300426
I envy you because you have such an amazing partner here. Happy April to you there.

PR's Tumblrdome
KIROKAZE

No title available

#extradirty

Jar Jar Binks Fan Club

roma★
NASA
No title available
Fieri Frames

Love Begins
Monterey Bay Aquarium
macklin celebrini has autism
Fai_Ryy
hello vonnie
ojovivo
Color Me Curious
Sade Olutola
🩵 avery cochrane 🩵

Game Changer & Make Some Noise
occasionally subtle
seen from Algeria
seen from United Kingdom

seen from Poland
seen from Ecuador
seen from United States
seen from Belarus
seen from Netherlands

seen from United States
seen from Argentina

seen from Chile
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Austria
seen from United States

seen from Germany
seen from Germany
seen from Iraq
seen from France
seen from Angola

seen from Türkiye
@gisantiabestari
300426
I envy you because you have such an amazing partner here. Happy April to you there.
2
Happy two years, my best friend. You must be proud of me!
Setahun
Setahun sudah.
Nggak pernah berhenti bersyukur setiap harinya karena sudah dipilih dan dipercaya untuk menjalankan ibadah sampai maut memisahkan.
Banyak harapan yang dikabulkan. Banyak keberuntungan yang datang menghampiri tanpa benar-benar aku jemput. Banyak rezeki yang datang dari segala arah.
Malu rasanya jika masih juga meminta kehidupan yang lebih baik dari ini.
Benar adanya, keajaiban bakal datang bagi mereka yang percaya.
Apa yang telah terjadi selama satu tahun terakhir ini menjadi buktinya.
Selamat Ulang Tahun Bersama Tuhan
Ujung pernikahan cuma ada dua: Pisah hidup dan pisah mati. Karena kita nggak mau pisah hidup, maka pisah mati harus menjadi cita-cita terbesar kita sejak di meja akad. Pasangan hanya titipan, nggak ada kepemilikan. Kalau nggak siap dengan risiko perpisahan, maka sedari awal nggak usah berpasangan. Konsep inilah yang menuntun kita saling terbuka tentang apapun sebelum terlambat. Waktu itu, kamu bilang ingin pergi duluan karena takut menghadapi duka. . Sekarang, kita sudah sampai di level tertinggi pernikahan itu. Tuhan angkat derajat kita bagaikan roket. Firasat tentang kepergianmu sudah kurasakan sejak lama. Aku pun diam-diam sudah menyusun rencana yang siap diluncurkan secepatnya jika firasat ini benar. Semua yang kita persiapkan selama ini menjadi bekal dan peganganku. . Ki, cara kamu pergi bikin kagum banyak orang. Mereka mendambakan bisa pergi dengan cara seperti itu. Tuhan akhiri pernikahan kita dengan cara terbaik yang selalu kita impikan. Tugasku sebagai istrimu selesai sudah. Rasa sedihku kalah oleh rasa syukurku memiliki perkawinan yang singkat namun Tuhan muliakan. Aku terima takdirku dengan optimis sejak hari pertama, demi kemudahanmu di sana. . Ki, bagiku, kematian bukanlah penderitaan melainkan kepastian. Kamu nggak meninggalkanku, kamu hanya kembali duluan kepada Pemilikmu. Pada akhirnya kita semua akan dikubur, kok. Ini cuma soal waktu. . Terima kasih sudah mau ketemu dan berdialog di mimpiku. Lega rasanya melihatmu bahagia dengan wajah bersih, sikap tenang, bercelana jeans, dan berjaket cokelat. Aku bangga dengan pencapaianmu. . Setelah ini, izinkan aku lakukan apapun yang bikin aku senang, yah. Izinkan aku juga untuk berbagi banyak momen seru kita jelang kepergianmu, yang sudah lama kutahu akan jadi yang terakhir. Aku mau merayakan indahnya garis finish rumah tangga kita, dengan caraku sendiri. Kita berhasil, Ki, kita berhasil. . Selamat ulang tahun.
Eropa 2023
Tahun 2020 jadi tahun di mana harus gagal jalan-jalan ke salah satu negara di Asia akibat pandemi datang. Persiapan udah dari 4 bulan sebelumnya, tinggal berangkat aja. Untungnya, nggak ada kerugian apa pun karena pembatalan datang dari maskapai.
Tahun 2023 ternyata kasih gantinya. Tiba-tiba, bisa pergi ke Eropa untuk pertama kalinya.
Persiapan berangkat ke Eropa terbilang singkat. Cuma sebulan, udah termasuk ngebut membuat visa. Dalam persiapannya, ada aja cobaan yang dihadapin. Mulai dari uang yang nggak keluar dari ATM tapi saldo berkurang, mobil kena tabrakan kecil jadi harus urus asuransi, sampai dokumen aplikasi visa suami dan anak terlantar di kedutaan. Jadinya, visa mereka baru ada di tanganku 12 jam sebelum keberangkatan.
Emang, deh, jodoh nggak ke mana. Dengan segala drama yang terjadi sebulan sebelum berangkat, kami tetep diizinin ke sana.
Itulah kenapa, segala kekurangan yang ada dalam perjalanan Eropa ini tetap disyukurin. Cuaca yang nggak bersahabat dan hasil dokumentasi yang nggak sempurna bukanlah persoalan serius. Rasa senangnya melebihi segala kekurangan itu.
Memiliki atau menambah anak hanya akan menambah masalah baru, jika tidak diiringi kesiapan sebagai orang tua.
Memiliki atau menambah anak hanya akan menambah masalah baru, jika tidak diiringi kesiapan sebagai orang tua.
Teknologi dan Renovasi
Sejak Canva membuat aku merasa kayak ahli desain dadakan (Hehehe), aku semakin percaya kalau teknologi emang sejatinya mempermudah kehidupan manusia dan bukan sebaliknya.
Nah, salah satu manfaat terbesar berikutnya yang aku rasakan dari keberadaan teknologi adalah saat kami berdua mulai merencanakan renovasi rumah pertama kami.
Bakat kami dalam mendesain dan menata rumah nol besar. Untungnya, kami hidup di era yang canggih.
Modal kami cuma foto-foto inspirasi rumah di Instagram dan aplikasi denah rumah yang kami unduh. Setiap lihat ada foto dekorasi rumah yang sesuai selera di Instagram, langsung kirim fotonya ke pasangan lewat DM Instagram.
Tantangannya udah pasti banyak, ya. Salah satu tantangan terbesar adalah banyaknya foto inspirasi rumah yang bagus, sehingga kami bisa setiap hari saling kirim foto lewat DM Instagram yang berujung pada pusing sendiri karena mau semua. Hehehehhe.
Intinya mau berterimakasih sama teknologi yang sudah sangat berjasa, dan mau berterimakasih juga pada Tuhan yang menakdirkan kami untuk terlahir sebagai milenial yang merasakan perkembangan teknologi.
Baik atau buruknya teknologi tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Salam sehat!
Menjawab Pertanyaan Seputar Rahim Terbalik
Saya nggak nyangka juga, tulisan saya tahun 2018 tentang hamil dengan rahim terbalik terus mengundang respons hingga saat ini. Saya kerap mendapat direct message di media sosial dari sesama perempuan dengan rahim terbalik. Banyak cerita yang dibagi, banyak juga pertanyaan yang dilontarkan.
Kali ini, saya mengumpulkan beberapa pertanyaan tersebut ke sini dan mencoba menjawab ulang. Namun, perlu dicatat, saya bukan dokter atau ahli kesehatan, jadi saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini murni dari pengalaman pribadi saya. Semoga berkenan, ya!
Ketika masuk trimester 3 sering sakitkah perutnya dengan kondisi rahim retro? Saya seringnya nyeri di punggung bagian bawah, sih. Namun, saya rasa hal ini bisa terjadi pada perempuan dengan posisi rahim apapun, baik retrofleksi maupun antefleksi.
Macam mana penjagaan baby and apa risiko hamil rahim terbalik? Penjagaan bayi biasa saja, tidak ada perlakuan khusus, karena yang berbeda hanya “rumahnya” saja. Untuk risiko, saya sering dengar rahim terbalik biasanya lahiran dengan cara sesar karena jalan lahir cenderung tidak lurus. Namun, pernyataan ini tidak benar-benar mutlak. Saya sendiri dari dulu tidak pernah ngotot dengan cara melahirkan harus seperti apa, karena menurut saya keselamatan adalah yang paling penting.
Promil apa bun? Saya 3 tahun belum hamil karena rahim retro. Mohon bantuannya Bun. Bagi tipsnya yah. Saya nggak promil sama sekali. Pertama, karena saya dan suami bukan tipe pasangan yang ingin langsung punya anak secepatnya. Kedua, karena saya pun baru tahu rahim saya terbalik ketika saya hamil. Saya pernah satu kali mengecek kesehatan rahim sebelum hamil, namun saat itu dokternya nggak bilang bahwa rahim saya terbalik.
Pas di-transvaginal Kakak dikasih vitamin apa Kak? Nggak dikasih vitamin apa-apa. Waktu itu USG transvaginal hanya untuk melihat lebih jelas janin yang masih super kecil.
Apakah posisi bercinta berpengaruh? Soalnya yang saya tahu kalau rahim retro itu agak bikin susah hamil ya. Kata dokter saya iya, berpengaruh. Tapi ngomong-ngomong soal susah hamil, mungkin perlu diluruskan sedikit bahwa yang dimaksud susah hamil itu tidak berkaitan dengan kesuburan. Tidak ada hubungannya rahim terbalik dengan kesuburan seseorang. Jadi, jika kondisi kita dan pasangan sama-sama sehat, kehamilan sangat mungkin terjadi. Amin.
Waktu tidur apakah memengaruhi gampang atau sulitnya punya anak? Dikarenakan saya kalo tidur suka larut malam .. Sekitar jam 11 - 12 malem. Menurut saya, tidur cukup adalah hal yang dibutuhkan setiap saat tanpa mengenal kondisi. Tapi, kalau waktu tidur memengaruhi kesuburan, saya nggak tahu pasti. Namun, yang jelas, saat berencana hamil kita pasti ingin punya gaya hidup yang sehat dan tidur cukup adalah bagian dari gaya hidup sehat tersebut.
Aku hamil uda 7 minggu...pas di USG biasa ga keliatan ya Kak.. Agak susah... Apa aku harus USG trans v Kak? Maksih Kak sebelumnya....Iya, kalau janin masih terlalu kecil biasanya kita perlu USG transvaginal agar lebih kelihatan.
Berati ntar hamilnya nggak gendut dong Kak? Dari awal hamil sampai melahirkan, sih, saya naiknya 20 kg, hehehe. Lumayan, yah. Saya nggak terlalu merasakan, sih, yang dikatakan beberapa artikel bahwa rahim terbalik hamilnya nggak gendut.
Sering banget stres kepikiran pengen hamil terus susah kadang menghindari fikiran-fikiran seperti itu Kak... Saya punya beberapa teman yang justru hamil saat mereka udah nggak stres ingin cepat-cepat hamil. Saat udah mulai pasrah, malah hamil. Jadi, saya rasa memang kita nggak boleh stres. Pikiran-pikiran negatif mungkin bisa dihindari ketika kita mengalihkan fokus kita kepada hal-hal yang saat ini sudah kita dapatkan.
Kalo haid sakit nggak Kak? Kebetulan saya dari dulu bukan tipe orang yang nyeri berlebihan ketika haid. Saya tidak pernah mengalami yang namanya kesakitan sampai tidak bisa ngapa-ngapain. Setiap orang tentunya punya pengalaman yang berbeda-beda.
Semoga bermanfaat, ya. Ingat, belum hamil bukan berarti tidak punya alasan untuk menghargai dan mensyukuri kehidupan. Berusaha itu pasti, tapi bahagia harus lebih pasti.
Memperjuangkan Mental yang Sehat
Sumber gambar: Freepik
Disclaimer: Ini adalah tulisan berbayar.
Ada informasi menarik yang saya temukan di dalam Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Pandemi Covid-19 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia pada April 2020 lalu. Ternyata, ada sejumlah kelompok yang rentan terdampak pada kesehatan jiwa dan psikososialnya akibat infeksi covid-19. Mereka adalah lansia, orang dengan penyakit kronis, ibu hamil dan nifas, anak dan remaja, orang dengan disabilitas fisik, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), dan keluarga pra sejahtera.
Pada ibu hamil dan nifas, misalnya, masalah kesehatan jiwa dan psikososial yang kerap terjadi adalah depresi. Di mana, tanda-tanda yang harus diwaspadai dari depresi ini adalah perasaan sedih yang berlarut-larut hingga lebih dari dua minggu, hilangnya minat, mudah kelelahan, yang diiringi dengan gejala lainnya seperti sulit fokus, sulit tidur, kurang makan, turunnya berat badan, gampang putus asa, hingga kepikiran untuk bunuh diri! Wah, serem, yaaa….
Sebagai seorang ibu, saya pun pernah mengalami kecemasan yang berlebihan di minggu-minggu awal setelah melahirkan. Saya kerap menyalahkan diri saya ketika menghadapi hal-hal yang tidak sesuai harapan. Sering pula merasa diri saya tidak lagi berharga dan berguna, bahkan merasa sudah tidak bisa melakukan hal-hal yang saya cintai seperti dahulu. Kondisi ini membuat suasana hati saya sangat buruk dan merasakan sedih yang seolah tiada akhir. Bahkan, saya sempat tidak mau menemui tamu, lho, gara-gara saya tidak mau mendengar komentar-komentar yang cuma bikin saya makin sensitif. Saya tahu, mungkin mereka tidak bermaksud, tapi saya hanya ingin menjaga kewarasan diri saya sendiri. Saya tidak mau, tuh, tersenyum menyambut tamu seolah semua baik-baik saja, tapi kemudian marah-marah dan menangis tersedu-sedu saat mereka sudah pulang. Ternyata, apa yang saya alami saat itu masuk ke dalam gejala depresi! Waw…
Depresi memang suatu gangguan mental yang tidak bisa dianggap main-main. Kalau kita merasa suasana hati kita selalu penuh dengan tekanan dan kehilangan semangat dalam menjalani hari-hari kita, bisa jadi itulah tanda-tanda depresi. Atau, contoh lainnya, kita selalu merasa rendah diri, tidak pernah merasa cukup dengan diri sendiri, tidak optimis, dan tidak mandiri.
Kira-kira, kenapa, ya, kita bisa merasakan depresi? Kalau menurut orang-orang di sekitar saya yang pernah mengalaminya, biasanya ada suatu kejadian traumatis yang pernah menimpa mereka. Misalnya, kehilangan hal yang dicintai, kekerasan seksual, hingga menjalankan hubungan yang tidak sehat. Apalagi, kalau kita memiliki riwayat gangguan kesehatan mental dalam keluarga kita.
Lalu, kapan, dong, kita harus ke dokter? Kalau kita sudah merasa depresi telah mengganggu kegiatan kita sehari-hari, meskipun kita telah berusaha mencegahnya. Ingat, semakin dini penanganannya, maka semakin baik untuk kondisi mental kita. Mungkin kita merasa malu akan depresi yang kita alami, namun jika tidak diobati maka bisa menjadi lebih buruk. Masalah-masalah lainnya siap mengintai!
Umumnya, dokter akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik dan psikologis, dan pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis dan mengetahui penyebab depresi. Beruntung, kita sudah hidup di era teknologi informasi yang berkembang pesat, sehingga berkonsultasi dengan dokter bukan lagi hal yang sulit. Kita bisa mempercayakan Halodoc untuk hal ini.
Tentunya, kamu udah nggak asing dengan Halodoc, dong. Layanan kesehatan daring di Indonesia ini sudah dipercaya masyarakat karena mempunyai deretan dokter terbaik mulai dari umum hingga spesialis di bidangnya masing-masing. Nggak tanggung-tanggung, ada ratusan dokter umum dan spesialis yang sudah terdaftar di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang bisa kamu pilih. Kamu bisa berkonsultasi dengan mereka secara gampang dan terlindungi melalui aplikasi Halodoc. Iya, privasi kamu bakal terjaga di sini.
Jadi, sekarang nggak perlu bingung mengatasi masalah kesehatanmu, karena inovasi teknologi membuat segala kebutuhan kesehatan kita terpenuhi di mana saja dan kapan saja. Soalnya, percuma kalau teknologi terus berkembang, tapi kita sakit-sakitan dan nggak bisa memanfaatkan dunia digital dengan maksimal. Sehat bareng, yuk.
Dua
Halo Gem, selamat ulang tahun.
Semoga kami selalu berbahagia, agar tidak perlu menuntut kebahagiaan dari kamu.
Semoga kami selalu sehat, agar kamu tumbuh besar tanpa perlu memikirkan orang tua yang sakit-sakitan.
Semoga kami selalu bisa penuhi kebutuhanmu, agar kamu tidak perlu susah payah menghidupi dirimu sendiri.
Semoga kami selalu bisa penuhi kebutuhan kami sendiri, agar kamu kelak tidak perlu dipusingkan dengan orang tua yang butuh ini itu.
Semoga kami selalu bisa berdamai dengan kegagalan dan kekurangan kami, agar kamu fokus pada mimpimu sendiri dan tidak perlu meneruskan mimpi-mimpi kami yang tidak kesampaian.
Mantra-Mantra Keuangan
Buat saya, mengelola keuangan itu tidak sekadar mengatur uang itu sendiri, tapi juga memasang pola pikir sedemikian rupa demi mendukung kegiatan pengelolaan keuangan tersebut.
Saya bukan ahli keuangan, tapi saya punya tiga mantra keuangan yang jadi pegangan saya dalam mengelola keuangan. Semoga tiga mantra ini tidak cuma ampuh pada saya, tapi juga pada teman-teman.
Mantra pertama: Kita adalah semampu-mampunya diri kita. Jika menginginkan barang yang terlalu mahal, alih-alih menggerutu, cukup bilang pada diri sendiri bahwa saat ini kita bukan target pasarnya. Jangan mau termakan oleh gengsi. Berusaha mati-matian menunjukkan apa yang kita punya dengan mengorbankan banyak hal hanya membuat kita kelelahan sendiri. Hindari membeli suatu barang kecuali finansial kita sudah mampu membeli dua kali barang tersebut.
Mantra kedua: Optimis terhadap uang. Ibu saya selalu mengatakan, hindari bersugesti, “Kita tidak punya uang”. Pikiran kita, secara tidak sadar, akan memengaruhi keadaan nyata di hidup kita. Jika kita kerap berpikiran diri kita tidak punya uang, maka kita akan benar-benar tidak punya uang. Lalu, bagaimana jika kita menginginkan sesuatu yang masih terlalu mahal untuk kemampuan kita? Daripada berpikir, “Saya tidak akan bisa memiliki barang itu”, lebih baik ubah menjadi, “Saya harus menabung lebih banyak lagi untuk memiliki barang itu”. Begitu juga ketika melihat kesuksesan finansial seseorang. Hindari berpikiran, “Apalah saya, yang tidak akan bisa seperti itu.” Kita tidak akan pernah bisa berkembang jika selalu punya alasan untuk diam di tempat.
Mantra ketiga: Meski klise, bersyukurlah apa pun keadaannya. Kadang kita harus melihat ke bawah dulu baru bisa merasakan syukur, padahal bersyukur adalah hal yang harus kita lakukan tanpa kenal waktu dan kondisi. Hargai apa yang kamu punya sekarang, karena belum tentu kesejahteraanmu di masa depan akan lebih baik dari hari ini. Jika kita belum bisa mengapresiasi hal kecil yang kita miliki sekarang, maka kita belum siap untuk menerima hal besar di masa mendatang.
Berpikiran positif terhadap keuangan memang sangat menantang, apalagi bagi teman-teman yang kerap memikirkan skenario terburuk dalam keuangan. Saya pun masih terus belajar. Namun, pelan-pelan, kita pasti bisa menumbuhkan pola pikir yang baik demi hari esok yang lebih cerah.
Tips Liburan dengan Bayi
Liburan dengan bayi memang penuh kerepotan. Tapi, saya tetap memilih untuk melakukannya daripada tidak sama sekali. Apalagi, anak tidak akan selamanya ikut dengan kita ke mana-mana. Jadi, momen jalan-jalan bersama anak bayi akan jadi momen yang seru untuk dikenang!
Bepergian dengan bayi tentunya butuh persiapan matang. Nah, di sini saya punya 10 tips bepergian dengan bayi berdasarkan pengalaman saya sendiri. Bagi teman-teman yang sedang merencanakan liburan jauh dengan bayi, terutama menggunakan pesawat, semoga tips ini bisa sedikit membantu, ya:
Pastikan perlengkapan bayi berada di dalam tas yang menempel di badan kita. Jangan sampai, barang yang kita butuhkan malah ada di tempat yang sulit dijangkau, misalkan di koper. Isi perlengkapan bayi yang sebaiknya ada di dalam tas selama di pesawat pernah saya bagikan di sini.
Bagi kita sebagai orang tua, penting untuk memakai alas kaki yang nyaman selama liburan. Singkirkan dulu sepatu dengan hak yang tinggi. Banyak, kok, pilihan sepatu flat yang tetap cantik saat difoto!
Sebaiknya, bawa celana bayi yang panjangnya hingga menutup seluruh kaki bayi. Celana dengan model seperti ini bisa menjadi alternatif yang praktis dan simpel agar kita tidak perlu repot membawa sepatu bayi. Saat liburan ke Jepang, celana ini sangat membantu saya dalam mendandani penampilan anak. Apalagi, saya orang yang selalu khawatir kalau sepatu anak saya terjatuh di jalan.
Pilih penginapan dan jadwal perjalanan yang nyaman dan ramah untuk bayi. Lakukan riset mendalam mengenai kamar yang akan menjadi tempat menginap. Begitu juga dengan jadwal perjalanan. Rancang jadwal perjalanan yang tidak padat agar anak punya waktu cukup untuk tidur. Selama liburan, saya selalu berusaha agar sudah ada di kamar hotel saat Maghrib.
Jika memungkinkan, pilih jadwal penerbangan yang jatuh pada jam tidur anak. Dengan begitu, anak akan tertidur saat penerbangan panjang.
Pilih kursi yang paling depan saat di pesawat agar kita bisa menggunakan keranjang bayi, sehingga bayi bisa punya tempat yang nyaman untuk tidur.
Sangat dianjurkan untuk membuat surat keterangan dari dokter bahwa bayi kita sehat, setidaknya 72 jam sebelum penerbangan. Kemudian, teman-teman bisa selipkan surat keterangan ini pada paspor anak (Jika bepergian ke luar negeri).
Jangan lupa membawa penutup kuping bayi agar bisa meredam kebisingan pesawat pada kuping bayi. Penting juga untuk diingat bahwa bayi harus mengisap mainan atau menyusu saat lepas landas dan mendarat.
Bawa stroller atau gendongan? Saya akan jawab, dua-duanya! Saat liburan, dua barang ini sama pentingnya buat saya.
Terakhir, namun paling penting, ciptakan pola pikir positif bahwa liburan akan berjalan lancar dan menyenangkan. Saya kerap bertemu orang yang meredam keinginan liburan karena malas repot membawa anak. Menurut saya, itu semua tergantung pola pikir yang kita bentuk dalam kepala kita. Jika pola pikir negatif, maka hasilnya juga akan negatif. Begitu juga sebaliknya. Keputusan ada di tangan kita, mau yang mana? ☺️
Ingat bahwa liburan itu tujuannya untuk bersenang-senang. Jadi, apapun yang terjadi saat berlibur, jangan sampai merusak suasana hati. Selamat membawa bayi berlibur!
Perang Para Perempuan
Desember 2018 lalu, Buku Stop Mom War terbit sebagai tanda bahwa perempuan tidak sendirian dalam menghadapi perbedaan pendapat dengan sesamanya, terutama menyangkut soal mengurus keluarga dan buah hati. Dalam buku tersebut, sepuluh perempuan dengan latar belakang yang beragam membagikan pandangan mereka terhadap hal ini serta cara mengatasinya. Kali ini, saya ingin menulis sedikit tentang hal yang mendasari saya untuk ikut berkontribusi di dalam buku tersebut.
Ada tanda tanya besar dalam kepala saya: Kenapa, ya, banyak perempuan yang merasa berhak menghakimi keputusan-keputusan terkait keluarga yang dipilih oleh perempuan lainnya?
Padahal, siapa kita untuk mencampuri urusan orang lain?
Saya percaya bahwa setiap keluarga punya caranya masing-masing dalam menjalankan rumah tangga. Ke mana kapal akan berlayar, apa strategi yang digunakan saat berlayar, serta bagaimana cara berlayarnya, tidak harus sama. Lebih dari itu, orang lain tidak perlu tahu soal apa dan bagaimana kapal kita akan berlayar.
Pernah melihat seorang ibu yang berjalan-jalan di mall bersama anaknya yang sibuk digendong pengasuhnya? Kita mungkin berpikir sang ibu tidak mau repot menggendong anak. Padahal, siapa tahu dia sudah mengerahkan seluruh waktunya untuk mengurus anak tanpa bantuan siapa-siapa ketika berada di rumah, dan kini berjalan-jalan di mall adalah bentuk penghiburannya.
Pernah melihat seorang anak yang sibuk bermain gawai di restoran? Kita mungkin akan memandang orang tuanya sebagai orang tua yang buruk karena membiarkan anak bermain gawai tanpa peduli sekitar. Padahal, siapa tahu si anak tidak pernah bermain gawai selama di rumah dan di sekolah, dan hanya diizinkan ketika sedang makan di luar.
Pernah melihat perempuan yang sibuk main ke sana kemari sampai larut malam, padahal dia punya anak dan suami yang harus dia urus di rumah? Lalu, ada yang komentar, “Kok, dia boleh sih pulang malem? Ih, kalau gue pulang kemaleman, suami gue pasti udah ngomel-ngomel. Habis deh gue.” Iya, itu suamimu. Suaminya? Mungkin memang tipe yang membebaskan. Buat apa manusia diciptakan berpasang-pasangan, kalau ternyata karakternya sama semua? Tidak akan seru. Itulah kenapa, ada yang namanya “cocok”.
Iya, cocok. Kamu nggak bisa masak, pasanganmu juga lebih senang makan di kafe. Kamu malas beres-beres rumah, pasanganmu juga lebih senang rekrut ART supaya kamu nggak capek. Kamu senang menghabiskan waktu sendiri di kamar membaca buku, pasanganmu juga senang main game sendirian dengan laptop. Tak ada yang perlu protes. Tak ada yang merasa tertuntut. Klop. Serasi. Sejalan. Nikmat mana yang kau dustakan.
Selanjutnya, apakah kamu punya teman yang memutuskan untuk tidak menambah anak lagi meski baru memiliki satu anak? Apa reaksimu? Coba, yuk, hargai pendapatnya. Jangan mengatakan dia egois. Jangan mengatakan bahwa dia menolak rezeki. Jangan mengatakan dia menentang takdir Tuhan. Nyatanya, kamu hanya tahu secuil dari kisah hidupnya. Temanmu punya prioritas lain. Prioritas-prioritas yang membuatnya tidak bisa mengedepankan ego untuk menambah anak. Mungkin ibunya yang sedang sakit butuh perhatian lebih. Mungkin bisnisnya yang hampir bangkrut butuh diselamatkan dahulu. Entah apa itu alasannya, hargai. Kalau kamu sibuk menceramahi, besok-besok dia tidak mau main sama kamu lagi.
Tak bisa dimungkiri, media sosial menjadi wadah yang seolah makin memudahkan adanya perang antarperempuan. Orang mudah sekali menghakimi, orang gampang sekali berkomentar. Sementara, mereka tidak bertemu 7/24. Sementara, mereka tidak tahu kesepakatan dapur keluarga lain. Tapi, orang merasa bisa memaksakan kehendak. Orang merasa berhak merendahkan mereka yang mempunyai keputusan berbeda. Kondisi yang demikian sangat menyedihkan, kalau tidak mau disebut mengenaskan. Memang, kita tidak mungkin bisa mengendalikan apa yang orang lakukan di media sosial. Tapi, ingat, kita selalu punya kendali penuh atas diri kita sendiri, serta bagaimana kita meresponnya.
Kita semua beda, dan itu tidak apa-apa. Latar belakang dan cara kita dibesarkan membentuk siapa diri kita hari ini, dan jika itu berarti kita harus berlawanan dengan cara hidup orang lain, maka itu kondisi yang sangat wajar. Karenanya, wajar pula jika setiap perempuan memiliki pola asuh anak yang beragam antara satu dengan lainnya. Seperti kita para perempuan dewasa yang tidak bisa disamakan, setiap anak pun punya karakter yang berbeda dan berbeda pula cara menghadapinya. Pastikan kita pintar memilah mana komentar yang tujuannya ingin memberikan saran dan mana yang hanya ingin nyinyir saja.
Toh, kita semua sebetulnya punya satu kesamaan, kok: Ingin yang terbaik untuk keluarga. Hanya saja, jalan menuju ke sana berbeda-beda. Ada yang memilih aman di laut tenang, ada yang ambil risiko menerjang badai. Apapun itu, jangan pernah merasa cara yang kita tempuh lebih baik dibandingkan cara orang lain.
Menganggap diri lebih baik dari orang lain adalah bentuk kefatalan luar biasa dalam karakter seseorang. Jangan sampai kita menjadi salah satu di antaranya. Ingat, dunia masih berputar, hidup terus berjalan. Bangga dengan hari ini, besok bisa jatuh. Berhasil hari ini, besok bisa gagal total. Sudah bukan zamannya lagi perempuan saling menghakimi. Sekarang zamannya perempuan bergandengan tangan agar saat kita jatuh, kita mudah untuk bangkit lagi.
Dilema Membesarkan Manusia
Ternyata, baby blues dan PPD itu bukan mitos.
Saya percaya bahwa hidup akan selalu mengalami perubahan, dan kita harus siap untuk beradaptasi ke mana pun perubahan itu membawa kita. Namun, memiliki anak adalah perubahan hidup paling drastis yang pernah saya alami, dan sebuah proses adaptasi yang luar biasa sulitnya.
Dua bulan pertama memiliki anak adalah masa-masa terberat. Terlebih, saya adalah orang yang terbiasa merancang agenda sendiri setiap harinya dan agenda itu harus berjalan sebagaimana mestinya. Ketika Gemili hadir, saya mendadak harus berkompromi. Apapun rencana yang saya buat setiap harinya, saya harus melibatkan dia. Apapun hal yang ingin saya kerjakan di suatu waktu, saya harus juga memikirkan dia. Hasilnya, saya jadi stres berat.
Selain soal pemulihan pascalahiran yang cukup melelahkan, tubuh yang bengkak, kurang tidur, kegerahan terus padahal sudah mandi, dan kesakitan saat awal menyusui, menjadi ibu baru juga soal mental yang teruji. Saya menjadi super sensitif. Saya tidak bisa menerima masukan dengan baik, terutama dari orang-orang yang datang berkunjung. Setiap saran dan masukan itu datang, otak saya akan menangkapnya sebagai suatu kritikan pedas yang diperhalus menjadi seolah-olah masukan. Bukannya senang diperhatikan, yang ada cuma bikin saya kecil hati.
Kepribadian saya pun semakin tidak jelas ke mana arahnya. Di satu sisi, saya kerap marah-marah sendiri apabila saya sudah melakukan segala cara tapi anak tetap menangis. Namun, di sisi lain, saya merasa jadi orang yang paling tahu tentang anak saya. Saya merasa jadi orang yang paling benar dalam merawat anak dan orang lain hanya sok tahu. Ujung-ujungnya, saya jadi frustrasi.
Di malam hari, saya bisa tiba-tiba menangis meskipun tidak ada yang terjadi. Saya tidak bisa, tuh, seperti orang-orang di media sosial, yang rutin mengunggah foto anaknya sambil berkata-kata penuh harapan dan kasih sayang. Soalnya, saya memang belum merasakan hal itu. Saya tidak mau membohongi diri saya sendiri hanya demi menciptakan ilusi kebahagiaan di media sosial.
Bahkan, pernah ada momen di mana saya bilang pada suami bahwa saya menyerah untuk menyusui dan mengurus anak kami. Saat itu, saya benar-benar merasa diri saya tidak berguna.
Bulan ini, Gemili akan lulus ASI eksklusif, dan saya sangat bersyukur dengan kondisi saya saat ini. Saya sudah jauh lebih bahagia dengan keluarga kecil saya. Dalam enam bulan ini, saya belajar bahwa yang namanya practice makes perfect itu benar adanya. Kegiatan menyusui yang awalnya banyak drama dan air mata, menjadi hal yang bisa saya lakukan sambil makan, sambil kerja dengan laptop, sambil dandan, dan sambil beres-beres. Satu hal yang paling penting juga adalah ternyata saya bisa menjalankan semua agenda saya sambil melibatkan dia setiap harinya. Iya, ternyata saya bisa dan mampu.
Meski cara orang mengatasi permasalahan itu berbeda-beda, saya mau berbagi soal cara saya dalam menangani baby blues dan PPD. Berikut beberapa tips dari saya yang semoga ampuh untuk teman-teman:
Batasi kunjungan pascalahiran. Pernah dalam sehari, saya menerima dua sampai tiga kelompok tamu. Rasanya lelah sekali. Meski sibuk menerima tamu, tetap curi waktu untuk istirahat dan fokus kepada anak tanpa gangguan.
Sama seperti tips yang pernah saya tulis waktu hamil, lakukan apapun yang membuat kamu nyaman. Jangan pergi ke suatu tempat kalau kondisi tidak memungkinkan. Jangan mengakses media sosial kalau kewarasanmu terganggu ketika membukanya. Apapun itu, jangan jalani dengan terpaksa.
Jangan segan minta bantuan anggota keluarga. Anak kita adalah bagian dari keluarga besar kita. Bagian dari ayah, ibu, kakak, adik, maupun keponakan kita. Mereka semua sayang dengan anak kita.
Jika dalam hari itu ada agenda yang ingin kamu lakukan, coba untuk berkorban pelan-pelan hingga lama-kelamaan kamu terbiasa dan agenda pun berjalan sebagaimana mestinya. Misalnya, saat harus menghadiri pernikahan jam sebelas siang, saya sudah bersiap-siap sejak subuh. Tujuannya, agar saya bisa memandikan dan mendandani anak tanpa takut keteteran. Lama-lama, saya jadi terbiasa beraktivitas di waktu subuh. Jadi, sebelum anak dan suami bangun, saya sudah mengerjakan banyak hal. Setelahnya, saya bisa menyusui sambil tidur kembali. Rutinitas seperti ini membuat saya tenang dan bahagia karena agenda saya tidak berantakan.
Kalau kamu yakin sudah melakukan hal yang benar kepada anak, maka coba tutup kuping pada perkataan orang lain. Ingat bahwa setiap anak punya kebiasaan yang berbeda-beda dan mesti diperlakukan berbeda pula. Metode orang tua lain berbeda dengan metode kita. Orang lain hanya bertemu anak kita beberapa jam, tapi kita bersama anak kita setiap hari. Selama itu tidak merugikan siapa-siapa, asuh anakmu dengan caramu sendiri.
Jangan memasang pola pikir bahwa memiliki anak akan menghambat kita dalam berkarya. Justru, dengan adanya anak, kita harus semakin semangat berkarya. Jangan meninggalkan hobi atau hal-hal yang kita cintai hanya karena kondisi sudah berubah.
Ingat bahwa dunia tidak runtuh hanya karena kamu terpaksa mengganti ASI dengan sufor, gagal melahirkan dengan metode yang kamu inginkan, anakmu terlambat berjalan, atau anak tidak mau didudukkan di stroller karena terbiasa digendong. Esensi mengurus anak lebih besar dari itu semua. Banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan, seperti bagaimana membentuk anak menjadi sosok yang gemar melakukan kebaikan.
Jika kamu sedang kesal dengan anak, coba nostalgia kembali pada masa-masa di mana kamu bertemu dia pertama kali. Saya sendiri saat itu menangis keras waktu bertemu anak saya pertama kali. Bayangkan saja, selama 39 minggu saya hanya melihatnya lewat USG, sekarang saya bisa bertemu dan menyentuh dia. Saya juga merasa terberkahi bisa merayakan ulang tahun bersama dia beberapa hari setelah melahirkan.
Setelah berhasil keluar pelan-pelan dari jeratan masalah ini, saya dapat banyak hikmah baik. Ini beberapa hikmah yang saya rasakan:
Saya jadi punya rasa empati yang tinggi. Dulu, kalau melihat orang tua yang susah payah menenangkan anak yang rewel di tempat umum, saya tidak terlalu memedulikan. Sekarang, saya jadi mengerti bagaimana rasanya.
Saya jadi paham kenapa banyak orang yang senang mengekspos anaknya di media sosial. Punya anak memang ajaib sekali dan rasanya ingin selalu membagikan momen-momen lucunya di dunia maya. Saya tidak bilang saya setuju dengan fenomena mengekspos anak secara berlebihan di dunia daring, tapi saya jadi paham mengapa hal itu bisa terjadi.
Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya, semata-mata demi anak saya. Saya mulai dari hal-hal simpel, seperti makan makanan yang bergizi.
Meski klise, bahagia itu memang sederhana, sih. Sesederhana malas-malasan di kamar bertiga sambil menertawakan hal-hal absurd.
Saya jadi lebih bersyukur dengan apa yang Tuhan percayakan ke saya. Sambil melihat anak, kadang saya suka mikir, saya kan dulu sama seperti dia. Awalnya saya belum ada, lalu saya lahir, tumbuh, berkembang, dan sekarang giliran saya membesarkan manusia.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman yang juga sedang membesarkan manusia. Sebab, baby blues dan PPD bukanlah kondisi sepele. Kondisi ini harus ditangani dengan serius karena pembunuhan dan pembuangan bayi bisa menjadi puncaknya. Ingat, sama seperti dulu waktu belum memiliki anak, kita juga berhak bahagia. Bukan untuk siapa-siapa selain untuk anak dan keluarga kita. Semakin kita bahagia, semakin bahagia juga anak kita. Jadi, semakin cepat kita terbebas dari kungkungan kesedihan, tentu semakin baik.
Hamil Dengan Rahim Spesial
Saat saya menayangkan tulisan ini, usia kehamilan tidak direncanakan saya sebentar lagi memasuki tiga bulan. Saya mengatakan kehamilan tidak direncanakan karena meski kami (saya dan suami) tidak pernah benar-benar menunda memiliki keturunan sejak menikah sepuluh bulan yang lalu, kami juga tidak pernah terburu-buru untuk segera punya keturunan. Posisi kami saat itu masih 50:50. Antara mau dan belum mau.
Saat itu tanggal 14 Mei 2018, ketika saya curiga karena haid tidak kunjung datang. Padahal menurut aplikasi My Calendar (aplikasi untuk mengetahui jadwal haid dan masa subur) yang sudah saya gunakan sejak sebelum menikah, saya harusnya sudah haid sejak tiga hari yang lalu. Dihantui rasa penasaran, saya akhirnya menggunakan testpack yang sudah menganggur berbulan-bulan dan menemukan hasil positif di sana.
Seketika saya langsung meneteskan air mata. Bukan karena saya sedih, tapi karena berbagai perasaan langsung campur aduk. Antara takut, tidak siap, sampai stres membayangkan bagaimana kehidupan setelah memiliki anak. Saat itu, satu-satunya sumber kekuatan saya adalah suami yang justru sangat tenang dan stabil. Suami bahkan langsung menawarkan berbagai pilihan rumah sakit yang terjangkau oleh tempat tinggal kami dan bisa ditanggung oleh kantornya.
Beberapa hari setelahnya, saya memeriksakan kandungan saya di rumah sakit dekat tempat tinggal kami tepat di hari pertama puasa (Jarak ke rumah sakit bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari rumah!). Di sana, saya dinyatakan hamil lima minggu sejak HPHT. Itu artinya, saya dan suami secara tidak sadar sudah membawanya traveling pada akhir April lalu selama empat hari, di mana kami berjalan-jalan menyusuri gunung dan sempat naik wahana yang menjungkirbalikkan tubuh kami hingga 360 derajat!
Menariknya, saat pemeriksaan berlangsung, saya menerima sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Saya memiliki rahim retro. Mulanya, saya kebingungan karena belum pernah mendengar istilah itu. Namun saat dokter mengatakan “rahim terbalik”, saya mulai paham.
Apa dan Bagaimana Rahim Retro Rahim retrofleksi atau retroversi atau retro adalah kondisi di mana letak atau posisi rahim tidak seperti yang biasanya. Rahim perempuan umumnya memiliki bagian atas (disebut dengan fundus) yang condong/menekuk ke depan. Rahim tersebut dikenal dengan rahim antefleksi atau anteversi. Pada rahim retro, posisi rahim justru condong/menekuk ke belakang dan menyender pada usus. Di kasus saya, rahim retro yang saya miliki tidak ekstrim, karena pada beberapa kasus terdapat rahim retro yang condong terlalu ekstrim ke belakang.
Sumber gambar: The Asianparent Indonesia
Sebelumnya, saya sudah pernah mendengar istilah “rahim terbalik” dari teman saya yang menikah empat tahun lalu. Teman saya baru mengetahui bahwa rahimnya terbalik setelah positif hamil, persis seperti saya. Menurut dokternya saat itu, perempuan dengan rahim terbalik cenderung lebih sulit untuk hamil ketimbang mereka yang rahimnya normal, dan karenanya harus melakukan usaha lebih untuk memiliki anak. Dari teman saya inilah saya pertama kali memperoleh informasi tentang adanya rahim terbalik, namun saya belum tahu bahwa sebutannya adalah rahim retro.
Akan tetapi, dokter saya saat itu enggan menganggap bahwa rahim retro adalah sebuah kelainan rahim. Baginya, ini hanyalah salah satu variasi bentuk rahim saja, seperti juga halnya pada warna kulit, warna mata, dan sebagainya yang berbeda-beda pada tiap orang. Sebagai informasi, rahim retro dialami sekitar 30% perempuan di dunia. Jadi, kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan.
Anggap saja kita adalah perempuan spesial yang sudah terpilih untuk memilikinya.
Penyebab Rahim Retro Berdasarkan berbagai sumber yang saya himpun, ada beberapa penyebab perempuan memiliki rahim retro. Penyebab paling utama adalah sudah dari sananya. Ya, sudah dari Tuhan. Tidak bisa diapa-apakan lagi. Penyebab lainnya bisa dari olahraga ekstrim, pernah mengurut perut, pernah melahirkan yang membuat posisi rahim berubah, aborsi, ada riwayat radang panggul, atau penyakit seperti endometriosis dan tumor. Rahim retro bisa ‘diperbaiki’ melalui operasi, namun sejauh yang saya dengar, hal ini jarang dilakukan.
Dampak Rahim Retro
Ada sejumlah dampak dari memiliki rahim retro yang saya kumpulkan baik melalui dokter maupun dari beberapa bacaan.
Perempuan dengan rahim retro cenderung lebih sulit dan lebih lama untuk dapat hamil karena sel telur susah dijangkau. Kondisi ini bukan berarti berpengaruh terhadap kesuburan seseorang. Hanya saja, perlu usaha lebih keras untuk mendapatkan anak akibat perbedaan posisi mulut rahim. Kalau menurut dokter saya, perlu ada posisi-posisi khusus yang mendukung terjadinya pembuahan. Perlu diingat bahwa selama organ reproduksi kita dan suami sehat, kehamilan dengan rahim retro sangat bisa terjadi.
Perempuan yang berhasil hamil dengan rahim retro tidak akan terlihat gendut saat hamil tua. Hal ini dikarenakan baby bump yang biasanya terlihat buncit ke depan, malah ‘buncit’ ke arah sebaliknya. Begitulah yang nanti akan terjadi kepada saya.
Ada beberapa bacaan yang menyebutkan bahwa rahim retro menyebabkan nyeri saat menstruasi, seperti nyeri di punggung bagian bawah. Kebetulan hal ini tidak terjadi pada saya karena saya tidak pernah mengalami keluhan apapun selama menstruasi, baik saat sebelum menikah maupun setelah menikah. Saya justru baru merasakan nyeri punggung bagian bawah saat hamil, terutama saat malam. Walau kadang mengganggu, kondisi ini tidak menghambat kegiatan saya.
Terdapat kemungkinan untuk lahiran melalui cara sesar karena bayi akan kesulitan mencari jalan keluar. Namun, hal ini bukan harga mati. Saya membaca beberapa pengalaman perempuan yang bisa lahir normal meski memiliki rahim retro. Untuk saya pribadi, poin ini bukanlah masalah besar. Sebab, sedari dulu saya bukanlah perempuan yang begitu mengidamkan lahiran normal. Normal dan sesar bagi saya sama spesialnya.
Sumber gambar: The Asianparent Indonesia
Kondisi Saat Ini Hingga sekarang, kami masih bergonta-ganti dokter untuk mendapatkan yang ternyaman. Meski masih bergonta-ganti, semua dokter tersebut memiliki kesamaan, yaitu sama-sama mengatakan bahwa rahim saya retro. Kondisi ini membuat dokter memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk mengecek kandungan saya, baik melalui USG 2D maupun USG transvaginal. Terakhir kami memeriksakan kehamilan, kandungan saya dinyatakan sehat (meski tensi menurun) dan detak jantung penghuninya sudah bisa didengar.
Selama kehamilan, saya berjuang keras melawan diri sendiri. Saya yang biasanya semangat beraktivitas, mendadak jadi tukang tidur dan pemalas. Saya yang biasanya senang berdandan, mendadak jadi orang yang mau mandi saja sudah bagus. Saya yang biasanya punya cukup energi untuk melakukan banyak hal, mendadak jadi cepat lelah dan mengantuk. Saya yang biasanya senang jalan-jalan dan cuci mata, mendadak jadi orang yang membayangkan ramainya mall dan tempat liburan saja sudah mual. Saya yang mudah stres dan paranoid sejak kehamilan ini pada akhirnya harus merepotkan suami dan dokter yang mendorong saya untuk selalu berpikir positif demi kebaikan semuanya.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman yang mengalami hal serupa. Apapun itu yang terjadi, ingat buat tetap optimis, ya.
Regards, Gisa
Dari mulai tontonan sahur sampai makanan berbuka yang paling diminati netizen dan dituangkan dalam bentuk kicauan Twitter diramu lengkap dalam data.
Data can be fun. Hope you'll enjoy it!
Listening to Social Media Conversations, What For?
Did you know that 80% of data in the world is unstructured data generated from the internet, and mostly from social media? Moreover, 90% of that data was generated in the last 2 years. So, what can business people do about this?
Social media is like miniature of society because it represents people’s thought about various things. Social media is not only about sharing moments and photos, but also a place where brands, products, and services discussed honestly by the user. Now, imagine you can capture the conversations, what benefits you would get.
They Are Talking About Hope
Customer can be very active in expressing their opinions in social media. Not only complaining, but also their hope and suggestion for the product they used. They give you insight about what you should do (and shouldn’t!) so your product can answer their problems. In the end, you finally would grab your customer’s attention.
They Are Looking For You
You have good concept for your business. You have high quality product with competitive price. Unfortunately, your potential customers didn’t know that your product exists. In social media, it’s possible to find people who are looking for your product. There are two benefits you would get from this point. First, you no longer need to approach random people to promote your product (Are they really interested in your product or service you offer?). Secondly, you saved your time, money, and also energy, just because you are directly targeting the right people. Interesting, right?
They Want Your Response
Now, imagine you have found people who are looking for your product, or people who have question about your business industry. So, what’s next? Give them response before your competitors do. Your business would be their savior because of solution that you give them. In the future, don’t be surprised if they tend to use your product over anything (especially with your activeness in social media). Customer loyalty is everything, agree?
Well, by reading these benefits you can get from social media, we hope it can answer your problem in finding potential customers.