Jika ada orang yang menganggap saya mengerti agama dengan baik ketika melihat latar belakang keluarga saya, anggapan itu salah besar. Saya adalah orang yang sedang belajar. Saya belum khatam masalah tahsin, belum mampu menghafal banyak hadist, baru sedikit mengetahui tentang fiqh, dll. Pemahaman agama saya bisa dibilang belum dalam.
“kamu enak has, dari keluarga yang mengerti agama dengan baik”, kalimat ini sering diungkapkan oleh teman-teman saya yang berhijrah secara drastis dan saya pun hanya meringis.
Saya pernah melalui masa jahiliyah ketika di SMP dulu. Saya belum menutup aurat dengan sempurna, saya suka main, malas belajar, dll. Ketika SMA saya mulai berubah bertahap, saya ikut rohis, saya jarang main, saya jadi rajin belajar, dll. Saya waktu SMA belum berpakaian seperti sekarang, sampai-sampai banyak teman umi yang bilang “Mbak Hasna kok dandanannya masih seperti itu ya”, lalu umi saya hanya bilang “biarkan nanti juga sadar sendiri”. Dan benar, pakaian yang saya pakai sekarang saya pilih dengan sendirinya karena saya merasa nyaman dan aman, karena sudah tidak nyaman lagi mengenakan kerudung pendek dan celana jeans.
masa remaja saya hanya didampingi umi saya, yang seringkali sibuk mengurus adik saya yang masih kecil-kecil kala itu sehingga tidak intens dalam membimbing saya. Ditambah lagi SMP dan SMA saya habiskan di sekolah negeri sehingga pendidikan agama yang saya terima hanya sekadarnya serta lingkungan tidak kondusif untuk bisa belajar agama dengan baik. hasilnya ya seperti itu, saya lulusan SMA dengan bekal pengetahuan agama yang tidak banyak dan tidak mendalam.
Memasuki masa kuliah, saya mulai berkenalan dengan teman-teman yang selalu mengajak saya kepada kebaikan. Bahkan dengan melihat mereka pun saya merasa saya ingin berubah lebih baik. melihat betapa mereka cintanya pada Al-Quran dan mematuhi sunnah Rasul. lalu hal yang paling signifikan berubah adalah cara berpakaian saya. ketika melihat teman-teman saya tersebut, Saya berpikir “wah kok nyaman ya berpakaian seperti mereka”. Dan akhirnya saya pun memakai kerudung panjang, kaos tangan, baju yang longgar, kaos kaki, dll.
Memasuki tingkat dua, saya tiba-tiba diajak untuk menjadi pengurus organisasi islami di kampus. Disini saya rutin bertemu dengan orang-orang baik. Saya rasa Allah ingin menjaga saya, sehingga mengarahkan saya ke lingkungan yang baik ini. disini, Saya belajar tentang berbuat baik terhadap sesama.
Memasuki tingkat tiga, saya diajak untuk menjadi pengurus inti organisasi tersebut. Disini saya bertemu dengan orang-orang yang hidupnya dipenuhi untuk keinginan berdakwah. Saya malu kepada diri sendiri yang belum benar-benar memaknai dakwah. Tujuan hidup saya di dunia belum sampai kepada tujuan mulia “dakwah”, namun masih sampai kepada berbuat baik terutama untuk adik-adik dan keluarga saya.
Di tingkat tiga ini, saya juga baru merasakan haus akan ilmu agama. Saya mulai tertarik dengan kajian-kajian agama. Saya malu saya belum paham dengan benar agama ini. Saya belum bisa ingat dalil untuk masalah ini dan itu, saya belum paham tata caranya dengan benar, saya belum bisa khusyu’, dll.
jika dikatakan surga adalah tujuan, maka bisa dibilang saya adalah pelancong yang awalnya bingung kemana perjalanan akan berakhir,dan kemudian saya menemukannya lalu mencoba mencari jalan ke tujuan tersebut. layaknya orang awam yang belum mengetahui medan perjalanan dengan baik dan bekal yang kurang, saya banyak melewati gang sempit, jalan memutar yang jauh, sering bingung, sering lupa jalan, sering capek, sering bertanya, kadang bertemu dengan orang yang salah, dll.
saat ini, saya sadar bahwa jalan saya masih sangat panjang dan amat sangat banyak kesalahan yang saya lakukan dalam perjalanan ini. maka saya meminta teman-teman agar memaklumi saya yang masih mencari jalan.
saya sangat berharap, semoga saya selalu bisa menemukan jalan yang benar dan memiliki bekal untuk mencapai tujuan akhir saya-dan para pelancong lain-,
Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(QS. Al Fatihah:6-7)