saya menyukaimu tapi tidak dengan kekacauan pikiranku karenanya
almost home
trying on a metaphor

shark vs the universe
taylor price
Cosmic Funnies
art blog(derogatory)
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
official daine visual archive

tannertan36
Not today Justin

No title available

PR's Tumblrdome

roma★
Three Goblin Art

❣ Chile in a Photography ❣
EXPECTATIONS

ellievsbear
Monterey Bay Aquarium
No title available
occasionally subtle
seen from Australia
seen from Australia
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Denmark
seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Poland
seen from Italy

seen from United States

seen from Türkiye

seen from India

seen from United States
seen from Hungary
seen from Netherlands

seen from Italy
@goenapian
saya menyukaimu tapi tidak dengan kekacauan pikiranku karenanya
Aku menulis lagi di sini bukan untuk menyembunyikan banyak hal tapi ingin tahu seberapa lama kata-kata bisa ditemukan dan ditamukan ke matamu
tadinya saya pikir di sini bisa buat menuliskan beberapa nama yang tak bisa saya tulis di snap wa atau snapgram. Tapi itu sama saja. pada akhirnya bakal mencuat.
Lagi ngumpulin orang-orang yang lama gak dihubungin temennya. Sekalinya dihubungin, dia cuma mau sebar undangan atau nawarin produk MLM. Sini bikin paguyuban.
Saya orang pertama yang gabung, Kak.
Aku hanya bisa berandai, andai kami tidak hanya bertiga, andai kami tetap menjadi anak kecil, andai kami masih bisa menangis saat sakit didepan semua orang.
kau pasang lagu kesukaanmu. seperti mimpi baik dalam tidurmu. lagu tenang soal masa kecil penuh mimpi. jalan-jalan depan rumah dan lari-lari kecil milik masa kecil di tepi sore menuju magrib. kau belum menjadi ibu. kau cuma gadis kecil, di matamu menggantung awan biru. tidak gelap. sebab kau suka hujan tapi tak ingin ia turun dari matamu. saat dewasa, kau makin membenci hujan. hujan adalah jarak, katamu. ia potongan kaca yang mengenai kepalamu. ia tajam dan membunuhmu beberapa saat. sebelum akhirnya kau memutuskan pulang dan tak mengunci pintu. lagu kecil. lagu yang pelan merambat dari kafe itu menembus kaca jendela. jendela yang disusun dari ramai orang-orang dan senja yang terlampau biasa di matamu. kemudian dengan sangat hati-hati seseorang mengambil harimu. kau tersenyum.
begitulah kau hari ini.
tersenyum tapi tidak tahu ada yang telah hilang dari rumahmu dari kamarmu dari bajumu dari buku harianmu dan kau tidak tahu apa.
Karawang - purwakarta hanya tentang jarak dan kota, bukan lagi tentang kita dan cinta.
Karawang - Purwakarta, Bagiku bukan soal jarak dan kota. meski bukan juga soal cinta atau kita. Aku memang pernah mencintai seseorang yang tinggal di dalamnya. tapi itu toh cuma cinta yang datang barangkali dalam sekali tatap. sialnya itu bertahan lama dalam pikiran saya. Setelah itu, tidak jauh berbeda dari sebelumnya, ia memutuskan untuk pergi. Atau barangkali aku tidak pernah benar-benar mencintainya, itu cuma angin dan biarlah berlalu.
Siapkan tubuhmu yang wangi dan sebuket bunga di almari. Aku akan datang dengan tubuh utuh, membawa segala rindu bertumpuk dipunggung dengan simpul senyum tabah pada harap yang ingin ditukar bahagia. Rawatlah dulu wajahku yang sendu itu, nanti kubeli dengan teduh dan peluh, berjuang menujumu bertentu langkah dan bersimpuh duduk, memohonkan seluruh jiwamu.
ah bersiaplah, aku sedang berjuang untuk menghalalkanmu
Sebuah Suara dan Matahari dalam Diri
Dalam tubuhku, ada suara mencuat teriak dalam-dalam seperti semut di pikiran dan tubuh yang tak pernah keluar kamar.
Dalam dadaku, luka memerah darah, seperti darah di pelipis bocah yang jatuh di teras rumah.
Aku terus bertambah usia dan tubuhku makin naik hendak menggapai daun-daun hijau di pohon mimpi yang rimbun tapi senin adalah sepi kakiku mencari kasih yang dipahatkan di langit dan langit-langit kamar atau di kening doamu.
Aku Berjalan kuyu menujunya. Menghibur diri dengan sebuah harapan yang diciptakan dari pikiran sendiri--yang tak jarang dari harapan itu sendiri dihujam kecewa berkali-kali.
O, kupandang dunia dari kacamataku sendiri --menyimpulkan banyak hal dan berpendapat: orang dalam pikiranku tidak pernah pindah rumah bahkan ketika sewanya telah habis. ia telah bersuami dan beranak. ia kukuh tinggal dan menggalikan lubang buat kesedihanku.
O, betapa pengapnya suara dalam kepalaku. Ia memerjap-merjapkan ide, mencari sebenar-benar bahagia dan kemudian kembali jatuh dan terluka. Jatuh dan terulang kecewa.
Dalam dadaku, kutumbuhkan semangat mengejar mimpi--yang seringkali dalam waktu lupa, ia menghilang dan bersembunyi dalam arsip pelupaan tunda yang paling dalam, dan kembali teringat saat sadar kalo sudah tidur terlalu lelap dan mengigau ini-itu.
Ah, mengapa terasa berat saat aku mau berbicara soal perempuan atau cinta. Sejatinya aku sudah beberapa kali mengubur dalam-dalam harapan dalam sesak dadaku ini.
Aku berhenti menjadi punguk yang merindukan bulan.
Aku berhenti mengayuh sepeda di antara bintang-bintang yang kerlap-kerlip. Tapi, oh betapa tak konsistennya ragaku ini, dia berkhianat dengan janjinya sendiri.
Lalu menyesal dan kembali pada wajah Tuhan, bersimpuh dengan tangan di dada, memohon ampun.
Tapi esok hari saat terbit kembali dari mimpi, o duhai sahabatku, aku kembali lupa dan dusta pada dunia.
Aku memapah luka-luka dan duka-duka di wajah yang menggelayutkan masam. Dari mulutku ini, ingin kukeluarkan matahari yang selama ini membakar tubuhku, membakar semua ceritaku, menyalakan pijar pada pilin mimpi yang melayah ke arah salah dan benar.
O dalam kepalaku tertancap panah dendam kehidupan, ia dilesatkan oleh hari-hari sendu yang dihamparkan jalan, yang dilangkahkan kaki pada marah dan kesal salah paham.
Di dalam tubuhku mengalir rindu-dendam soal duka yang ingin dibayar keriangan.
Soal luka yang ingin ditukar tawa.
O, tetapi dalam ragaku, Tuhan ciptakan iblis untuk menggodaku jadi malas dan pelupa.
Dan kau, sahabatku.
Aku tahu dalam tiadanya dua-jiwamu, kau seperti menjatuhkan hati pada belati yang baru diasah.
Dalam mataku, kulihat derap tabah dan pasrah dalam tubuhmu.
Tentu aku bukan cenayang, sobat.
Bersekutu dengan iblis untuk mencari tahu kabar langit soal dirimu.
O, betapa nyeri-ngeri dalam tubuhku menjadi-jadi saat orang yang kukenal dulu berhenti peduli--pergi kemimpi-mimpi sendiri.
Oh dan kau sobat, tentu kau pun akan pulang nanti. Ke dekapan mimpi yang kaubeli dengan cucuran darah dan peluh.
Ah, semoga kau menjadi pelangi antara sesudah hujan di mata dan panas di keningmu.
Pada sepi menekan dalam hatiku.
Aku menyeduh bahagia dari sebuah pura bercampur senyum dipaksa.
O tapi, kau tahu siapa aku. Dan semoga memang kau tahu siapa aku selama ini.
Dalam kesangsian hidup yang diasingkan keramaian.
Kadang, aku ingin merayakan banyak hal soal dirimu. Meneguk segelas kenangan yang kau suguhkan. Juga menertawakan banyak hal yang luka.
Kusebut namamu dalam doa Kulihat engkau di langkahku Kusimpan engkau di hatiku Kujadikan engkau kekasih Selamanya
Kadang, rindu ini memang kurang ajar Menemuiku saat aku sebal
Semoga kamu tahu, ini memang sangat menyebalkan
Pada kerling senyummu ada bahagia yang kau sembulkan. Pada kecup bibirmu ada rindu yang kau ucapkan.
Biasanya kita sama-sama tertawa dan jatuh dalam rasa yang sama
Maret
Tak terasa kau telah bersua dengan maret Ada kisah yang mengikis hati Ada pula kasih yang menyambutmu riang Bercumbulah dengan maret Karena kau tlah terlahir Karena kau hidup Karena kau diberi kesempatan untuk menangis pertamakalinya dibulan maret
Jangan lupakan jasa ibumu Berterimakasihlah pada Tuhan dan ibumu Tuhan mengizinkanmu terlahir Dan dari rahim ibumu dengan rela menjadi tempatmu terlahir kedunia
Tersenyumlah pada dunia Namun jangan terlena dengan seisinya Maret jadi awal kelahiranmu Tapi ada bulan-bulan lain yang bersedia menari Menyambutmu dengan hangat dan penuh semangat
Kau tak perlu takut menjadi pilang Tak perlu juga kau takutkan angin yang menerpamu Kibaslah kembali dengan dedaunanmu yang rindang dan akarmu yang kokoh Maka suatu saat kukila akan menghampirimu
Selamat bulan Maret Selamat ulang tahun Ade Gunawan 21 tahun sudah perjalanmu didunia penuh mimpi Selamat menemukan tantangan baru pada episode selanjutnya Bersiaplah untuk menjadi penyair besar di hari esok
Semarang, 27 Maret 2016
Dari Yeni Puspitayanti
Barangkali harapan itu pohon-pohon pinus yang menjulang Menjatuhkan apa yang mulai kering didahan ~read (at Ujung Aspal Wanayasa)
Tiada lagi rindu dijendela sebab pelukanmu sudah kudapati diberanda. ~goenapian
Kita selalu bilang; kita mencintai diri kita dengan baik. Tapi tak sadar kalau perlahan kita menancapkan belati ke dada sendiri.
Pada Akhirnya
Pada akhirnya setiap luka yang kau tangisi setiap pagi Akan sembuh oleh waktu yang membawa sepasang mata yang siap menatap wajahmu lebih lama Apa yang biasa kau ceritakan kepada orang Soal perasaan yang biasa kau layangkan ke awan Akan jatuh dan rebah pada peluknya masing-masing
Pada akhirnya apa yang kau jalani sekarang akan berpulang kepada jalannya sendiri Menunggu diadili setiap hari Silih berganti sampai nanti Berdiri berjibaku melawan sesal hati
Apa yang kau banggakan akan hancur sendiri Lakasana pasir yang berdesir Diterbangkan angin kemudian hilang
Pada akhirnya semua akan berpulang Berjalan menuju sebuah keabadian
2016