Edelweiss-ku
Semoga abadi, seperti namamu.
Semoga lestari ditempatmu.
Dari aku yang mengagumi keelokanmu.
Dari aku yang tak mungkin membawamu pulang bersamaku, meski itu inginku.
Egoku hanya akan merusak kebahagiaanmu, bukan?
Nafsuku hanya akan merusak kecantikanmu, bukan?
Inginku, kau tetap di sana. Di tempat seharusnya. Bersama rumput. Bersama pohon cemara. Bersama pasir, batu, tanah dan panas matahari yang membakar kulit itu. Tentu saja dingin, hujan, dan gelapnya malam bergantian datang. Tapi aku tau, kamu mampu bertahan melawan itu semua. Meski tanpaku. Karna aku tau kamu itu kuat. Kamu tangguh. Kamu abadi, seperti namamu. Tetap tersenyum ya. Jangan bersedih. Jangan berhenti tumbuh. Yang sudah ya sudah. Waktunya mekar.
Selamat mekar! Aku pamit.















