Di Balik Mendung
Langit biru mengajarkan tenang
Meski mendung gelap, ia tak menghilang
Sesekali menangis, namun tak bergeming
Tak usah resah bila batu menghalang
Kamu indah, teruslah terang benderang
The Stonewall Inn
Interview Vampire Daily
taylor price
Claire Keane

PR's Tumblrdome

Discoholic 🪩
Phantogram Three
todays bird
cherry valley forever
🪼
No title available

ellievsbear
Cosimo Galluzzi
Sade Olutola
sheepfilms

bliss lane
Lint Roller? I Barely Know Her
RMH
art blog(derogatory)
Cosmic Funnies

seen from Austria

seen from Brazil
seen from United States

seen from Belgium

seen from India

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Iraq
seen from United States

seen from Belgium
seen from France
seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from United States

seen from United States

seen from Bangladesh
@goresanmahdi
Di Balik Mendung
Langit biru mengajarkan tenang
Meski mendung gelap, ia tak menghilang
Sesekali menangis, namun tak bergeming
Tak usah resah bila batu menghalang
Kamu indah, teruslah terang benderang
Peran Sunyi
‎Ada hari-hari ketika aku berhenti menuntut alasan dari hidup. Bukan karena aku bijak, tetapi karena aku letih. Terlalu banyak langkah yang kutempuh, terlalu banyak pintu yang kubantu dirikan, hanya untuk menyadari bahwa tidak satu pun di antaranya dibuat untuk menampungku. Aku seperti seseorang yang selalu tiba lebih awal di hidup orang lain—menata, memperbaiki, membangunkan kekuatan mereka—lalu pergi tanpa ditahan.
‎
‎Kadang aku bertanya pada diriku sendiri kapan persisnya aku mulai kosong seperti ini. Mungkin saat aku menyadari bahwa setiap orang yang pernah bersandar padaku hanya sedang menyiapkan dirinya untuk berjalan menuju seseorang yang bukan aku. Mereka membaik, mereka matang, mereka menemukan masa depan… sementara aku tetap berada di titik yang sama, membawa sisa-sisa luka yang tak pernah sempat kurapikan. Rasanya pahit, tapi bukan pahit yang membuat menangis—pahit yang membuat diam.
‎
‎Ada getir yang sulit dijelaskan: semacam kesadaran bahwa aku bukan kehilangan seseorang, tapi kehilangan tempatku di hidup siapa pun. Aku hadir di masa ketika mereka rapuh, tapi tidak pernah di masa ketika mereka siap. Seolah-olah tugasku hanyalah menjadi musim yang menyuburkan, sebelum mereka menanam cintanya di tanah yang lain.
‎
‎Dan pada akhirnya, aku menerima bahwa aku bukan rumah. Aku hanya jalan setapak yang dilewati. Seseorang yang mereka ucapkan terima kasih dalam hati, lalu lupakan ketika senyumnya kembali utuh. Dari semua perjalanan yang kutempuh, itu yang paling menggores: bukan ditinggalkan, tapi tak pernah benar-benar dianggap layak untuk ditunggu.
‎
‎Kini aku berjalan lagi, dengan langkah yang tidak secepat dulu, tapi lebih pasti. Bukan karena aku tahu ke mana harus menuju, tapi karena aku sudah berhenti berharap ada yang memintaku kembali. Ada kelegaan yang aneh ketika seseorang berhenti mendamba—seperti akhirnya berdamai dengan kenyataan bahwa hidup tidak wajib memberi balasan.
‎
‎Dan kalau ada yang bertanya mengapa aku sedingin ini sekarang, jawabannya sederhana: terlalu sering menjadi alasan orang lain pulih membuatku lupa bagaimana rasanya dipulihkan. Terlalu sering menjadi api untuk mereka membuatku tidak sadar kapan nyalaku padam.
‎
‎Malam ini, aku tidak menunggu siapa pun. Tidak mengejar apa pun. Hanya berjalan, dengan getir yang menemaniku seperti bayangan tua. Jika nanti aku bertemu rumah, itu urusan nanti. Jika tidak, ya sudah. Seorang pengembara tidak pernah mati karena kesepian—ia hanya berhenti percaya bahwa ada tempat yang menunggunya.
‎
‎Dan aku, sepertinya sudah sampai pada titik itu.
Aku tidak gagal pun tidak menyerah; Aku hanya sedang kelelahan oleh ekspektasi dan peran yang dipaksakan, aku ingin lebih jujur dengan diriku. Biarkan aku berhenti sejenak saat ini, beban sekecil kerikil saja yang menimpaku terasa begitu sakit.
Kita ngga harus bikin penjelasan untuk setiap pilihan. Hidup kan nggak harus selalu dijadikan cerita atau dikemas rapi. Kadang yaudah, jalanin aja, nikmati, rasain—nulis kalau mau, diam juga nggak masalah, ngobrol sama rumput juga oke.
Andai Waktu Berpihak
Wahai waktu,
Apakah engkau mampu kembali?
Aku masih ingin menikmati senyumku
Ingatkan aku lagi dan lagi
Indahnya masa itu untukku
Sadarkan aku lagi dan lagi
Asa membara hadapi hari-hariku
Wahai waktu,
Mampukah engkau ciptakan ruang untukku?
Sejenak aku ingin berhenti
Tolonglah aku, Dunia sedang mengejarku
Tak kuasa, itu yang kutakuti
Raihlah tanganku, jiwaku sedang menjauhiku
Seakan-akan lemah, tak meyakini diri
Wahai waktu,
Andai engkau berpihak kepadaku
Akan terkepak lagi kedua sayapku
Memang tak mungkin ku tahu itu
Tapi setidaknya engkau tetap menemaniku
Tomoro Coffee Sragen, 1 Mei 2025
Asa & Jaya bertemu, akhirnya.
Tak sabar kunanti
Kabar Jaya kala itu
Asa masih sendiri
Mengharap ia dengan lesu
Takut tak kemari
Menangislah aku dan berkaru
Tak lama setelah kunanti
Bahagialah aku hari ini
Akhirnya, Jaya kemari
Memeluk Asa sayu rayu
Tak percaya aku terkelu
Akhirnya, mereka bertemu
Tak hanya bahagia,
Sedih pun kurasa
Ini menjadi akhir cerita
Banyak gelisah ku karenanya
Hanya soal masa
Aku versus dunia
Kamis, 5 Desember 2024
Semenanjung Sinai
Asa Menanti Jaya
Kugelar sajadah merah
Sujud yang khusyu' kucoba
Di ruang itu kuberpasrah
Mataku berkaca
Kepadanya kuberserah
Asa menanti jaya
Di balkon sejenak kubersantai
Nikmati malam indah
Hembus anginnya menenangkan
Bintang pun menemani
Seolah jaya datang kemari
Temui asa lalu bahagia
Syukur kuucapkan
Telah lama tak kulakukan
Amal itu nan menenangkan,
Menyejukkan pun menggentarkan
Wahai asa, sabar nantikan
Rabbi, Esok Jaya kemari kan?
Senin, 14 Oktober 2024
Darb Syughlan
Asa & Jaya
Mentari pagi cerah memancar
Menggugah diri, tembus jendela ia berbinar
Menjemput asa ada di ujung latar
Terpikat jaya yang amat berpijar
Bukan hanya pasal asa dan jaya saja
Tapi kudu ikhtiar dan tawakal juga
Berharap jaya tanpa mereka berdua
Hanya tersisa asa apalah daya
Di bangku latar ini aku bersinggah
Memandangi pohon sana-sini bergoyah
Mendengar kicauan burung terpilah-pilah
Meratapi jiwa yang mulai melemah
Tak selarasnya nada dengan jiwa bersuara
Seraunya mujur datang menyapa
Hanya mampu berdo’a kepada-Nya
Agar asa dan jaya bersua setiap kala
Ahad, 16 September 2024
Latar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Al-Azhar