HARI GINJAL SEDUNIA 9 Maret 2017
âPenyakit Ginjal dan Obesitas : Gaya Hidup Sehat untuk Ginjal Sehatâ
Ginjal merupakan organ tubuh berbentuk seperti kacang merah yang terletak di bawah tulang rusuk. Organ tubuh ini berperan penting dalam menyaring racun yang ada di dalam tubuh. Fungsi penting ginjal lainnya adalah mengeluarkan sisa-sisa produk dari dalam tubuh, menyaring 120-150 liter darah per hari, menjaga keseimbangan cairan, garam dan mineral, memproduksi renin pengatur tekanan darah, menghasilkan vitamin D yang penting bagi tulang, juga eritropoetin yang berguna untuk menstimulasi produksi sel darah merah.
Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, Rabu (8/3), sebanyak 10 persen dari populasi global menderita Penyakit Ginjal Kronis (PGK). Pada tahun 2010, sebanyak 2,6 juta penderita PGK sudah dalam tahap stadium akhir dan menjalani hemodialisis (cuci darah). Jumlah tersebut diprediksi akan meningkat pada tahun 2030 menjadi 5,4 juta. Menurut Indonesian Renal Registry (IRR) Tahun 2015, persentase diagnosa penyakit utama pasien hemodialisis di Indonesia tahun 2015 sebanyak 89 persen adalah gagal ginjal kronis. Sebanyak 600 juta orang di dunia mengalami obesitas dan 220 juta di antaranya adalah anak usia sekolah. Pada tahun 2007, sebanyak 19,1 persen penduduk Indonesia berusia di atas 18 tahun mengalami obesitas dan jumlah tersebut meningkat pada tahun 2013 menjadi 28,7 persen.
Penyakit Ginjal Kronis (PGK) adalah kelainan yang mengenai organ ginjal yang timbul akibat berbagai faktor misalnya infeksi, tumor, kelainan bawaan, penyakit metabolik atau degeneratif, dan lain-lain. PGK didefinisikan sebagai kelainan pada urin atau darah atau kelainan morfologi yang berlangsung lebih dari 3 bulan disertai dengan ditemukan satu atau lebih tanda-tanda seperti indikator albumin urin, sedimen urin abnormal, hasil patalogi anatomi abnormal, elektrolit abnormal, hasil MRI abnormal, riwayat transplantasi ginjal, dan penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG).
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi : Riwayat keluarga (namun tidak banyak berpengaruh, tergantung gaya hidupnya), penyakit ginjal, kelahiran premature (<2300 gram), usia (40 tahun keatas memeriksakan fungsi ginjal keseluruhan), trauma atau kecelakaan, jenis penyakit tertentu (lupus, anemia, kanker, AIDS, hepatitis C dan gagal jantung berat). Faktor risiko yang dapat dimodifikasi : diabetes, hipertensi, riwayat gagal ginjal, batu saluran kemih, infeksi saluran kemih berulang, obesitas, kolesterol tinggi, merokok, konsumsi obat pereda nyeri, alkohol dan pola makan/gaya hidup.
Jika ginjal rusak alias berhenti berfungsi, segala unsur kimia yang ada di dalam tubuh akan terganggu dan otomatis kinerja organ tubuh lain seperti jantung akan turut terganggu. Ketika ginjal menjadi tidak berfungsi, tubuh bisa mengalami kelesuan, kehilangan nafsu makan, mengantuk, dan kram otot. Obesitas berpotensi untuk menimbulkan gangguan kesehatan dan meningkatkan risiko terkena penyakit diabetes dan hipertensi, dua penyakit yang merupakan faktor risiko tertinggi Penyakit Ginjal Kronik (IRR, 2015).
Pada orang dengan obesitas, organ ginjal harus bekerja lebih berat, menyaring darah lebih banyak daripada normal untuk memenuhi tuntutan metabolik yang meningkat sesuai berat badannya. Peningkatan fungsi tersebut dapat mengakibatkan kerusakan ginjal dan meningkatkan risiko terjadinya PGK dalam jangka waktu yang lama. Orang dengan obesitas lebih berisiko 83 persen untuk menderita PGK dibandingkan orang dengan berat badan normal.
Oleh karena itu, menurunkan berat badan dan menjaga pola makan sehat menjadi langkah awal untuk menghindari timbulnya penyakit ginjal. Berolahraga secara teratur untuk menjaga kebugaran dan mengontrol berat badan. Karena jika mengalami obesitas, risiko terkena diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung yang mengacu kepada komplikasi ginjal juga semakin tinggi. Tak perlu menghabiskan waktu berjam-jam, cukup 3-4 kali seminggu dalam waktu 30 menit sudah memberi manfaat besar bagi tubuh serta hindari kegemukan. Hindari makanan berlemak, mengandung banyak garam, dan bahan kimia. Perbanyak konsumsi sayur, buah-buahan, daging tanpa lemak, biji-bijian, kacang-kacangan, dan minum air putih minimal dua liter sehari.
Mencegah penyakit ginjal kronik sebetulnya mudah. Hal yang perlu dilakukan cukup menjauhi faktor risikonya. Pencegahan ini tentu dapat dikerjakan dengan beberapa langkah, misalnya cek darah secara teratur. Pencegahan awal ini bisa dikerjakan hampir pada semua puskesmas untuk mengetahui kerusakan ginjal dari awal.
Pantau terus kondisi kesehatan tubuh dengan melakukan check up kesehatan rutin minimal satu kali dalam setahun. Pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi yang berisiko juga sangat penting dilakukan antara lain gula darah, urin lengkap, ureum dan kreatinin, kolesterol, LDL-kolesterol, dan trigliserid.
Yuk, sayangi ginjalmu! :)