dia memutuskan untuk berhenti. Karena aku terlalu sibuk mengurusi tugas akhirku sendiri, aku melupakan perkembangan dia kala itu. Saat lulus bahkan, aku lupa apa kita bertegur sapa. Beberapa bulan kemudian, ku dengar dia menikah. Aku penasaran kenapa tiba-tiba. Ingin ku menyapanya seperti dulu dan berharap dia bercerita tentang kehidupannya sekarang, bagaimana dia melewatinya selama ini, dan lainnya.
Aku menyukainya awal mungkin karena parasnya. Kemudian aku jatuh cinta dengan cara pikirnya dan pandangan tentangku menurut dia, yang tidak banyak orang bisa lakukan itu. Dari cara pandangnya terhadap diriku, aku mulai mengenal diriku. Terimakasih teman, kamu yang terbaik.